Oleh Mas Mahmud
Ash Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999.
At Thahhan, Mahmud. Dasar-Dasar Ilmu Takhrij Dan Studi Sanad. Semarang: Dina Utama, 1995.
Azami, M.M. Hadis Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Ali Mustafa Yaqub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
A. Unsur-Unsur Hadits
1. Sanad
Menurut bahasa, sanad
berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut
istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi
Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :
حَدَّثَنَا
محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن
ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ
كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان
يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان
يُقْذفَ فى النَّارِ
“Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya,
‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara
kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW,
sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh
kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya,
(2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3)
keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke
neraka”. (Shahih Bukhari :15)
Maka matan hadits “ ثلاثٌ” sampai dengan “ان
يُقْذفَ فى النَّارِ”
diterima oleh imam Bukhary melalui sanad pertama : محمّد
بن المثنّى, sanad
kedua عبد الوهّاب الثّقفى, sanad ketiga ايوب, sanad keempat ابى
قلابة
dan
seterusnya sampai sanad yang terakhir yaitu
انس
رضي الله عنه,
seorang
sahabat yang langsung menerima sendiri hadits dari nabi Muhammad SAW.
Dalam hal ini juga dapat
dikatakan bahwa sabda nabi SAW tersebut disampaikan oleh sahabat Anas r.a
sebagai rawi pertama, kepada Abi Qilabah sebagai rawi kedua dan menyampaikan kepada
ats Tsaqafy sebagai rawi ketiga dan menyampaikan kepada Muhammad ibn Mutsanna
sebagai rawi keempat hingga sampai kepada imam Bukhary sebagai rawi terakhir.
Dengan demikian imam Bukhary
itu menjadi sanad pertama dan rawi terakhir bagi kita.
2. Matan
Menurut bahasa, matan berarti
punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para
ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang
disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah
“isi hadits itu sendiri”. Contoh :
حدّثنا
مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم
عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و
بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya
sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat
mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut
matan.
3. Rawi
Rawi yaitu
orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada
orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya
dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits
di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan
rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
Dalam kitab kumpulan hadits-hadits
nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang
berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah
اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ
Maksudnya, hadits itu
diriwayatkan oleh tujuh (7) orang rawi yaitu :
a. Imam
Ahmad
b. Imam
Bukhary
c. Imam
Muslim
d. Abu
Dawud
e. At
Turmudzy
f. An
Nasaiy
g. Ibnu
Majah.
Kemudian اَخْرَجَهُ
السِّتَّةُ
maksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh enam (6) orang rawi yaitu : tujuh rawi tersebut di
atas selain Ahmad. Ada lagi اَخْرَجَهُ
الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu
diriwayatkan oleh lima (5) orang rawi yaitu :
a. Imam
Ahmad
b. Abu
Dawud
c. At
Turmudzy
d. An
Nasaiy
e. Ibnu
Majah.
Danالْأَرْبَعَةُ
وَاَحْمَدُ اَخْرَجَهُmaksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh ashabus sunan yang empat (4) orang rawi yaitu :
a. Abu
Dawud
b. At
Turmudzy
c. An
Nasaiy
d. Ibnu
Majah, ditambah 5. Imam Ahmad atau kelima orang rawi selain Ibnu Majah.
اَخْرَجَهُ
الشَّيْخَانِ maksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim. رَوَاهُ
الثَّلَاثَةُ maksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan Abu Dawud. رَوَاهُ
الْأَرْبَعَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam
Bukhary, Muslim, Abu Dawud dan At Turmudzy. رَوَاهُ
الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu
diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud, An Nasaiy dan At Turmudzy.
السُّنَنْ رَوَاهُ
اَصْحَابُ maksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh tiga (3) orang pemilik kitab-kitab sunan yakni Abu
Dawud, At Turmudzy dan An Nasaiy. مُتَفَقٌ
عَلَيْهِ
maksudnya,
hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim.
4. Rijal al hadits
Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang
berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan
hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).
Secara garis besar tokoh-tokoh hadits (rijal
al hadits) dari kalangan sahabat adalah :
a. Abu
Hurairah
b. Abdullah
Ibn Umar
c. Anas
bin Malik
d. Aisyah
binti Abu Bakar al Shidiq
e. Abdullah
Ibn Abbas
f. Jabir
Ibn Abdillah
g. Abu
Said al Khudry
h. Abdullah
Ibn Mas’ud
i. Abu
al Thufail
Sementara
rijal al hadits dari kalangan tabi’in adalah :
a. Sa’id
Ibn Al Musayyab
b. Urwah
Ibn Zubair
c. Nafi’
Al Adawy
d. Al
Hasan Al Bishri
e. Muhammad
Ibn Sirrin
f. Muhammad
Ibn Muslim Al Zuhri
g. Qatadah
Ibn Di’amah
h. Sulaiman
Ibn Mihram Al A’masyzubair
i. Sa’id
Ibn Zubair
j. Mujahid
Ibn Jabir
k. Al
Sya’by
l. Zaid
Ibn Ali
m. Ja’far
Al Shadiq
B. Istilah-Istilah Hadits
1. Isnad
Isnad menurut ilmu bahasa
berarti “menyandarkan”. Menurut istilah “menerangkan sanad hadits (jalan
menerima hadits). Maka, arti saya isnadkan hadits, saya sebutkan sanadnya, saya
terangkan jalan datangnya atau jalan sampainya kepada saya”.
2. Musnid
Musnid adalah orang yang
menerangkan hadits dengan menyebut sanadnya.
3. Musnad
Musnad adalah hadits yang
disebut dengan diterangkan sanadnya yang sampai kepada nabi. Juga dinamai
musnad, sesuatu kitab hadits yang pengarangnya mengumpulkan segala hadits yang
diriwayatkan oleh seorang shahaby dalam satu bab dan yang diriwayatkan oleh
shahaby lain dalam bab yang tersendiri pula, seperti musnad Imam Ahmad. Atau
musnad yang kitab-kitab hadits yang disusun para pengarangnya bersandar pada
nama-nama sahabat.[1]
4. Riwayat
Riwayat menurut bahasa adalah
memindahkan dan menukilkan berita dari seseorang kepada orang lain. Menurut ilmu
hadits yaitu memindahkan hadits dari seseorang guru kepada orang lain/ membukukannya ke dalam kumpulan hadits. Pemindah
hadits disebut rawi.
5. Takhrij
Takhrij menurut bahasa adalah
mengeluarkan sesuatu dari sesuatu tempat. Menurut istilah yaitu :
a. Mengambil sesuatu hadits dari suatu kitab lalu mencari
sanad yang lain dari sanad penyusun kitab itu. Orang yang mengerjakan hal ini disebut
mukharij dan mustakhrij. Pekerjaannya dinamai istikhraj, takhrij dan ikhraj.
b. Menerangkan bahwa hadits itu terdapat dalam suatu kitab
lain seperti kita katakan اَخْرَجَهُ
الْبُخَارِىْ , dinukilkan
ke dalam kitabnya oleh Bukhary (ada tersebut dalam Bukhary)
c. Menerangkan perawi dan derajat hadits yang tidak diterangkan.
DAFTAR RUJUKAN
Ash Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999.
At Thahhan, Mahmud. Dasar-Dasar Ilmu Takhrij Dan Studi Sanad. Semarang: Dina Utama, 1995.
Azami, M.M. Hadis Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Ali Mustafa Yaqub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
M. Isa H.A. Salam Bustamin. Metodologi
Kritik Hadis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Matsna, Moh. Qur’an Hadits. Semarang: Toha Putra,
2004.
Yunus, Mahmud. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Hida
Karya Agung, 1990.
Zuhri, Muh. Telaah Matan Hadits Sebuah Tawaran Metodologis. Yogyakarta:--, 2003.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/11/materi-ulumul-hadits-unsur-unsur-hadits.html
Zuhri, Muh. Telaah Matan Hadits Sebuah Tawaran Metodologis. Yogyakarta:--, 2003.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/11/materi-ulumul-hadits-unsur-unsur-hadits.html
[1] Prof.Dr. Mahmud Al Thahhan, Dasar-Dasar
Ilmu Takhrij Dan Studi Sanad (Semarang : Dina Utama, 1995), 40.
MATERI TERKAIT :
- HADITS DAN STRUKTURNYA : PENGERTIAN HADITS, SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR
- RESUME MATERI ULUMUL HADITS: SEJARAH HADITS PRA KODIFIKASI
- RESUME MATERI ULUMUL HADITS: KODIFIKASI HADITS (TADWIN)
- TAKHRIJ HADITS DAN SANAD
- METODE TAKHRIJ AL HADIS
- PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADIS PADA MASA SAHABAT DAN TABI’IN
Sign up here with your email