Oleh : Mey Rida Yanti, Meriavina Vivi A., Huda Tiyas Pamuji, Syaiful Anwar
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat dan karunia - Nya yang selalu tercurahkan kepada kita.
Sholawat serta salam kita tujukan kepada nabi Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafa'atnya di yaumul akhir.
Makalah ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam”, juga dimaksudkan untuk memberikan wawasan kepada pembaca untuk lebih memenuhi tentang segala sesuatu mengenai “Dinasti Abbasiyah”.
Kami sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kebaikan dan kesempurnaan yang selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemerintahan Islam setelah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin berubah menjadi dinasti/ kerajaan. Sejak saat itu kepemimpinan Islam diperebutkan oleh berbagai golongan. Hal ini menimbulkan banyak perpecahan antar umat Islam. Ketika itu berdirilah Dinasti Umayyah (40 H/661 M- 132 H/750 M) sebagai pusat khilafiyah Islam setelah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Setelah Dinasti Umayyah dihancurkan oleh keluarga Abbas, maka berdirilah Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini merupakan puncak/ zaman keemasan Islam. Karena pada saat pemerintahan Dinasti Abbasiyah, berbagai aspek kehidupan masyarakat berkembang sangat pesat.
Dalam makalah ini dibahas sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah serta perkembangan-perkembangannya di berbagai bidang. Hal ini dikarenakan Bani Abbasiyah merupakan zaman khilafiyah Islam yang sangat penting dalam perjalanan sejarah umat Islam dan merupakan zaman keemasan Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah?
2. Bagaimana perkembangan pemerintahan Dinasti Abbasiyah di berbagai bidang?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah (750 M/132 H)
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah merupakan lanjutan dari kekuasaan Dinasti Umayyah yang telah dihancurkannya. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Berdirinya Dinasti Abbasiyah tidak lepas dari munculnya berbagai masalah di periode-periode terakhir Dinasti Umayyah. Karena banyaknya masalah tersebut, yang kemudian menjadi momentum yang tepat untuk menjatuhkan dinasti Umayah yang dimotori oleh Abu Abbas. Selain itu, Dinasti Umayah kadang terjadi perlakuan yang tidak adil pada Bani Abbas dan menimbulkan benih ketidak puasan di hati mereka.
Kesempatan ini digunakan oleh Bani Abbas untuk melancarkan propaganda. Dalam melakukan propaganda nama Bani Abbas tidak di tonjolkan tapi yang di angkat ke permukaan adalah nama Bani Hasyim, hal ini dilakukan untuk menjaga kekompakan antara pengikut Ali dan pengikut Abbas. Muhammad bin Abdul Muthalib merupakan seorang propagandis aktif, kemudian setelah ia wafat, kepemimpinannya di teruskan putranya yaitu Ibrahim al-imam.
Tempat yang ditetapkan sebagai pusat propaganda kelompok Abbasiyah adalah Khurasan dan Kufah, tempat ini di pilih karena termasuk daerah Persia dan nampak sangat strategis.
Gerakan yang digalang oleh keluarga al-Abbas ini sebenarnya awalnya bersifat rahasia, kemudian berlanjut secara terang-terangan karena merasa mendapat dukungan dari banyak rakyat. Ibrahim al-imam tokoh utama gerakan Abbasiyah ditangkap di kampungnya, Humaima, dan dijebloskan ke penjara. Segala cara dilakukan termasuk paksaan agar dia buka mulut, akan tetapi sampai mati terbunuh, al-imam tetap merahasiakan misi dari gerakannya.
Kemudian Abu Muslim mulai mengerahkan pasukan untuk menggempur pasukan Marwan, itu di lakukan karena tersiar kabar terbunuhnya Ibrahim al-Imam dalam penjara (749 M). Dalam pertempuran sengit itu, pasukan Marwan mengalami kekalahan yang sangat berat. Khalifah Marwan melarikan diri ke Damaskus, kemudian terus ke Mesir dan akhirnya terbunuh disana.
Marwan adalah khalifah terakhir Bani Umayyah. Demikian berakhirlah riwayat Dinasti Umayyah kemudian lahirlah Dinasti baru yaitu Dinasti Abbasiyah yang didirikan pada tahun 750 M/132 H oleh Abu Abbas Al-Safah.
Abu Abbas al-Safah menerima bai’at pertama sebagai khalifah Bani Abbasiyah pada 28 November 749 M. Pembai’atan itu sangat penting dan menyejarah menuju babak baru dinasti Abbasiyah. Arti penting pembai’atan merupakan penobatan yang dilakukan oleh rakyat, dan merupakan satu-satunya pegangan yang pasti bagi seseorang untuk menaiki tahta khalifah.
Ada beberapa faktor keberhasilan pendirian Dinasti Bani Abbasiyah yaitu:
Pertama, solidaritas kekeluargaan. Kesuksesan para propogandis dalam usaha mewujudkan berdirinya khalifah Bani Abbasiyah adalah mereka berhasil menyadarkan umat islam, bahwa bani Abbas adalah keluarga yang dekat dengan keluarga Nabi SAW.
Kedua, karena lemahnya Bani Umayyah. Kelemahannya ini antara lain timbulnya berbagai penberontakan dari golongan kawarij, syi’ah, Ibnu Zubair dan dari Bani Abbas sendiri.
Ketiga, Bani Umayyah bercorak Arab sentris. Karena kebijakan Bani Umayyah awalnya bertumpu pada orang-orang Arab dan orang non Arab tidak disamakan derajatnya.
Keempat, kekuatan militer. Perjuangan Bani Abbasiyah tidak bisa lepas dari kekuatan militer yang tumbuh luar biasa besarnya, Mengajak orang-orang yang baru masuk islam untuk bergabung di dalamnya.
Dalam pemerintahan Abbasiyah terdapat 37 Khalifah yang memimpin, tapi dalam masa kejayaan Abbasiyah terletak pada 10 Khalifah, yaitu : Abu Abbas al-Saffah (750 M), Abu Ja’far Al-Mansur (754 M), Mahdi bin Al-Mansur (775 M), Hadi bin Mahdi (785 M), Harun al-Rasyid (786 M), Al-Amin (809), Al-Ma’mun (813 M), Al-Mu’tashim (833 M), Al-Watsiq (842 M), dan Al-Mutawakkil (847 M).
B. Perkembangan Politik Dinasti Abbasiyah
Jatuhnya Dinasti Umayyah yang menelan korban jiwa besar dari kalangan Dinasti Umayyah sekaligus sebagai tonggak awal berdirinya Dinasti Abbasiyah. Beberapa langkah strategis yang dilakukan oleh pemerintahan Abbasiyah antara lain sebagai berikut:
1. Melenyapkan kekuatan Dinasti Umayyah yang tersisa.
Pada saat itu kekuasaan Bani Umayyah yang sudah lemah berpusat di Damaskus, di bawah pemerintahan khalifah Marwan II, khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah. Adanya kekuatan Bani Umayyah yang tersisa menjadikan Abul Abbas menyiapkan suatu pasukan elit yang terdiri dari laskar-laskar pilihan di bawah pimpinan Abdullah bin Ali, paman Abul Abbas sendiri. Setelah menjalani beberapa pertempuran, akhirnya khalifah Marwan II terbunuh oleh pasukan Abbasiyah yang dipimpin oleh Saleh bin Ali pada bulan Agustus 750 M.
2. Memadamkan upaya-upaya gerakan pemberontakan.
Ada tiga bentuk ancaman baru yang dihadapi oleh khalifah al-Mansur, khalifah kedua yang dipandang sebagai Pembina dinasti Abbasiyah. Ketiga gerakan tersebut adalah gerakan Abdullah bin Ali, gerakan Abu Muslim al-Khurasany, dan gerakan/ pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah. Ketiga ancaman ini merupakan ancaman internal pemerintahan dinasti Abbasiyah.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode.
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M) atau periode pengaruh Persia pertama.
Ada 10 khalifah yang memerintah pada masa ini, yaitu : Abu Abbas al-Saffah, Abu Ja’far Al-Mansur, Mahdi bin Al-Mansur, Hadi bin Mahdi, Harun al-Rasyid, Al- Amin, Al- Ma’mun, Ibrahim, Al-Mu’tashim, Al-Wasiq. Telah dikatakan pada awal pembahasan bahwa salah satu cirri pemeritahan Abbasiyah adalah adanya unsure non Arab yang mempengaruhi pemerintahannya seperti Persia dan Turki. Pada awal pemerintahannya Abbasiyah lebih cenderung seperti pemerintahan Persia dimana raja mempunyai kekuasaan absolute mendapat mandat dari Tuhan. Masa inilah yang mengantarkan Abbasiyah pada puncak kejayaan.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M) atau periode pengaruh Turki pertama.
Kebijakan Khalifah al-Mukasim (833-842 M.), untuk memilih anasir Turki dalam ketentaraan kekhalifahan Abasiyah dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia, pada masa al-Makmun dan sebelumnya, khalifah al-Mutawakkil (842-861 M.) merupakan awal dari periode ini adalah khalifah yang lemah.
Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah pada periode ini adalah; Pertama, luasnya wilayah kekuasaan yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Kedua, profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Ketiga, kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055M), masa kekuasan dinasti Buwaihiyah dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
Posisi Bani Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihiyah merupakan ciri utama periode ketiga ini. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani Buwaihiyah menganut aliran Syi’ah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihiyah telah membagi kekuasaanya kepada tiga bersaudara. Ali menguasai wilayah bagian selatan Persia, Hasan menguasi wilayah bagian utara, dan Ahmad menguasai wilayah al-Ahwaz, Wasit, dan Baghdad. Baghdad dalam periode ini tidak sebagai pusat pemerintahan Islam, karena telah pindah ke Syiraz, dimana berkuasanya Ali bin Buwaihi.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
Periode keempat ini ditandai oleh kekuasaan Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Kehadirannya atas naungan khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Keadaan khalifah memang sudah membaik, paling tidak karena kewibawannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syi’ah
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain.
Telah terjadi perubahaan besar-besaran dalam periode ini. Pada periode ini, khalifah Bani Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya, pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 656 H./ 1256 M.
C. Perkembangan Ekonomi Dinasti Abbasiyah
Sektor ekonomi menjadi penopang penting tegaknya suatu pemerintahan, maka khalifah Bani Abbasiyah memberikan perhatian serius. Perhatian yang tinggi di sector ekonomi, menjadikan negara dapat menghasilkan devisa yang banyak untuk kesejahteraan umat. Tercatat dalam sejarah bahwa pendapatan Negara pada khalifah al-Rasyid telah mencapai 227 juta dirham 4 juta dinar per tahun. Prestasi ini pada pemerintahan daulat Abbasiyah merupakan puncak kemajuan di bidang ekonomi. Unsur-unsur ekonomi yang dikembangkan zaman dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1. Pertanian.
Pada masa dinasti Abbasiyah berlangsung pemerintahannya, para petani dibina dan diarahkan, serta pajak bumi mereka diringankan. Bahkan di beberapa daerah tertentu mereka dihapuskan dari beban pajak. Para petani diperlakukan dengan baik, hak-hak mereka dijaga dan mereka dilindungi dari praktek-praktek ekonomi yang merugikan. Selain itu khalifah juga berusaha memperluas areal pertanian, membangun irigasi, dan mengairi kanal untuk menyalurkan air ke areal pertanian.
2. Perindustrian.
Ada beberapa faktor yang mendukung kemajuan sektor industri ini, antara lain adalah adanya potensi alam berupa barang tambang, perak, tembaga, bijih besi, dan lain-lain, serta hasil pertanian sebagai bahan baku industri, potensi alam wilayah Abbasiyah cukup menjanjikan untuk mendukung ekonomi bani Abbasiyah. Selain itu, juga adanya usaha alih tehnologi industri, misalnya yang dilakukan oleh tawanan serdadu China yang dikalahkan dalam pertempuran di Asia tengah tahun 751 H. khalifah mengadakan proyek alih tehnologi dari mereka, khususnya industri kertas. Dari sini kemudian muncul kota-kota industri dan kota cosmopolitan dengan beraneka hasil industrinya, seperti tekstil, sutra, wol, gelas, dan keramik.
3. Perdagangan.
Di sektor perdagangan, menunjukkan kemajuan yang pesat. Ibu kota pemerintahan Abbasiyah, yaitu Baghdad, menjadi kota pusat perniagaan atau perdagangan, serta kota transit yang menghubungkan lalu lintas perdagangan antara barat dan timur jauh. Di sini dibuka perwakilan dagang India dan China. Suatu hal yang menarik untuk kelancaran perdagangan adalah tumbuhnya semacam sistem perbankan. Sistem ini dimaksudkan untuk tempat penukaran uang, karena daerah bagian timur dan barat tidak menggunakan mata uang yang sama.
D. Perkembangan Administrasi Dinasti Abbasiyah
Secara administratif, ada bidang-bidang yang semula sudah ada sejak masa bani Umayyah, tapi juga dilakukan upaya pengembangan dan penyempurnaan sehingga fungsi administratif agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik.
Pembaharuan yang paling tampak adalah berpindahnya ibu kota Negara sebagai pusat kegiatan administrasi ke Baghdad. Di samping itu, dalam penyelenggaraan administrasi, dikenal adanya jabatan wazir (perdana menteri) yang membawahi kepala-kepala departemen. Wazir terbagi menjadi 2 bagian, yaitu wazir yang bertugas sebagai pembantu khalifah dan bekerja atas nama khalifah, jabatan itu dikenal dengan nama Wizaratut Tanfiz, dan wazir yang diberi kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan, yang bernama Wizaratut Tafwidh. Karena itulah khalifah cukup terbantu dengan kedudukan wazir-wazir ini.
Selain itu dibentuk pula diwan al-kitabah (semacam sekretariat negara yang dipimpin oleh seorang Rais al-kuttab (sekretaris Negara). Terdapat juga semacam departemen (diwan) yang dipimpin oleh Rais al-diwan (menteri departemen-departemen), seperti menteri yang bertugas untuk membantu wazir dalam menjalankan pemerintahan. Pada masa Abbasiyah terdapat lebih dari 13 bidang departemen.
Kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasiyah dibagi ke dalam beberapa propinsi (imarah), dan setiap imarah dipimpin oleh seorang gubernur. Propinsi-propinsi tersebut yaitu 1) Kufah dan Sawwad, 2) Bashrah dan daerah-daerah Dajlah, Bahrein dan Uman, 3) Hijaz dan Yamamah, 4) Yaman, 5) Ahwaz yang meliputi Khuzistan dan Cattan, 6) Parsi, 7) Khurasan, 8) Mosul, 9) Jazirah, Armania, Azerbaijan, 10) Suriah, 11) Mesir dan Afrika, dan 12) Sind.
E. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dinasti Abbasiyah
Pada zaman dinasti Umayyah, umat Islam berhasil melakukan ekspansi secara besar-besaran ke berbagai wilayah. Di antara wilayah-wilayah tersebut terdapat sejumlah kota yang merupakan pusat pengembangan tradisi ilmiah Yunani, India, dan Persia, yaitu kota Aleksandria di Mesir, Jundisyapur di Irak, Bachtra di Syiria, Edessa, Harran, serta Nisibis. Kota-kota ini kemudian menjadi bagian dari wilayah Islam. Karena umat islam mampu menguasai kota-kota tersebut dan Islam dengan tradisi ilmiah. Persentuhan antara umat Islam dan keilmuan itu terlihat lebih nyata dengan adanya bentuk penerjemahan-penerjemahan ke bahasa arab yang didahului ke dalam bahasa Syiria.
Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter.
Pada masa inilah Negara Islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing mulai digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalilfah Ja’far al-Mansur, setelah ia mendirikan kota Bagdad (144 H/762 M) dan menjadikannya sebagai ibu kota negara.
Bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang ada dua yaitu ilmu Naqli dan ilmu Aqli. Ilmu Aqli adalah ilmu yang didasarkan kepada pemikiran (rasio), antara lain:
1. Filsafat
Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti Bani Abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, Syiria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Diantara tokoh yang memberi andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
2. Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Karya dari ibnu sina yang monumental berupa ensiklopedi dalam ilmu kedokteran pada abad kedua belas.
3. Ilmu Kimia
Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir ibn Hayyan, Ar-Razi.
4. Ilmu Hisab
Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Umar al-Khayyam.
5. Ilmu Tarikh dan Geografi (Ilmu Bumi)
Masa Abbasiyah banyak melahirkan pengarang dan ahli sejarah diantaranya Al-Waqidy, Al-Maudy dan Al-Thobari. Dalam ilmu geografi (ilmu bumi) Ibnu Khurzdazbah, telah meninggalkan buku geografinya “Al-Masalik wa al-Mamalik”. Ilmu geografi terjadi karena hubungan kota Bagdad sebagai ibukota negara dengan negara-negara lain.
6. Astronomi
Pada tahun 213 H/ 828 M, al-Makmun mendirikan observatorium pertama di Baghdad. Tokoh astronomi Islam pertama adalah Ibrahim al-Fazari dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazari banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah al-Farghani, al-Battani, al-Biruni.
Sedangkan ilmu Naqli adalah ilmu yang bersumber dari naqli ( Al-Qur’an dan Hadits), ilmu-ilmu itu antara lain:
1. Ilmu Kalam
Menurut A. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’, Baqilani, Asy’ary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.
2. Ilmu Hadis
Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari, hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-shahih al-muslim, ibnu majjah, abu daud, at-tirmidzi dan al-nasa’i. Ada tiga hal yang dilakukan Ulama masa Dinasti Abbasiyah yaitu 1) melakukan kegiatan rihlah untuk mengumpulkan hadist dari para perawi, 2) membuat klasifikasi hadis pada yang marfu’, mauquf’, dan maqtu’, 3) menghimpun kritik-kritik hadist.
3. Ilmu Tafsir
Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Tokoh-tokoh mufasir pada metode ini adalah : Ibn Jarir at-Thabary, Ibn Athiyah al-Andalusi, As-Suda. Kedua, metode tafsir bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Tokohnya adalah : Abu Bakar Asma dan Abu Muslim Muhammad bin Nashr al-Isfahany.
4. Ilmu Fiqih
Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya, imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar, imam Malik menyusun kitab al-muwatha’, imam Syafi’i menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid, imam Ibnu Hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal.
5. Ilmu Tasawuf
Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal yaitu : Al-Qusyairi menyusun kitab al-Risatul Qusyairyah, Syahabuddari kitab karangannya adalah Awariffu Ma’arif, Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah Ihya’ Ulum al-din.
BAB III
KESIMPULAN
A. Pendirian Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah berdiri pada tahun 750 M/ 132 H oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. .
Beberapa faktor keberhasilan pendirian Dinasti Bani Abbasiyah yaitu:
1. solidaritas kekeluargaan.
2. karena lemahnya Bani Umayyah.
3. Bani Umayyah bercorak Arab sentris.
4. kekuatan militer.
Dalam pemerintahan Abbasiyah terdapat 37 Khalifah yang memimpin, tapi masa kejayaan Abbasiyah terletak pada 10 Khalifah, yaitu : Abu Abbas al-Saffah (750 M), Abu Ja’far Al-Mansur (754M), Mahdi bin Al-Mansur (775 M), Hadi bin Mahdi (785 M), Harun al-Rasyid (786 M), Al-Amin (809), Al-Ma’mun (813 M), Al-Mu’tashim (833 M), Al-Watsiq (842 M), dan Al-Mutawakkil (847 M).
B. Kemajuan Dinasti Abbasiyah
Perkembangan Politik Dinasti Abbasiyah
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode, yaitu
1. periode pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M) atau periode pengaruh Persia pertama,
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M) atau periode pengaruh Turki pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055M), masa kekuasan dinasti Buwaihiyah dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain.
Perkembangan Ekonomi Dinasti Abbasiyah meliputi pertanian, perindustrian,dan perdagangan.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dinasti Abbasiyah
Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum (ilmu aqli) yang berkembang antara lain:
1. Filsafat
2. Ilmu Kedokteran
3. Ilmu Kimia
4. Ilmu Hisab
5. Sejarah
6. Ilmu Bumi
7. Astronomi,
sedangkan, dalam pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan (ilmu naqli) antara lain:
1. Ilmu Hadis
2. Ilmu Kalam
3. Ilmu Tafsir
4. Ilmu Fiqih
5. Ilmu Tasawuf
DAFTAR PUSTAKA
Bakar, Istianah Abu. Sejarah Peradaban Islam, 2008. Malang: UIN- Malang Press.
Fu’adi, Imam. Sejarah Peradaban Islam. 2011. Yogyakarta: Teras.
Sunanto, Musrifah. Sejarah Islam Klasik. 2003. Jakarta: Kencana.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. 2008. Bandung: CV Pustaka Setia.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. 1993. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
http//F:/referensi%20download%27an%20new/makalah-sejarah-peradaban-islam.html
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon