BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Layaknya seorang penjahit, untuk mewujudkan sebuah baju
yang indah, penjahit membuat pola, memotong kain dan kadang-kadang harus
memadukan antara kain satu dengan yang lainnya. Dalam mengerjakan itu semua,
penjahit pasti membayangkan siapa yang akan memakai baju tersebut nantinya. Dalam
angannya, penjahit berharap agar pemakai baju yang dijahitnya itu merasa senang
dan puas.
Demikian pula seorang pengarang dalam menghasilkan sebuah
karya sastra. Jika bahan baku sebuah baju adalah kain, maka bahan baku sebuah
karya sastra adalah bahasa. Pengarang mengolah bahasa agar bernilai seni, yaitu
seni sastra. Seorang sastrawan menulis bukan hanya untuk menyampaikan
gagasannya. Akan tetapi agar sang pembacapun ikut merasakan apa yang dirasakan
oleh sang pengarang[1].
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, maka penulisan
makalah ini kami beri judul “Gaya Bahasa (Majas) Dan Pengelompokannya”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan gaya bahasa ?
2. Berapa macam pengelompokan gaya bahasa dalam bahasa Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita dapat
mengetahui :
1. Pengertian
gaya bahasa.
2. Macam pengelompokan gaya bahasa dalam bahasa Indonesia.
BAB
II
GAYA BAHASA (MAJAS) DAN PENGELOMPOKANNYA
A. Pengertian Gaya Bahasa (Majas)
Kekayaan
ragam bahasa di negara
kita tercinta, Indonesia ternyata ikut membuat ragam bahasa yang ada di dalamnya. Menurut para
sastrawan :
1. Panuti – Sadjiman, (1993:13)
Gaya
bahasa terdapat dalam segala ragam bahasa karena gaya bahasa adalah cara
menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk
maksud-maksud tertentu.
2. Gorys
Keraf, (1986:113)
Style
atau gaya bahasa sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas
yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa.[2]
3. Prof.
Dr. H. G. Tarigan
Majas
adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain:
pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat.
Jadi,
sebuah gaya bahasa sebenarnya beragam karena beragamnya pemikiran dan kegemaran
dari masing-masing sastrawan tersebut. Sehingga
dapat diambil kesimpulan bahwa Gaya
Bahasa atau Style adalah cara yang digunakan untuk
menyatakan maksud dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya.[3] Sebagai contoh, para
sastrawan perlu menggunakan bahasa yang sering berbeda dengan kelaziman.
Terkandung maksud agar pembaca tersentuh dan ikut masuk ke dalamnya.
Kegemaran
sastrawan menggunakan gaya bahasa itu bermacam-macam. Setiap pengarang
mempunyai selera yang berbeda satu dengan yang lain. Karena itu, lahirlah
berbagai macam gaya bahasa, antara lain dapat dikelompokkan seperti di bawah
ini:
Gaya bahasa dapat dikelompokkan
menjadi empat kelompok yaitu:
- Gaya bahasa perulangan
- Gaya bahasa perbandingan
- Gaya bahasa pertentangan
- Gaya bahasa pertautan
- Gaya Bahasa Perulangan
a. Aliterasi
Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud
perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada
puisi.
Contoh:
·
Kau keraskan kalbunya
·
Bagai batu membesi benar
·
Timbul telangkai bertongkat urat
b. Asonansi
Asonansi ialah sejenis gaya bahasa refetisi yang berjudul
perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan
dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
Contoh:
·
Segala ada menekan dada
·
Mati api di dalam hati
·
Harum sekuntum bunga rahasia
·
Dengan hitam kelam
c. Antanaklasis
Antanaklasis
ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh:
Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.
d. Kiasmus
Kiasmus
ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi
atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh: Ia menyalahkan yang benar
dan membenarkan yang salah.
e. Epizeukis
Epizeukis
ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang
dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh:
Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.
f. Tautotes
Tautotes
ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali
dalam sebuah konstruksi.
Contoh:
Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.
g. Anafora
Anafora
ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap
baris atau kalimat.
Contoh:
·
Kucari kau dalam toko-toko.
·
Kucari kau karena cemas karena
sayang.
·
Kucari kau karena sayang karena
bimbang.
·
Kucari kau karena kaya mesti
diganyang.
h. Epistrofa
(efifora)
Epistrofa
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau
kalimat berurutan.
Contoh:
·
Ibumu sedang memasak di dapur ketika
kau tidur.
·
Aku mencercah daging ketika kau
tidur.
i. Simploke
Simploke
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris
(kalimat secara berturut-turut).
Contoh:
·
Ada selusin gelas ditumpuk ke atas.
Tak pecah.
·
Ada selusin piring ditumpuk ke atas.
Tak pecah.
·
Ada selusin barang lain ditumpuk ke
atas. Tak pecah.
j. Mesodiplosis
Mesodiplosis
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di
tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh:
·
Pendidik harus meningkatkan
kecerdasan bangsa.
·
Para dokter harus meningkatkan
kesehatan masyarakat.
k. Epanalepsis
Epanalepsis
ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir
baris, klausa, atau kalimat.
Contoh:
Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.
l. Anadiplosis
Anadiplosis
ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat
atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat
berikutnya.
Contoh:
·
Dalam raga ada darah
·
Dalam darah ada tenaga
·
Dalam tenaga ada daya
·
Dalam daya ada segalanya
2. Gaya
Bahasa Perbandingan
a. Simile.
Simile
ialah padanan kata yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini
ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana,
serupa.
Contoh:
Seperti air dengan minyak.
b. Metafora
Metafora
ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh:
Aku adalah angin yang kembara.
c. Personifikasi
Personifikasi
ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda
yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Contoh:
Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
d. Depersonifikasi
Depersonifikasi
ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada
manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau,
misalkan, bila, seandainya, seumpama.
Contoh:
Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.
e. Alegori
Alegori
ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang. Yang termasuk dalam alegori
antara lain:
1). Fabel,
contoh: Kancil dan Buaya
2). Parabel,
contoh: Cerita Adam dan Hawa
f. Antitesis
Antitesis
ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh:
Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
g. Pleonasme
Pleonasme
adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu.
Contoh:
Capek mulut saya berbicara.
h. Tautologi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata
yang telah disebutkan terdahulu.
Contoh:
Apa maksud dan tujuannya datang ke mari ?
i. Perifrasis
Perifrasis
ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang
sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.
Contoh:
Wita telah menyelesaikan sekolahnya tahun 1988 (lulus).
j. Antisipasi
(prolepsis)
Antisipasi ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya
menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau
akan terjadi.
Contoh: Aku melonjak kegirangan
karena aku mendapatkan piala kemenangan.
k. Koreksio
(epanortosis)
Koreksio
ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu.
Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.
Contoh:
Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini !
l. Sinestesia
Merupakan
majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
Contoh:
Bau makanan itu lezat sekali.
m. Antonomasia
Merupakan
penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
Contoh:
Si gemuk sudah datang !
n. Hiperbola
Hiperbola
merupakan pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan
tersebut menjadi tidak masuk akal.
Contoh:
Hujan serasa membanjiri dunia.
Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan
yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk
menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.
o. Asosiasi
Asosiasi
adalah perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh:
Saya telah sampai di kaki gunung.
p. Aptronim
Aptronim
adalah pemberian nama yang sesuai dengan sifat atau pekerjaan orang.
Contoh:
Selamat pagi Pak Dokter !
q. Litotes
Litotes
ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang
sebenarnya.
Contoh:
Selamat datang di gubuk saya.
r. Perifrasis
Perifrasis
adalah gaya bahasa yang menggantikan suatu kata atau kelompok kata dengan kata
atau kelompok kata lain.
Contoh: Ayah berangkat kerja saat
ufuk berada di sebelah timur. (pagi hari)
s. Tropen
Tropen
adalah penggunaan kata atau istilah lain dengan makna sejajar.
Contoh:
Pikirannya melambung tinggi.
- Gaya Bahasa Pertentangan
a. Ironi
Ironi
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan
kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:
Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.
b. Oksimoron
Oksimoron
ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung
pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau
dalam kalimat yang sama.
Contoh: Olahraga mendaki gunung
memang menarik walupun sangat membahayakan.
c. Paranomosia
Paranomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh: Bisa ular itu bisa membunuhmu.
d. Zeugma
dan Silepsis
Zeugma ialah gaya
bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah
kata dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma
kata yang dipakai untuk membawahkan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya
cocok untuk salah satu dari padanya.
Contoh:
Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.
Dalam silepsis kata yang dipergunakannya itu secara
gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya
mempunyai makna lain.
Contoh: Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
e. Satire
Satire ialah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau
karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun
terselubung.
Contoh:Jemu aku dengan bicaramu.
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah
f. Inuendo
Inuendo ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan
mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:
Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.
g. Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya.
Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan
menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah
kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh
Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
h. Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang
mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh: Teman akrab adakalanya
merupakan musuh sejati.
i. Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang
berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin
meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
Contoh:
Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
j. Anti
klimaks
Antiklimaks ialah suatu pernyataan
yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga
yang kurang penting.
Contoh:
Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.
k. Apostrof
Apostrof ialah gaya bahasa yang
berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.
Contoh:
Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.
l. Anastrof
atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa
retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau
mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.
Contoh: Diceraikannya istrinya tanpa
setahu saudara-saudaranya.
m. Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa
pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru
menegaskannya.
Contoh
: Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.
n. Histeron
Proteran
Histeron Proteran ialah gaya bahasa
yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang logis atau kebalikan dari
sesuatu yang wajar.
Contoh
: Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.
o. Hipalase
Hipalase ialah gaya bahasa yang berupa
sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata yang
seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.
Contoh: Ia duduk pada bangku yang
gelisah.
p. Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa yang
merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap
keikhlasan atau ketulusan hati.
Contoh:
Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.
q. Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang
mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh: Kau memang benar-benar
bajingan.
r. Okupasi
Okupasi adalah gaya bahasa yang
mengandung pertentangan, tetapi diberi penjelasan.
Contoh: Dulunya dia bandel, tapi
sekarang baik.
- Gaya Bahasa Pertautan
a. Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang
menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu
sendiri.
Contoh: Parker jauh lebih mahal
daripada pilot.
b. Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa
yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri. Sinekdoke
ada dua:
1). Pars
prototo: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah dipotong pada acara
itu.
2). Totem
proparte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu
lawan Singapura.
c. Alusio
Alusio ialah gaya bahasa
yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh
yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan
terjadi lagi di sini ?
d. Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang lebih
halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap
merugikan atau yang tidak menyenangkan.
Contoh: Tuna susila sebagai
pengganti pelacur.
e. Eponim
Eponim ialah gaya bahasa yang
menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu
sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh:
Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.
f. Antonomasia
Antonomasia ialah gaya bahasa yang
berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti
nama diri.
Contoh: Kepala sekolah mengundang
para orang tua murid.
g. Epitet
Epitet ialah gaya bahasa yang
berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas dari
seseorang atau suatu hal.
Contoh:
Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.
h. Erotesis
Erotesis ialah gaya bahasa yang
berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama sekali.
Contoh: Tegakah membiarkan anak-anak
dalam kesengsaraan ?
i. Paralelisme
Paralelisme ialah gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan
pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dan
memiliki bentuk gramatikal yang sama.
Contoh:
(+) Bukan
saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
(-) Bukan saja perbuatan itu
harus dikutuk, tetapi juga harus memberantasnya (Ini contoh yang tidak baik).
j. Elipsis
Elipsis ialah gaya bahasa yang di
dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa unsur
penting dari suatu konstruksi sintaksis.
Contoh:
·
Mereka ke Jakarta minggu lalu
(perhitungan prediksi).
·
Pulangnya membawa oleh-oleh banyak
sekali (Penghilangan subyek).
·
Saya sekarang sudah mengerti (
Penghilangan obyek).
·
Saya akan berangkat (penghilangan
unsur Keterangan).
·
Mari makan ! (penghilangan subyek dan obyek).
k. Gradasi
Gradasi ialah gaya bahasa yang
mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang diulang dalam
konstruksi itu.
Contoh:
Kita harus membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan
tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.
l. Asindeton
Asindenton ialah gaya bahasa yang
berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung
kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Contoh: Ayah, ibu, anak merupakan
inti dari sebuah keluarga.
m. Polisindeton
Polisindenton ialah gaya bahasa yang
berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang
sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Contoh:
Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan
pelaksana.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan Gaya Bahasa (Majas) dan Pengelompokannya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu
oleh orang tertentu untuk maksud-maksud tertentu, menurut Panuti
– Sadjiman, (1993:13). Atau cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa
secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa, menurut Gorys Keraf, (1986:113). Atau cara mengungkapkan pikiran melalui
bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur
kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat, menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan.
2. Gaya Bahasa dikelompokkan menjadi empat yaitu gaya bahasa perulangan, gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan dan gaya bahasa pertautan.
B. Saran
Dengan begitu
banyaknya macam gaya bahasa seperti yang tersebut di atas, hendaknya dipergunakan
dengan semestinya dan diterapkan dalam membuat sebuah karya sastra sehingga menjadi indah
dan ia dapat menarik pembaca
untuk lebih mendalami dan menikmati karya
sastra tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Wiyanto,
Asul. Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP Dan SMA.Jakarta : PT. Grasindo
Anggota IKAPI, 2005.
Sugihastuti dan Suharto. Kritik
Sastra Feminis: Teori Dan Aplikasinya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI), 2002.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/02/gaya-bahasa-majas-dan-pengelompokannya.html
[2] Sugihastuti, Suharto, Kritik Sastra Feminis : Teori Dan Aplikasinya (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,2002), 56.
[1] Asul
Wiyanto, Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP Dan SMA (Jakarta: PT.Grasindo Anggota
IKAPI,2005), 116.
[3] Ibid.
Sign up here with your email