PENGGUNAAN ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN

Disusun oleh :

Ainun Nurul Badriyah, Ansori, Dwi Gati Suprapti Ningrum, Puji Chotimah, Ridwan Apriyanto, Syaiful Anwar




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami informasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika penulisan angka dan lambang bilangan, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia yang baik dan benar. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penulisan angka yang baik dan benar?
2. Bagaimana cara menulis lambing bilangan yang sesuai aturan?


BAB II
PEMBAHASAN
PENGGUNAAN ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN

1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Biasa atau angka Romawi.

Bentuk angka biasa        : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Bentuk angka Romawi  : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L, C, D, M, V

Jika dibandingkan, maka kedua bentuk angka tersebut adalah sebagai berikut:
I     = 1
II    = 2
III    = 3
V    = 5
X    = 10
L    = 50
C    = 100
D    = 500
M    = 1000

Perlu diingat bahwa penambahan dan pengurangan nilai dengan menuliskan angka tambahan dan pengurangan di belakang dan depan bilangan sebelumnya hanya dapat dilakukan paling banyak tiga kali untuk penambahan dan satu kali untuk pengurangan.
Contoh:
V    = 5 
VI   = 6     (penambahan satu kali)
VIII  = 8     (penambahan tiga kali)
IX    = 9     (penambahan satu kali)
X     = 10

Demikian juga halnya terhadap lambang bilangan Romawi yang lain.
Contoh:
L                = 50
LI               = 51     (adalah 50 + 1)
XL              = 40     (salah jika XXXX)
LXV             = 65    (adalah 50 + 15)
LIX              = 59     (adalah 50 + 9)
MCMXCIX    = 1999

Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

2. Angka digunakan untuk menyatakan:

a. Ukuran panjang
? 15 meter            (15 m)
? 0,5 kilometer      (0.5 km)
? 123 desimeter    (123 dm)

b. Ukuran berat
    
? 145 kilogram      (145 kg)
? 1,5 gram            (1,5 g)
? 703 kwintal        (703 kw)


c. Ukuran isi

? 6 liter                (6l)
? 48 kubik            (48 kubik) 


d. Satuan waktu 
? 1 jam 20 menit
? pukul 15.00
? tahun 1928
? 17 Agustus 1945


e. Nilai uang 
? Rp5.000,00
? US$3.50*
? $5.10*
? ¥100

- Tanda titik pada contoh bertanda bintang (*) merupakan tanda desimal.
- Penulisan lambang mata uang, seperti Rp, US$, £, dan ¥ tidak diakhiri dengan tanda titik dan tidak ada spasi antara lambang itu dan angka yang mengikutinya, kecuali di dalam tabel. 

3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
? Jalan Tanah Abang I No. 15.
? Hotel Indonesia, Kamar 169.

4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
? Bab X, Pasal 5, halaman 252.
? Surah Yasin: 9

5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:

a. Bilangan utuh, misalnya:
? Dua belas (12)
? Dua puluh dua (22)
? Dua ratus dua puluh dua (222)

b. Bilangan pecahan, misalnya:
? Setengah (½)
? Tiga perempat (¾)
? Seperenam belas (1/16)
? Tiga dua pertiga (3 2/3)
? Seperseratus (1/100)
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
? Paku Buwono X
? Pada awal abad XX
? Dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
? Lihat Bab II, Pasal 5
? Dalam bab ke-2 buku itu
? Di daerah tingkat II itu
? Di tingkat kedua gedung itu
? Di tingkat ke-2 itu
? Kantornya di tingkat II itu

7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti
Misalnya:
? Tahun '50-an (tahun lima puluhan)
? Uang 5000-an (uang lima ribuan)
? Lima uang 1000-an (lima uang seribuan) 

8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf  kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
? Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
? Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
? Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
? Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.

9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:

? Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu. 
Bukan: 15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
? Pak Darmo mengundang 250 orang tamu. 
Bukan: Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.


10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
? Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
? Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.

11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
? Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Bukan: Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
? DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah. 
Bukan: Di lemari itu tersimpan  delapan ratus lima buku dan majalah.

12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
? Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Bukan: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupia.



DAFTAR PUSTAKA

Fuad Hasan,Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 35-39

http://takiyoannabhani.multiply.com/journal/item/62/3.-Penulisan-Angka-dan-Lambang-Bilangan-EYD?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Previous
Next Post »