SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

PEMINANGAN DAN KAFAAH : (Mata Kuliah Fiqih Keluarga)

A.     Pengertian Peminangan

Peminangan dalam ilmu fiqih disebut “Khitbah” artinya “Permintaan”. Sedangkan menurut istilah adalah pernyataan atau permintaan dari seorang laki-laki kepada pihak perempuan untuk mengawininya, baik langsung atau melalui perantara pihak lain yang dipercayainya sesuai dengan ketentuan agama.[1]
Di dalam pasal 1 bab I huruf a Kompilasi Hukum Islam memberi pengertian bahwa peminangan adalah kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dan seorang wanita.[2]
Peminangan dapat langsung dilakukan oleh orang yang berkehendak mencari pasangan jodoh, tetapi dapat pula dilakukan oleh perantara yang dapat dipercaya.
Peminangan dapat pula dilakukan terhadap seorang wanita yang masih perawan atau terhadap janda yang telah habis masa iddahnya.[3]
Sebelum melakukan peminangan sebaiknya seorang laki-laki menyelidiki keadaan wanita yang akan dipinang demi menjamin kelangsungan kehidupan rumah tangganya nanti.
Dalam peminangan ada dua macam syarat yaitu :

1.  Syarat Mustahsinah yaitu syarat yang berupa anjuran kepada seorang laki-laki yang akan meminang seorang wanita agar ia meneliti lebih dahulu wanita yang akan dipinangnya, sehingga dapat menjamin kelangsungan hidup rumah tangganya nanti.  Syarat ini bukan syarat wajib dipenuhi sebelum peminangan dilakukan, tetapi hanya sebagai anjuran/ pertimbangan yang baik saja. Tanpa syarat ini pun peminangan tetap sah.
Sedangkan yang termasuk syarat mustahsinah adalah :
a.      Kafa’ah (sepadan) dengan laki-laki yang meminangnya baik dari segi status sosial, kekayaan, pendidikan dan lain sebagainya.
b.      Wanita yang akan dipinang adalah mempunyai sifat kasih sayang dan wanita yang peranak/ banyak keturunan.
c.  Wanita tersebut hendaknya jauh dari hubungan darah dengan laki-laki yang meminangnya.
d.  Hendaknya mengetahui keadaan jasmani, budi pekerti dari wanita yang akan dipinang. Sebaiknya wanita yang dipinang itu mengetahui pula keadaan orang yang meminangnya.[4]

2.  Syarat Lazimah, yaitu syarat yang wajib dipenuhi sebelum peminangan dilakukan. Yang termasuk syarat lazimah adalah :
a.    Tidak didahului oleh pinangan laki-laki lain atau apabila sedang dipinang laki-laki lain, laki-laki tersebut telah melepaskan hak pinangnya.
b.      Perempuan yang dipinang tidak terhalang oleh halangan syar’i yang menyebabkan tidak dapat dinikahi.
c.      Perempuan itu tidak dalam masa iddah karena talak raj’i. Wanita yang dalam masa iddah talak raj’i haram dipinang, baik secara terus terang maupun sindiran. Sebab mantan suaminya lebih berhak mengawininya kembali. Mantan suaminya boleh merujuknya kembali wanita tersebut kapan saja selama masih dalam masa iddah.
d.      Apabila perempuan itu dalam masa iddah karena talak bain yaitu talak yang ketiga kalinya, hendaklah meminang dengan cara sirri (tidak terang-terangan)[5], meskipun mantan suaminya sudah tidak berhak mengawininya lagi, kecuali wanita itu telah kawin dengan laki-laki lain dan telah dicerai. Tetapi pinangan secara terus terang masih dianggap dapat menyinggung mantan suaminya tersebut. Sedang dipinang secara sindiran masih diperbolehkan.
e.      Wanita yang sedang menjalani iddah kematian. Meminang secara terus terang tidak diperbolehkan, untuk menghormati suaminya yang baru saja meninggal. Sedang meminang secara sindiran diperbolehkan.

B.    Dalil  Dan Hukum Peminangan

Dalam agama Islam, melihat perempuan yang akan dipinang itu diperbolehkan dalam batas-batas tertentu. Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengetahui wanita yang akan dipinang, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, artinya : “Dari Abu Hurairah r.a berkata : “Seorang laki-laki mengatakan bahwa ia telah meminang seorang wanita dari golongan Anshor”. Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya : “Apakah engkau telah melihatnya ?”. orang itu berkata “Belum”, Rasulullah SAW berkata : “Maka pergilah, kemudian lihatlah ia, sesungguhnya pada mata orang-orang Anshor ada sesuatu”. (H.R. An Nasai, Ibnu Majah, At Turmudzi serta hadis ini dinyatakan hasan)
Selain itu juga ada keterangan mengenai anjuran untuk melihat pinangan sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan oleh perawi yang sama yaitu,
Artinya : “Lihatlah dia, karena akan mengekalkan perjodohan kalian berdua”.[6]
Akan tetapi ada berbagai pendapat terkait dengan peminangan. Menurut pendapat Dawud Al Zahiry yang mengatakan meminang itu wajib, karena praktek kebiasaan dalam masyarakat menunjukkan bahwa peminangan merupakan pendahuluan yang hampir pasti dilakukan, serta meminang merupakan tindakan menuju kebaikan.[7] Dan menurut mayoritas ulama menyatakan bahwa peminangan itu tidak wajib.[8]

C.    Batasan-batasan Melihat Pinangan

Untuk melihat kebaikan dalam kehidupan rumah tangga, kesejahteraan dan kesenangannya, seyogyanya laki-laki melihat dulu perempuan yang akan dipinangnya, sehingga ia dapat menentukan apakah peminangan itu diteruskan atau dibatalkan. Tentang cara dan apa yang boleh dilihat, para ahli fiqih berbeda pendapat. Imam Malik hanya membolehkan melihat muka dan telapak tangan. Fuqaha yang lain (seperti Abu Dawud Al Zahiry) membolehkan melihat seluruh badan, kecuali dua kemaluan. Sementara fuqaha yang lain lagi melarang melihat sama sekali berdasar pada aturan pokok, yaitu larangan melihat orang-orang wanita. Sedang Abu Hanifah membolehkan melihat dua telapak kaki, muka dan dua telapak tangan.[9]

D.    Akibat Hukum Dari Peminangan

Meminang hanyalah sebuah janji untuk mengadakan perkawinan tetapi bukan akad nikah yang mempunyai kekuatan hukum. Memenuhi janji untuk nikah adalah kewajiban bagi kedua belah pihak yang berjanji. Agama tidak menetapkan hukuman tertentu bagi pelanggarnya, tetapi melanggar janji adalah tercela.

E.     Pengertian Kafaah

Kafaah dalam perkawinan adalah adanya kesamaan derajat antara suami dan istri dan kesamaan itu dipandang dari berbagai segi.[10] Penekanannya adalah keseimbangan, keharmonisan dan keserasian terutama dalam hal agama yaitu akhlak dan ibadah. Sebab bila kafaah diartikan persamaan dalam hal harta, status sosial atau kebangsawanan, maka akan terbentuk kasta. Kafaah dalam pernikahan merupakan faktor yang dapat mendorong terciptanya kebahagiaan suami istri dan dapat menjamin keselamatan rumah tangga.


F.     Ukuran Kafaah

Di antara para pengikut madzab ataupun ulama-ulama lain, berpendapat terhadap ukuran dan norma yang dapat dipakai untuk menentukan segi-segi mana yang dapat dianggap sebagai kufu  yang harus dipenuhi. Hanya ada satu segi saja yang mereka sepakati sebagai kufu yang harus dipenuhi dalam perkawinan yaitu segi agama, seperti Islam dan bukan Islam, maupun kesempurnaannya. Misalnya orang yang baik (taat) tidak sederajat/ sekufu dengan orang yang jahat/ orang yang tidak taat.[11]
a.  Menurut Ibnu Hazm, tidak ada ukuran dalam masalah kafaah. Beliau berkata : “Semua orang Islam yang tidak berzina adalah sekufu”.
b.  Imam Malik berpendapat : kufu yang benar adalah yang berdasarkan agama dan akhlak, karena itu kufu bukanlah mengenai soal keturunan, pekerjaan, kekayaan dan lain-lain. Pendapat mereka berdasarkan firman Allah SWT yang artinya : “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan. Kamilah yang telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling berkenalan sesamamu. Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling taqwa”.
c. Imam Hanafi dan Imam Hanbali berpendapat, yang dipandang sebagai norma kufu dalam madzab ini adalah dari segi keturunan, kemerdekaan, keislaman, kesalihan, ketaatan, kekayaan dan pekerjaan. Dan Imam Hanbali menambahkan bahwa laki-laki miskin tidak sekufu dengan perempuan kaya.[12]
Kufu dalam hal keagamaan adalah suatu keharusan untuk dilaksanakan, tetapi kufu dari segi yang lain-lain seperti tersebut di atas dalam berbagai pendapat hanyalah merupakan bahan pertimbangan, yang tidak mengakibatkan suatu perkawinan harus diputuskan atau suatu pinangan harus ditolak.   


DAFTAR PUSTAKA

Daly, Peunoh. Hukum Perkawinan Islam : Suatu Studi Perbandingan Dalam Kalangan Ahlu Sunnah Dan Negara-Negara Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 2005.
Ghazaly, Abd. Rahman. Fiqih Munakahat. Jakarta: Prenada Media, 2003.
Hamdani. H.S.A. Risalah Nikah Terj. Agus Salim. Jakarta: Pustaka Amani, 2002.
Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. Bandung: Humaniora Utama, 1992/ 1993.
Muchtar, Kamal. Asas-Asas Hukum Tentang Perkawinan. Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
Rasjid, Sulaiman. Fiqih Islam. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo, 1994.
Rofiq, Ahmad. Hukum Islam Di Indonesia. Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2003.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/peminangan-dan-kafaah-mata-kuliah-fiqih.html



[1] Kamal Muchtar, Asas-Asas Hukum Tentang Perkawinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 32.
[2] Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia (Bandung: Humaniora Utama, 1992/ 1993). 20.
[3] Ibid. Pasal 12.
[4] Muchtar, Asas-Asas ..., 32-33.
[5] Yang dimaksud sirri/ meminang dengan sindiran yaitu menyatakan pinangan dengan cara yang tidak langsung yaitu dengan menggunakan kata-kata kiasan, seperti seorang laki-laki berkata kepada wanita yang dalam masa iddah talak raj’i : “Engkau adalah wanita yang cantik”, atau “Aku sebenarnya sudah ingin menikah” dan sebagainya.
[6] H.S.A Hamdani, Risalah Nikah Terj. Agus Salim (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), 33.
[7] Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2003), 64.
[8] Ibid., 65.
[9] Abd. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat (Jakarta: Prenada Media, 2003), 75.
[10] Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam : Suatu Studi Perbandingan Dalam Kalangan Ahlu Sunnah Dan Negara-Negara Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), 167.
[11] Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Bandung: PT Sinar Baru Algensindo, 1994), 391.
[12] Daly, Hukum ..., 176.

MATERI TERKAIT:

Judul: PEMINANGAN DAN KAFAAH : (Mata Kuliah Fiqih Keluarga)
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah PEMINANGAN DAN KAFAAH : (Mata Kuliah Fiqih Keluarga). Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/peminangan-dan-kafaah-mata-kuliah-fiqih.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger