SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

CONTOH BAB I PENDAHULUAN SKRIPSI KUALITATIF : Pengembangan Nilai-Nilai Keteladanan Dengan Ketrampilan Berpidato Melalui Kegiatan Muhadlarah Di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Mulahidhoh Muhadloroh secara bahasa adalah: Pertama, Lahadho-lahdhon wa lahadhoonan yang artinya melirik, memandang. Sedangkan Al Mulaahidhu=Al Mulaahidhotu artinya pengawas atau bisa disebut pengurus. Kedua, hadloro: hudluuron artinya  “Menghadiri” dan  Al Muhadloroh artinya “Ceramah” atau bisa disebut “pidato”.[1] Ceramah atau pidato adalah tehnik penyampaian pesan pengajaran yang sudah ladzim dipakai guru. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan didepan kelas.[2] Cara mengajar ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan atau masalah. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ceramah atau pidato adalah cara penyajian yang dilakukan  dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung.[3] Sistem muhadloroh diberikan dengan cara memberikan pokok-pokok pikiran terlebih dahulu, baru kemudian diberikan perincian mengenai pokok-pokok tersebut. Ibnu Khaldun menganjurkan dalam memberikan pelajaran itu agar dilakukan sistem berangsur-angsur sampai para siswa mengerti dan cukup merasa jelas dengan persoalan.[4] Mulahidhoh Muhadloroh adalah pengurus yang bertugas mengatur dan mengawasi jalannya kegiatan Muhadloroh. Kegiatan ini dilaksanakan tiga kali seminggu dalam tiga bahasa yaitu: Sabtu siang bahasa Inggris, senin siang bahasa Arab dan kamis siang bahasa Indonesia. Dengan  begitu pengurus muhadloroh berharap agar santriwati dapat membentuk mental dan mampu berpidato dengan berbagai bahasa.[5]
Kaitannya dengan hal di atas, dari hasil observasi lapangan dan wawancara peneliti dengan pengurus anggota muhadlarah dan beberapa ustadzah pembimbing telah ditemukan masalah bahwasanya Mulahidhah Muhadlarah terlalu keras dalam membina santriwati di Pesantren Putri Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo. Hal tersebut dikarenakan santriwati yang khususnya masih kelas satu dan satu pintas masih sulit dalam membuat konsep pidato maupun kurangnya kosa kata bahasa yang dikuasai. Masalah tersebut sudah pasti berpengaruh terhadap kegiatan muhadlarah yang semakin lama semakin menurun kualitas berpidatonya. Karena itu, fenomena tersebut menjadi tantangan baru bagi  semua pihak pesantren putri Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo. Melalui Mulahidhah Muhadlarah atau Pengurus Muhadlarah para pimpinan Pesantren Putri Al Mawaddah dan segenap Ustadzah pembimbing memberi kepercayaan dalam membina dan mengawasi kegiatan Muhadlarah ini.
Dari realita di atas, maka hal ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi peneliti, apa yang akan dilakukan Mulahidhoh Muhadlarah agar ketrampilan berpidato santriwati di Pesantren Putri Al- Mawaddah meningkat?
Dari penjajagan awal pada hari sabtu, 29 Januari 2011 bahwasanya kegiatan Muhadlarah ini diikuti oleh sejumlah santriwati yang telah dikelompokkan oleh pengurus Muhadlarah (Mulahidhah Muhadlarah) menurut tingkatan kelas. Tiap-tiap kelompok terdiri dari beberapa pengurus Muhadlarah, pengurus anggota muhadlarah (Mudabbirah) dan anggota muhadlarah. Pada masing-masing kelompok, telah disiapkan petugas-petugas acara yang telah ditunjuk oleh pengurus anggota muhadlarah. Kegiatan ini dipandu oleh MC (Master of Ceremony). Dimana acara ini diawali dengan pembacaan basmalah, setelah itu pembacaan ayat suci Al Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Al Mawaddah. Acara yang menjadi inti dari kegiatan ini adalah pidato yang akan disampaikan oleh empat anggota yang telah terpilih pada hari itu, yang sebelumnya mereka harus membuat dan menyerahkan konsep pidato kepada Mulahidhah Muhadlarah untuk diperiksa dan dikoreksi pidato yang akan disampaikan para anggota. Di tengah kegiatan berpidato ada kesempatan para audience memberikan yel-yel sebagai penyemangat anggota yang berpidato ataupun untuk menghidupkan suasana kelompok. Semua kegiatan yang telah dilaksanakan di atas akan dievaluasi oleh Mulahidhah Muhadlarah di akhir acara, yang biasanya disertakan dengan memberikan pengumuman-pengumuman tertentu. Hasil evaluasi ditulis dalam buku evaluasi kelompok dan buku evaluasi Mulahidhah Muhadlarah. Kemudian evaluasi dibacakan di depan anggota, dengan maksud mereka bisa mengetahui kekurangan dan adanya perbaikan dari kesalahan pada hari itu. Acara terakhir ditutup dengan pembacaan do’a kafaratul Majlis bersama-sama.
Berangkat dari kerangka di atas maka judul skripsi ini adalah  “Pengembangan Nilai-Nilai Keteladanan Dengan Ketrampilan Berpidato Melalui Kegiatan Muhadlarah Di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011”.
B.            Fokus Penelitian
Dari perkembangan Al-Mawaddah dalam bidang berpidato, saat ini memang dinilai telah menurun sangat jauh dari sebelumnya. Maka, berangkat dari latar belakang di atas, fokus penelitian dalam skripsi ini adalah:
1.    Pengembangan nilai-nilai keteladanan.
2.    Pengembangan ketrampilan berpidato.
3.    Kegiatan Muhadlarah.
C.           Rumusan Masalah
Berangkat dari fokus penelitian di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.  Bagaimana pengembangan nilai-nilai keteladanan dalam kegiatan Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011?
2. Bagaimana pengembangan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011?
3. Apa penghambat dan pendukung kegiatan Muhadlarah dalam meningkatkan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011?
D.     Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menjelaskan pengembangan nilai-nilai keteladanan dalam kegiatan Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
2. Untuk menjelaskan pengembangan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
3. Untuk menjelaskan penghambat dan pendukung kegiatan Muhadlarah dalam meningkatkan ketrampilan berpidato santriwati di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
E.        Manfaat Penelitian
1.         Manfaat Teoritis
Dari penelitian ini akan ditemukan pengembangan nilai-nilai keteladanan dan ketrampilan berpidato santriwati melalui kegiatan Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011.
2.         Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini akan bermanfaat bagi :
a.   Peneliti untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan pemikiran serta dapat memecahkan suatu masaloah dalam penelitian.
b. Para pimpinan pesantren putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo dalam membentuk Al Mar’atus Sholihah yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berfikiran bebas, berjiwa ikhlas serta berpegang teguh pada qodrat sebagai seorang wanita.
c.  Para Ustadzah pembimbing dalam meningkatkan kualiatas berpidato santriwati yang kreatif dan aktif.
d.Mulahidhah Muhadlarah (pengurus Muhadlarah) dalam mengawasi dan membina santriwati dalam mengembangkan ketrampilan berpidato.
e.    Santriwati dapat menambah wawasan dan memperkaya ilmu pengetahuan.
F.        Metode Penelitian
1.        Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif (kl) adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat post-positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambil sampel, sumber data dilakukan secara purposive  dan snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan “makna” daripada generalisasi.[6]
Terdapat banyak alasan yang sahih untuk melakukan penelitian kualitatif. Salah satunya adalah kemantapan peneliti berdasarkan pengalaman penelitiannya. Alasan lain adalah sifat dari masalah yang diteliti. Dalam beberapa bidang studi, pada dasarnya lebih tepat digunakan jenis penelitian kualitatif, misalnya penelitian yang berupaya mengungkap sifat pengalaman seseorang dengan fenomena tertentu. Metode kualitatif dapat digunakan untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena yang sedikitpun belum diketahui.[7]
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dipandu oleh teori, tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian di lapangan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak peneliti menyusun proposal, melaksanakan pengumpulan data di lapangan, sampai peneliti mendapatkan seluruh data.[8]
2.        Kehadiran Peneliti
Ciri khas penelitian kualitatif  tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya. Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang. Dalam penelitian kualitatif, instrumennya adalah orang atau Human Instrument. Untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan mengontruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.[9]
Adapun ciri-ciri manusia sebagai instrumen adalah sebagai berikut:
a.      Responsif.
b.      Dapat menyesuaikan diri.
c.       Menekankan keutuhan.
d.      Mendasarkan diri atas perluasan pengetahuan.
e.       Memproses data secepatnya.
f.       Memanfaatkan kesempatan untuk mengklarifikasikan dan mengintikhsarkan.
g.  Memanfaatkan kesempatan untuk mencari respon yang tidak lazim dan idionsinkratik.[10]
Pada dasarnya peneliti itu hendaknya memiliki sejumlah kualitas pribadi sebagai berikut: toleran, sabar, menunjukkan empati, menjadi pendengar yang baik, manusiawi, bersikap terbuka, jujur, objektif, penampilannya menarik, mencintai pekerjaan wawancara, senang berbicara dan semacamnya.
Kemampuan peneliti sebagai instrumen dapat ditingkatkan dengan jelas. Pertama-tama peneliti hendaknya pergi kepada situasi baru untuk memperoleh pengalaman, kemudian berusaha mencatat apa saja yang terjadi dan mewawancarai beberapa orang serta mencatat apa saja yang menjadi hasil wawancara.[11]
3.        Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Pesantren Putri Al Mawaddah Coper Jetis Ponorogo, yang secara resmi mendeklarasikan oleh kepala kantor departemen agama Ponorogo Drs. H Abdurrahman Aziz serta pimpinan Pondok Modern Gontor KH Hasan Abdullah Sahal pada tanggal 9 Dzulhidjah 1409 H bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1989.
Program pendidikan di Pesantren Putri Al Mawaddah dipadukan dengan sistem Pondok Modern Gontor. Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam, sehingga segala yang dilihat, didengar dan diperhatikan santri di pondok tersebut adalah pendidikan. Pelajaran agama dan pelajaran umum diberikan secara seimbang.
4.        Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland (1984) sumber data utama dalam penelitian kualitatif  adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainnya.[12] Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan sebagai sumber data utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan statistik adalah sebagai sumber  data tambahan.
5.        Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subjek melalui wawancara mendalam dan observasi secara langsung, dimana fenomena tersebut berlangsung dan di samping itu untuk melengkapi data dibutuhkan dokumentasi terkait dengan objek yang diteliti.
a.        Teknik Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Menurut Guba dan Lincoln (1981), membagi wawancara sebagai berikut :
1).      Wawancara oleh Tim atau Panel.
Wawancara oleh tim berarti wawancara dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap seseorang yang diwawancarai. Cara ini digunakan, hendaknya pada awalnya sudah dimintakan kesepakatan dan persetujuan dari yang diwawancarai oleh dua orang. Dipihak lain, seorang pewawancara dapat saja memperhadapkan dua orang atau lebih yang diwawancarai sekaligus, yang dalam hal ini dinamakan panel. 
2).      Wawancara Tertutup dan Wawancara Terbuka.
Pada wawancara tertutup biasanya yang diwawancarai tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka diwawancarai. Mereka tidak mengetahui tujuan wawancara. Cara demikian tidak terlalu sesuai dengan peneitian kualitatif yang biasanya berpandangan terbuka. Jadi, dalam penelitian kualitataif  sebaiknya digunakan wawancara terbuka yang para subjeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu.
3).      Wawancara Riwayat Secara Lisan.
Jenis ini adalah wawancara terhadap oarang-orang yang pernah membuat sejarah atau yang pernah membuat karya ilmiah, sosial, pembangunan, perdamaian dan sebagainya. Maksud wawancara ini ialah untuk mengungkapkan riwayat hidup, pekerjaannya, kesenangannya, ketekunannya, pergaulannya dan lain-lain.[13]
4).      Wawancara Terstruktur dan Wawancara Tak Terstruktur.
Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Peneliti yang menggunakan jenis wawancara ini bertujuan mencari jawaban terhadap hipotesis. Untuk itu pertanyaan-pertanyaan disusun dengan ketat. Jenis ini dilakukan pada situasi jika sejumlah sampel yang representatif ditanyai dengan pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek dipandang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab petanyaan yang diajukan. Jenis wawancara ini tampaknya bersamaan dengan apa yang dinamakan wawancara baku terbuka menurut Patton seperti yang dijelaskan di atas.
Format wawancara yang digunakan bisa bermacam-macam, dan format itu dinamakan ”Protokol Wawancara”. Protokol wawancara itu dapat juga berbentuk terbuka. Pertanyaan-pertanyaan itu disusun sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam desain penelitian.
Wawancara tak terstruktur merupakan wawancara yang berbeda dengan yang terstruktur. Cirinya kurang diintrupsi dan arbiter. Wawancara semacam ini digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal. Hasil wawancara semacam ini menekankan kekecualian, penyimpangan, penafsiran yang tidak lazim, penafsiran kembali, pendekatan baru, pandangan ahli, atau perspektif tunggal.
Wawancara ini sangat berbeda dari yang wawancara terstruktur dalam hal waktu bertanya dan cara memberikan respons, yaitu jenis ini jauh lebih bebas iramanya. Responden biasanya terdiri atas mereka yang terpilih saja karena sifat-sifatnya yang khas. Biasanya mereka memiliki pengetahuan dan mendalami situasi, dan mereka lebih mengetahui informasi yang diperlukan.[14]
Berangkat dari beberapa teknik  wawancara di atas, maka dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan wawancara terbuka dengan wawancara terstruktur dan tak terstruktur.
b.      Teknik Observasi
Nasution (1988) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu faktamengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui obsevasi. Marshal (1995) menyatakan bahwa melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut.
Sanafiah Faisal (1990) mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation ), observasi yang secara terang-trangan  dan tersamar (over observation dan covert observation), dan observasi tak tersetruktur (unstructured observation).[15]
1).      Observasi Partisipatif.
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Observasi ini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
a). Partisipasi Pasif: peneliti ke tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
b). Partisipasi Moderat: dalam observasi ini terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.
c). Partisipasi Aktif:  peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh nara sumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.
d).   Partisipasi Lengkap: peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data. Jadi, suasananya sudah natural, peneliti tidak terlihat melakukan penelitian. Hal ini merupakan keterlibatan peneliti yang tertinggi terhadap aktivitas kehidupan yang diteliti.
2).      Observasi Terus Terang atau Tersamar.
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi di saat yang lain peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data  yang masih dirahasiakan. kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.[16]
3).      Observasi Tak Terstruktur.
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak terstruktur, karena fokus penelitian belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.[17]
Berangkat dari beberapa teknik observasi di atas, maka dalam penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif dan observasi terus terang.
c.       Teknik Dokumentasi
Akhir-akhir ini orang banyak membedakan tentang dokumen dan record. Guba dan Lincoln (1981) mendefinisikan, record adalah setiap pernyataan tertuliss yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting. Dokumentasi ialah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.[18]
Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.
Dokumen dan record digunakan untuk keperluan penelitian, karena alasan-alasan yang bisa digunakan sebagai berikut:
1).   Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
2).    Berguna sebagai “bukti” untuk suatu pengujian.
3).    Keduanya berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4).  Record relatif murah dan tidak sukar diperoleh, tetapi dokumentasi harus dicari dan ditemukan.
5).  Keduanya tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
6). Hasil pengkajian isi akan membuka keseempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber tertentu. Dokumentasi bisa melalui catatan tertulis maupun perekaman video/audio tapes, pengambilan foto atau film. Sekarang ini foto sudah lebih banyak dipakai sebagai alat untuk keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai keperluan. Foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif. Ada dua kategori foto yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif, yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri (Bogdan dan Biklen, 1982).[19]
Berangkat dari beberapa teknik dokumentasi di atas, maka dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan dokumentasi tertulis dan foto sebagai data penelitian dalam skripsi ini.
6.    Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain.[20]
Susan Stainback mengemukakan bahwa, analisis data merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kualitatif. Analisis digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi. Spradley menyatakan bahwa, analisis dalam penelitian  apapun adalah merupakan cara berfikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk  menentukan bagian, hubungan antar bagian dan hubungannya dengan keseluruhan. Analisis adalah untuk mencari pola.
Berdasarkan dari hal tersebut di atas, dapat dikemukakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri mupun orang lain.[21]
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara triangulasi, ternyata hipotesis diterima maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.[22]
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Miles dan Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing/ verification. Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar I

Pengumpulan

    Data

       Penyajian
       Data



Reduksi            Data






Penarikan Kesimpulan/verifikasi



a.    Data Reduction (reduksi data)
Dalam mereduksi data setiap peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada penemuan. Oleh karena itu, kalau peneliti dalam melakukan penelitian, menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian peneliti dalam melakukan reduksi data.
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan, keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi peneliti yang masih baru, dalam melakukan reduksi data dapat mendiskusikan pada teman atau orang lain yang dipandang ahli. Melalui diskusi tersebut, maka wawasan peneliti akan berkembang, sehingga dapat mereduksi data-data yang memiliki nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.[23]
b.    Data Display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data maka data terorganisikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.[24]
c.    Conclusion drawing/ Vertification
Langkah ketiga dalam penelitian kualitatif  menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kessimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.[25]
7.   Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan:
a.    Derajat Kepercayaan (credibility)
Kriteria ini berfungsi: pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuanya dapat dicapai; kedua, mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedangdteliti.[26]
b.   Keteralihan (transferability)
Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya. Untuk keperluan tersebut peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk memastikan usaha memvertifikasi tersebut.
c.   Kebergantungan (dependability)
Kebergantungan merupakan substitusi istilah reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif. Persoalan yang amat sulit dicapai di sini ialah bagaimana mencari kondisi yang benar-benar sama. Di samping itu juga terjadi ketidakpercayaan pada instrumen penelitian. Hal ini sama dengan penelitian alamiah yang mengandalkan orang sebagai instrumen. Mungkin karena keletihan, atau karena keterbatasan mengingatsehingga membuat kesalahan. Namun, kekeliruan yang dibuat orang demikian jelas tidak mengubah keutuhan kenyataan yang distudi. Juga tidak mengubah adanya desain yang muncul dari data, dan bersamaan dengan itu tidak mengubah pandangan dan hipotesiskerja yang dapat bermunculan.
d.    Kepastian (confirmability)
Di sini pemastian bahwa sesuatu itu objektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu subjektif sedangkan jika disepakati oleh beberapa orang, barulah dapat dikatakan objektif. Maka dari itu dapat diambil pengertian bahwa jika sesuatu itu objektif, berarti dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan.[27]
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.  Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penhggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.
Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan atau informasi yang diperoleh melalui  waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Pada triangulasi dengan metode, menurut Patton (1987) terdapat dua strategi, yaitu: pertama, pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data. Kedua, pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Teknik triangulasi jenis ketiga ialah memanfatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat membantu mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data. Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981), bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Di pihak lain Patton (1987) berpendapat bahwa hal itu dapat dilaksanakan dan hal itu dinamakannya penjelasan banding.[28]
8.    Tahapan-tahapan Penelitian
Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada 3(tiga) tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelit ian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian itu adalah:
a. Tahap pra-lapangan, yang meliputi: rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian.
b. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data.
c.  Tahap analisis data, yang meliputi: analisis selama dan setelah pengumpulan data.
d.    Tahap penulisan hasil laporan penelitian.
G.       Sistematika Pembahasan
Pada pembahasan skripsi ini terbagi menjadi 5 bab. Adapun untuk memudahkan dalam memahami skripsi ini, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan.
Bab pertama, merupakan bab pendahuluan. Bab ini berfungsi sebagai gambaran umum untuk memberikan pola penilaian bagi keseluruhan skripsi yang meliputi: latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, merupakan landasan teori berisi tentang pengembangan nilai-nilai keteladanan, ketrampilan berpidato dan Muhadlarah.
Bab ketiga, adalah paparan data, pada bab ini terdiri dari paparan data tentang gambaran umum Pesantren Putri Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo. Dan data khusus tentang pengembangan nilai-nilai keteladanan dengan ketrampilan berpidato santriwati melalui Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo.
Bab keempat, merupakan analisis data tentang implementasi pengembangan nilai-nilai keteladanan dengan ketrampilan berpidato santriwati melalui Muhadlarah di PP Al Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo.
Bab kelima, adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Dalam bab ini, merupakan kesimpulan dari bab I sampai dengan bab IV. Disamping itu, dengan adanya kesimpulan akan mempermudah pembaca untuk memahami intisari dari suatu penelitian atau skripsi.


[1] Ali Ma’shum dan Zainal Abidin Munawir, Al-Munawir kamus Arab-indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 273 dan 1258
[2] M Basyaruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam,(Jakarta: Ciputat Press, 2002), 34
[3] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 110
[4] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 175
[5] Risalah Akhir Tahun PP Al Mawaddah, Wardah, (Ponorogo: 2009), 34
[6] Miftahul Ulum Dkk, Buku Pedoman Penulisan Skripsi, (Ponorogo: P2MP STAIN, 2010), 31
[7] Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 5
[8] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005), 3
[9] Ibid. 2
[10] Lexy. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 123
[11] Ibid. 125
[12] Ibid. 112
[13] Ibid. 137
[14] Ibid. 138
[15] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2006), 310
[16] Ibid. 312
[17] Ibid. 313
[18] Lexy J Moleong, metodologi,. 161
[19] ibid. 115
[20] Sugiyono, Metode, 334
[21] Ibid. 335
[22] Ibid. 335
[23] Ibid. 339
[24] Ibid. 341
[25] Ibid. 345
[26] Ibid. 173
[27] Ibid. 174
[28] Ibid. 179

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri  dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Ma’shum, Ali dan Munawir, Zainal Abidin. Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Moleong, Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Risalah Akhir Tahun PP Al Mawaddah. Wardah. Ponorogo: 2009.
Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Sugiono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2006.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2005.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 1997.
Ulum, Miftahul Dkk. Buku Pedoman Penulisan Skripsi. Ponorogo: P2MP STAIN, 2010.
Usman, M. Basyaruddin. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2002.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/contoh-bab-i-pendahuluan-skripsi.html


MATERI TERKAIT:

Judul: CONTOH BAB I PENDAHULUAN SKRIPSI KUALITATIF : Pengembangan Nilai-Nilai Keteladanan Dengan Ketrampilan Berpidato Melalui Kegiatan Muhadlarah Di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah CONTOH BAB I PENDAHULUAN SKRIPSI KUALITATIF : Pengembangan Nilai-Nilai Keteladanan Dengan Ketrampilan Berpidato Melalui Kegiatan Muhadlarah Di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper Jetis Ponorogo Periode 2010-2011. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/contoh-bab-i-pendahuluan-skripsi.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger