REVIEW MATERI PEMBEKALAN KULIAH PENGABDIAN MASYARAKAT (KPM) PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR)


1.  Konsepsi Umum / Konsep Dasar KPM yang berlandaskan PAR
a.    Pengertian  
PAR adalah singkatan dari Participatory Action Research atau riset aksi partisipatif, yang merupakan sebuah pendekatan dalam riset sosial yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat. Ada beberapa nama sebutan untuk riset sosial ini selain PAR, di antaranya :
1).           Action Research
2).           Learning by doing
3).           Action Learning     
4).           Action Science
5).           Action Inquiry
6).           Collaborative Research
7).           Partisipatory Action Research
8).           Partisipatory Research
9).           Policy-oriented Action Research
10).       Emancipatory Research
11).       Conscientizing Reseach
12).       Collaborative inquiry
13).       Participatory Action Learning
14).       Dialectical Research, dan masih banyak sebutan lainnya.

b.   Adapun Watak Dasar PAR (ciri-ciri dasar) adalah :
1).           Dibangun dalam semangat gerakan pembebasan
2).           Sebuah proses di mana kelompok sosial kelas bawah mengontrol ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan kekuatan politik melalui pendidikan orang dewasa, penelitian kritis, dan tindakan sosial-politik,
3).           Proses membangun kesadaran diri melalui penyelidikan dan refleksi diri.
4).           Menggunakan beragam metode :
ü Produksi pengetahuan oleh komunitas mengenai agenda kehidupan mereka sendiri,
ü Partisipasi dalam pengumpulan dan analisa data, dan
ü Kontrol mereka terhadap penggunaan hasil riset. 
5).           Orientasi lebih pada proses perubahan sistem sosial.
c.    Prinsip-Prinsip PAR
1).           Belajar dari realitas atau pengalaman.
2).           Tidak menggurui.
3).           Proses belajar dijalankan dengan dialogis.
d.   Sikap dan Etika Participatory Action Reseacher
Karena PAR dilakukan dalam keadaan sosial yang nyata dengan membangun komunikasi sosial secara dekat dan terbuka di antara orang-orang dalam komunitas, maka para peneliti harus benar-benar memperhatikan sikap dan etika dalam melakukan kerja-kerja mereka (Richard Winter (1996).
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain : 
1).    Melakukan konsultasi pada orang-orang yang relevan termasuk pemegang otoritas formal dan non formal dalam komunitas,
2).    Make sure that the relevant persons, committees and authorities have been Prinsip-prinsip dan arah kerja PAR benar-benar diterima oleh semua pihak,
3).    Semua orang harus diperbolehkan mempengaruhi kerja PAR,
4).    Mereka yang tidak ingin berpartisipasi dalam proses PAR secara bijak harus  dihormati,
5).    Perkembangan kerja PAR harus dapat ditampakkan dan terbuka saran dan kritik dari yang lain,
6).    Ijin (formal atau informal) harus diadakan sebelum membuat observasi dan telaah dokumen serta kegiatan lainnya dalam proses PAR,
7).    Uraian kerja yang lain dan pandangan-pandangan harus dinegosiasi dengan para pihak sebelum membuat publikasi,
8).    Peneliti harus bertanggungjawab dalam menjaga kerahasiaan yang relevan.
9).    Keputusan membuat petunjuk PAR dan kemungkinan hasil riset secara kolektif,
10).    Peneliti mengungkapkan watak dari proses riset sejak dimulai termasuk bias-bias dan kepentingan-kepentingan personal,
11).    Menjaga kesamaan akses terhadap informasi yang dikumpulkan selama proses bagi semua partisipan,
12). Peneliti dari luar dan tim awal yang dibentuk harus menciptakan proses yang memaksimalkan kesempatan keterlibatan untuk semua partisipan.
KKN Sekarang :
ü  Berbasis realitas
ü  Sebagai proses belajar dan bekerja bersama masyarakat
ü  Berorientasi pada perubahan sosial keagamaan masyarakat
ü  Menyatukan ketiga tri aspek; pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat
ü  Bersifat bottom up
ü  Mahasiswa berfungsi sebagai fasilitator (fasilitasi pertemuan), katalisator (sumber ide perubahan), dan dinamisator (penggerak masyarakat) dalam menjawab problem sosial
ü  Masyarakat sebagai subjek
ü  Menjawab kebutuhan masyarakat, mengembangkan ilmu, dan mempengaruhi perubahan
ü  Hasilnya, analisis-analisis kritis sosial keagamaan
KKN Yang Dilakukan :
ü  Berbasis realitas
ü  Sebagai proses belajar dan bekerja bersama masyarakat
ü  Berorientasi pada perubahan sosial keagamaan masyarakat
ü  Menyatukan ketiga tri aspek; pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat
ü  Bersifat bottom up
ü  Mahasiswa berfungsi sebagai fasilitator (fasilitasi pertemuan), katalisator (sumber ide perubahan), dan dinamisator (penggerak masyarakat) dalam menjawab problem sosial
ü  Masyarakat sebagai subjek
ü  Menjawab kebutuhan masyarakat, mengembangkan ilmu, dan mempengaruhi perubahan
ü  Hasilnya, analisis-analisis kritis sosial keagamaan
2.  Fasilisator
Pengertian memfasilitasi adalah membuat sesuatu menjadi lebih mudah atau suatu proses mempermudah sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Atau melayani dan memperlancar aktifitas belajar peserta pelatihan untuk mencapai tujuan berdasarkan pengalaman. Sedangkan fasilisator adalah orang yang mempermudah sesuatu tersebut.
MENJADI SEORANG FASILITATOR
Facilis, (Latin)
Perlu diperhatikan pepatah yang mengatakan bahwa : Mendengar - Saya Lupa Melihat -  Saya Ingat, Melakukan - Saya Paham
NILAI-NILAI DALAM MEMFASILITASI adalah :
a.       Demokrasi.
b.      Tanggung Jawab.
c.       Kerjasama.
d.      Kejujuran.
e.       Kesamaan Derajat
Etika Fasilitator
          Fasilitator bukan “SUPERMAN”.
          Jangan tergoda menjadi “DIKTATOR”.
          Jangan pernah memainkan peran sebagai “MANIPULATOR”.
          INGAT !!! kita bukan satu-satunya
         Tidak berarti bahwa fasilitator sudah mempunyai kualifikasi sebagai seorang ahli psikoterapi
        Fasilitator tidak dapat berharap akan mencapai kebutuhan emosionalnya sendiri dalam bekerja dengan peserta
Sikap Fasilitator di antaranya :
a.       Saling Belajar dan Saling Menghargai
b.      Bersikap Sederajat dan Akrab
c.       Mendengarkan dan Tidak Mendominasi
d.      Tidak Menggurui
e.       Tidak Memihak dan Tidak Mengkritik Secara Formal
f.       Bersikap Terbuka dan Rendah Hati
g.      Bersikap Positip
h.      Selalu Melakukan Kontak Mata dengan Peserta
i.        Memperhatikan peserta yang paling diam
j.        Kreatif dan inovatif.
Peran dan Fungsi Fasilitator :
a.   Seorang Fasilitator memiliki fungsi dan peranan untuk selalu memusatkan perhatian pada seberapa baik peserta bekerjasama. Hal ini ditujukan untuk memastikan bahwa peserta dapat mencapai tujuan mereka.
b.  Fasilitator sebaiknya memberikan kepercayaan kepada masing-masing peserta belajar untuk dapat memikul tanggungjawab bersama atas apa yang terjadi dalam proses belajar.
Tanggung jawab dapat berwujud :
a.       Memanggil para peserta untuk mengingatkan mereka akan jadwal pertemuan berikutnya.
b.      Menjamin  bahwa setiap peserta mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan pada sebuah diskusi.
c.  Meninjau dan mengetahui bahwa agenda yang disusun bertujuan untuk melayani tujuan dan kepentingan peserta itu sendiri.

3.  Pendidikan Orang Dewasa (Pendidikan Andragogis)
Definisi
Berasal dari bahasa Yunani “Aner” yang berarti orang dewasa dan “agogos” yang berarti membimbing. Andragogi berarti seni mengajar orang dewasa. Sedangkan Fokus Andragogi adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu pada warga belajar itu sendiri
Asumsi pokok Andragogi adalah konsep diri, peranan pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi belajar.
Konsep diri
      Kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri
Peranan pengalaman
        sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan
        teknik transmittal diganti dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).
Kesiapan belajar
        sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan
        teknik transmittal diganti dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).
Orientasi belajar
-        pada orang dewasa mempunyai kecenderungan yang berpusat pada pemecahan masalah yang dihadapi.

Daur Belajar Orang Dewasa

Mengalami
         awal dari refleksi yang mencakup segala sesuatu yang telah kita alami baik keberadaan kita, kegiatan-kegiatan kita, perasaan-perasaan kita, pengamatan kita dan apa saja yang kita dengar
Mengungkapkan
         berbagai pengalaman, perasaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai isu dan keadaan
Menganalisis
         proses untuk mencoba memahami berbagai ungkapan pengalaman dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses belajar atau proses pelatihan secara kritis
Menyimpulkan
         Penarikan   “kesimpulan " & "generalisasi" dari ungkapan pengalaman dan analisis yang terjadi.
Prinsip Belajar Orang Dewasa adalah :
Adanya perubahan perilaku, pada diri orang dewasa setelah proses belajar

KONDISI ORANG DEWASA SEBAGAI PELAJAR
  ADANYA FAKTOR-FAKTOR FISIOLOGIK YANG DAPAT MENGHAMBAT PROSES BELAJAR
  DARI SEGI PSIKOLOGIK, ORG DEWASA DALAM PROSES BELAJARNYA, TELAH MEMPUNYAI SIKAP TERTENTU
HAMBATAN FISIOLOGIK
         Kemampuan pengelihatan menurun
         Perlu penerangan lebih besar
         Makin melemahnya persepsi kontras mata
         Kemampuan pendengaran menurun
         Kemampuan untuk membedakan bunyi konsonan menurun (t,g,b,c,d)
FAKTOR  PSIKOLOGIK
         Pengalaman yang diharapkan
         Tidak di ajar tapi di motivasi dan difasilitasi
         Berarti bagi dirinya
         Kadang merupakan proses yg menyakitkan (adanya perubahan perilaku)
         Diperlakukan secara individual sesuai dengan kecepatan belajar
         Lebih bergairah jika pengalamannya digunakan
         Proses emosional dan intelektual sekaligus
         Mengharapkan proses belajar dilakukan secara gradual
4.  RRA (RAPID RURAL APPRAISAL) :
a.           Mengkaji Desa secara cepat
b.          Dilakukan setelah pembekalan, sebelum pelaksanaan KKN (terjun ke desa)
c.           Analisa kondisi sosial masyarakat secara langsung (On the spot Analysis)
d.          Menggali kegiatan-kegiatan rutin dan potensi yang ada pada masyarakat.
e.   Menyusun rencana kerja penunjang kelompok yang disahkan DPL sebagai prasarat masuk ke masyarakat.
PRA (PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL) :
a.           Mengkaji Kondisi Desa secara mendalam.
b.          Dilakukan pada minggu pertama KPM dengan media “kegiatan penunjang”.
c.    Memanfaatkan teknik-teknik PAR, antara lain: Diagram Venn Mapping,Time line, transector, dan sebagainya.
d.          Tujuan : Analisa sosial untuk menemukan Core Problem, utamanya sosial keagamaan
MANAGEMENT PAR :
a.           Dilaksanakan pada minggu kedua
b.   Merumuskan: Analisa Masalah (cause effect relationship) dan Analisa Tujuan (mean ends relationship)
c.           Dirumuskan dari field notes dan Compilasi kelompok.
d.          Memanfaatkan teknik PAR: matrik ranking dan analisa pohon masalah.
e.           Dilanjutkan perumusan rencana Aksi (narative program)
ACTION
Dilaksanakan minggu ketiga dan keempat dan dilaksanakan bersama masyarakat
MONEV adalah :
a.           Monitor, evaluasi dan refleksi kegiatan dilakukan per kegiatan
b.          Monev dan refleksi kegiatan dilakukan oleh Mahasiswa sendiri bersama DPL, dipantau oleh panitia KKN dengan memanfaatkan dinamika Field notes dan realisasi program
c.           Monitor KKN dilakukan oleh Panitia sepanjang masa KKN
d.     Evaluasi KKN dilakukan dengan munaqashah Laporan KKN PAR dan memanfaatkan field notes mahasiswa sebagai pembanding.

5.  Teknik Wawancara
Wawancara Semi Terstuktur
Pengertian :
             Merupakan suatu tehnik yang berfungsi sebagai alat bantu setiap tehnik PRA.
     Pengertian wawancara semi terstuktur adalah alat penggalian informasi berupa tanya jawab yang sistematis tentang pokok-pokok tertentu.
        Wawancara semi terstruktur bersifat semi terbuka, artinya jawaban tidak ditentukan terlebih dahulu, Pembicaraan lebih santai, namun dibatasi oleh topik yang telah dipersiapkan dan disepakati bersama.
         Wawancara ini dapat dikembangkan sejauh relevan dengan pokok bahasan yang disepakati; dengan memberi kesempatan pada masyarakat / responden untuk menentukan hal-hal penting yang perlu digali, sangat terbuka  dasar proses diskusi.
Tujuan  :
             Mengkaji kondisi spesifik yang ada di masyarakat misalnya: jenis usaha keluarga, jumlah tenaga kerja, sumber daya yang dimiliki, kesehatan keluarga, pembagian tugas laki-laki dan perempuan, tingkat keberagamaan, aliran agama yang dianut dsb.
    Mengkaji berbagai aspek kehidupan di desa menurut pandangan masyarakat – individu dalam masyarakat tersebut.
             Membandingkan :  Keadaan individu / keluarga dengan keadaan umum masyarakat desa. Pandangan individu / keluarga dengan pandangan kelompok masyarakat
Penting untuk diperhatikan :
           Hindarkan : Pertanyaan dengan jawaban yang terarah (ya-tidak); pertanyaan yang mengandung kata “mengapa” (karena seolah kita sedang menginterograsi).
             Ingat!!! Wawancara semi terstruktur tidak sama dengan penyuluhan.
             Jangan Menasehati, banyaklah mendengar dengan sabar.
             Jangan Mengabaikan informasi.
             Jangan menilai (menghakimi). Ingat!! Sebaiknya hindarkan pertanyaan “Mengapa?”.
     Tunjukkan bahwa anda sebagai orang luar, kurang mengerti kondisi desa tersebut. Jangan “SOK PINTER”, “SOK PEDE”, “SOK TAHU PERSOALAN
             Jangan emosi.
             Yang penting santai.
             Yang penting kritis
             Jangan lupa mencatat secara detil hasil wawancara.
6.  Field Note (Catatan Lapangan)
Fieldnote adalah catatan lapangan yang berupa deskripsi data yang ditulis dalam bentuk kalimat. Data pada dasarnya merupakan bahan mentah yang berhasil dikumpulkan oleh peneliti dari dunia yang dipelajarinya.
Fielnote terdiri dari tiga bagian penting yaitu : bagian deskripsi, bagian reflektif, dan bagian pertanyaan lanjutan.

 
Catatan Lapangan:
Program RKTD

(Rencana Konservasi Tanah Desa)
di desa Mujing-Nawangan-Pacitan

Tim:  Dody S Truno, Abdullah Faishol, Tasnim Muhammad, Agus Fakhruddin, Edi Yustianto, Elfi, Ahmad Hafidh

Catatan Lapangan: Belajar Pengembangan Masyarakat Desa Bersama Kelompok Petani Konservatif Desa Mujing-Pacitan

Peserta berangkat dari Hotel Kumajaya Kumaratih Tawangmangu bersama-sama menuju Pacitan dengan mengendarai dua mobil, bus mini dan panther. Peserta yang berjumlah 16 orang dibagi ke dalam 2 kelompok, satu kelompok ke Mujing dan satunya lagi ke Jetis Lor. Menurut rencana berangkat dari Tawangmangu pukul 06.00 pagi, karena sesuatu hal pemberangkatan tertunda sampai pukul 07.30 wib.
Sekelompok warga petani yang tergabung ke dalam Kelompok Petani Konservatif (KPK) desa Mujing pukul 09.00 sudah mulai berkumpul di rumah Bapak Kijo. Namun tim datang ke lokasi pukul 13.15 wib. Keterlambatan tim membuat warga yang tergabung dalam KPK satu persatu mulai meninggalkan lokasi karena ada hajatan di tetangga sekitar tempat tinggal mereka. Sekalipun demikian, terdapat tiga warga yang masih setia menunggu kedatangan tim workshop; Sukirno, Sugiran, dan Sukijo yang didamping tim dari LPTP, Cecelia, Mino, dan Budi.
Rumah Sukijo yang sederhana dan bernuansakan alam desa sebagai tempat berkumpul KPK untuk memikirkan kemajuan desa yang penuh problematis. Saat memasuki ruang utama rumah tersebut sudah tersaji makanan khas produk lokal di atas tikar yang cukup variatif. Rumah ini sebagai tempat berkumpul warga masyarakat berdiskusi dan memikirkan kemajuan desanya, terpampang di dindingnya jadual kegiatan, pola pengembangan masyarakat, langkah-program, gambar hutan gundul dan penghijauan hutan, dan lain-lain seperti layaknya aktivis gerakan sosial (LSM)
Desa Mujing terdiri atas 5 dusun (9 bukit/lungur). Desa ini, menurut pengakuan Sukirno, Sugiran, dan Sukijo, di musim kemarau kekurangan air. Warga masyarakat yang akan mencari air harus berjalan selama 1,5 jam. Bagi mereka yang kaya membeli air 1 jrigen Rp 1000.

Key Person:
LPTP masuk ke lokasi Desa Mujing melalui Kasun (kepala dusun), pak Jemin. Pak Kasun sebagai layaknya tokoh masyarakat desa mereka dihormati dan disegani. Mengingat pertemuan dengan masyarakat dilakukan setiap Selasa Kliwon. LPTP juga melakukan pelatihan terhadap orang yang bisa dipakai untuk menjadi fasilitator lokal, yaitu Pak Kijo. Dari pak Kijo dibentuk koordinator tingkat bukit (Lungur).

Problem dan Solusi : Desa Mujing, sebelumnya sudah terbiasa dengan bahasa proyek dari pemerintah, namun gagal, karena proyek tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Daerah ini menyimpan berbagai problem sosial yang cukup mendasar. Sukijo dkk yang tergabung dalam kelompok petani konservatif ini menyadari akan problem tersebut yang akan membawa pengaruh bagi keberlangsungan hidup anak cucu, bila hal ini tidak ditanggulangi sedini mungkin. Keprihatinan Sukijo setelah diskusi panjang dengan tim fasilitator dari LPTP, di antaranya adalah Cecelia, Mino dll. Problem yang cukup mendasar yang mereka rasakan adalah: 1. Penebangan hutan yang liar (seperti kayu bakar dan membangun rumah) 2. Kalau musim kemarau mereka kekurangan air

Solusi :
Pertama, untuk mengatasi persoalan pertama, mereka membuat tungku hemat energi. Teknologi tepat guna ini semula diperkenalkan oleh LPTP, mengingat tungku yang dipergunakan oleh petani selama itu menggunakan tungku konvensional yang relatif membutuhkan kayu bakar lebih banyak. Karena kebanyakan masyarakat menggunakan kayu sebagai bahan bakar.
Kedua, untuk mengatasi kekeringan air di musim kemarau mereka membuat PAH (bak penampungan air). Dan program ini belum selesai.
Proses Peny. RKTD (Rencana Konservasi Tanah Desa)
Cecelia, fasilitator dari LPTP menjelaskan kronologi konsep RKTD hingga final yang semula dijelaskan oleh Pak Kijo secara terpenggal-penggal:
RKTD è Konsep yang dibawa oleh LPTP ke Desa Mujing
  1. Sosialisasi Tk Desa
  2. Sosialisasi Tk Dusun
  3. Penggalian masalah/inventarisasi
            Problem Sosial :
a.   Pemetaan geografi (tanah subur, kering, erosi, dll)
b.  Kalender musim (hujan, kemarau, hajatan, dll)
c.   Curah pendapat/penggalian masalah umum, pertanian dan erosi.(dibuat ranking persoalan prioritas)
4. Pengecekan lapangan è menggunakan teknik Transec (fasilitator dan masyarakat 10 org)
5. Penyusunan solusi ada yang bersifat teknis dan non-teknis. Di antaranya adalah penguatan organisasi petani melalui KPK (kelompok Petani Konservasi); TERAS (drop structure), dan pengembembangan ekonomi. Sedangkan yang bersifat non-teknis, yaitu bagaimana mengurangi ketergantungan hasil hutan vegetatif.
6. Penyusunan Draft RKTD, yaitu suatu rencana yang lebih lengkap di tingkat dusun
7.  Dari draft tingkat dusun dibuat draft RKTD tingkat desa
8. Finalisasi draft RKTD. Kemudian dibuat usulan ke dinas Pertanian,  Perairan, kehutanan, dinas-dinas terkait.
Time Line: Dari Penyusunan konsep RKTD sampai pada finalisasi draft RKTD dimulai bulan Desember 2003 sd. Juni 2004, dan rencana implementasi.


Previous
Next Post »