BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Mulahidhoh
Muhadloroh secara bahasa adalah: Pertama, Lahadho-lahdhon wa lahadhoonan yang artinya melirik,
memandang. Sedangkan Al Mulaahidhu=Al
Mulaahidhotu artinya pengawas atau
bisa disebut pengurus. Kedua, hadloro: hudluuron artinya “Menghadiri” dan Al
Muhadloroh artinya “Ceramah” atau bisa disebut “pidato”.[1] Ceramah
atau pidato adalah tehnik penyampaian pesan pengajaran yang sudah ladzim
dipakai guru. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara
lisan didepan kelas.[2] Cara
mengajar ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu
cara yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian
tentang suatu pokok persoalan atau masalah. Dengan demikian, dapat dipahami
bahwa ceramah atau pidato adalah cara penyajian yang dilakukan dengan penuturan atau penjelasan lisan secara
langsung.[3] Sistem muhadloroh diberikan dengan cara
memberikan pokok-pokok pikiran terlebih dahulu, baru kemudian diberikan
perincian mengenai pokok-pokok tersebut. Ibnu Khaldun menganjurkan dalam
memberikan pelajaran itu agar dilakukan sistem berangsur-angsur sampai para
siswa mengerti dan cukup merasa jelas dengan persoalan.[4] Mulahidhoh Muhadloroh adalah pengurus
yang bertugas mengatur dan mengawasi jalannya kegiatan Muhadloroh. Kegiatan ini
dilaksanakan tiga kali seminggu dalam tiga bahasa yaitu: Sabtu siang bahasa
Inggris, senin siang bahasa Arab dan kamis siang bahasa Indonesia. Dengan begitu pengurus muhadloroh berharap agar
santriwati dapat membentuk mental dan mampu berpidato dengan berbagai bahasa.[5]
Kaitannya dengan
hal di atas, dari hasil observasi lapangan dan wawancara peneliti dengan
pengurus anggota muhadlarah dan beberapa ustadzah pembimbing telah ditemukan
masalah bahwasanya Mulahidhah Muhadlarah
terlalu keras dalam membina santriwati di Pesantren Putri Al Mawaddah Coper
Jetis Ponorogo. Hal tersebut dikarenakan santriwati yang khususnya masih kelas
satu dan satu pintas masih sulit dalam membuat konsep pidato maupun kurangnya
kosa kata bahasa yang dikuasai. Masalah tersebut sudah pasti berpengaruh
terhadap kegiatan muhadlarah yang semakin lama semakin menurun kualitas
berpidatonya. Karena itu, fenomena tersebut menjadi tantangan baru bagi semua pihak pesantren putri Al Mawaddah Coper
Jetis Ponorogo. Melalui Mulahidhah
Muhadlarah atau Pengurus Muhadlarah
para pimpinan Pesantren Putri Al Mawaddah dan segenap Ustadzah pembimbing memberi kepercayaan dalam membina dan mengawasi
kegiatan Muhadlarah ini.
Dari realita di
atas, maka hal ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi peneliti, apa yang akan
dilakukan Mulahidhoh Muhadlarah agar
ketrampilan berpidato santriwati di Pesantren Putri Al- Mawaddah meningkat?
Dari penjajagan
awal pada hari sabtu, 29 Januari 2011 bahwasanya kegiatan Muhadlarah ini diikuti oleh sejumlah santriwati yang telah
dikelompokkan oleh pengurus Muhadlarah
(Mulahidhah Muhadlarah) menurut
tingkatan kelas. Tiap-tiap kelompok terdiri dari beberapa pengurus Muhadlarah,
pengurus anggota muhadlarah (Mudabbirah)
dan anggota muhadlarah. Pada masing-masing kelompok, telah disiapkan
petugas-petugas acara yang telah ditunjuk oleh pengurus anggota muhadlarah.
Kegiatan ini dipandu oleh MC (Master of
Ceremony). Dimana acara ini diawali dengan pembacaan basmalah, setelah itu pembacaan ayat suci Al Qur’an, dilanjutkan
dengan menyanyikan Mars Al Mawaddah. Acara yang menjadi inti dari kegiatan ini
adalah pidato yang akan disampaikan oleh empat anggota yang telah terpilih pada
hari itu, yang sebelumnya mereka harus membuat dan menyerahkan konsep pidato
kepada Mulahidhah Muhadlarah untuk
diperiksa dan dikoreksi pidato yang akan disampaikan para anggota. Di tengah
kegiatan berpidato ada kesempatan para audience
memberikan yel-yel sebagai
penyemangat anggota yang berpidato ataupun untuk menghidupkan suasana kelompok.
Semua kegiatan yang telah dilaksanakan di atas akan dievaluasi oleh Mulahidhah Muhadlarah di akhir acara,
yang biasanya disertakan dengan memberikan pengumuman-pengumuman tertentu.
Hasil evaluasi ditulis dalam buku evaluasi kelompok dan buku evaluasi Mulahidhah Muhadlarah. Kemudian evaluasi
dibacakan di depan anggota, dengan maksud mereka bisa mengetahui kekurangan dan
adanya perbaikan dari kesalahan pada hari itu. Acara terakhir ditutup dengan
pembacaan do’a kafaratul Majlis
bersama-sama.
Berangkat dari
kerangka di atas maka judul skripsi ini adalah
“Pengembangan Nilai-Nilai Keteladanan Dengan Ketrampilan Berpidato
Melalui Kegiatan Muhadlarah Di
Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011”.
B.
Fokus
Penelitian
Dari perkembangan Al-Mawaddah dalam
bidang berpidato, saat ini memang dinilai telah menurun sangat jauh dari
sebelumnya. Maka, berangkat dari latar belakang di atas, fokus penelitian dalam
skripsi ini adalah:
1. Pengembangan
nilai-nilai keteladanan.
2. Pengembangan
ketrampilan berpidato.
3. Kegiatan
Muhadlarah.
C.
Rumusan
Masalah
Berangkat dari fokus penelitian di atas,
maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
pengembangan nilai-nilai keteladanan dalam kegiatan Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode
2010-2011?
2. Bagaimana
pengembangan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah Coper Jetis
Ponorogo Periode 2010-2011?
3. Apa
penghambat dan pendukung kegiatan
Muhadlarah dalam meningkatkan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al
Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011?
D. Tujuan
penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian
ini adalah:
1. Untuk
menjelaskan pengembangan nilai-nilai keteladanan dalam kegiatan Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper Jetis
Ponorogo Periode 2010-2011.
2. Untuk
menjelaskan pengembangan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah
Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
3. Untuk
menjelaskan penghambat dan pendukung kegiatan Muhadlarah dalam meningkatkan ketrampilan berpidato santriwati di
PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
E. Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat
Teoritis
Dari penelitian ini akan ditemukan
pengembangan nilai-nilai keteladanan dan ketrampilan berpidato santriwati
melalui kegiatan Muhadlarah di PP Al
Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
2.
Manfaat
Praktis
Secara
praktis penelitian ini akan bermanfaat bagi :
a. Peneliti
untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan pemikiran serta dapat memecahkan
suatu masaloah dalam penelitian.
b. Para
pimpinan pesantren putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo dalam membentuk Al
Mar’atus Sholihah yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas,
berfikiran bebas, berjiwa ikhlas serta berpegang teguh pada qodrat sebagai
seorang wanita.
c. Para
Ustadzah pembimbing dalam meningkatkan kualiatas berpidato santriwati yang
kreatif dan aktif.
d.Mulahidhah
Muhadlarah (pengurus Muhadlarah)
dalam mengawasi dan membina santriwati dalam mengembangkan ketrampilan
berpidato.
e. Santriwati
dapat menambah wawasan dan memperkaya ilmu pengetahuan.
F.
Metode
Penelitian
1.
Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan
penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif (kl) adalah penelitian yang
berlandaskan pada filsafat post-positivisme, digunakan untuk meneliti pada
kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambil
sampel, sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan
triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankan “makna”
daripada generalisasi.[6]
Terdapat banyak alasan yang sahih untuk
melakukan penelitian kualitatif. Salah satunya adalah kemantapan peneliti
berdasarkan pengalaman penelitiannya. Alasan lain adalah sifat dari masalah
yang diteliti. Dalam beberapa bidang studi, pada dasarnya lebih tepat digunakan
jenis penelitian kualitatif, misalnya penelitian yang berupaya mengungkap sifat
pengalaman seseorang dengan fenomena tertentu. Metode kualitatif dapat
digunakan untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena yang
sedikitpun belum diketahui.[7]
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan
data tidak dipandu oleh teori, tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan
pada saat penelitian di lapangan. Analisis data dalam penelitian kualitatif
dilakukan sejak peneliti menyusun proposal, melaksanakan pengumpulan data di
lapangan, sampai peneliti mendapatkan seluruh data.[8]
2.
Kehadiran
Peneliti
Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan
berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan
skenarionya. Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen
kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain
sebagai penunjang. Dalam penelitian kualitatif, instrumennya adalah orang atau Human Instrument. Untuk dapat menjadi
instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas,
sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan mengontruksi obyek yang
diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.[9]
Adapun ciri-ciri manusia sebagai instrumen adalah
sebagai berikut:
a. Responsif.
b. Dapat
menyesuaikan diri.
c. Menekankan
keutuhan.
d. Mendasarkan
diri atas perluasan pengetahuan.
e. Memproses
data secepatnya.
f. Memanfaatkan
kesempatan untuk mengklarifikasikan dan mengintikhsarkan.
g. Memanfaatkan
kesempatan untuk mencari respon yang tidak lazim dan idionsinkratik.[10]
Pada dasarnya peneliti itu hendaknya
memiliki sejumlah kualitas pribadi sebagai berikut: toleran, sabar, menunjukkan
empati, menjadi pendengar yang baik, manusiawi, bersikap terbuka, jujur,
objektif, penampilannya menarik, mencintai pekerjaan wawancara, senang
berbicara dan semacamnya.
Kemampuan peneliti sebagai instrumen
dapat ditingkatkan dengan jelas. Pertama-tama peneliti hendaknya pergi kepada
situasi baru untuk memperoleh pengalaman, kemudian berusaha mencatat apa saja
yang terjadi dan mewawancarai beberapa orang serta mencatat apa saja yang menjadi
hasil wawancara.[11]
3.
Lokasi
penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Pesantren
Putri Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo, yang secara resmi mendeklarasikan oleh
kepala kantor departemen agama Ponorogo Drs. H Abdurrahman Aziz serta pimpinan
Pondok Modern Gontor KH Hasan Abdullah Sahal pada tanggal 9 Dzulhidjah 1409 H
bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1989.
Program pendidikan di Pesantren Putri Al
Mawaddah dipadukan dengan sistem Pondok Modern Gontor. Proses pendidikan
berlangsung selama 24 jam, sehingga segala yang dilihat, didengar dan
diperhatikan santri di pondok tersebut adalah pendidikan. Pelajaran agama dan
pelajaran umum diberikan secara seimbang.
4.
Sumber
Data
Menurut Lofland dan Lofland (1984)
sumber data utama dalam penelitian kualitatif
adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lainnya.[12] Dengan
demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan sebagai
sumber data utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan statistik adalah
sebagai sumber data tambahan.
5.
Prosedur
Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada
penelitian ini adalah meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab bagi
peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila
dilakukan interaksi dengan subjek melalui wawancara mendalam dan observasi
secara langsung, dimana fenomena tersebut berlangsung dan di samping itu untuk
melengkapi data dibutuhkan dokumentasi terkait dengan objek yang diteliti.
a.
Teknik
Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang,
melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Menurut
Guba dan Lincoln (1981), membagi wawancara sebagai berikut :
1). Wawancara
oleh Tim atau Panel.
Wawancara oleh tim berarti wawancara
dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih
terhadap seseorang yang diwawancarai. Cara ini digunakan, hendaknya pada
awalnya sudah dimintakan kesepakatan dan persetujuan dari yang diwawancarai
oleh dua orang. Dipihak lain, seorang pewawancara dapat saja memperhadapkan dua
orang atau lebih yang diwawancarai sekaligus, yang dalam hal ini dinamakan
panel.
2). Wawancara
Tertutup dan Wawancara Terbuka.
Pada wawancara tertutup biasanya yang
diwawancarai tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka diwawancarai.
Mereka tidak mengetahui tujuan wawancara. Cara demikian tidak terlalu sesuai
dengan peneitian kualitatif yang biasanya berpandangan terbuka. Jadi, dalam
penelitian kualitataif sebaiknya
digunakan wawancara terbuka yang para subjeknya tahu bahwa mereka sedang
diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu.
3). Wawancara
Riwayat Secara Lisan.
Jenis ini adalah wawancara terhadap
oarang-orang yang pernah membuat sejarah atau yang pernah membuat karya ilmiah,
sosial, pembangunan, perdamaian dan sebagainya. Maksud wawancara ini ialah
untuk mengungkapkan riwayat hidup, pekerjaannya, kesenangannya, ketekunannya,
pergaulannya dan lain-lain.[13]
4). Wawancara
Terstruktur dan Wawancara Tak Terstruktur.
Wawancara terstruktur adalah wawancara
yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang
akan diajukan. Peneliti yang menggunakan jenis wawancara ini bertujuan mencari
jawaban terhadap hipotesis. Untuk itu pertanyaan-pertanyaan disusun dengan
ketat. Jenis ini dilakukan pada situasi jika sejumlah sampel yang representatif
ditanyai dengan pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek
dipandang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab petanyaan yang
diajukan. Jenis wawancara ini tampaknya bersamaan dengan apa yang dinamakan
wawancara baku terbuka menurut Patton seperti yang dijelaskan di atas.
Format wawancara yang digunakan bisa
bermacam-macam, dan format itu dinamakan ”Protokol Wawancara”. Protokol
wawancara itu dapat juga berbentuk terbuka. Pertanyaan-pertanyaan itu disusun
sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam desain penelitian.
Wawancara tak terstruktur merupakan
wawancara yang berbeda dengan yang terstruktur. Cirinya kurang diintrupsi dan
arbiter. Wawancara semacam ini digunakan untuk menemukan informasi yang bukan
baku atau informasi tunggal. Hasil wawancara semacam ini menekankan
kekecualian, penyimpangan, penafsiran yang tidak lazim, penafsiran kembali,
pendekatan baru, pandangan ahli, atau perspektif tunggal.
Wawancara ini sangat berbeda dari yang
wawancara terstruktur dalam hal waktu bertanya dan cara memberikan respons, yaitu jenis ini jauh lebih
bebas iramanya. Responden biasanya terdiri atas mereka yang terpilih saja
karena sifat-sifatnya yang khas. Biasanya mereka memiliki pengetahuan dan
mendalami situasi, dan mereka lebih mengetahui informasi yang diperlukan.[14]
Berangkat dari beberapa teknik wawancara di atas, maka dalam penelitian
kualitatif ini, peneliti menggunakan wawancara terbuka dengan wawancara
terstruktur dan tak terstruktur.
b. Teknik Observasi
Nasution (1988) menyatakan bahwa observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan
data, yaitu faktamengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui obsevasi.
Marshal (1995) menyatakan bahwa melalui observasi peneliti belajar tentang
perilaku dan makna dari perilaku tersebut.
Sanafiah Faisal (1990) mengklasifikasikan observasi
menjadi observasi berpartisipasi (participant
observation ), observasi yang secara terang-trangan dan tersamar (over observation dan covert observation),
dan observasi tak tersetruktur (unstructured
observation).[15]
1). Observasi
Partisipatif.
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan
kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai
sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan
apa yang dikerjakan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan
observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam
dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.
Observasi ini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
a). Partisipasi
Pasif: peneliti ke tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut
terlibat dalam kegiatan tersebut.
b). Partisipasi
Moderat: dalam observasi ini terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi
orang dalam dengan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi
partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.
c). Partisipasi
Aktif: peneliti ikut melakukan apa yang
dilakukan oleh nara sumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.
d). Partisipasi
Lengkap: peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber
data. Jadi, suasananya sudah natural, peneliti tidak terlihat melakukan
penelitian. Hal ini merupakan keterlibatan peneliti yang tertinggi terhadap aktivitas
kehidupan yang diteliti.
2). Observasi
Terus Terang atau Tersamar.
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan
data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan
penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir
tentang aktivitas peneliti. Tetapi di saat yang lain peneliti juga tidak terus
terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu
data yang dicari merupakan data yang
masih dirahasiakan. kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka
peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.[16]
3). Observasi
Tak Terstruktur.
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan
dengan tidak terstruktur, karena fokus penelitian belum jelas. Fokus observasi
akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Observasi tidak
terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang
apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara
pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu
pengamatan.[17]
Berangkat dari beberapa teknik observasi di atas,
maka dalam penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan observasi partisipasi
pasif dan observasi terus terang.
c. Teknik
Dokumentasi
Akhir-akhir ini orang banyak membedakan tentang
dokumen dan record. Guba dan Lincoln
(1981) mendefinisikan, record adalah
setiap pernyataan tertuliss yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk
keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting. Dokumentasi ialah
setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang
penyidik.[18]
Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian
sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat
dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.
Dokumen dan record
digunakan untuk keperluan penelitian, karena alasan-alasan yang bisa digunakan
sebagai berikut:
1). Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber
yang stabil, kaya, dan mendorong.
2). Berguna sebagai
“bukti” untuk suatu pengujian.
3). Keduanya berguna
dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai
dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4). Record
relatif murah dan tidak sukar diperoleh, tetapi dokumentasi harus dicari dan
ditemukan.
5). Keduanya
tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
6). Hasil
pengkajian isi akan membuka keseempatan untuk lebih memperluas tubuh
pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan
data dari sumber tertentu. Dokumentasi bisa melalui catatan tertulis maupun
perekaman video/audio tapes, pengambilan
foto atau film. Sekarang ini foto sudah lebih banyak dipakai sebagai alat untuk
keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai keperluan.
Foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan
untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara
induktif. Ada dua kategori foto yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian
kualitatif, yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh
peneliti sendiri (Bogdan dan Biklen, 1982).[19]
Berangkat dari beberapa teknik dokumentasi di atas,
maka dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan dokumentasi tertulis
dan foto sebagai data penelitian dalam skripsi ini.
6.
Analisis
Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun
secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan
dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat
diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan
mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan
membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain.[20]
Susan Stainback mengemukakan bahwa, analisis data
merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kualitatif. Analisis
digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis
dapat dikembangkan dan dievaluasi. Spradley menyatakan bahwa, analisis dalam
penelitian apapun adalah merupakan cara
berfikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu
untuk menentukan bagian, hubungan antar
bagian dan hubungannya dengan keseluruhan. Analisis adalah untuk mencari pola.
Berdasarkan dari hal tersebut di atas, dapat
dikemukakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan
dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan
ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana
yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah
difahami oleh diri sendiri mupun orang lain.[21]
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif,
yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan
pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang
dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara
berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut
diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data
yang dapat dikumpulkan secara triangulasi, ternyata hipotesis diterima maka
hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.[22]
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan
pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data
dalam periode tertentu. Miles dan Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas
dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung
secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas
dalam analisis data, yaitu data
reduction, data display dan conclusion
drawing/ verification. Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar
berikut:
Gambar
I
Penyajian
Data
|
||||
Reduksi
Data
|
||||
Penarikan Kesimpulan/verifikasi
| ||||
a. Data
Reduction (reduksi data)
Dalam mereduksi data setiap peneliti
akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian
kualitatif adalah pada penemuan. Oleh karena itu, kalau peneliti dalam
melakukan penelitian, menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal,
belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian peneliti
dalam melakukan reduksi data.
Reduksi data merupakan proses berfikir
sensitif yang memerlukan kecerdasan, keluasan dan kedalaman wawasan yang
tinggi. Bagi peneliti yang masih baru, dalam melakukan reduksi data dapat
mendiskusikan pada teman atau orang lain yang dipandang ahli. Melalui diskusi
tersebut, maka wawasan peneliti akan berkembang, sehingga dapat mereduksi
data-data yang memiliki nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.[23]
b. Data
Display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data maka data
terorganisikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah
dipahami.[24]
c. Conclusion
drawing/ Vertification
Langkah ketiga dalam penelitian
kualitatif menurut Miles dan Huberman
adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kessimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti
kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang
valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.[25]
7. Pengecekan
Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan
teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat
kriteria yang digunakan:
a. Derajat
Kepercayaan (credibility)
Kriteria ini berfungsi: pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat
kepercayaan penemuanya dapat dicapai; kedua,
mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan
pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedangdteliti.[26]
b. Keteralihan (transferability)
Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan
penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti hendaknya
mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan
demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif
secukupnya. Untuk keperluan tersebut peneliti harus melakukan penelitian kecil
untuk memastikan usaha memvertifikasi tersebut.
c. Kebergantungan (dependability)
Kebergantungan merupakan substitusi istilah
reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif. Persoalan yang amat sulit
dicapai di sini ialah bagaimana mencari kondisi yang benar-benar sama. Di
samping itu juga terjadi ketidakpercayaan pada instrumen penelitian. Hal ini
sama dengan penelitian alamiah yang mengandalkan orang sebagai instrumen.
Mungkin karena keletihan, atau karena keterbatasan mengingatsehingga membuat
kesalahan. Namun, kekeliruan yang dibuat orang demikian jelas tidak mengubah
keutuhan kenyataan yang distudi. Juga tidak mengubah adanya desain yang muncul
dari data, dan bersamaan dengan itu tidak mengubah pandangan dan hipotesiskerja
yang dapat bermunculan.
d. Kepastian (confirmability)
Di sini pemastian bahwa sesuatu itu objektif atau
tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat,
dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu
subjektif sedangkan jika disepakati oleh beberapa orang, barulah dapat
dikatakan objektif. Maka dari itu dapat diambil pengertian bahwa jika sesuatu
itu objektif, berarti dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan.[27]
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling
banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzin (1978) membedakan empat macam
triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penhggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.
Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan
atau informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Pada triangulasi
dengan metode, menurut Patton (1987)
terdapat dua strategi, yaitu: pertama,
pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik
pengumpulan data. Kedua, pengecekan
derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Teknik
triangulasi jenis ketiga ialah memanfatkan peneliti
atau pengamat lainnya untuk keperluan
pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat membantu
mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data. Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981),
bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu
atau lebih teori. Di pihak lain Patton (1987) berpendapat bahwa hal itu dapat
dilaksanakan dan hal itu dinamakannya penjelasan banding.[28]
8.
Tahapan-tahapan
Penelitian
Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada
3(tiga) tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelit ian yaitu tahap
penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian itu adalah:
a. Tahap
pra-lapangan, yang meliputi: rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian,
mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan
memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut
persoalan etika penelitian.
b. Tahap pekerjaan
lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki
lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.
c. Tahap analisis
data, yang meliputi: analisis selama dan setelah pengumpulan data.
d. Tahap penulisan
hasil laporan penelitian.
G. Sistematika
Pembahasan
Pada pembahasan skripsi ini terbagi menjadi 5 bab.
Adapun untuk memudahkan dalam memahami skripsi ini, maka peneliti menyusun
sistematika pembahasan.
Bab pertama, merupakan bab pendahuluan. Bab ini
berfungsi sebagai gambaran umum untuk memberikan pola penilaian bagi
keseluruhan skripsi yang meliputi: latar belakang masalah, fokus penelitian,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian
dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, merupakan landasan teori berisi tentang
pengembangan nilai-nilai keteladanan, ketrampilan berpidato dan Muhadlarah.
Bab ketiga, adalah paparan data, pada bab ini
terdiri dari paparan data tentang gambaran umum Pesantren Putri Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo.
Dan data khusus tentang pengembangan nilai-nilai keteladanan dengan ketrampilan
berpidato santriwati melalui Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo.
Bab keempat, merupakan analisis data tentang
implementasi pengembangan nilai-nilai keteladanan dengan ketrampilan berpidato
santriwati melalui Muhadlarah di PP
Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo.
Bab kelima, adalah penutup yang berisi kesimpulan
dan saran-saran. Dalam bab ini, merupakan kesimpulan dari bab I sampai dengan
bab IV. Disamping itu, dengan adanya kesimpulan akan mempermudah pembaca untuk
memahami intisari dari suatu penelitian atau skripsi.
[1]
Ali Ma’shum dan Zainal
Abidin Munawir, Al-Munawir kamus
Arab-indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 273 dan 1258
[2]
M Basyaruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam,(Jakarta:
Ciputat Press, 2002), 34
[3] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan
Zain, Strategi Belajar Mengajar,
(Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 110
[4] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka
Setia, 1997), 175
[5] Risalah Akhir Tahun PP Al
Mawaddah, Wardah, (Ponorogo: 2009),
34
[6] Miftahul Ulum Dkk, Buku Pedoman Penulisan Skripsi,
(Ponorogo: P2MP STAIN, 2010), 31
[7] Anselm Strauss dan Juliet
Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 5
[8]
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Alfabeta, 2005), 3
[9] Ibid. 2
[10]
Lexy. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 123
[11] Ibid. 125
[12] Ibid. 112
[13] Ibid. 137
[14] Ibid. 138
[15] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2006), 310
[16] Ibid. 312
[17] Ibid. 313
[18] Lexy J Moleong, metodologi,. 161
[19] ibid. 115
[20] Sugiyono, Metode, 334
[21] Ibid. 335
[22] Ibid. 335
[23] Ibid. 339
[24] Ibid. 341
[25] Ibid. 345
[26] Ibid. 173
[27] Ibid. 174
[28] Ibid. 179
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Ma’shum, Ali dan Munawir, Zainal
Abidin. Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia.
Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Moleong,
Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Risalah
Akhir Tahun PP Al Mawaddah. Wardah. Ponorogo:
2009.
Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet.
Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003.
Sugiono.
Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: Alfabeta, 2006.
Sugiyono.
Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta, 2005.
Uhbiyati,
Nur. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung:
Pustaka Setia, 1997.
Ulum, Miftahul Dkk. Buku Pedoman Penulisan Skripsi. Ponorogo:
P2MP STAIN, 2010.
Usman, M. Basyaruddin. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta:
Ciputat Press, 2002.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/contoh-bab-i-pendahuluan-skripsi.html
Sign up here with your email