CONTOH PENDAHULUAN SKRIPSI PENELITIAN KUALITATIF : BIMBINGAN BELAJAR MEMBACA AL-QUR'AN METODE TARSANA (Studi Kasus di Sekretariat TARSANA Jalan Perkutut No. 11 Beran Ngawi)

Oleh ROIFA DZAKIYYA

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Al-Qur'an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw[1] sebagai mukjizat melalui malaikat Jibril[2] yang diriwayatkan secara mutawâtir,[3] membacanya dicatat sebagai ibadah yang dimulai dari surat al-Fâtihah dan diakhiri dengan surat al-Nâs.[4]
Al-Qur'an secara harfiah berarti "bacaan sempurna", yaitu merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun lalu yang dapat menandingi al-Qur'an, bacaan sempurna lagi mulia.[5] Di dalam al-Qur’an terdapat nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat universal sebagai menifestasi dari agama Islam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai petunjuk dan penuntun umat Islam dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai 'abdullah dan kholîfatullah fî al-ardh.[6]
Sesuai dengan arti al-Qur'an secara harfiah yang berarti "bacaan sempurna", al-Qur'an diturunkan memang untuk dibaca. Membaca al-Qur'an merupakan pekerjaan yang utama, yang mempunyai berbagai keistimewaan dan keutamaan.[7]
Untuk mencetak generasi Islam yang berwawasan Qur’ani di awali dengan menanamkan kecintaan terhadap al-Qur’an. Salah satunya adalah perintah membaca al-Qur’an yang merupakan langkah awal untuk memahami dan mengamalkan kandungan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Pada realitanya, belum semua umat Islam mampu membaca kitab sucinya sendiri, yaitu al-Qur’an. Keterbatasan ilmu untuk mempelajari al-Qur’an juga semakin menambah permasalahan bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya. Semangat untuk mempelajari al-Qur’an juga semakin menurun jika untuk membaca al-Qur’an saja masih terdapat kesulitan atau hambatan. Sehingga, dapat membaca al-Qur’an adalah syarat mutlak untuk mempercepat belajar isi kandungannya.
Fenomena riil yang terjadi di masyarakat kita adalah masih banyak anak-anak, remaja, maupun orang tua yang belum dapat membaca al-Qur'an dengan baik, bahkan sama sekali belum pernah mempelajarinya. Ironisnya lagi, problematika semacam ini belum juga dapat ditemukan solusi yang efektif, seperti yang terjadi di Kabupaten Ngawi.
Untuk mempelajari al-Qur’an biasanya orang terbatasi oleh waktu, di tengah-tengah kesibukan yang beraneka ragam setiap harinya. Sehingga, orang cenderung mencari cara yang praktis dan cepat untuk dapat membaca al-Qur’an.[8]
Tidak ada ketentuan yang baku dan khusus dari Allah dan Rasul-Nya yang menjelaskan cara atau metode terbaik untuk mengajarkan al-Qur'an kepada seseorang, karena metode pengajaran adalah urusan keterampilan duniawi yang dapat diusahakan oleh akal pikiran manusia sendiri.
Beberapa tahun terakhir muncul sebuah metode baru dalam pembelajaran al-Qur'an di Kabupaten Ngawi, yaitu metode TARSANA. Bimbingan belajar membaca al-Qur’an metode “TARSANA” adalah suatu metode cepat dapat membaca al-Qur’an yang berusaha sedikit demi sedikit memberantas buta huruf al-Qur’an. Dalam perkembangan selanjutnya, tidak menutup kemungkinan dapat juga diajarkan kepada setiap muslim di seluruh Indonesia.[9]
Adapun metode yang ditawarkan oleh TARSANA adalah cara membaca al-Qur’an dengan benar menurut ilmu tajwid dalam tempo yang singkat, yakni 3 sampai 4 bulan sudah khatam al-Qur’an 30 juz dan langsung menggunakan lagu yang biasa dipergunakan untuk membaca al-Qur’an.[10]
Metode ini dapat digunakan untuk segala usia, tidak hanya untuk usia anak-anak tetapi juga untuk usia remaja, bahkan orang tua, dan lansia (lanjut usia). Keunikan metode ini terletak pada penggunaan nagham (lagu)[11] pada seluruh kegiatan pembelajarannya. Metode TARSANA ini memakai sistem tujuh jam, artinya selama tujuh hari ada tujuh pertemuan, pada setiap pertemuannya berdurasi satu jam.[12] Selanjutnya, santri dapat langsung mulai membaca al-Qur'an dengan dibimbing oleh ustadz mulai juz pertama sampai juz terakhir (30 juz).
Menurut pengamatan awal peneliti, dalam waktu kurang dari lima tahun metode ini telah berkembang cukup pesat di beberapa daerah di Jawa Timur, khususnya di kabupaten Ngawi. Pesatnya perkembangan metode ini menurut hemat peneliti dikarenakan metode ini terbukti cukup solutif dalam menjawab problematika yang dihadapi masyarakat dewasa ini.[13]
Adapun kegiatan TARSANA seluruhnya berpusat di sekretariat  TARSANA, Jalan Perkutut No. 11 Beran Ngawi Jawa Timur. Sedangkan untuk tempat bimbingan belajarnya disesuaikan dengan keinginan santri, dengan menyesuaikan jumlah santri dan tempatnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik mengangkat penelitian berjudul BIMBINGAN BELAJAR MEMBACA AL-QUR'AN METODE TARSANA (Studi Kasus di Sekretariat TARSANA Jalan Perkutut No. 11 Beran Ngawi)

B.   Fokus Penelitian 
Berangkat dari permasalahan di atas, penelitian ini memfokuskan pada Bimbingan Belajar Membaca al-Qur'an Metode TARSANA di Sekretariat  TARSANA Jalan Perkutut No. 11 Beran Ngawi terutama mengenai: tujuan, materi, metode, dan sistem evaluasi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
 C.   Rumusan Masalah 
Berangkat dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Bagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA?
2. Bagaimana materi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA?
3. Bagaimana metode yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA?
4. Bagaimana sistem evaluasi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA?

D.   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan jawaban tentang beberapa rumusan masalah di atas sebagai  berikut:
1.  Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan materi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
3. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan metode yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
4. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan sistem evaluasi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
E.    Manfaat Penelitian
Berdasarkan persoalan dan tujuan di atas, penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dan kegunaan sebagai berikut:
1.    Secara Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan dalam pembelajaran dan pengajian al-Qur’an.
b.   Dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran di Lembaga Pendidikan Islam, baik formal maupun non formal.
2.    Secara Praktis
a. Bagi Lembaga TARSANA, sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam upaya pengembangan serta peningkatan kualitas bimbingan belajar membaca al-Qur’an metode TARSANA.
b.  Bagi Ustadz dan Ustadzah TARSANA, sebagai bahan masukan dan referensi dalam upaya pengembangan sistem pembelajaran pada bimbingan belajar membaca al-Qur’an  metode TARSANA. 
c.  Bagi peneliti, sebagai tambahan pengetahuan dan sumbangan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
d.  Dapat menjadi inisiator serta turut memberikan inspirasi sekaligus motivasi bagi peneliti lain, khususnya mahasiswa STAIN Ponorogo sendiri untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang sekiranya terkait dengan gagasan peneliti.
F.    Metode Penelitian
Secara umum, metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.[14]
1.     Pendekatan dan Jenis Penelitian
            Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan metode kualitatif, yang memiliki karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, di samping hasil proses lebih penting. Analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisis induktif, dan makna merupakan hal yang esensial.[15]
            Selanjutnya, jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu suatu deskripsi intensif dan analisis fenomena tertentu atau satuan sosial seperti individu, kelompok, institusi, atau masyarakat dan merupakan penyelidikan secara rinci atau setting, subjek tunggal, satu kumpulan dokumen atau suatu kejadian tertentu. Yang dalam hal ini berkaitan dengan Bimbingan Belajar Membaca al-Qur'an Metode TARSANA di Sekretariat TARSANA Jalan Perkutut No. 11 Beran Ngawi.
2.     Kehadiran Peneliti
            Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya.[16] Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.
3.     Lokasi Penelitian
            Penelitian ini mengambil tempat di Sekretariat TARSANA yang beralamatkan di Jalan Perkutut No.11 Beran Ngawi. Peneliti memilih lokasi tersebut dengan alasan karena kegiatan TARSANA seluruhnya berpusat di sekretariat  TARSANA. Sedangkan untuk tempat bimbingan belajarnya disesuaikan dengan keinginan santri, dengan menyesuaikan jumlah santri dan tempatnya. Untuk saat ini, tempat bimbingan ada yang di masjid, musholla, rumah, maupun perkantoran.
4.     Data dan Sumber Data
            Data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan sebagai sumber data utama, sedangkan sumber data tertulis, foto, dan statistik adalah sebagai sumber data tambahan.[17]
            Adapun sumber data di atas mengungkap tentang:
a. Sumber data utama, yaitu person atau orang yang berlaku sebagai informan, meliputi penyusun dan ustadz-ustadzah dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA dengan tujuan mengungkap data tentang:
1).   Tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
2).   Materi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
3).   Metode yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
4).   Sistem evaluasi yang digunakan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
b.   Sumber data tambahan, meliputi sumber data tertulis yaitu paper atau dokumen dan foto yang berkaitan dengan bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
5.     Teknik Pengumpulan Data
            Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik snowball sampling yaitu teknik penentuan informan yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian informan ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan informan, begitu seterusnya, sehingga jumlah informan semakin banyak.   
            Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sebab, bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan  interaksi dengan subjek melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar di mana fenomena tersebut berlangsung. Di samping itu, untuk melengkapi data, diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subjek). Di antara teknik yang digunakan adalah berikut ini:
a.   Teknik Wawancara
                  Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara antara lain adalah (a) mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain, (b) merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu, (c) memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, (d) memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain baik manusia maupun bukan manusia, dan (e) memverifikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.
                  Teknik wawancara ada bermacam-macam jenisnya, di antaranya adalah (a) wawancara pembicaraan informal, (b) pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka. Di samping itu, ada macam-macam wawancara yang lain, di antaranya adalah (a) wawancara oleh tim atau panel, (b) wawancara tertutup dan wawancara terbuka, (c) wawancara riwayat secara lisan, serta (d) wawancara terstruktur dan wawancara tidak tersruktur.[18]
                  Sedangkan dalam penelitian ini teknik wawancara yang digunakan adalah (a) pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara, artinya bahwa dalam penelitian ini, peneliti atau pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Petunjuk wawancara hanya berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat tercakup seluruhnya. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara yang sebenarnya, (b) wawancara terbuka, artinya bahwa dalam penelitian ini para subjeknya mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu, dan (c) wawancara terstruktur, artinya bahwa dalam penelitian ini, peneliti atau pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan  yang akan diajukan.
                  Dalam penelitian ini, orang-orang yang akan diwawancarai adalah penyusun metode TARSANA, ustadz-ustadzah, dan pengurus  bimbingan belajar membaca al-Qur’an metode TARSANA. Hasil wawancara dari masing-masing informan tersebut ditulis lengkap dengan kode-kode dalam transkrip wawancara.
b.   Teknik Observasi
                  Sutrisno Hadi, sebagaimana yang dikutip oleh Sugiyono mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
                  Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.[19]
                  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipan moderat, yaitu suatu observasi di mana terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.[20] Dalam penelitian ini, observasi partisipan moderat dilakukan dengan tujuan untuk mengamati peristiwa yang dialami oleh subjek dan mengembangkan pemahaman terhadap konteks sosial yang kompleks, serta untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan rumusan masalah tersebut di  atas.[21]
Pada observasi partisipan moderat ini, peneliti mengamati aktivitas-aktivitas sehari-hari objek penelitian, karakteristik fisik situasi sosial dan bagaimana perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Dalam penelitian ini, jenis observasinya tidak tetap. Dalam hal ini peneliti mulai dari observasi deskriptif (descriptive observations) secara luas, yaitu berusaha melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi di sana. Kemudian, setelah perekaman dan analisis data pertama, peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus (focused observations). Dan akhirnya, setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berulang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif (selective observations). Sekalipun demikian, peneliti masih terus melakukan observasi deskriptif sampai akhir  pengumpulan data.
                  Hasil observasi dalam penelitian ini, dicatat dalam Catatan Lapangan (CL), sebab catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam pengumpulan data di lapangan. Pada waktu di lapangan dia membuat “catatan”, setelah pulang ke rumah atau tempat tinggal barulah menyusun “catatan lapangan”.[22]
  Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, jantungnya adalah catatan lapangan. Pada dasarnya, catatan lapangan berisi dua bagian, (1) bagian deskriptif, yang berisi semua peristiwa dan pengalaman yang didengar, dilihat, dan dicatat selengkap dan seobjektif mungkin. Bagian ini berisi beberapa hal, yaitu gambaran diri subjek, rekonstruksi dialog, deskripsi latar fisik, catatan tentang peristiwa khusus, gambaran kegiatan, serta perilaku pengamat, dan (2) bagian reflektif, yaitu tempat khusus untuk menggambarkan sesuatu yang berkaitan dengan pengamat itu sendiri. Bagian ini berisi spekulasi, perasaan, masalah, ide, sesuatu yang mengarahkan, kesan, dan prasangka. Tujuan bagian ini adalah untuk memperbaiki catatan lapangan dan kemampuan melaksanakan studi di kemudian hari. Yang terpenting, isi bagian ini jika dibandingkan dengan bagian deskriptif adalah ada kemungkinan dapat ditemukan konsep awal, hipotesis, dan teori. Pada catatan lapangan, bagian reflektif ini dinamakan ”Tanggapan Peneliti/ Pewawancara/ Pengamat” atau TP.[23] Format rekaman hasil observasi (pengamatan) catatan lapangan dalam penelitian ini menggunakan format rekaman hasil observasi.
c.   Teknik Dokumentasi
                  Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani. Sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. “Rekaman” adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan accounting. Sedangkan “dokumen” adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari rekaman yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang peneliti. Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan data.[24]
                  Teknik dokumentasi ini sengaja digunakan dalam penelitian ini, mengingat (1) sumber ini selalu tersedia dan murah terutama ditinjau dari konsumsi waktu, (2) rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi di masa lampau, maupun dapat dan dianalisis kembali tanpa mengalami perubahan, (3) rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara konstektual relevan dan mendasar dalam konteksnya, dan (4)  sumber ini sering merupakan pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam format transkrip dokumentasi.
6.     Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.        Teknik analisis data dalam kasus ini menggunakan analisis data kualitatif,[25] mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman. Miles dan Huberman, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian, sehingga sampai tuntas dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, meliputi:[26]
a.   Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting untuk dicari tema dan polanya. Berkaitan dengan tema ini, setelah data-data terkumpul yaitu yang berkaitan dengan masalah metode TARSANA dalam bimbingan belajar membaca al-Qur’an, selanjutnya dipilih yang penting dan difokuskan pada pokok permasalahan.           
b.   Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data adalah menguraikan data dengan teks yang bersifat naratif. Tujuan penyajian data ini adalah memudahkan pemahaman terhadap apa yang diteliti dan bisa segera dilanjutkan penelitian ini berdasarkan penyajian yang telah difahami. Dengan menyajikan data, akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi.
c.   Conclusion Drawing (Kesimpulan Sementara)
                    Langkah ketiga yaitu mengambil kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian ini mengungkap temuan berupa hasil deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih kurang jelas dan apa adanya kemudian diteliti menjadi lebih jelas dan diambil kesimpulan. Kesimpulan ini untuk menjawab rumusan masalah yang dirumuskan di awal.[27]    
                    Adapun langkah-langkah analisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles & Huberman ditunjukkan pada gambar berikut ini:
                   
7.  Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keterandalan (reliabilitas).[28] Derajat kepercayaan keabsahan data (kredebilitas data) dapat diadakan pengecekan dengan teknik pengamatan yang tekun dan triangulasi. Ketekunan pengamatan yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari. Ketekunan pengamatan ini dilaksanakan peneliti dengan cara: (a) mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dalam bimbingan belajar membaca al-Qur’an metode TARSANA, dan (b) menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik, sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah difahami.
Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan: sumber, metode, penyidik, dan teori.[29]
Dalam penelitian ini, teknik triangulasi yang digunakan adalah teknik triangulasi dengan sumber data, berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal itu dapat dicapai peneliti dengan jalan: (a) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (b) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (c) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (d) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan, dan (c) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
8.   Tahapan-Tahapan Penelitian
            Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah:
a.   Tahap pralapangan
                  Menurut Bodgan dan Taylor bahwa disain penelitian kualitatif dilakukan sebelum ke lapangan, yakni di mana peneliti mempersiapkan diri sebelum terjun ke lapangan. Disain penelitiannya bersifat fleksibel, termasuk ketika terjun ke lapangan. Sekalipun peneliti memakai metodologi tertentu, tetapi pokok-pokok pendekatan tetap dapat berubah pada waktu penelitian sudah dilakukan.
                  Tahap pralapangan ini meliputi: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, dan menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian.[30]
b.  Tahap pekerjaan lapangan
                  Dengan membawa disain yang dirancang sedemikian rupa, bisa saja tidak sesuai dengan situasi nyatanya. Pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya mungkin tidak mempunyai relevansi dengan situasi objek yang diteliti. Dalam menghadapi hal ini, peneliti harus memulai membuat formulasi disain yang baru lagi (new research design) atau taktik baru lagi dan mulai menyusun pertanyaan-pertanyaan berbeda dalam berbagai hal serta meninggalkan situasi yang satu ke situasi yang lain.[31]
                  Tahapan ini meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan, dan berperanserta sambil mengumpulkan data.
c.   Tahap analisis data
                  Tahap ini meliputi: analisis  selama dan setelah pengumpulan data, pada bagian tahap analisis data ini terdiri dari:
1)    Konsep dasar analisis data
Hal ini akan mempersoalkan pengertian, waktu pelaksanaan, maksud, tujuan, dan kedudukan analisis data.
2)    Menemukan tema dan merumuskan hipotesis
Sejak menganalisis data di lapangan, peneliti sudah mulai menemukan tema dan hipotesis. Namun, analisis yang dilakukan lebih intensif, tema dan hipotesis lebih diperkaya, diperdalam, dan lebih ditelaah lagi dengan menggabungkannya dengan data dari sumber-sumber lainnya.
3)    Menganalisis berdasarkan hipotesis
Sesudah menformulasikan hipotesis, peneliti mengalihkan pekerjaan analisisnya dengan mencari dan menemukan apakah hipotesis itu didukung atau ditunjang oleh data yang benar. Dalam hal demikian, peneliti akan mengubah atau membuang beberapa hipotesis.
d.      Tahap penulisan hasil laporan penelitian
                  Penulisan laporan hasil penelitian tidak terlepas dari keseluruhan tahapan kegiatan dan unsur-unsur penelitian. Kemampuan melaporkan hasil penelitian merupakan suatu tuntutan mutlak bagi peneliti. Dalam hal ini peneliti hendaknya tetap berpegang teguh pada etika penelitian, sehingga ia membuat laporan apa adanya, objektif, walaupun dalam banyak hal ia akan mengalami kesulitan.[32]
G.   Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah penulisan hasil penelitian dan agar dapat dicerna secara runtut, diperlukan sebuah sistematika pembahasan. Dalam laporan penelitian ini, peneliti kelompokkan menjadi 5 bab yang masing-masing bab terdiri dari sub-bab yang saling berkaitan satu sama lain. Sistematika ini menguraikan secara garis besar apa yang termaktub dalam pembahasan setiap bab, namun hal itu lebih pada kata kunci (keyword) dalam menguraikan setiap bab. Sistematika dan pembahasan skripsi ini dirancang untuk diuraikan dengan sistematika sebagai berikut:
Bab pertama: Pendahuluan, merupakan gambaran umum untuk memberikan pola pemikiran bagi laporan penelitian secara keseluruhan. Dalam bab ini akan dibahas latar belakang masalah yang berisi disain dan pembagian masalah, alasan mengapa masalah ini diangkat, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab kedua:    Landasan Teori, yakni berfungsi untuk mengetengahkan kerangka acuan teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran dan penelitian. Dalam kerangka teoritik ini pembahasannya meliputi teori-teori yang mampu mendukung dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
Bab ketiga:     Temuan Penelitian, dalam bab ini berisi tentang hasil-hasil  penelitian di lapangan yang meliputi data umum tentang paparan data dan lokasi penelitian yang terdiri dari sejarah dan dasar pemikiran, letak geografis, biografi singkat penyusun TARSANA, keadaan ustadz dan santri, serta kegiatan pembelajaran metode TARSANA, selanjutnya data khusus berisi tentang tujuan, materi, metode, dan sistem evaluasi dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
Bab keempat: Pembahasan, merupakan bab yang membahas tentang analisis data. Dalam bab ini berisi analisis data tentang tujuan, materi, metode, dan sistem evaluasi dalam bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA.
Bab kelima:       Penutup, merupakan bab terakhir dari semua rangkaian pembahasan dari Bab I sampai Bab V. Bab ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca dalam memahami intisari dari penelitian yang berisi kesimpulan dan saran.


                                        DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Imron. Penelitian Kualitatif. Malang: Kalimasahada, 1996.
Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: CV. Toha Putra Semarang, 1989.
Haryono dan Hadi, Amirul. Metodologi Penelitian Pendidikan untuk IAIN dan PTAIS semua Fakultas dan Jurusan, Komponen MKK. Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Khon, Abdul Majid. Praktikum Qira'at: Keanehan Bacaan al-Qur'an Qira'at Ashim dari Hafash, Cet. I. Jakarta: Amzah, 2007. 
Makhdlori, Muhammad. Keajaiban Membaca al-Qur’an: Mengurai Kemukjizatan Fadhilah Membaca al-Qur'an terhadap Kesuksesan Anda, Cet. II. Jogjakarta: Diva Press, 2007.
Miles, Mattew B dan Huberman, A. Michael. Analisis Data Kualitatif, Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press, 1992.
Moleong, Lexy J. Metodolagi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja RosdaKarya, 2000.
Munir, M. Misbachul. Pedoman Lagu-lagu Tilawatil Qur'an Dilengkapi dengan Tajwid dan Qasidah. Surabaya: Apollo, 1997.
Mustaqim, Sjamsudin. Bimbingan Belajar Membaca al-Qur'an: TARSANA "Tartil, Sari', Nagham" Sistem 7 Jam. Surabaya: Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Wilayah Jawa Timur, tt.
Shihab, M. Quraisy. Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Cet. XII. Bandung: Mizan, 2001.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2007.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/contoh-pendahuluan-skripsi-penelitian.html

 _______________________________________________


[1]Perhatikan antara lain QS. al-An'âm (6): 19, QS. al-Insân (76): 23, QS. al-Naml (27): 6.  Lebih lanjut baca al-Qur'an. 
[2]Paling sedikit ada empat ayat yang menyatakan bahwa al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantaraan malaikat Jibril. Dan al-Qur'an menggunakan berbagai macam sebutan untuk malaikat Jibril. Selain Jibril (QS. al-Baqarah (2): 97), al-Qur'an juga menjulukinya dengan Rûh al-Qudûs (QS. al-Nahl (16): 102), al-Rûh (QS. al-Qadar (97): 4), al-Rûh al-Amîn (QS. al-Syu'arâ' (26): 193) dan Syadîd al-Quwa (QS. al-Najm (53): 5). Lebih lanjut baca al-Qur'an. 
[3]Artinya diterima dan diriwayatkan banyak orang, tidak sedikit jumlahnya dan mustahil mereka bersepakat dusta dari masa ke masa secara berturut-turut sampai kepada kita. Lihat  Abdul Majid Khon, Praktikum Qira'at: Keanehan Bacaan al-Qur'an Qira'at Ashim dari Hafash, Cet. I (Jakarta: Amzah, 2007), 2. 
[4]Ibid., 2-3.
[5]Dikatakan paling sempurna karena tiada bacaan semacam al-Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Tiada juga bacaan seperti al-Qur’an yang diatur tata cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya. Lebih lanjut lihat M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Cet. XII (Bandung: Mizan, 2001), 3-4.
[6]Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk dan penuntun umat manusia, karena energi spiritual al-Qur’an mampu merombak hati yang keras menjadi lentur, hati yang tertutup menjadi terbuka, dan kepribadian yang labil menjadi stabil. Karenanya al-Qur’an disebut sebagai satu-satunya pedoman hidup bagi umat manusia (hudan linnâs) guna meraih mutu hidup yang penuh kebahagiaan dan kesuksesan. Lebih lanjut baca Muhammad Makhdlori, Keajaiban Membaca al-Qur’an: Mengurai Kemukjizatan Fadhilah Membaca al-Qur'an terhadap Kesuksesan Anda, Cet. II (Jogjakarta: DIVA Press, 2007).
[7]Keistimewaan dan keutamaan membaca al-Qur'an bagi orang-orang yang menyibukkan dirinya untuk membaca al-Qur'an di antaranya adalah sebagai berikut: (1) menjadi manusia yang terbaik, (2) mendapatkan kenikmatan tersendiri, (3) derajat yang tinggi, (4) bersama para malaikat, (5) syafa'at al-Qur'an, (6) kebaikan atau pahala membaca al-Qur'an, dan (7) keberkahan al-Qur'an tentunya. Lebih lanjut lihat Majid Khon, Praktikum Qira'at: Keanehan Bacaan al-Qur'an, 59-66.
[8] Lihat transkrip wawancara nomor: 13/6-W/F5/29-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
[9] Lihat transkrip wawancara nomor: 14/1-W/F6/30-III/2009 dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
[10] Ibid.
[11]Nagham atau lagu yang digunakan adalah lagu Rost dan Rosta ‘Alan Nawa secara tartil. Lagu Rost dan Rosta ‘Alan Nawa terdiri dari tiga fariasi, yaitu: Usyaq, Zanjinan (Zinjiran) dan Syabir ‘Alarros. Tingkatan suaranya ada dua: Jawab dan Jawabul Jawab. Lebih lanjut lihat M. Misbachul Munir, Pedoman Lagu-lagu Tilawatil Qur'an Dilengkapi dengan Tajwid dan Qasidah (Surabaya: Apollo, 1997), 50-53.
[12]Buku pedoman bimbingan belajar membaca al-Qur’an metode TARSANA terdiri dari tujuh halaman. Yaitu berisi pengenalan huruf putus dan sambung dengan harakat fathah, kasrah dan dhammah, pengenalan mad, pengenalan qalqalah dan tasydid, pengenalan harakat double atau tanwin dan waqaf, pengenalan al-Syamsiyah dan al-Qamariyah serta mad wajib dan jaiz, kemudian diakhiri dengan pengenalan tajwid. Lebih lanjut baca Sjamsudin Mustaqim, Bimbingan Belajar Membaca al-Qur'an: TARSANA "Tartil, Sari', Nagham" Sistem 7 Jam jilid 1.
[13]Hasil wawancara awal dengan Muhammad Nafi', salah satu ustadz atau guru bimbingan belajar membaca al-Qur'an metode TARSANA, sekaligus putra pertama pencetus metode TARSANA pada hari Ahad, 15 Februari 2009, pukul 09.00 WIB di rumah kediaman.
[14]Terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu: cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. Lebih lanjut lihat Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2007), 3.
[15]Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang-orang dan perilaku yang dapat dialami. Lihat dalam Lexy J. Moleong, Metodolagi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja RosdaKarya, 2000), 3.
[16]Pengamatan berperan serta adalah sebagai penelitian yang bercirikan interaksi-sosial yang memakan waktu cukup lama antara peneliti dengan subjek dalam lingkungan subjek. Dan selama itu data dalam bentuk catatan lapangan dikumpulkan secara sistematis, dan catatan tersebut berlaku tanpa gangguan. Lihat dalam Moleong, Metodologi Penelitian, 117.
[17] Ibid.,112.
[18] Ibid., 135.
[19] Sugiyono, Metodologi Penelitian, 203-205.
[20]Ibid., 310-312.
[21]Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan untuk IAIN dan PTAIS semua Fakultas dan Jurusan, Komponen MKK (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 123.
[22] Moleong, Metodologi Penelitian, 153-154.
[23] Ibid., 156-158.
[24] Ibid., 161.
[25]Analysis is the process of systematically searcoing and arranging the interview transcipts, field notes, and other materials that you accumulate to increase your own  understanding of them and to enable you to present what you have discovered to other. (Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain). Lebih lanjut lihat dalam Sugiyono, Metodologi Penelitian, 333-334.
[26] Mattew B. Miles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi (Jakarta: UI Press, 1992), 16.
[27]Ibid., 16-21.
[28] Moleong, Metodologi Penelitian, 171.
[29] Ibid., 178.
[30] Ibid., 85-93.
[31] Imron Arifin, Penelitian Kualitatif  (Malang: Kalimasahada, 1996), 40-41.
[32] Moleong, Metodologi Penelitian, 215-216.






Previous
Next Post »