السلام عليكم ورحمة الله وَبَرَكَاتهُ
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
Allah Subhanahu wa Ta'aalaa berfirman yang artinya :
" Ingatlah kamu kepada-KU, niscaya Aku ingat pula kepadamu dan
bersyukurlah kepada-KU dan janganlah kamu mengingkari ni'mat-KU ". (Q.s Al
Baqarah:152)
Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah
Hidup kita pada hakekatnya adalah ujian. Melalu ujian kehidupan, nilai amal dan
tingkat keimanan kita akan bisa kita ketahui. Melalui ujian kehidupan, kita
bisa mengukur sejauh mana keshalihan dan kefajiran kita sendiri.
Ujian kehidupan selalu memiliki dua bentuk; kenikmatan dan kesengsaraan.
Ada kekayaan dan kemiskinan. Ada kesehatan dan penyakit. Ada kesempurnaan fisik
dan ada kecacatan fisik. Ada kelapangan dan ada kesempitan. Ada jalan mendaki
dan ada jalan menurun. Dalam semua keadaan tersebut, kita sedang diuji.
Seorang muslim yang baik akan menerima ujian kelapangan, kekayaan,
kesehatan dan kenikmatan dengan sikap syukur. Ia akan menerima ujian
kesempitan, kemiskinan, penyakit dan kesusahan dengan sikap sabar. Syukur dan
sabar adalah sebaik-baik kendaraan untuk mengarungi ujian kehidupan.
Bagaimana cara yang benar untuk mengukur tingkat kesabaran dan kesyukuran
kita? Tentang hal ini, sahabat Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu
berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda
yg artinya :
“Ada dua sifat yang jika terdapat pada diri seorang hamba, niscaya Allah
mencatat hamba tersebut sebagai seorang hamba yang bersyukur dan bersabar. Dan
siapa saja pada dirinya tidak terdapat dua sifat tersebut, maka Allah tidak
mencatatnya sebagai hamba yang bersyukur dan tidak pula hamba yang bersabar.
Siapa saja melihat dalam perkara agama kepada orang yang posisinya lebih tinggi
darinya, lalu ia mencontoh orang tersebut, dan dalam perkara dunia ia melihat
kepada orang yang lebih rendah darinya sehingga ia memuji Allah atas karunia
yang dengannya Allah melebihkan dia dari orang lain tersebut, niscaya niscaya
Allah mencatat dirinya sebagai seorang hamba yang bersyukur dan bersabar.
Dan siapa saja melihat dalam perkara agama kepada orang yang posisinya lebih
rendah darinya dan dalam perkara dunia ia melihat kepada orang yang lebih
tinggi darinya sehingga ia sedih atas nikmat yang luput darinya, niscaya Allah
tidak mencatat dirinya sebagai seorang hamba yang bersyukur dan bersabar.”
(HR. Tirmidzi)
Jika kita melihat orang lain lebih pandai membaca Al-Qur’an, lebih banyak
hafalan Al-Qur’annya, lebih istiqamah menjaga shalat wajib lima waktu secara
berjama’ah di masjid, lebih tekun berdakwah, lebih sabar mendidik keluarganya,
lebih banyak berkorban di jalan Allah…lalu kita kagum kepadanya dan mencontoh
jalannya, maka kita termasuk hamba Allah yang pandai bersyukur dan bersabar.
Jika kita melihat orang lain lebih banyak hartanya, lebih maju
perusahaannya, lebih cantik istrinya, lebih banyak anaknya, lebih kekar
badannya, lebih besar rumahnya, lebih mewah kendaraannya, lebih mudah
hidupnya…lalu kita iri kepadanya, menganggap nikmat yang dikaruniakan Allah kepada
kita terlalu sedikit dan murah…maka kita tidak termasuk hamba Allah yang pandai
bersyukur dan bersabar.
Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yg artinya :
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian (dalam hal urusan dunia)
dan jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kalian (dalam hal urusan
dunia), karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah
kepada kalian.”
(HR. Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kini saatnya kita menilai diri kita sendiri, sudahkah kita memenuhi
tanda-tanda hamba yang syukur dan sabar sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa salam di atas?
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfa'at dalam menggapai rahmah dan ridha
Allah Ta'aalaa. Aamiin...
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon