oleh Muhammad Zainuddin
Rasulullah SAW
bersabda:
عن أبي عمرو وقيل : أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي رضي الله عنه – قال : يا
رسول الله , قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك, قال " قل آمنت
بالله ثم استقم " رواه مسلم
.
Dari Abu ‘Amrah Sufyan
bin ‘Abdullah radhiyallahu anhu, ia berkata : " Aku telah berkata : ‘Wahai
Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak
akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman
kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’
(H.R.Muslim)
Dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam dimintai untuk memberikan suatu nasehat yang amat berguna dan
cukup bagi si penanya (perawi hadits) sehingga dia tidak akan bertanya lagi
kepada orang lain tentang hal tersebut, lantas beliau Shallallahu 'alaihi
wasallam memerintahkannya agar mengucapkan : "aku beriman kepada
Allah", (serta segala konsekuensinya) kemudian beristiqamah alias
memantapkan keimanannya tersebut dalam agama.
Kalimat “katakanlah kepadaku tentang
Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun
kecuali kepadamu”, maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang
pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti,
sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya
beramal. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Katakanlah :
‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ “. Ini adalah
kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam.
Dalam dua kalimat ini telah terpenuhi
pengertian iman dan Islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk
selalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati,
serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi
semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia
menyimpang walaupun hanya sebentar.
Hal ini sejalan dengan firman Allah :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya mereka
yang berkata : Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah……”.(QS.
Fushshilat : 30)
yaitu iman kepada Allah semata-mata
kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai
mati.
‘Umar bin khaththab berkata :
“Mereka (para sahabat)
istiqamah demi Allah dalam menaati Allah dan tidak sedikit pun mereka itu
berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang”. Maksudnya, mereka lurus dan
teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam
keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus-menerus berbuat begitu
(sampai mati).
Demikianlah pendapat sebagian besar para
mufassir. Inilah makna hadits tersebut, Insya Allah.
Begitu pula firman Allah :
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Maka tetaplah
kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang
yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya
Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan..(QS. Hud : 112)
Menurut Ibnu ‘Abbas, tidak satu pun ayat
Al Qur’an yang turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dirasakan
lebih berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
pernah bersabda :
“Aku menjadi
beruban karena turunnya Surat Hud dan sejenisnya”.
Abul Qasim Al Qusyairi berkata :
“Istiqamah adalah satu
tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan
istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang
tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”. Ia
berkata pula : “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa
dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari
kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah
dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam bersabda : ‘Istiqamahlah kamu sekalian, maka kamu akan selalu
diperhitungkan orang’.
Al Washiti berkata :
“Istiqamah adalah
sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat
ini rusaklah kepribadian seseorang”.
Dalam riwayat yang lain terdapat
tambahan; yaitu perawi hadits setelah itu bertanya lagi kepada Rasulullah:
"Wahai
Rasulullah! Apa yang engkau paling takutkan dari diriku?" atau (dalam
riwayat yang lain: "apa yang harus aku jaga?", lantas Rasululullah
memegang lisannya sembari bersabda: "ini!" atau dalam riwayat lain:
beliau Shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat ke arah lisannya.
Perkataan Sufyan bin 'Abdullah ats- Tsaqafi
kepada nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits yang kita bahas di atas:
"'wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku
tidak akan menanyakannya kepada selain engkau! " ; maksudnya adalah bahwa
dia meminta kepada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam agar mengajarkannya
suatu ucapan yang jaami' (universal, valid) dan juga cukup yang berkaitan
dengan ajaran Islam sehingga dia tidak membutuhkan (penjelasan) siapapun
setelah beliau, lalu nabi bersabda kepada beliau "ucapkanlah! 'aku telah
beriman, kemudian beristiqamahlah! ".
Dalam riwayat yang lain, beliau
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Ucapkanlah!
'Rabb-ku adalah Allah' kemudian beristiqamahlah! ".
Redaksi ini sepadan dengan firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan):"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu" (QS. 41/Fushshilat: 30) ,
Dan firmanNya:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesunguhnya
orang-orang yang mengatakan:'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka tetap
istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)
berduka cita". (QS. 46/al-Ahqaaf:13).
A. Pengertian "al-Istiqamah" dan istilah yang terkait dengannya
- Istiqamah Adalah berjalan di jalan yang
lurus, yaitu ad-Diinul Qayyim tanpa adanya kepincangan baik ke kanan
maupun ke kiri. Jadi, mencakup pelaksanaan segala bentuk keta'atan kepada
Allah, baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah serta meninggalkan
semua larangan-laranganNya. Dengan demikian wasiat beliau Shallallahu
'alaihi wasallam ini menjadi universal dan mencakup semua ajaran-ajaran
agama.
Diantara istilah lain yang berkaitan
dengan istiqamah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab
"ash-Shahihain" dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam, beliau bersabda:
"Bertindaklah
kalian secara benar yang mencapai tujuan/sasaran (as-Sadaad) dan
bermuqarabah-lah (lakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan) ".
Kedua istilah tersebut adalah:
- As-Sadaad Adalah hakikat dari istiqamah,
yaitu bertindak benar dalam semua perkataan, perbuatan dan tujuan sebagaimana
orang yang ingin mencapai suatu tujuan lantas dia melakukannya dengan
benar. Dalam hal ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah
memerintahkan 'Ali agar berdoa kepada Allah memohon as-Sadaad dan al-Huda
(petunjuk). Beliau bersabda kepadanya :"ingatlah kejituan kamu dalam
mengarahkan anak panah ke sasaran (demikian pula tatkala memohon as-Sadaad
kepada Allah, sebab makna asalnya demikian-red), dan (upayamu mendapat)
petunjuk jalan agar kamu sampai ke tujuan perjalanan (demikian pula
tatkala memohon petunjuk dari Allah)".
- Al-Muqaarabah Adalah melakukan tindakan yang
benar yang mendekati tujuan, jika belum mencapai tujuan yang sesungguhnya.
Akan tetapi hal ini dilakukan dengan syarat, benar-benar bertekad untuk
menuju as-Sadaad dan kejituan mencapai tujuan. Jadi, muqarabah yang
dilakukannya terjadi dari ketidaksengajaan. Senada dengan hal ini, sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits al-Hakam bin Hazn
al-Kulafi: "wahai manusia sekalian! Sesungguhnya kalian tidak akan
dapat melakukan – atau tidak akan mampu (melakukan) - setiap apa yang aku
perintahkan kepada kalian, akan tetapi berbuatlah secara as-Sadaad
(bertindak secara benar yang mencapai tujuan/ sasaran) dan berilah kabar
gembira. Maknanya; capailah tujuan dan sasaran secara benar serta
istiqamah sebab kalaupun mereka dapat melakukannya sesuai dengan sasaran/ tujuan
yang ingin dicapai dalam semua perbuatan niscaya mereka telah melakukan
semua apa yang diperintahkan kepada mereka (sebab hal itulah yang
dituntut).
Alhasil, makna asal istiqamah adalah
istiqamahnya (ketetapan/kemantapan) hati dalam bertauhid, sebagaimana yang
ditafsirkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan lainnya. FirmanNya:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
"Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah' kemudian mereka tetap
istiqamah" (QS. Al-Ahqaaf: 13)
Hal ini direalisasikan oleh mereka
dengan tidak mengalihkan perhatian kepada selainNya. Jadi, bila hati telah
mantap (istiqamah) dalam ma'rifatullah (mengenal Allah), takut kepadaNya,
mengagungkanNya, segan terhadapNya, mencintaiNya, menuju kepadaNya,
mengharapkanNya, berdoa kepadaNya, bertawakkal kepadaNya serta berpaling dari
selainNya, maka akan mantap (istiqamah) lah seluruh anggota badan untuk
melakukan keta'atan kepadaNya. Sebab hati ibarat sang raja bagi seluruh aggota
badan sedangkan anggota badan ibarat tentara-tentaranya; maka bila sang raja
mantap dan lurus (istiqamah) niscaya tentara-tentara dan rakyatnya akan berbuat
demikian.
B. Obyek yang perlu diperhatikan dalam beristiqamah
Obyek yang paling utama dari seluruh
anggota badan setelah hati untuk diperhatikan agar tetap istiqamah adalah lisan
. Lisan ibarat penerjemah bagi hati dan juru bicaranya; oleh karena itu, ketika
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar beristiqamah, beliau
mewasiatkan Sufyan (perawi hadits dalam pembahasan kita ini) agar menjaga lisan
nya.
Mengenai statement ini, terdapat
beberapa hadits yang mendukungnya, diantaranya:
- Hadits
dalam musnad Imam Ahmad dari Anas dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam,
beliau bersabda: "Keimanan seorang hamba tidak akan
mantap/lurus (istiqamah) hingga hatinya mantap/lurus, dan hatinya tidak
akan mantap hingga lisannya juga demikian".
- Hadits
dalam sunan at-Turmuzi dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfu' dan
mauquf: "Bila anak Adam menjelang pagi, maka seluruh
anggota badannya akan meminta kaffaarat (jaminan/tebusan) dari lisan,
sembari berkata:'takutlah kepada Allah terhadap (nasib) kami; jika engkau
lurus/mantap maka kamipun akan demikian, dan jika engkau bengkok maka
kamipun akan demikian' ".
C. Penafsiran Ulama Salaf Tentang Makna "al-Istiqamah"
- Penafsiran
Abu Bakar ash-Shiddiq
Beliau berkata mengenai ayat:
"…kemudian mereka tetap istiqamah…" ; "mereka tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatupun". Dalam riwayat lain, dia berkata: "mereka
tidak mengalihkan perhatian kepada tuhan yang lain selainNya". Dalam
riwayat lain lagi dari beliau: "kemudian mereka tetap istiqamah untuk
(menyatakan) bahwa Allah lah Rabb mereka".
- Penafsiran
Ibnu 'Abbas
Terdapat riwayat dengan sanad dha'if
(lemah), yaitu perkataan beliau :"inilah ayat yang paling singkat dalam
Kitabullah : firmanNya: " mereka mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah,
kemudian mereka tetap istiqamah (meneguhkan pendirian mereka) ; (yaitu) dalam
kalimat syahadat laa ilaaha illallaah. Demikian pula diriwayatkan dalam versi
yang sama dari Anas, Mujahid, al-Aswad bin Hilal, Zaid bin Aslam, as-Sudday,
'Ikrimah dan selain mereka. Dan dalam riwayat lain dari 'Ali bin Abi Thalhah
dari Ibnu Abbas, dia berkata mengenai firman Allah : "…kemudian mereka
tetap istiqamah…" ; yaitu mereka tetap istiqamah dalam menjalankan
kewajiban-kewajiban yang diembankan oleh Allah kepada mereka".
(diriwayatkan oleh ath-Thabari; dalam periwayatan ini, 'Ali bin Abi Thalhah tidak
pernah bertemu dengan Ibnu 'Abbas).
- Penafsiran
'Umar bin al-Khaththab
Terdapat riwayat dari umar dengan sanad
munqathi' (terputus) meskipun perawi-perawinya tsiqat, bahwa saat diatas mimbar
dia pernah membaca ayat dalam firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah",
kemudian mengomentarinya: "…mereka tidak meraung seperti raungan
srigala".
- Penafsiran
Abul 'Aliyah
Mengenai ayat tersebut dia berkata:
"…kemudian mereka mengikhlaskan agama dan amalnya kepadaNya semata".
(Ibnu Katsir melansir hal ini dalam tafsirnya terhadap ayat ini).
- Penafsiran
Qatadah
Mengenai ayat tersebut dia berkata:
"mereka tetap istiqamah (konsisten) dalam berbuat taat kepada Allah".
- Sikap
al-Hasan al-Bashri-
Ketika mendengar ayat tersebut, al-Hasan
berkata: "ya Allah! Engkau Rabb kami, karenanya anugerahilah kami
istiqamah/kemantapan hati (dalam agama)".
D. Ayat-Ayat yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ
إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ
لِّلْمُشْرِكِينَ
" Katakanlah:
"Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang
lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah
bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,
(QS. 41/Fushshilat:
6).
Demikian pula, Allah Ta'ala memerintahkan
agar menegakkan agama ini secara umum,/menyeluruh sebagaimana firmanNya:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا
الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
"Dia telah
mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada
Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu:
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya...". (QS.
42/asy-Syuura: 13).
PerintahNya dalam banyak ayat agar
mendirikan shalat semakna dengan kedua ayat tersebut yang memerintahkan agar
tetap istiqamah dalam bertauhid.
E. Cara mengatasi keterbatasan dalam beristiqamah
Keterbatasan dalam beristiqamah yang
telah diperintahkan oleh Allah tidak akan dapat dihindari, oleh karena itu
sebagai upaya untuk menggantikan dan menyempurnakannya kita diperintahkan untuk
memohon ampunan kepadaNya sebagai bentuk taubat dan kembali ke jalan istiqamah.
Hal ini disinggung
dalam firman Allah Ta'ala berfirman:
فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
"…Maka tetaplah
pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya…
".(QS. 41/Fushshilat: 6).
Ayat ini senada dengan sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Mu'adz bin Jabal:
"Takutlah kamu
kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah (timbalilah) perbuatan jelek
dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus (kejelekan tersebut)".
Sebab, sebagaimana
sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam yang lain bahwa manusia tidak akan
sanggup beristiqamah dengan sebenar-benar istiqamah (H.R.Ahmad).
F. Kesimpulan:
1. Istiqamah amat terkait dengan tauhid dan keimanan yang benar terhadap Rabb.
2. Jalan menuju istiqamah amat sulit dan tidak mungkin dapat beristiqamah
dengan sebenar-benarnya, karenanya perlu dibarengi dengan istighfar sebagai
bentuk taubat dan upaya kembali ke jalan istiqamah.
3. Obyek utama dari anggota badan setelah hati yang perlu dijaga agar dapat
beristiqamah adalah lisan.
Rujukan:Kitab Hadits Arbain Nawawiyyah Hadits ke :21
Wallahua'lam bishshowwab
Semoga bermanfaat !
SUMBER = http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/11/hikmah-beristiqamah-dalam-beragama.html
Sign up here with your email