SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

DIAGNOSIS KESULITAN DALAM BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar  Belakang
Masalah kesulitan belajar yang sering dialami oleh para siswa di sekolah merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian yang serius di kalangan para pendidik. Karena kesulitan belajar yang mereka alami akan membawa dampak negatif, baik terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap lingkungannya. Hal ini termanifestasikan dalam bentuk timbulnya kecemasan, frustasi, mogok sekolah, drop out, keinginan untuk berpindah-pindah sekolah karena malu telah tinggal kelas beberapa kali.

.
Untuk mencegah dampak negative yang lebih jelek, yang mungkin timbul karena kesulitan belajar yang dialami para peserta didik, maka para pendidik harus waspada terhadap gejala-gejala kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh para peserta didiknya. Untuk itu dalam makalah ini, kami mencoba menguraiakan latar belakang kesulitan belajar, karakteristik peserta didik dalam belajar, gejala-gejala  kesulitan belajar, dan mengatasi kebosanan.
Berlatarbelakang dengan masalah tersebut di atas, maka makalah ini kami beri judul "Diagnosis Kesulitan Belajar"

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang melatarbelakangi kesulitan belajar?
2. Bagaimana karakteristik siswa dalam belajar?
3. Apa saja yang termasuk gejala kesulitan belajar?
4. Hal-hal apa yang membosankan belajar?



BAB II
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR


A.  Latar Belakang Kesulitan Belajar
Seorang guru sering menghapi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. kesulitan belajar tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk gejala tingkah laku. Gejala kesulitan belajar yang termanifestasikan dalam tingkah laku pendidik itu merupakan akibat dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya. untuk dapat memberikan bimbingan yang efektif terhadap peserta didik yang menalami kesulitan belajar itu sudah barang tentu setiap pendidik memahami lebih dahulu faktor yang melatar belakanginya kesulitan belajar tersebut.
Menurut  para ahli pendidikan  hasil belajar yang dicapai oleh  peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama ,yakni faktor yang terdapat dalam diri pribadi peserta didik itu sendiri yang disebut faktor internal. dan faktor yang terdapat dari luar yang disebut dengan faktor eksternal. adapun faktor-faktor tersebut antara lain adalah:
1.   Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik. kemampuan dasar merupakan wadah bagi kemungkinan keberhasilan belajar yang diharapkan. jika kemampuan dasar rendah, maka hasil belajar yang akan dicapai akan  rendah pula.
2.   Kurangnya  bakat khusus untuk suatu situasi belajar tertentu. sebagaimana halnya intelegensi, bakat juga merupakan wadah untuk mencapai  hasil belajar tertentu. peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan dalam belajar. Sumadi Suryabrata mengatakan: seseorang akan lebih berhasil kalau ia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya, demikian pula dalam lapangan kerja, seseorang akan berhasil kalau ia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya.
3.   Kurangnya motifasi atau dorongan untuk belajar. Tanpa  motivasi yang besar maka peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar, karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar. Persaingan  yang sehat baik antar individu maupun kelompok  dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
      4.   Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi peserta didik pada waktu tertentu dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar, misalnya, konflik yang dialaminya, kesedihan dan lain-lain.
      5.   Faktor jasmaniah yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti gangguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan lain sebagainya.
      6.   Faktor hereditas yang tidak mendukung kegiatan belajar seperti buta warna, kidal, cacat tubuh dan lain-lain.
Adapun  faktor yang terdapat dari luar diri peserta didik yang dapat mempengaruhi hasil belajar adalah:
      1.   Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadahi bagi situasi belajar peserta didik, seperti cara mengajar, sikap guru, kurikulum atau materi yang akan dipelajari, perlengkapan belajar yang kurang memadahi, teknik evaluasi yang kurang tepat, ruang belajar yang nyaman, situasi sekolah yang kurang mendukung dan lain sebagainya.
      2.   Situasi dalam keluarga mendukunga situasi belajar peserta didik, seperti rumah tangga yang kacau, kurangnya perhatian orang tua karena sibuk dengan pekerjaannya, kurangnya kemampuan orang tua dalam memberi pengarahan dan lain sebagainya.[1]

B.  Karakteristik Peserta Didik dalam Belajar
Sebagaimana  yang telah kita ketahui bahwa peserta didik adalah individu yang unik, yang punya kesiapan dan kemampuan fisik, psikis serta intelektual yang berbeda satu sama lain. demikian pula halnya dalam hal belajar, setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda. adapun karakteristik  peserta didik dalam belajar di sekolah adalah sebagai berikut:
      1.   Peserta didik yang cepat dalam belajar, pada umumnya adalah para siswa yang dapat menyelesaikan proses belajar dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang diperkirakan semula. mereka dengan mudah dapat menerima materi pelajaran yang disajikan, dan mereka juga tidak memerlukan  waktu yang lama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
      2. Peserta didik yang lamban dalam belajar, merupakan kebalikan daripada siswa yang cepat dalam belajar , dimana peserta didik yang lambat dalam belajar memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang diperkirakan cukup untuk kondisi siswa yang normal. hal ini menyebabkan mereka sering  merasa tertinggal dalam proses belajarnya,  sehingga mereka menemukan kesulitan belajar.
      3. Peserta didik yang kreatif, adalah peserta didik yang menunjukkan kreatifitas yang tinggi dalam kegiatan-kegiatan tertentu, seperti dalam melukis, menggambar, olah raga, kesenian, organisasi dan kegiatan kurikuler lainnya. pada umumnya siswa yang kreatif ini terdiri dari peserta didik yang cepat dalam belajar, disamping siswa yang normal. peserta didik yang kreatif ini dalam proses belajarnya lebih mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, mereka lebih senang bekerja sendiri, percaya diri sendiri, dan  berani menanggung resiko yang sulit sekalipun, bahkan kadang-kadang bersifat distruktif. Untuk mengembangkan kreativitas para peserta didik ini, sekolah diharap dapat memberikaan kesempatan yang seluas-luasnya.
      4.  Peserta didik yang drop out, adalah mereka yang tidak berhasil atau gagal dalam kegiatan belajarnya. Adapun penyebab drop out itu banyak sekali, barangkali disebabkan oleh faktor yang ada di dalam pribadi peserta didik sendiri, seperti kurang minat,  malas dan sekolah tidak sesuai dengan cita-cita dan lain sebagainya. Mungkin pula disebabkan oleh faktor eksternal, seperti kurikulum, metode mengajar yang  digunakan oleh guru, lingkungan masyarakat yang tidak mendukung atau keluarga broken home dan lain-lain.
Dalam hal ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana membantu peserta didik yang drop out ini, agar mereka dapat menjadi warga masyarakat yang baik, bagi dirinya sendiri maupun bagi  negara.
      5.  Peserta didik yang underachiever, adalah siswa yang memiliki taraf  inteligensi yang tergolong tinggi, akan tetapi mereka memperoleh prestasi belajar yang tergolong rendah. Peserta didik ini dikatakan underachiever karena secara potensial, peserta didik yang memiliki taraf intelegensi yang tinggi  mempunyai kemungkinan yang cukup besar untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi, akan tetapi dalam hal ini siswa tersebut mempunyai prestasi belajar dibawah kemampuan potensial .[2]

C.  Gejala Kesulitan Belajar di Sekolah
Menurut Moh. Surya, tingkah laku yang merupakan manifestasi dari gejala kesulitan belajar antara lain:
      1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah.
      2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
      3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
      4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar.
      5. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan.
      6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.
Dari apa yang dikemukakan diatas dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik, diharapkan para guru dapat memahami dan mengidentifikasi nama siswa yang mengalami kesulitan belajar dan mana pula yang tidak.[3]
Sedangakan para guru dapat melakukan beberala langkah  sebagai diagnosis terhadap kesulitan belajar. Langkah-langkah tersebut antara lain:
      a. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mereka mengikuti pelajaran.
      b. Memeriksa pendengaran dan penglihatan siswa khususnya yang diduga mengalami belajar.
      c. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ikhwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.[4]



E.  Mengatasi Kebosanan
Keadaan menonoton yang terus-menerus mengakibatkan rasa bosan. Melakukan hal sama dengan berulang-ulang tanpa perubahan yang cukup besar juga membosankan, tidak perduli walaupun di awalnya keliharan cukup menarik, belajar dengan tuntutan-tuntutan untuk latihan dan rutinitas, bisa juga membosankan bagi banyak murid. Ketika siswa merasa dikurung, tugas-tugas yang diberikan terasa lebih menindas. Hal yang yang kurang penting juga mengakibatkan kebosanan. Begitu juga ketika siswa merasa tugas yang mereka emban tidak membawa menfaat, mereka juga akan merasa jemu.
Tidak adanya tantangan adalah hal lain yang juga bisa membuat kerja atau belajar menjadi urusan yang membosankan. Orang-orang merasa jemu bila yang mereka kerjakan hanya menuntut sedikit kemampuan dan usahanya. Namun, ini wilayah tantangan murid-murid yang harus dijalankan guru dengan sangat ketat. Pikirkan kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa tertantang. Dugaan kita adalah bahwa peristiwa ini memiliki suatu tingkat resiko karena esensi tantangan adalah kemungkinan adanya kegagalan. Lebih besar tantangan maka akan lebih besar pula kemungkinan kegagalannya. Jika apa yang mereka berikan kepada murid-murid terlalu menantang murid-murid mungkin akan gagal dan kegagalannya itu mungkin akan menurunkan motivasi mereka dalam belajar. Jika apa yang mereka berikan kepada murid-murid kurang cukup menantang, tugas mata pelajaran mereka akan tampak menjemukan dan tidak membangkitkan semangat mereka.[5]

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
1. Peserta  didik dipengaruhi oleh dua faktor utama ,yakni faktor yang terdapat dalam diri pribadi peserta didik itu sendiri yang disebut faktor internal. dan faktor yang terdapat dari luar yang disebut dengan faktor eksternal.
2. Adapun karakteristik  peserta didik dalam belajar di sekolah adalah sebagai berikut, cepat dalam belajar, lamban dalam belajar, peserta didik yang kreatif, peserta didik yang drop out dan underachiever.
3. Manifestasi dari gejala kesulitan belajar antara lain:
      a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah.
      b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
      c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
      d. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar.
      e. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan.
      f.  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.

B.  Saran-saran
Untuk mencegah dampak negative yang lebih jelek, yang mungkin timbul karena kesulitan belajar yang dialami para peserta didik, maka para pendidik harus waspada terhadap gejala-gejala kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh para peserta didiknya. Untuk itu dalam makalah ini, kami mencoba menguraiakan latar belakang kesulitan belajar, karakteristik peserta didik dalam belajar, gejala-gejala  kesulitan belajar, dan mengatasi kebosanan.


DAFTAR PUSTAKA

A. Hellen, Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Ciputat Pers, 2002
Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya,1995.
Wlodkowski Raymond J., Hasrat  Untuk Belajar, Jakarta, Pustaka  Pelajar,  2004.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/diagnosis-kesulitan-belajar.html


[1] Hellen  A., Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Ciputat Pers, 2002),hal 130-132.
[2] Ibid, hal 123-127
[3] Ibid, hal 128-129
[4] Muhibbin Syah, M.Ed,Psikologi Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1995), hal,174.
[5] Raymond J. Wlodkowski, Hasrat  Untuk Belajar, (Jakarta, Pustaka  Pelajar, 2004), hal 145-147.

MATERI TERKAIT:

Judul: DIAGNOSIS KESULITAN DALAM BELAJAR
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah DIAGNOSIS KESULITAN DALAM BELAJAR. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/diagnosis-kesulitan-belajar.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger