SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Cooperative Learning
Cooperative Learning mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan Cooperative Learning, mahasiswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh kelompoknya. Jadi, belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerjasama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Dan dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.[1]
Cooperative Learning lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model Cooperative Learning harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memngkinkan terjadinya interaksi-interaksi terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interpendensi yang diantara anggota kelompok.
Adapun aplikasinya di dalam pembelajaran di kelas, model ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh mahasiswa dalam kesehariannya, dengan bentuk yang sederhana dalam kehidupan kelas. Model pembelajaran ini memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dosen, melainkan bisa juga dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu yaitu teman sebayanya.[2]
Keberhasilan belajar menurut model belajar ini bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh, melainkan perolehan belajar ini akan semakin baik apabila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok belajar kecil yang terstruktur dengan baik. Melalui belajar dari teman yang sebaya di bawah bimbingan  dosen, maka proses penerimaan dan pemahaman mahasiswa akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang dipelajari.
Model belajar Cooperative Learning merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam pengembangan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Sehingga dengan bekerja bersama-sama diantara sesama kelompok akan meningkatkan produktifitas dan perolehan belajar, serta mendorong mahasiswa dalam memecahkan berbagai masalah yang ditemui selama proses pembelajaran.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka pembelajaran dengan Cooperative Learning akan dapat mengembangkan kualitas diri mahasiswa terutama aspek efektifitas mahasiswa dapat dilakukan secara bersama-sama. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip kooperatif sangat baik digunakan untuk tujuan belajar, baik yang sifatnya kognitif, afektif maupun konatif.
B.  Konsep Dasar Cooperative Learning
Dalam menggunakan model belajar Cooperative Learning di kelas, ada beberapa konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh dosen. Konsep tersebut meliputi :
1.    Perumusan tujuan belajar mahasiswa harus jelas.
Sebelum menggunakan strategi pembelajaran, guru hendaknya memulai dengan merumuskan tujuan pembelajaran dengan jelas dan spesifik. Perumusan tujuan harus disesuaikan dengan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran.
2.    Penerimaan yang menyeluruh oleh mahasiswa tentang tujuan belajar.
Dosen hendaknya mampu mengondisikan kelas agar mahasiswa menerima tujuan pembelajaran dari sudut kepentingan diri dan kepentingan kelas. Oleh karena itu mahasiswa dikondisikan untuk mengetahui dan menerima kenyataan bahwa setiap orang dalam kelompoknya menerima dirinya untuk bekerjasama dalam mempelajari seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang ditetapkan untuk dipelajari.[3]
3.    Ketergantungan yang bersifat positif.
Dosen harus merancang struktur kelompok dan tugas-tugas kelompok yang memungkinkan setiap mahasiswa untuk belajar dan mengevaluasi dirinya dan teman kelompoknya dalam penguasaan diri dan kemampuan memahami materi pelajaran. Kondisi belajar ini memungkinkan siswa untuk merasa tergantung secara positif pada anggota kelompok lainnya dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen.
4.    Interaktif yang bersifat terbuka.
Dalam kelompok belajar, interaksi yang terjadi bersifat langsung dan terbuka dalam mendiskusikan materi dan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Suasana belajar seperti ini akan membantu menumbuhkan sikap ketergantungan yang positif dan  keterbukaan di kalangan mahasiswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajarnya.
5.    Tanggung jawab individu.
Adalah salah satu dasar penggunaan Cooperative Learning dalam pembelajaran. Keberhasilan belajar akan lebih mungkin dicapai secara lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu keberhasilan belajar dalam model belajar strategi ini dipengaruhi oleh kemampuan individu mahasiswa dalam menerima dan memberi apa yang telah dipelajarinya. Sehingga secara individual mahasiswa mempunyai tanggung jawab yaitu mengerjakan dan memahami materi atau tugas demi keberhasilan dirinya dan anggota kelompoknya.
6.    Kelompok bersifat heterogen.
Dalam pembentukan kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi-interaksi kerjasama yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik mahasiswa yang berbeda. Dalam suasana seperti ini akan tumbuh dan berkembang nilai, sikap, moral dan perilaku mahasiswa.
7.    Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif.
Dalam mengerjakan tugas kelompok, mahasiswa bekerja bersama-sama dalam kelompok. Dalam suatu interaksi bersama, mahasiswa tidak begitu saja menerapkan dan memaksakan sikap dan pendiriannya pada anggota lainnya.
8.    Tindak lanjut (follow up).
Setelah masing-masing belajar menyelesaikan tugas dan pekerjaannya selanjutnya menganalisa bagaimana penampilan dan hasil kerja mahasiswa dalam kelompok belajarnya.
9.    Kepuasan dalam belajar
Setiap mahasiswa dan kelompok harus memperoleh waktu yang cukup untuk belajar mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilannya. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi, maka keuntungan akademis dari penggunaan Cooperative Learning akan sangat terbatas. Perolehan belajar mahasiswa pun terbatas sehingga dosen hendaknya mampu merancang dan mengalokasikan waktu yang memadai dalam menggunakan model ini dalam pembelajaran. 

C.  Langkah-Langkah Dalam Pembelajaran Cooperative Learning
Langkah-langkah dalam penggunan model Cooperative Learning secara umum (Stahl, 1994, Slavin, 1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagai berikut :
1. Langkah pertama yang dilakukan dosen adalah merancang rencana program pembelajaran. Pada langkah ini dosen mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Dosen juga menetapkan sikap dan ketrampilan sosial. Dosen harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas mahasiswa yang mencerminkan sistem kerja dalam kelompok kecil. Untuk memulai pembelajaran, dosen harus menjelaskan tujuan dan sikap serta ketrampilan sosial yang ingin dicapai dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama pembelajaran. Hal ini mutlak harus  dosen, karena dengan demikian mahasiswa bisa mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukannya selama selama proses belajar mengajar berlangsung.
2.    Langkah kedua, dalam aplikasi pembelajaran di kelas, dosen merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Dosen menjelaskan pokok-pokok materi dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi yang memadai tentang materi yang diajarkan. Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menggali pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi pelajaran berdasarkan apa yang telah dipelajari. Berikutnya dosen membimbing mahasiswa untuk membuat kelompok pemahaman dan konsepsi dosen terhadap siswa secara individual untuk menemukan kebersamaan dari kelompok yang terbentuk. Kegiatan ini dilaksanakan sambil menjelaskan tugas yang harus dilakukan mahasiswa dalam kelompoknya masing-masing. Dan pada saat mahasiswa belajar secara kelompok, maka dosen mulai melakukan monitoring dan mengobservasi kegiatan belajar mahasiswa berdasarkan lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya.
3.  Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik secara individual maupun kelompok dari segi memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pemberian pilihan dan kritik membangun dari dosen kepada mahasiswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh dosen pada saat mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Di samping itu, pada saat kegiatan kelompok berlangsung ketika mahasiswa terlibat dalam diskusi dalam kelompoknya masing-masing, dosen secara periodik memberikan layanan kepada mahasiswa baik secara individual maupun secara klasikal.
4.    Langkah keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini, dosen bertindak sebagai moderator. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan pemahaman mahasiswa terhadap materi atau hasil kerja yang telah ditampilkannya.
D.  Hasil Penelitian Yang Telah Dilakukan Mengenai Cooperative Learning
Van sickle (1983) dalam penelitiannya mengenai model Cooperative Learning dan implikasinya terhadap perolehan belajar siswa dan pengembangan kurikulum social studies, menemukan bahwa sistem belajar kelompok dan debriefing secara individual dan kelompok dalam model Cooperative Learning mendorong tumbuhnya tanggung jawab sosial dan individual siswa, berkembangnya sikap ketergantungan positif, mendorong peningkatan dan kegairahan belajar siswa, serta pengembangan dan ketercapaian kurikulum.[4]
Stahl (1992) dalam penelitiannya di beberapa sekolah dasar di Amerika menemukan bahwa penggunaan model Cooperative Learning mendorong tumbuhnya sikap kesetiakawanan dan keterbukaan diantara siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa model tersebut mendorong ketercapaian tujuan dan nilai-nilai sosial dalam pendidikan social studies.
Penelitian Drs. Hj. Etin Solihatin, M. Peserta didik., dkk (2001) yang dibiayai proyek PGSM, dilakukan pada mahasiswa penyertaan D-3 tahap II untuk mata kuliah Pendidikan IPS di Universitas Negeri Jakarta, menemukan bahwa penggunaan model Cooperative Learning sangat mendorong peningkatan prestasi mahasiswa 20% dan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk belajar mandiri.
Mengkaji beberapa temuan penelitian terdahulu, tampaknya model Cooperative Learning menunjukkan efektifitas yang sangat tinggi bagi perolehan hasil belajar siswa, baik dilihat dari pengaruhnya terhadap penguasaan materi pelajaran maupun dari segi pengembangan dan pelatihan sikap serta ketrampilan sosial yang sangat bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB III
PENUTUP
A.                A. Kesimpulan
Dari pembahasan Langkah-Langkah Dalam Pembelajaran Cooperative Learning dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1. Pengertian Cooperative Learning mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama atau suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen sehingga keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
2. Konsep dasar Cooperative Learning diantaranya : perumusan tujuan belajar mahasiswa harus jelas, penerimaan yang menyeluruh oleh mahasiswa tentang tujuan belajar, ketergantungan yang bersifat positif, interaktif yang bersifat terbuka, tanggung jawab individu, kelompok bersifat heterogen, interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif, tindak lanjut (follow up), kepuasan dalam belajar.
3. Langkah-langkah dalam pembelajaran Cooperative Learning diantaranya : Langkah pertama yang dilakukan dosen adalah merancang rencana program pembelajaran. Langkah kedua, dalam aplikasi pembelajaran di kelas, dosen merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik secara individual maupun kelompok dari segi memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Langkah keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
4. Hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Cooperative Learning adalah Van sickle (1983) menemukan bahwa sistem belajar kelompok dan debriefing secara individual dan kelompok dalam model Cooperative Learning mendorong tumbuhnya tanggung jawab sosial dan individual siswa, berkembangnya sikap ketergantungan positif, mendorong peningkatan dan kegairahan belajar siswa, serta pengembangan dan ketercapaian kurikulum. Stahl  (1992) menemukan bahwa penggunaan model Cooperative Learning mendorong tumbuhnya sikap kesetiakawanan dan keterbukaan diantara siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa model tersebut mendorong ketercapaian tujuan dan nilai-nilai sosial dalam pendidikan social studies. Drs. Hj. Etin Solihatin, M. Peserta didik., dkk (2001) menemukan bahwa penggunaan model Cooperative Learning sangat mendorong peningkatan prestasi mahasiswa 20% dan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk belajar mandiri.

B.                 B. Saran

Hendaknya model Pembelajaran Cooperative Learning perlu dipertimbangkan oleh para pendidik untuk diterapkan dalam metode belajar mengajar mereka, sehingga menambah motifasi dan iklim gairah belajar para murid sehingga tercapai hasil perolehan prestasi yang maksimal.


DAFTAR PUSTAKA


Solihatin, Entin dan Raharja. Cooperative Learning. Jakarta: Bumi Aksara,tt.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/langkah-langkah-dalam-pembelajaran.html


[1] Entin Solihatin dan Raharja, Cooperative Learning (Jakarta: Bumi Aksara,tt), 5.
[2] Ibid., 5.       
[3] Ibid., 7.
[4] Ibid., 13.



MATERI TERKAIT:

Judul: LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/langkah-langkah-dalam-pembelajaran.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger