Oleh SUTINO
A. Sejarah filsafat Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme
dalam bahasa Inggris
berasal dari kata reconstruct yang
berarti kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekontruksionisme adalah
suatu aliran yang berusaha merombak
tata susunan lama dan membangun
tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.[1]
Aliran rekonstruksionisme, pada
prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis
terhadap kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan
sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh
kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.[2]
Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki oleh rekonstruksionisme tidaklah sama
dengan prinsip yang dimiliki aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan
cara yang berbeda dalam upaya pemecahan untuk mengembalikan kebudayaan yang
serasi dalam
kehidupan.[3]
Aliran perenialisme memilih cara tersendiri yakni dengan
kembali ke dalam kebudayaan lama atau dikenal dengan “ regrecive road culture “ yaitu mereka menganggap paling ideal.
Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya
dengan jalan berupaya membina suatu consensus yang paling luas dan mengenai tujuan
pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia ( restore to the original form)[4].
Untuk mencapai tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari
kesepakatan antar sesama
manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur
tata kehidupan manusia dalam tatanan dan seluruh lingkungannya.[5]
Maka proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme
perlu merombak
tata susuanan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk
mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.[6]
Kaum rekonstruksionisme umumnya berpendapat bahwa kaum
progresif tidak cukup jauh dalam usaha – usaha mereka merperbaiki masyarakat.
Mereka percaya
bahwa, kaum progresif hanya berkenaan dengan masalah – masalah masyarakat yang
ada saat sekarang, padahal yang diperlukan dalam abad kemajuan teknologi yang
cepat adalah rekonstruksi
masyarakat dan penciptaan tatanan dunia baru. Rekonstruksionisme menyatakan
bahwa sekolah tidak akan betul – betul melaksanakan peranannya, sampai sekolah
tersebut menjadi pusat pengembangan dari masyarakat baru secara keseluruan yang
terikat pada upaya menghilangkan kemiskinan, perang dan rasialisme.
Rekonstruksionisme menyatakan bahwa apabila sekolah –
sekolah di harapkan menjadi lembaga yang betul – betul efektif, maka mereka harus
menjadi pusat pembangunan dan tidak hanya untuk perenungan peradapan kita. Hal
ini tidaklah berarti bahwa kita akan berusaha mengenalkan pembaharuan khusus
melalui sistem pendidikan.[7]
Bagaimanapun, kita akan memberikan pada anak- anak kita
suatu wawasan tentang kemungkinan – kemungkinan yang terletak di depan dan
berusaha memperoleh kesetiaan dan antusiasme mereka dalam mewujudkan wawasan. Lembaga
– lembaga dan praktek – praktek sosial
pun semuanya hendakya diuji secara kritis ditinjau dari wawasan tersebut.[8]
B. Implikasi Aliran Filsafat Rekontruksionalisme
Terhadap Milieu
Pendidikan
1. Keluarga
Lembaga pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan
yang pertama, tempat anak didik pertama-
tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota lainnya.
Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar – dasar kepribadian anak didik
dalam usia yang masih
muda, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidiknya (
orang tuanya dan anggota lainnya
).[9] Selain itu, keluarga juga
berfungsi sebagai pengaturan sexsual, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan
fungsi ekonomis.[10]
Berdasarkan pandangan aliran filsafat rekonstruksionisme,
dalam lembaga keluarga berkewajiban untuk menanamkan materi pokok yang sekiranya
materi atau pelajaran yang diberikan dapat membangun suatu peradaban yang baru
seperti apa yang diinginkan oleh aliran ini.
Suatu peradaban atau tatanan kehidupan yang baru dapat
tercapai dengan melalui lembaga keluarga karena seorang anak sebagai generasi
penerus sudah diberikan bekal yang telah diberikan di dalam keluarga.
2. Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting sesudah
keluarga, karena semakin besar kebutuhan anak, maka orang tua menyerahkan
tanggug jawabnya sebagian kepada lembaga sekolah.
Sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam
mendidik anak. Sekolah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak – anak
mengenai apa yang tidak dapat atau tidak ada kesempatan orang tua untuk
memberikan pendidikan dan pengajaran di dalam keluarga.[11]
Pendidikan rekonstruksionis adalah
membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan
politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global dan mengajarkan kepada
mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah
tersebut. Sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama
untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
Tugas sekolah-sekolah
rekonstruksionis adalah mengembangkan ”insinyur-insinyur” sosial, warga-warga
negara yang mempunyai tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat masa
kini. Maka sekolah memiliki beberapa fungsi yang sejalan dengan
faham aliaran ini yaitu bahwa sekolah berfungsi untuk mempersiapkan pekerjaan,
memberikan keterampilan dasar dan menyediakan tenaga pembangunan.[12]
Kurikulum berisi mata-mata pelajaran
yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum
banyak berisi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat
manusia yang termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik
sendiri dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah untuk aksi
kolektif. Kurikulum tersebut ialah berisi tentang ilmu sosial yang berguna
sebagai lat melakukan rekonstruksi masyarakat.[13]
3. Masyarakat
Rekonstruksionisme sosial mendorong berkembangnya
sekolah-sekolah masyarakat (community schools). Dengan lebih menekankan
pada masyarakat dari pada individu, sekolah masyarakat merupakan sekolah yang
berpusat pada masyarakat ( social centerred school ) yang menggunakan
sekolah untuk memperbaiki masyarakat.[14]
Lembaga pendidikan masyarakat merupakan lembaga
pendidikan yang ketiga sesudah keluarga dan sekolah. Pendidikan ini telah
dimulai sejak anak – anak untuk beberapa jam sehari lepas dari asuhan keluarga
dan berada di luar sekolah. Corak ragam
pendidikan yang di terima anak didik dalam masyarakat banyak sekali yaitu
meliputi segala bidang baik pembentukan pembiasaan, pengetahuan, sikap dan
minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.[15]
Pendidikan dalam pendidikan masyarakat ini boleh
dikatakan pendidikan secara tidak langsung. Pendidikan yang di laksanakan secara tidak sadar oleh
masyarakat. Dan anak didik sendiri secara
sadar atau tidak
mendidik dirinya sendiri, mencari pengetahuan dan pengalaman sendiri,
mempertebal keimanan serta kenyakinan sendiri akan nilai – nilai kesusilaan dan keagamaan di dalam
masyarakat.
Lembaga – lembaga pendidikan yang ada di dalam masyarakat
ikut langsung melaksanakan pendidikan tersebut.di dalam masyarakat terhadap
beberapa lembaga atau perkumpulan atau organisasi seperti organisasi pemuda,
organisasi kesenian, pramuka, olahraga, keagamaan dan sebagainya.[16]
Lembaga – lembaga tersebut membantu pendidikan dalam
usaha membentuk pendidikan seperti membentuk sikap, kesusilaan dan menambah
ilmu pengetahuan di luar sekolah dan keluarga.
Masyarakat banyak harus berada dalam kehidupan demokrasi
sejati, dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh
muridnya sendiri. Semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat, seperti
sandang, papan, pangan, kesehatan, industri, dan sebagainya, semuanya akan
menjadi tanggung jawab rakyat, melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal
adalah masyarakat demokratis dan harus direalisasikan secara demokrasi.
Struktur, tujuan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru
harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.[17]
DAFTAR PUSTAKA
As’adi, Basuki dan Ulum,
Miftahul. Pengantar Filsafat Pendidikan. Ponorogo : STAIN Po Press, 2010.
Djumransjah. Filsafat Pendidikan. Malang :
Bayumedia Publising, 2006.
Latif, Abdul. Pendidikan
Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung : PT Refika Aditama, 2009.
Mudyaharjo, Redya. Pengantar
pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Sudiyono. Ilmu Pendidikan Islam jilid II . Jakarta
: PT Rineka Cipta, 2009.
Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : PT
Bumi Aksara, 2008.
http://belajarpai09.blogspot.com/2012/04/filsafat-pendidikan-rekonstruksionisme.html
http://kalaubisasekarangkenapaharusbesok.blogspot.com/2012/05/aliran-filsafat-pendidikan.html
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/11/konsep-aliran-filsafat-pendidikan.html
[1] Basuki As’adi dan Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo
: STAIN PO PRESS, 2010), 30.
[2] Zuhairini,
Filsafat Pendidikan Islam ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008 ), 29.
[3] Basuki As’adi dan
Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan ..., 30.
[4] Zuhairini,
Filsafat ..., 29.
[5] Ibid, 29.
[6] Djumransjah, Filsafat
Pendidikan ( Malang : Bayumedia Publising, 2006), 189.
[7] Ibid, 154.
[8] Basuki As’adi dan Miftahul Ulum, Pengantar
Filsafat Pendidikan ..., 34.
[9] Zuhairini, Filsafat...,
177.
[10] Abdul Latif, Pendidikan
Berbasis Nilai Kemasyarakatan ( Bandung : PT Refika Aditama, 2009), 19-23.
[11] Zuhairini, Filsafat
..., 179.
[12] Abdul Latif, Pendidikan
Berbasis ..., 28-29.
[13]http://kalaubisasekarangkenapaharusbesok.blogspot.com/2012/05/aliran-filsafat-pendidikan.html
[14] Redya Mudyaharjo,
Pengantar Pendidikan (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001),159.
[15] Zuhairini, Filsafat
..., 180.
[16] Sudiyono, Ilmu
Pendidikan Islam jilid II ( Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009), 306.
[17](http://belajarpai09.blogspot.com/2012/04/filsafat-pendidikan-rekonstruksionisme.html)
Sign up here with your email