BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Masalah
Sikap
dan kepribadian merupakan salah satu unsur yang terdapat pada manusia. Manusia
sejak lahir sudah mempunyai ciri-ciri khusus, mempunyai potensi,
ketentuan-ketentuan, predisposisi, bakat, bentuk dan semacamnya yang telah
berkembang dengan sendirinya. Lingkungannya hanya mewarnai saja, tidak ikut
membentuk atau mengarahkan gerak aktualisasi potensi tersebut.
Sikap
merupakan kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam
kegiatan-kegiatan sosial. Sikap diawali dengan perasaan (emosi), baru kemudian
menunjukkan reaksi (respon)
kecenderungan untuk bereaksi.
Adapun
kepribadian yaitu keseluruhan pola (bentuk) tingkah laku, sifat-sifat
kebiasaan, kecakapan, bentuk tubuh, serta unsur-unsur psikofisik lainnya yang
selalu menampakkan diri dalam kehidupan seseorang.
Berkaitan
dengan hal tersebut, maka penulisan makalah ini kami beri judul “Sikap Dan
Prasangka”.
- Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam
makalah ini adalah :
1. Apa
pengertian sikap dan apa saja komponennya ?
2. Bagaimana
proses pembentukan dan perubahan sikap ?
3. Apa
pengertian kepribadian individu dan apa saja faktor yang mempengaruhi
pembentukannya ?
4. Apa
saja fungsi dan sumber sikap ?
5. Apa
hubungan antara sikap dan perilaku ?
6. Apa
penyebab timbulnya prasangka ?
7. Apa
saja upaya-upaya untuk mengurangi prasangka ?
- Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita mengetahui :
1. Pengertian
sikap dan komponennya.
2. Proses
pembentukan dan perubahan sikap.
3.
Pengertian
kepribadian individu dan faktor yang mempengaruhi pembentukannya.
4. Fungsi
dan sumber sikap.
5. Hubungan
antara sikap dan perilaku.
6. Penyebab
timbulnya prasangka.
7. Upaya-upaya
untuk mengurangi prasangka.
BAB
II
SIKAP
DAN PRASANGKA
A.
Pengertian
sikap dan komponen-komponennya
Sikap
adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam
kegiatan-kegiatan sosial.[1]
Sikap
diawali dengan perasaan (emosi), baru kemudian menunjukkan reaksi (respon)/
kecenderungan untuk bereaksi.
Sebagai
sebuah reaksi, sikap-sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, senang
atau tidak senang melaksanakannya atau menjauhinya dan begitu seterusnya.[2]
Adapun
komponen-komponen sikap terbagi menjadi tiga yaitu :
1. Komponen kognitif
Komponen
kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang
benar bagi objek sikap. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka akan menjadi
dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek
tertentu.
Dengan
demikian, interaksi kita dengan pengalaman dan prediksi di masa mendatang maka
kita akan lebih mempunyai arti dan keteraturan.
Tanpa
adanya sesuatu yang kita percayai, maka fenomena dunia di sekitar kita pasti
menjadi kompleks untuk dihayati dan sulit untuk ditafsirkan, artinya
kepercayaanlah yang menyederhanakan dan mengatur apa yang kita lihat dan kita
temui.
Tentu
saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat, terkadang
kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurangnya / tidak adanya informasi
yang benar mengenai objek yang dihadapi.
2. Komponen affektif
Komponen
affektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap
suatu objek sifat. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang
dimiliki terhadap sesuatu. Namun, perasaan pribadi seringkali sangat berbeda
perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
3. Komponen perilaku (konatif)
Dalam
struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku/ kecenderungan berperilaku yang
ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan
ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi
perilaku.
Komponen
perilaku (konatif) meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat
secara langsung saja, akan tetapi meliputi pua bentuk perilaku yang berupa
pernyataan/ perkataan yang diucapkan oleh seseorang.[3]
B.
Proses
pembentukan dan perubahan sikap
Pembentukan
sikap berawal dari lingkungan keluarga, kemudian interaksi dengan lingkungan
massa dan tentu saja berhubungan dengan lingkungan pendidikan baik formal
maupun informal. Selain itu, sikap juga berhubungan dengan perbedaan bakat,
minat, dan intensitas perasaan.
Secara
umum, pembentukan dan perubahan sikap dapat terjadi melalui empat cara yaitu :
1.
Adaptasi, yaitu
kejadian yang terjadi berulang-ulang.
2. Diferensiasi, yaitu
sikap yang terbentuk karena perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman
dan lain-lain.
3. Integrasi, yaitu
pembentukan sikap yang terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai
pengalaman yang berhubungan dengan hal tertentu.
4. Trauma, yaitu
pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan. Biasanya meninggalkan kesan mendalam
pada pola jiwa orang yang bersangkutan.
C. Pengertian
kepribadian individu dan faktor yang mempengaruhi pembentukannya
Kepribadian
pada hakikatnya adalah organisasi/ susunan yang dinamis daripada sistem
psikofisik yang ada dalam diri individu sebagai sarana agar yang bersangkutan
mampu menyesuaikan dirinya secara rutin/ keras terhadap lingkungannya.
Meskipun
kepribadian bersifat psikologis, akan tetapi pada dasarnya ia melibatkan dan
diekspresikan oleh organ-organ fisiknya, misalnya saraf, sifat, watak, dan
kondisi tubuh pada umumnya.
Secara
sistematis dapat dikemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pembentukan/ perkembangan kepribadian yaitu the rarity atau pembawaan
pengalaman yang aktual bagi individu di kebudayaan. Totalitas individu
terbentuk melalui interaksi ketiga faktor yaitu:
1.
Heredity
(pembawaan)
Untuk
mengetahui bagaimana pembawaan berpengaruh pada perkembangan kepribadian, bisa
diperhatikan melalui sejumlah hasil penelitian psikologi tentang hal ini. Lalu
kita lihat hubungan antara konteks dan derajat pengaruhnya.
2.
Pengalaman dan
lingkungan keluarga
Setiap
anak muda akan bereaksi terhadap pengalaman baru menuntut pihak kematangan/
kecerdasan temperamennya, akan tetapi reaksinya akan berubah oleh interaksinya
dengan orang tua di lingkungan keluarga.
3.
Kebudayaan
Karena
anak memiliki kecenderungan meniru tingkah laku orang tuanya, bisa jadi tingkah
laku dapat diwariskan garis orang tua kepada anak. Tentunya di sini kehidupan
keluarga biasanya mempresentasikan dan memelihara kebudayaan tertentu.[4]
D.
Fungsi
dan sumber sikap
Sikap
menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang
yang relevan. Dapat dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal, tetapi
tidak semua faktor internal adalah sikap.
Adapun
fungsi sikap dibagi menjadi empat yaitu :
1. Sebagai alat untuk menyesuaikan
diri, karena sikap bisa menjadi mata rantai penghubung antara orang dengan kelompoknya/
anggota kelompok lainnya.
2.
Sebagai alat pengukur
tingkah laku.
3.
Sebagai alat pengukur
pengalaman-pengalaman.
4.
Sebagai persyaratan kepribadian.[5]
E.
Hubungan
antara sikap dan perilaku
Adanya
hubungan yang erat antara sikap dan tingkah laku didukung oleh pengertian sikap
yang menyatakan sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak.
Dalam
penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Warner dan DC Fleur (1916), ada tiga hubungan
antara sikap dan perilaku yaitu :
1.
Postulat keajegan (consistency).
Sikap verbal merupakan alasan yang masuk akal dilakukan oleh seseorang bila ia
berhadapan dengan objek simpangannya. Dengan kata lain, ada hubungan langsung antara
sikap dan perilaku, misalnya skala prasangka.
2.
Postulat ketidakajegan
(inconsistency), membantah adanya hubungan yang konsisten antara sikap dan
tingkah laku.
3.
Postulat konsistensi
kontingen (postulat keajegan yang tidak tertentu).
Hubungan sikap dan perilaku tergantung pada faktor-faktor situasi tertentu pada
variabel.
F.
Penyebab
timbulnya prasangka
Prasangka
adalah suatu sikap negatif yang diperlihatkan individu atau kelompok terhadap individu
atau kelompok lain.
Sebab
timbulnya prasangka yaitu adanya norma sosial, adanya perbedaan dimana
perbedaan ini menimbulkan perasaan superior, kesan yang menyakitkan/ pengalaman
yang tidak menyenangkan, atau adanya
anggapan yang sudah menjadi pendapat umum/ kebiasaan di dalam lingkungan
tertentu.
Prasangka
terbentuk oleh adanya pertentangan kelompok atau konflik kelompok yang berkembang
dan ini tidak dapat dihindari karena lingkungan dan budaya yang berbeda.
G.
Upaya-upaya
untuk mengurangi prasangka
Usaha-usaha
memerangi prasangka kiranya jelas harus dimulai pada didikan anak-anak di rumah
dan di sekolah oleh orang tua dan gurunya. Karena itu, hendaknya dihindarkan pengajaran-pengajaran
yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka tersebut.
Penerangan
yang menggunakan alat-alat komunikasi massa seperti surat kabar dan televisi mempunyai
peranan besar dalam hal ini, terutama penerangan yang memberi pengertian dan kesadaran
mengenai kerugian prasangka bagi masyarakat.
Prasangka
itu sebenarnya adalah karena salah sangka, miss informasi, miss komunikasi, dan
miss interpretasi.
Oleh
karena itu, usaha untuk menghilangkan prasangka harus tetap dijalankan,
dikembangkan dan diusahakan perbaikannya.
Adapun
usaha-usaha untuk menghilangkan/ mengurangi prasangka dibedakan menjadi dua yaitu
:
1. Usaha
preventif. Ini berupa usaha jangan sampai orang terkena prasangka dan usaha menciptakan situasi atau suasana yang tentram, damai, jauh
dari rasa permusuhan dalam arti berlapang dada dalam bergaul dengan sesama manusia
meskipun ada perbedaan. Usaha semacam ini terutama harus dilakukan oleh orang
tua terhadap anaknya dan guru terhadap anak didiknya.
2. Usaha
kuratif. Yaitu usaha menyembuhkan orang yang sudah terkena prasangka. Usaha ini
berupa usaha menyadarkan seseorang dari hal-hal negatif yang dapat memperalat atau
menimbulkan suasana panas antar golongan.[6]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan Sikap Dan Prasangka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sikap adalah kesadaran
individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatan-kegiatan sosial. Komponennya terdiri dari komponen kognitif,
affektif dan konatif.
2. Proses
pembentukan dan perubahan sikap terjadi dengan cara adaptasi, diferensiasi, integrasi
dan trauma.
3. Kepribadian individu adalah
organisasi/ susunan yang dinamis daripada sistem psikofisik yang ada dalam diri
individu sebagai sarana agar yang bersangkutan mampu menyesuaikan dirinya
secara rutin/ keras terhadap lingkungannya. Faktor yang mempengaruhi pembentukannya adalah
heredity (pembawaan), pengalaman dan lingkungan keluarga dan kebudayaan.
4. Fungsi dan sumber
sikap adalah sebagai alat untuk menyesuaikan diri, alat pengukur tingkah laku,
alat pengukur pengalaman-pengalaman, persyaratan kepribadian.
5. Hubungan antara sikap
dan perilaku terdiri dari postulat keajegan (consistency), postulat ketidakajegan
(inconsistency), postulat konsistensi kontingen
6. Penyebab timbulnya
prasangka adalah adanya norma sosial, adanya perbedaan dimana perbedaan ini
menimbulkan perasaan superior, kesan yang menyakitkan/ pengalaman yang tidak menyenangkan,
atau adanya anggapan yang sudah menjadi pendapat
umum/ kebiasaan di dalam lingkungan tertentu
7.
Upaya-upaya untuk
mengurangi prasangka antara lain usaha prefentif dan usaha kuratif.
B.
Saran
Hendaknya
sikap dan prasangka diarahkan ke arah yang positif agar menghasilkan
keadaan-keadaan yang diinginkan oleh semua fihak.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Psikologi Umum. Jakarta:
Rineka Cipta, 2003.
Azhari,
Akyas. Psikologi Umum Dan Perkembangan. Jakarta: Teraju, 2004.
Azwar, Saifudin. Sikap Manusia.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/03/sikap-dan-prasangka.html
[1] Abu Ahmadi, Psikologi Umum
(Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 161.
[2] Akyas Azhari, Psikologi Umum Dan
Perkembangan (Jakarta: Teraju, 2004), 161.
[3] Saifudin Azwar, Sikap Manusia
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), 23-28.
[4] Azhari, Psikologi ..., 168-169.
[5] Ahmadi, Psikologi ...,
178-182.
[6] Ibid., 173-176.
Sign up here with your email