Oleh Saiful Arifin
A. Perkembangan Psikososial Anak-Anak Akhir
Perkembangan adalah suatu
proses perubahan dari suatu keadaan ke dalam keadaan yang lain, dimana proses
tersebut berlangsung secara terus menerus.[1]
Perkembangan sosial mulai
sejak usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah yang ditandai dengan meluasnya
lingkungan sosial.
Anak mulai melepaskan diri
dari lingkungan keluarga, ia makin mendekatkan diri dengan orang lain.
Meluasnya lingkungan sosial bagi anak akan membawa dampak kepada anak tersebut,
karena ia akan menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada di luar pengawasan orang
tuanya.[2]
Maksud dari perkembangan
sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan
sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok,
tradisi dan moral.
Perkembangan pada anak-anak
usia sekolah ditandai dengan adanya perluasan hubungan. Dimana selain
berhubungan dengan keluarga juga mulai membentuk ikatan baru dengan teman
sebaya atau teman sekelas, sehingga ruang lingkup hubungan sosial anak akan
semakin meluas.[3]
Setelah anak berumur antara
6 sampai 12 tahun, akan ditemukan bahwa ia sangat memperhatikan kerelaan orang
tuanya atau tidak. Tanda-tanda kerelaan atau kebencian itu seperti hukuman dan
reward dan punishment, hanya saja suka dan benci menghendaki tingkat pengenalan
yang lebih tinggi.[4]
Pada masa ini, anak dapat
menyelesaikan tugas atau perbuatan yang akhirnya dapat menghasilkan sesuatu.
Anak siap untuk meninggalkan rumah atau orang tua dalam waktu yang terbatas
yaitu untuk sekolah.
Melalui proses pendidikan
ini anak belajar siap untuk bersaing (sifat kompetitif), juga sifat kooperatif
dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar
peraturan-peraturan yang berlaku.[5] Anak memasuki “usia gang”
yaitu usia yang mengindikasikan kesadaran sosial berkembang pesat. Menjadi
pribadi sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam masa
ini. Anak menjadi anggota satu kelompok teman sebaya yang secara bertahap
menggantikan keluarga dalam mempengaruhi perilaku.
Kelompok teman sebaya dapat
diartikan sebagai suatu yang kurang lebih berusia sama yang berfikir dan bertindak
bersama-sama.[6]
B. Aspek-aspek Perkembangan Psikososial Anak-Anak Akhir
Dalam perkembangan anak-anak
akhir atau yang diidentikkan dengan anak usia sekolah, ada beberapa aspek yang
urgen untuk dipelajari. Diantaranya adalah :
1. Interaksi
dengan teman sebaya
Sejumlah besar tingkah laku
yang timbul dengan cara menirukan, belajar model dan reinforcement dari pihak
teman-teman sebaya. Di sini sudah nampak preferences (pemilihan) yang khas
menurut jenis kelamin serta cara-cara memberi pengaruh. Sampai dengan umur 5
atau 6 tahun masih sedikit ada pengaruh dari anak wanita terhadap laki-laki dan
sebaliknya, tetapi semakin lama anak laki-laki akan semakin dipengaruhi oleh
anak laki-laki dan anak wanita oleh anak wanita.[7]
2. Perkembangan
motivasi prestasi
Penaksiran mengenai prestasi
orang lain ini akan menjadikan anak untuk mencoba melakukannya lebih cepat dan
lebih baik. Yang menjadi ciri-ciri motivasi prestasi adalah untuk melakukan
lebih baik, suatu standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat
berhubungan dengan :
a. Prestasi
orang lain.
b. Prestasi
diri sendiri yang lampau.
c. Tugas
yang harus dilakukan.[8]
3. Perkembangan
identitas jenis kelamin atau tingkah laku sesuai dengan jenis kelamin
Dalam teori belajar, tingkah
laku yang spesifik jenis kelamin timbul karena pengaruh lingkungan sosial.
Misalnya dalam setiap ada pendapat-pendapat mengenai norma-norma tingkah laku
yang sesuai dengan jenis kelamin anak. Anak laki-laki misalnya cenderung
berbuat kasar, lebih aktif, lebih ribut daripada anak wanita. Sedangkan anak
wanita diharapkan lebih berperasaan halus, bersikap tidak kasar dan lain
sebagainya.[9]
Tingkah laku yang spesifik
pada anak-anak akhir meliputi :
a. Kecemasan
(mulai 8 atau 9 tahun) lebih banyak terdapat pada anak wanita.
b. Kecakapan-kecakapan
verbal (mulai 11 atau 12 tahun) terdapat pada anak anak wanita lebih banyak
daripada anak laki-laki.
c. Pengertian
kuantitatif (mulai 10 tahun ke atas) lebih banyak pada anak laki-laki.[10]
Selain ketiga aspek di atas, juga ada
beberapa aspek lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu :
a. Belajar
mematuhi aturan-aturan kelompok.
b. Belajar
setia kawan.
c. Belajar
bekerja sama.
d. Mempelajari
perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya.
e. Belajar
menerima tanggung jawab.
f. Belajar
bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif).
g. Mempelajari
olah raga dan permainan kelompok.
h. Belajar
keadilan dan demokrasi.[11]
i. Berwawasan
sosial.
j. Belajar
sikap yang benar terhadap diri sebagai makhluk yang bertumbuh.[12]
k. Pembentukan
hati nurani, kaidah dan nilai awal.[13]
l. Pembentukan
sikap yang benar terhadap pranata-pranata sosial.[14]
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
1. Keluarga.
Lingkungan yang pertama kali mempengaruhi beberapa aspek perkembangan anak tidak
lain adalah lingkungan keluarga. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan
lingkungan yang kondusif bagi perkembangan sosial anak. Dapat diartikan bahwa pada
dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.
Adapun faktor-faktor keluarga
terhadap perkembangan anak diantaranya :
a. Perimbangan
perhatian,
b. Keutuhan
keluarga,
c. Status
sosial,
d. Besar
kecilnya keluarga,
e. Keluarga
kaya/ miskin.[15]
2. Kematangan.
Kematangan yang dimaksud di sini adalah kematangan fisik dan psikis untuk mampu
bersosialisasi dengan baik. Selain itu kemampuan bahasa ikut serta dalam menentukan
sosialisasi berjalan dengan baik.
3. Status
sosial ekonomi. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah
ditanamkan keluarganya. Sehubungan dengan hal itu, dalam kehidupan sosial anak akan
senantiasa menjaga status sosial ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu anak dapat
menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat sehingga akan
berdampak pada terisolasinya anak tersebut.
4. Pendidikan.
Pendidikan merupakan proses sosialisasi yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai
proses pengoperasionalan ilmu yang normatif akan memberi warna kehidupan sosial
anak dalam masyarakat dan kehidupan masa yang akan datang.
5. Kapasitas
mental. Kapasitas mental di sini meliputi emosi dan intelegensi. Kemampuan intelektual
yang tinggi, kemampuan berbahasa yang baik dan pengendalian emosi secara seimbang sangat menentukan keberhasilan
dalam perkembangan sosial anak.[16]
Agar
pertumbuhan sosial anak menjadi benar dan sehat, Fahmi memaparkan beberapa hal yang
perlu dipenuhi, yaitu :
1. Sikap
anak harus merasa di sayangi. Keperluan kejiwaan ini terpenuhi melalui kedua orang
tua dan saudara-saudaranya, yang merupakan pokok utama memperkokoh hubungan kasih
sayang antara anak-anak dan lingkungan.
2. Keluarga
dijadikan lapangan pertama tempat sikap anak menumbuhkan kemampuannya.
3. Penanaman
terhadap diri anak untuk mempelajari bagaimana caranya agar ia tidak egois, dapat
menghargai hak orang lain.
4. Penanaman
terhadap diri anak untuk mempelajari sejumlah adat atau kebiasaan yang baik.
5. Mendidik
anak untuk mempelajari pokok-pokok dasar dari cara bergaul dengan orang lain.[17]
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi,
Abu. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta, 1999.
Banawi, Imam. Pengantar Ilmu Jiwa
Agama. Surabaya : Bina Ilmu, 1985.
El-Quussy,
Abdul Aziz. Ilmu Jiwa Prinsip-Prinsip Dan Implementasi Dalam Pendidikan
Jilid 3, Terj. Zakiah Darajat. Jakarta: Bulan Bintang, 1954.
Fahmi, Musthafa. Penyesuaian Diri,
Terj. Zakiyah Darajat. Jakarta: Bulan Bintang, tt.
Hurlock,
Elizabeth B. Perkembangan Anak, Jilid I Terj. Meitasara Tjandrasa Dan
Muslichah Zarkasih. Jakarta: Erlangga, 1997.
Monks,
F.J Dan Knoers, A.M.P. Psikologi
Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajahmada
University Press, 1985.
Rochmah,
Elfi Yuliani. Psikologi Perkembangan. Ponorogo : STAIN Ponorogo Press,
2005.
Sunarto
Dan Hartono, B. Agung. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta,
1998.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/11/perkembangan-psikososial-masa-anak-anak.html
[1] Imam Banawi, Pengantar Ilmu Jiwa
Agama (Surabaya : Bina Ilmu, 1985), 93.
[2] F.J Monks Dan A.M.P. Knoers, Psikologi
Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya (Yogyakarta: Gajahmada
University Press, 1985), 157.
[3] Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi
Perkembangan (Ponorogo : STAIN Ponorogo Press, 2005), 171.
[4] Abdul Aziz El-Quussy, Ilmu Jiwa
Prinsip-Prinsip Dan Implementasi Dalam Pendidikan Jilid 3, Terj. Zakiah
Darajat (Jakarta: Bulan Bintang, 1954), 394.
[5]
[6] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan
Anak, Jilid I Terj. Meitasara Tjandrasa Dan Muslichah Zarkasih (Jakarta:
Erlangga, 1997), 264.
[7] Knoers, Psikologi Perkembangan
..., 160.
[8] Ibid., 163.
[9] Ibid., 165-166.
[10] Ibid., 168.
[11] Rochmah, Psikologi ..., 172.
[12] Musthafa Fahmi, Penyesuaian Diri
terj. Zakiyah Darajat (Jakarta: Bulan Bintang, tt), 43.
[13] Ibid., 44.
[14] Ibid., 45.
[15] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta:
Rineka Cipta, 1999), 247.
[16] Sunarto Dan B. Agung Hartono, Perkembangan
Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta,
1998), 131-132.
[17] Musthafa Fahmi, Penyesuaian Diri,
Terj. Zakiyah Darajat (Jakarta: Bulan Bintang, tt), 26-27.
Sign up here with your email