SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

POLA HUBUNGAN ANTARA GURU DAN MURID DI SMA

Oleh  Mas Mahmud
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah 
Dalam situasi pendidikan, terjalin interaksi antara murid dengan guru. Interaksi pendidikan atau pengajaran ini hampir seluruhnya menggunakan media bahasa, baik berupa bahas lisan, tulis ataupun gerak dan isyarat. Adapun interaksi yang menggunakan media bahasa disebut komunikasi. Dikatakan bahwa, “Komunikasi memegang peranan yang menentukan dalam interaksi pendidikan atau pengajaran".[1] Dikatakan juga bahwa,  “Komunikasi guru dengan siswa di dalam kelas lebih banyak tercipta dalam bentuk komunikasi langsung atau tatap muka".[2] Dikatakan bahwa,  “Dalam proses belajar mengajar masa kini, di samping guru menggunakan interaksi resiprokal, ia juga dianjurkan memanfaatkan konsep komunikasi banyak arah dalam rangka menggalakkan student active learning / cara belajar siswa aktif (CBSA)".[3] Dikatakan bahwa, “Guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan (komunikasi) pribadi, dan peranannya adalah menciptakan hubungan (komunikasi) pribadi yang sehat"[4].
      Namun kenyataan yang dihadapi lain dari yang diharapkan. Hubungan / komunikasi yang harmonis / tertata tidak selalu terjadi dalam praktek di lapangan. Banyak masalah-masalah muncul terkait dengan soal komunikasi / hubungan antara guru dengan murid. Sebagai contoh yaitu : Berdasarkan data di lapangan hasil pengamatan saya pada hari Rabu tanggal 24 Desember 2008,  di kelas XII SMAN I Babadan Ponorogo, jam 07.30-08.00 WIB, ditemukan ada dua siswa yang ramai dan  satu siswa yang mengantuk (tidak aktif) di kelas ketika sedang berlangsung proses pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam . Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai pola hubungan / komunikasi yang unik dalam proses pembelajaran antara guru dengan murid.
Keunikan kejadian tersebut terjadi atas beberapa sebab. Dan  dapat diambil suatu pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh pihak guru-guru SMAN I Babadan dalam rangka menjalin komunikasi / interaksi / hubungan dengan para muridnya ketika berlangsung proses belajar mengajar ?". Realitas ini sangat penting untuk diteliti.
      Untuk itu penelitian ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan hasil penjajagan awal (Observasi) di lapangan, pada hari Rabu tanggal 24 Desember 2008, jam 07.30-08.00 WIB, telah ditemukan  :
1.    Guru mengabsensi murid  sebelum pelajaran dimulai sebagai proses interaksi awal  dalam proses belajar mengajar.
2.  Guru mengadakan tanya jawab terkait dengan materi yang telah diajarkan kemarin sebagai langkah mempererat hubungan dengan murid dan sebagai langkah penyegaran ingatan  untuk menuju pada materi berikutnya.
3. Guru dalam proses pembelajaran  sering memasukkan humor-humor yang bersifat mendidik sebagai langkah menghilangkan kejenuhan dan kebosanan baik dari pihak guru itu sendiri maupun dari murid-muridnya.
4.    Guru sering bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya maupun pengalaman orang lain dalam proses pembelajaran untuk diambil manfaat dari cerita tadi oleh murid-muridnya.
            Selanjutnya, berangkat dari hasil temuan tersebut di atas , maka penelitian ini kami beri judul “POLA HUBUNGAN ANTARA GURU DAN MURID DI SMA"

B.  Rumusan Masalah  
            Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Apa landasan teori dari pola hubungan antara guru dengan murid di SMA?
2.      Apa saja data-data yang ada di lapangan terkait dengan pola hubungan antara guru dengan   murid di SMA?
3.      Bagaimana analisis data dari penelitian di lapangan ?
C.  Tujuan Penulisan 
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah, agar kita dapat menjelaskan / mendeskrepsikan :
1.      Landasan teori dari pola hubungan antara guru dengan  murid di SMA.
2.      Data-data yang ada di lapangan terkait dengan pola hubungan antara guru dengan murid di SMA.
3.      Analisis data dari penelitian di lapangan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  LANDASAN TEORI  
1.  Pola Hubungan Guru Dengan Murid
Pendidikan dan pengajaran berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik atau guru dengan murid. Interaksi ini biasanya banyak menggunakan media bahasa yang disebut komunikasi. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, guru perlu memiliki kemampuan berbahasa dengan baik, dan menguasai struktur kalimat dan ejaan yang benar. Juga harus pandai mengatur tinggi rendahnya nada suara dan keras lemahnya bicara. Juga tidak kalah penting dalam interaksi pendidikan dengan murid yaitu penampilan. Penampilan guru yang baik adalah yang moderat, memperlihatkan sikap bersahabat, keramahan, keterbukaan, penghargaan akan martabat siswa, kesediaan untuk membantu dan lain-lain. Kemampuan berkomunikasi guru dalam kelas juga dipengaruhi oleh penguasaan bahan pengajaran dan juga penguasaan cara mengajar (metode yang digunakan).[5]
         Adapun beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan guru dalam rangka interaksi dengan murid antara lain : (1). Penyampaian informasi lisan, (2). Penyampaian informasi tertulis, (3). Komunikasi melalui media elektronika, (4). Komunikasi dalam aktivitas kelompok.[6]
         Selanjutnya dalam menyampaikan informasi kepada murid di kelas ataupun kelompok , hendaknya guru menyajikan informasi secara sistematis atau berurutan, berbicara terarah pada pencapaian tujuan, berbicara dengan semangat, tidak menunjukkan kelesuan atau kebosanan, penyampaian informasi diselingi dengan humor untuk menimbulkan rasa senang pada murid, penyampaian informasi disertai dengan alat peraga, dan guru memberikan petunjuk dengan jelas, dan lain-lain.[7]
        Kemudian, dalam interaksi belajar mengajar, guru tidak hanya berperan menyampakan informasi kepada murid, tetapi ia juga hendaknya mendorong para murid untuk mau memberikan informasi atau pengetahuannya kepada orang lain, termasuk kepada gurunya. Untuk itu guru harus mampu mendengarkan pembicaraan murid dengan seksama, mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dengan jelas, mendorong murid untuk mengemukakan pendapat, guru menciptakan berbagai bentuk kegiatan kelompok, juga guru hendaknya mendorong dan membimbing murid untuk mengaplikasikan atau menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari.[8]
      Tidah kalah pentingnya bagi guru dalam berinteraksi dengan murid adalah membangkitkan motivasi belajar murid dengan cara memberikan penghargaan atau pujian, memberikan komentar tertulis terhadap pekerjaan murid, memberikan strategi atau metode mengajar yang sesuai dan bervariasi, menekankan pelajaran pada kenyataan, tidak hanya sebatas teori saja, memberikan kegiatan belajar yang banyak memberikan tantangan dan lain-lain, juga hendaknya guru memberikan kritik pada murid agar terjadi perubahan atau perkembangan pada dirinya.[9] 
        Agar proses pendidikan yang merupakan interaksi antara guru dan murid dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang ditetapkan, seorang guru  harus memerlukan persiapan, baik dari segi penguasaan terhadap ilmu yang diajarkan, maupun kemampuan penyampaian ilmu, sehingga tepat sasaran kepada obyek didik yang bervariasi dan kepribadian atau akhlaknya.[10]
2.  Sikap Guru Terhadap Murid
Menurut Ibnu Jama’ah, bahwa seorang guru dalam menghadapi muridnya hendaknya :  (1). Bertujuan mengharapkan ridho dari Alloh, (2). Memiliki niat yang baik, (3). Menyukai ilmu dan mengamalkannya, (4). Memberikan peluang terhadap pelajaran yang menunjukkan kecerdasan dan keunggulan, (5). Memberikan pemahaman menurut kadar kesanggupan muridnya, (6). Mendahulukan pemberian pujian daripada hukuman , (7). Menghormati muridnya, (8). Memberikan motivasi kepada para siswa agar giat belajar, (9). Tidak mengajarkan suatu mata pelajaran yang tidak diminati oleh para siswa , (10). Memperlakukan siswa secara adil tidak pilih kasih, (11). Memberikan bantuan kepada pelajar sesuai dengan kesanggupannya, (12). Bersikap  rendah hati.[11]
Selanjutnya Ibnu Khuldun mengatakan bahwa, seorang guru harus mengajar secara bertahap, mengulang-ulang sesuai dengan pokok bahasan dan kesanggupan murid, tidak memaksakan atau membunuh daya nalar murid, tidak berpindah satu topik ke topik lain sebelum topik pertama dikuasai, tidak memandang kelupaan sebagai aib, tetapi mengatasinya dengan jalan mengulang, tidak bersikap keras terhadap murid, memilih bidang kajian yang dikuasai murid, mendekatkan murid pada pencapaian tujuan, memperlihatkan tingkat kesanggupan murid dan menolongnya agar murid tersebut mampu memahami pelajaran.[12]
Menurut Imam al-Ghozali seorang guru harus : (1). Menaruh  rasa kasih sayang terhadap murid-muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. (2). Tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima kasih tetapi mencari ridho Alloh SWT, (3). Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran jika  mungkin dan dengan jalan halus dan jangan mencela, (4). Berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami oleh murid, (5). Memberikan pelajaran yang pantas pada murid sesuai dengan tingkat umurnya, (6). Guru harus mengamalkan ilmunya, dan sesuai antara perkataan dan perbuatannya.[13]
Selanjutnya, di sekolah , guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati murid-muridnya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi muridnya dalam belajar.[14]
3.  Sikap Murid Terhadap Guru
Dalam kitab Ilmu wa Adab al-Alim wa al-Muta’alimiin dikatakan bahwa, sikap murid sama dengan sikap guru, yaitu sikap murid sebagai pribadi dan sikap murid sebagai penuntut ilmu. Sebagai pribadi seorang murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa, agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal dan mengamalkannya.[15]
Selanjutnya sebagai penuntut ilmu seorang murid harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru. Dengan cara demikian, ia akan mencapai cita-citanya. Ia juga harus menunjukkan akhlak yang tinggi, pandai membagi waktu, memahami tatakrama dalam majlis ta'lim, berupaya menyenangkan hati gurunya, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidak senangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu. Jadi sikap-sikap yang demikianlah yang akan menghantarkan murid mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu.[16]
Selanjutnya, berkaitan dengan sosiologi pendidikan mengenai pola hubungan (interaksi) antara guru dengan murid di lingkungan sekolah (kelas), Philip Jackson (1969) menyimpulkan bahwa tiga ciri pembeda kehidupan kelas antara lain : khalayak ramai (crowd), pujian (praise), dan kekuasaan (power), dan sifat paling berguna yang harus dimiliki oleh murid adalah kesabaran. Dibanding dengan peranan guru, peranan murid ditandai dengan kepasifan. Murid yang “baik” ialah murid yang mendengarkan gurunya, mengikuti pelajaran, tidak mengganggu kelas, dan lagi pula patuh.[17]
Kelemahan struktur yang ada dalam hubungan antar guru dan murid, oleh Waller dinyatakan bahwa, “ Guru mempertunjukkan tata aturan sosial yang sudah kokoh di sekolah dan berminat memeliharanya, sedangkan murid hanya memiliki minat negatif dalam supra struktur feodal. Guru dan murid saling berhadapan antara yang satu dengan yang lain dengan sikap yang menimbulkan pertentangan, yang pada dasarnya tidak bisa lenyap sama sekali. Murid dianggap sebagai bahan yang oleh guru diharapkan bisa memberikan hasil. Murid adalah manusia yang berupaya menyadari dirinya sendiri dengan cara spontannya sendiri. Masing-masing pihak yang menentang siap menghadapi lainnya. Dalam mencapai tujuannya, mereka mengorbankan tujuan pihak lainnya”.[18]
Secara ringkasnya, walaupun dalam banyak aspek peranan guru dan murid tak seimbang, konseptualisasi interaksi antara guru dan murid berasumsi bahwa murid dan guru saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Penelitian menunjukkan bahwa guru dan murid memberikan reaksi terhadap struktur peranan kelas dengan aneka ragam cara, dan banyak guru lebih menggantungkan pada personal resource daripada otoritas formalnya supaya murid patuh. Bukti cerita menunjukkan bahwa banyak guru, terutama di tingkat sekolah dasar, telah membuat cara-cara untuk memperlunak kebosanan dan kekerasan terhadap kegiatan murid sehari-hari. Pada hari sekolah, dalam kelas itu sendiri guru bisa berhubungan dengan murid secara perorangan, dibandingkan dengan pendekatan formal dalam struktur peranan, dan juga bisa bertindak sebagai pendukung antara murid dan aspek-aspek yang lebih ketat dalam sistem pendidikan formal.[19]
Di antara aspek-aspek interaksi antar guru dan murid yang tampaknya mempengaruhi sikap dan penampilan akademis murid , ada dua aspek yang menarik perhatian ahli sosiologi selama dua dasa warsa yang lalu. Salah satu aspek tersebut ialah pengharapan timbal balik antara pihak guru dan murid dan pengaruhnya pada prestasi selanjutnya. Para ahli sosiologi tersebut berpatokan pada dalil “ Jika para individu menentukan situasi-situasi itu nyata, maka situasi-situasi tersebut nyata pula konsekuensinya. Seperti eksperimen yang dilakukan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson yang tujuannya menguji pernyataan bahwa, dalam kelas tertentu “Anak-anak yang oleh gurunya[20] diharapkan bisa mencapai perkembangan kecerdasan yang lebih besar, akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar pula”. Aspek kedua mengenai interaksi antara guru dan murid ialah evaluasi.[21] Murid berinteraksi dengan sistem evaluasi dengan menerima umpan balik mengenai penampilan kerjanya pada suatu tugas. Hal tersebut mempengaruhi kadar semangat dan kepercayaannya terhadap tugas yang akan dikerjakan selanjutnya, dan sebaliknya semangat dan kepercayaannya itu akan mempengaruhi penampilan kerja pada tugas-tugas selanjutnya.[22]
Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal seperti TK, SD, SLTP,  peranan guru sangat besar dan bahkan dominan. Pada taraf pendidikan formal tersebut guru mempunyai peranan yang cenderung mutlak di dalam membentuk dan mengubah pola perilaku anak didik. Dengan demikian, maka hasil daripada kegiatan guru tersebut akan tampak nyata pada kadar motivasi dan keberhasilan studi pada taraf itu, yang mempunyai pengaruh yang sangat besar pada taraf-taraf pendidikan selanjutnya.[23] 
Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja) memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Peranan guru di dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik, dibatasi dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan mengubah perilakunya. Pada tahap ini para siswa yang terdiri dari para remaja sudah mulai mempunyai sikap tertentu terhadap gurunya, kepribadiannya mulai terbentuk dan menuju kemandirian. Oleh karena itu para remaja mulai mengritik keadaan sekolah yang kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Kritikan tersebut antara lain dapat dinyatakan sebagai berikut :
a.  Guru-guru terlampau tua, masih mengembangkan favoritisme terhadap murid-murid dan hanya melakukan tugas mengajar sebagai pekerjaan rutin yang tidak berkembang.
b.   Kebanyakan guru tidak mau mencari penyerasian nilai dengan anak didik, akan tetapi cenderung senantiasa membenarkan nilai-nilai yang dianut golongan tua.
c.  Mata pelajaran yang diajarkan kebanyakan merupakan mata pelajaran wajib, sehingga tidak ada peluang untuk mengembangkan bakat.
d.   Di dalam proses belajar mengajar lebih banyak dipergunakan metode ceramah, sehingga kemungkinan mengadakan diskusi dengan guru sedikit sekali.
e.  Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk ikut serta mengelola sekolah hampir-hampir tidak diberikan.
f.     Jarak antara guru dengan siswa dipelihara sedemikian rupa, sehingga yang lazim adalah hubungan yang dilakukan secara formal.[24]                                
        
B.  DATA       
1.  Data Umum
a.          Letak Geografis
SMAN 1 Babadan adalah sebuah Sekolah Menengah Atas yang terletak di Jl. Pertanian, Desa Pondok Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Adapun batas-batasnya adalah sebagai berikut:
1.      Sebelah Timur adalah sawah serta rumah Bapak Taufik Susanto.
2.        Sebelah Selatan adalah Jalan dusun Kajang.
3.        Sebelah Barat adalah sawah penduduk.
4.        Sebelah Utara adalah sawah penduduk.[25]
b.          Visi, Misi dan Tujuan
1).    Visi
Disiplin dan tertib, berprestasi secara optimal dibidang akademis dan ketrampilan, beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  
2).    Misi
a.       Meningkatkan Pelaksanaan disiplin dan tertib seluruh komponen sekolah.
b.      Meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan.
c.       Meningkatkan efektifitas pelaksanaan KBM.
d.      Meningkatkan pencapaian Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah dari tahun ke  tahun sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
e.       Meningkatkan pelaksanaan pembinaan ekstrakurikuler.
f.       Membentuk manusia yang menguasai iptek dengan dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3).    Tujuan Pendidikan SMA Negeri 1 Babadan
a.       Terciptanya disiplin dan tertib bagi seluruh komponen sekolah sesuai dengan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya.
b.      Terciptanya etos kerja dan profesionalisme guru dan karyawan.
c.       Tercapainya peningkatan Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah dari tahun ke tahun.
d.   Membekali lulusan yang mempunyai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang optimal serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e.     Terciptanya peningkatan pelaksanaan ekstrakurikuler.
f.   Terciptanya hubungan yang harmonis antara sekolah, orang tua murid, masyarakat, dan instansi terkait.
g.      Terciptanya manusia yang menguasai iptek yang dilandasi iman dan taqwa kepada Allah SWT.[26]


2.  Data khusus
Data hasil wawancara dengan guru SMAN I Babadan, Bapak Drs. Rokhminanto tentang Pola Hubungan antara Guru dengan Murid.
Pertanyaan    :     Agar dapat berkomunikasi dengan baik, apa yang harus di miliki oleh seorang guru menurut Bapak?
Jawaban         :     Begini dik, menurut Bapak, Guru perlu memiliki kemampuan berbahasa dengan baik, juga harus pandai mengatur volume suara dan gaya bicara, juga penampilan yang  baik seperti memperlihatkan sikap bersahabat, keramahan, keterbukaan, dan kesediaan untuk membantu dan penguasaan bahan pengajaran dan juga penguasaan cara mengajar (metode yang digunakan) dan  lain-lain.
P                     :  Adapun bentuk komunikasi yang dapat dilakukan guru dalam rangka interaksi dengan murid itu apa saja menurut Bapak?
J              :  Ya bermacam-macam dik, di antaranya penyampaian informasi secara lisan, penyampaian informasi secara tertulis,  komunikasi dalam aktivitas kelompok.
P           :  Selanjutnya dalam menyampaikan informasi kepada murid di kelas ataupun kelompok , bagaimana guru menyajikan informasi tersebut ? apakah secara sistematis atau berurutan ? berbicara terarah pada pencapaian tujuan ? berbicara dengan semangat? tidak menunjukkan kelesuan atau kebosanan? penyampaian informasi diselingi dengan humor? untuk menimbulkan rasa senang pada murid, penyampaian informasi disertai dengan alat peraga? dan guru memberikan petunjuk dengan jelas?
J                      :     Wah ...banyak amat pertanyaannya dik ? he.he..ya jelas iya dong ? cukup itu saja jawaban semuanya, sudah pasti.
P                 :     Apakah guru mendorong para murid untuk mau memberikan informasi atau pengetahuannya kepada orang lain, termasuk kepada gurunya ? Apakah guru mendengarkan pembicaraan murid dengan seksama ? Apakah guru mendorong murid untuk  mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dengan jelas ? Mendorong murid untuk mengemukakan pendapat ? Apakah guru menciptakan berbagai bentuk kegiatan kelompok ? Juga apakah guru mendorong dan membimbing murid untuk mengaplikasikan atau menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari ?
J                      :     Ya..ya contoh dalam kegiatan diskusi itu, anak-anak sudah terlatih untuk mengemukakan pendapat, menanggapi, memecahkan suatu persoalan dengan jalan musyawarah. Dan itu semua nantinya akan berguna kalau terjun di masyarakat nanti dik...
P                      :     Apakah guru dalam berinteraksi dengan murid membangkitkan motivasi belajar murid dengan cara memberikan penghargaan atau pujian ? contohnya apa ? Apakah guru memberikan komentar tertulis terhadap pekerjaan murid ? contohnya bagaimana ? Apakah guru  memberikan strategi atau metode mengajar yang sesuai dan bervariasi ? contohnya apa ? Juga apakah guru memberikan kritik pada murid agar terjadi perubahan atau perkembangan pada dirinya ? contohnya bagaimana ?
J                :     Ya dik, contohnya kalau ada anak didik yang berprestasi di samping mendapatkan hadiah, juga mendapatkan ucapan selamat dari para guru untuk menguatkan motivasi dirinya. Ada komentar tertulis sehubungan dengan pekerjaan murid seperti setelah menyelesaikan tugas porto folio itu, pasti ada catatan-catatan dari guru terkait dengan hasil dari pekerjaannya itu. Banyak sekali metode mengajar yang dipakai, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, resitasi (pemberian tugas), demonstrasi, karya wisata, drill, latihan, eksperimen, kerja kelompok, bercerita dan lain-lain. Dan guru sering memberikan kritik yang bersifat membangun demi perubahan dan perkembangan murid itu sendiri, dengan jalan bijaksana dan hati-hati.
P               :     Bagaimanakah sebetulnya sikap guru terhadap murid dan sikap murid terhadap guru  itu menurut Bapak?
J                 :     Menurut Bapak, sikap guru terhadap murid itu mendahulukan pemberian pujian daripada hukuman , menghormati muridnya, memberikan motivasi kepada para murid agar giat belajar, memperlakukan murid secara adil tidak pilih kasih, memberikan bantuan kepada murid sesuai dengan kesanggupannya, bersikap  rendah hati, sabar dan menyenangkan, kasih sayang terhadap murid-muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri, tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima kasih, harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, harus mampu menarik simpati murid-muridnya. Adapun sikap murid terhadap guru itu menurut saya murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa, agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal dan mengamalkannya, harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru, harus menunjukkan akhlak yang tinggi, pandai membagi waktu, memahami tatakrama, berupaya menyenangkan hati gurunya, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidak senangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu. Jadi sikap-sikap yang demikianlah yang akan menghantarkan murid mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu dan taat.
P                      :     Apakah betul asumsi yang mengatakan bahwa murid dan guru saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain ? contohnya bagaimana ?
J                   :     Bapak rasa ada benarnya juga, contohnya jika guru mengajar, murid-murid memperhatikan dengan seksama dan aktif, maka akan berpengaruh pada guru tersebut, guru menjadi bersemangat dalam mengajar dan semangat dalam tugas-tugas selanjutnya, begitu juga sebaliknya...
P                   :     Apakah benar pernyataan ini, bahwa “Anak-anak yang oleh gurunya diharapkan bisa mencapai perkembangan kecerdasan yang lebih besar, akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar pula?" Contohnya bagaimana?
J            :     Bapak rasa ada benarnya juga, contohnya murid-murid yang dalam kelas selalu memperhatikan guru, ketika diajar, otomatis guru itu juga banyak memperhatikan murid tersebut dan konsentrasinya lebih terfokus kepadanya, dari pada murid yang tidak memperhatikan. Nah nanti hasil akhirnya juga akan berbeda, karena guru tersebut telah menaruh kepercayaan terhadap murid yang memperhatikan, yang pastinya di harapkan oleh guru tadi akan kesuksesannya. Dan itu merupakan motivasi terbesar murid yang jarang didapatkan oleh murid yang lain.
P               :     Apakah sistem evaluasi itu dapat  mempengaruhi kadar semangat dan kepercayaan murid  terhadap tugas yang akan dikerjakan selanjutnya ? contohnya bagaimana ?
J        :     Ya jelas itu dik. Murid yang mendapat nilai bagus pasti akan lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas selanjutnya dan merasa tambah percaya diri untuk memacu kemampuannya dalam  proses pembelajaran.
P         :     Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal seperti TK, SD, SLTP,  peranan guru sangat besar dan bahkan dominan. Pada taraf pendidikan formal tersebut guru mempunyai peranan yang cenderung mutlak di dalam membentuk dan mengubah pola perilaku anak didik. Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja) memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Peranan guru di dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik, dibatasi dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan mengubah perilakunya. Apakah benar pernyataan ini ? Pada tahap ini para siswa yang terdiri dari para remaja sudah mulai mempunyai sikap tertentu terhadap gurunya, Oleh karena itu para remaja mulai mengritik keadaan sekolah yang kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Apakah ada Kritikan semacam itu ? contohnya apa saja ?
J                      :     Ada benarnya juga, masa SMA adalah masa remaja yang merupakan suatu masa yang sangat menentukan, karena pada masa ini seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Dan masa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Jadi wajar jika pada diri murid-murid sudah muncul suatu pandangan dan penilaian terhadap sesuatu. Namun selama ini yang Bapak rasakan, belum ada kritikan yang dilontarkan murid-murid saya, mungkin hanya sebatas gunjingan di luar kelas bersama teman-temannya mengenai ketidakpuasan terhadap suatu hal berkaitan dengan pendidikan. Karena tidak ada kritikan yang secara resmi diajukan oleh murid- murid, maka Bapak tidak dapat memberikan contoh kritikan tersebut dik..
P                      :     Terima kasih, Bapak telah meluangkan waktu untuk wawancara ini, semoga bermanfaat bagi kita semua ya Pak ?
J                      :     Sama-sama dik, dan silahkan nanti berkunjung ke sekolah kami lagi, jika ada keperluan-keperluan lagi terkait dengan tugas perkuliahan. Semoga berhasil dan sukses selalu..
P                      :     Amiin. Ya Robbal Alamiin....

                         
C.  ANALISIS DATA     
Berdasarkan data-data yang ada, maka dapat di analisa sebagai berikut :
SMAN 1 Babadan adalah sebuah Sekolah Menengah Atas yang terletak pada posisi strategis di lihat dari segi lokasi jangkauan, keamanan, kenyamanan, kesejukan, pelayanan, sehingga diharapkan dapat menjalin pola hubungan antara guru dengan murid secara seimbang baik secara fisik maupun psikis.
Di samping hal tersebut, SMAN I memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas, sehingga keabsahan suatu lembaga pendidikan tidak perlu diragukan lagi, ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan dan tenaga-tenaga kependidikan yang bermutu dan pelayanan yang memuaskan.
            Dalam rangka menjalin pola hubungan antara guru dengan murid di dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas, terdapat bervariasinya strategi yang digunakan guru, dengan  tujuan menumbuhkan semangat dan antusias para muridnya. Sehingga di sini dapat dilihat, betapa besarnya upaya membangun sebuah pola hubungan (interaksi) demi kelancaran proses belajar mengajar tersebut.
                                                                                                                 
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan   
Dari pembahasan pola hubungan guru dengan murid di SMA, dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1.      Landasan teori dari pola hubungan guru dengan murid adalah, dalam mewujudkan suatu komunikasi yang baik, guru perlu memiliki kemampuan berbahasa, penampilan, penguasaan bahan pengajaran, penguasaan cara mengajar (metode yang digunakan), menyajikan informasi secara sistematis atau berurutan, berbicara terarah pada pencapaian tujuan, berbicara dengan semangat, tidak menunjukkan kelesuan atau kebosanan, penyampaian informasi diselingi dengan humor untuk menimbulkan rasa senang pada murid, penyampaian informasi disertai dengan alat peraga, dan guru memberikan petunjuk dengan jelas, membangkitkan motivasi belajar berupa penghargaan atau pujian, memberikan komentar tertulis, memberikan strategi atau metode mengajar yang sesuai dan bervariasi, memberikan kritik agar terjadi perubahan atau perkembangan pada dirinya, Sikap Guru Terhadap Murid adalah bertujuan mengharapkan ridho dari Alloh, memiliki niat yang baik, menyukai ilmu dan mengamalkannya, memberikan peluang terhadap pelajaran yang menunjukkan kecerdasan dan keunggulan, memberikan pemahaman menurut kadar kesanggupan muridnya, mendahulukan pemberian pujian daripada hukuman , menghormati muridnya, memberikan motivasi kepada para siswa agar giat belajar, tidak mengajarkan suatu mata pelajaran yang tidak diminati oleh para siswa , memperlakukan siswa secara adil tidak pilih kasih, memberikan bantuan kepada pelajar sesuai dengan kesanggupannya, bersikap  rendah hati, menaruh  rasa kasih sayang dan memperlakukan seperti anaknya sendiri, tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima kasih tetapi mencari ridho Alloh SWT, mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran jika  mungkin dan dengan jalan halus dan jangan mencela, berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami oleh murid, memberikan pelajaran yang pantas pada murid sesuai dengan tingkat umurnya, guru harus mengamalkan ilmunya, dan sesuai antara perkataan dan perbuatannya. Sikap Murid Terhadap Guru adalah harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa, harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru. menunjukkan akhlak yang tinggi, pandai membagi waktu, memahami tatakrama, berupaya menyenangkan hati gurunya, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidak senangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu. tiga ciri pembeda kehidupan kelas antara lain : khalayak ramai (crowd), pujian (praise), dan kekuasaan (power), dan sifat paling berguna yang harus dimiliki oleh murid adalah kesabaran. Guru dan Murid  saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain.  “Anak-anak yang oleh gurunya diharapkan bisa mencapai perkembangan kecerdasan yang lebih besar, akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar pula”. Murid berinteraksi dengan sistem evaluasi yang dapat mempengaruhi kadar semangat dan kepercayaannya terhadap tugas yang akan dikerjakan selanjutnya.
2.      Data-data di lapangan terkait dengan pola hubungan antara guru dengan murid di SMA adalah  : (1). Data Umum yang berupa Letak Geografis SMAN 1 Babadan, Visi, Misi dan Tujuan, (2). Data khusus yang berupa Data hasil wawancara dengan guru SMAN I Babadan, Bapak Drs. Rokhminanto tentang Pola Hubungan antara Guru dengan Murid.
3.      Analisis Data dari data di lapangan diantaranya adalah SMAN 1 Babadan adalah sebuah Sekolah Menengah Atas yang terletak pada posisi strategis. SMAN I memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas. sehingga keabsahan suatu lembaga pendidikan tidak perlu diragukan lagi, ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan dan tenaga-tenaga kependidikan yang bermutu dan pelayanan yang memuaskan dan terdapat bervariasinya strategi yang digunakan guru, sebagai upaya membangun sebuah pola hubungan (interaksi) demi kelancaran proses belajar mengajar.
B.  Saran          
Pola hubungan antara guru dengan murid di SMA hendaknya benar-benar diciptakan dan diupayakan seharmonis mungkin demi terwujudnya tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.

REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA

Basuki dan Ulum, M. Miftahul Pengantar Ilmu Pendidika. Ponorogo : STAIN Po PRESS, 2007
Djamarah, Syaiful Bahri dan  Aswan Zain, Aswan,  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Faisal, Sanapiah Sosiologi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional, t.t.
Nana Syaodih Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya , 2005.
Soekanto, Soerjono,  Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1995.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/pola-hubungan-antara-guru-dan-murid-di.html

Lampiran 1

PEDOMAN OBSERVASI

1.      Melihat letak geografis SMAN I Babadan
2.      Mengamati proses pembelajaran di kelas VII

PEDOMAN WAWANCARA
1.      Pendidikan dan pengajaran berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik atau guru dengan murid. Interaksi ini biasanya banyak menggunakan media bahasa yang disebut komunikasi. Agar dapat berkomunikasi dengan baik,apa yang harus di miliki oleh seorang guru ?
2.      Adapun beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan guru dalam rangka interaksi dengan murid itu apa saja ?
3.      Selanjutnya dalam menyampaikan informasi kepada murid di kelas ataupun kelompok , bagaimana guru menyajikan informasi tersebut ? Apakah secara sistematis atau berurutan ? Berbicara terarah pada pencapaian tujuan ? Berbicara dengan semangat? Tidak menunjukkan kelesuan atau kebosanan? Penyampaian informasi diselingi dengan humor? Untuk menimbulkan rasa senang pada murid, penyampaian informasi disertai dengan alat peraga? Dan guru memberikan petunjuk dengan jelas?
4.    Apakah guru mendorong para murid untuk mau memberikan informasi atau pengetahuannya kepada orang lain, termasuk kepada gurunya ?. Apakah guru mendengarkan pembicaraan murid dengan seksama ? Apakah guru mendorong murid untuk  mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dengan jelas ? Mendorong murid untuk mengemukakan pendapat ? Apakah guru menciptakan berbagai bentuk kegiatan kelompok ? Juga apakah guru mendorong dan membimbing murid untuk mengaplikasikan atau menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari ?
5.  Apakah guru dalam berinteraksi dengan murid membangkitkan motivasi belajar murid dengan cara memberikan penghargaan atau pujian ? contohnya apa ? Apakah guru memberikan komentar tertulis terhadap pekerjaan murid ? contohnya bagaimana ? Apakah guru  memberikan strategi atau metode mengajar yang sesuai dan bervariasi ? contohnya apa ? Apakah guru  menekankan pelajaran pada kenyataan, tidak hanya sebatas teori saja?  Apakah guru memberikan kegiatan belajar yang banyak memberikan tantangan dan lain-lain ? contohnya apa ? Juga apakah guru memberikan kritik pada murid agar terjadi perubahan atau perkembangan pada dirinya ? contohnya bagaimana ?
6.      Bagaimanakah sebetulnya sikap guru terhadap murid itu dan sikap murid terhadap guru ?
7.   Apakah betul asumsi yang mengatakan bahwa murid dan guru saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain ? contohnya bagaimana?
8.      Apakah benar pernyataan ini, bahwa “Anak-anak yang oleh gurunya diharapkan bisa mencapai perkembangan kecerdasan yang lebih besar, akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar pula”.? Contohnya bagaimana ?
9.  Apakah sistem evaluasi itu dapat  mempengaruhi kadar semangat dan kepercayaan murid  terhadap tugas yang akan dikerjakan selanjutnya ? contoh kongritnya bagaimana ?
10.  Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal seperti TK, SD, SLTP,  peranan guru sangat besar dan bahkan dominan. Pada taraf pendidikan formal tersebut guru mempunyai peranan yang cenderung mutlak di dalam membentuk dan mengubah pola perilaku anak didik. Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja) memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Peranan guru di dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik, dibatasi dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan mengubah perilakunya. Apakah benar pernyataan ini ? Pada tahap ini para siswa yang terdiri dari para remaja sudah mulai mempunyai sikap tertentu terhadap gurunya, Oleh karena itu para remaja mulai mengritik keadaan sekolah yang kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Apakah ada Kritikan semacam itu ? contohnya apa saja ?

Lampiran 2

 TRANSKRIP OBSERVASI

No. CL                                       :     01
Koding                                       :     01/O/F-1/24-XII/2008
Tanggal Pengamatan                :     24 Desember 2008
Jam                                             :     07.30-08.00 WIB
Disusun jam                               :     19.00-20.15 WIB
Kegiatan yang diobservasi       :     Letak geografis SMAN I Babadan

Transkrip Observasi












Proses belajar mengajar sedang berlangsung di SMAN I Babadan, pada hari Rabu, 24 Desember 2008. Para guru dan murid berada di ruang kelas masing-masing. Terlihat para pekerja yang sedang merehab kantor guru dan membuat gapura pintu masuk depan sekolahan. Lokasi SMAN I Babadan tampak asri, sejuk dan alami, karena di kelilingi oleh pohon-pohon hijau, rindang, sangat cocok bagi murid-murid yang sedang belajar, karena ketenangan suasananya. jauh dari suara bising. dan hawa yang sejuk menambah kesejukan hati. Sebelah barat berbatasan dengan persawahan penduduk, sebelah utara berbatasan dengan persawahan penduduk, sebelah timur berbatasan dengan pekarangan dan rumah bapak Taufik Susanto, sebelah selatan berbatasan dengan jalan menuju dusun Kajang dan jalan raya Ponorogo-Madiun. SMAN I Babadan menghadap kelas selatan.
Tanggapan Pengamat









Meskipun letaknya di sebuah desa, SMAN I Babadan merupakan sebuah Sekolah Menengah Atas yang sudah maju, dengan bukti infrastruktur di sekolah ini sudah sejajar dengan sekolah yang ada di kota-kota, murid-murid yang belajar di sana berasal dari berbagai daerah / kota. Dan ini berarti sekolah ini sudah terkenal, tidak asing lagi dan banyak diminati.

Lampiran 3

 TRANSKRIP OBSERVASI

No. CL                                       :     01
Koding                                       :     01/O/F-2/24-XII/2008
Tanggal Pengamatan                :     24 Desember 2008
Jam                                             :     08.15-08.45 WIB
Disusun jam                               :     19.00-20.15 WIB
Kegiatan yang diobservasi       :     Pola hubungan antara guru dengan murid di  SMAN I Babadan

Transkrip Observasi












Berdasarkan hasil pengamatan, pola hubungan antara guru dengan murid  ketika proses belajar mengajar berjalan lancar, terbukti dengan tidak adanya masalah-masalah yang serius yang dihadapi guru ketika mulai kegiatan belajar mengajar yaitu dimulai dari mengabsensi murid sampai penjelasan materi pokok sampai pengajaran ditutup. Suasana di kelas cukup tenang, murid-murid asyik dengan seksama mendengarkan keterangan-keterangan maupun penjelasan dan uraian yang diberikan oleh guru. Sesekali terdengar suara geeerrr...dari murid-murid, karena  guru menyelipkan humor-humor khas dan bercerita pengalaman-pengalaman pribadi atau orang lain untuk memberikan sebuah gambaran kepada murid-muridnya. Dan hal itu direspon oleh murid dengan adanya berbagai acungan tangan tanda memberikan suatu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada guru. Dan ini merupakan suatu pola hubungan yang terjalin antara guru dengan murid yang  sengaja diciptakan untuk mempermudah jalanya kegiatan belajar mengajar di kelas. Meski ada beberapa murid yang ramai dan satu tertidur, namun tidak menjadikan suasana kelas menjadi terganggu. Itu semua berkat strategi yang digunakan oleh guru tersebut dalam mengantisipasi hal-hal yang demikian.  Bapak Drs. Rokhminanto selaku guru di kelas itu memang terkenal guru yang sangat disenangi oleh murid-muridnya dengan postur tubuh yang tinggi besar serta senyuman manisnya ( sumeh : bahasa jawa). Strategi yang digunakan sangat bervariasi dalam rangka menjalin hubungan dengan muridnya, mulai dari ceramah, Tanya jawab, bercerita, demonstrasi, maupun latihan-latihan. Memang demikianlah cara-cara agar proses belajar mengajar dan hubungannya dengan murid   berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti.

Tanggapan Pengamat







Pola hubungan antara guru dengan murid yang diterapkan oleh guru tersebut sangat baik sekali dengan mempergunakan berbagai strategi-strategi pembelajaran, sehingga murid-murid tidak mengalami kejenuhan (kebosanan).

Lampiran 4

TRANSKRIP WAWANCARA

Kode                                           :     01/1-W/F-24-XII/2008
Nama Informan                        :     Drs. ROKHMINANTO
Tanggal                                      :     24 Desember 2008
Jam                                             :     08.15-08.45 WIB
Disusun jam                               :     19.00-20.15 WIB
Tempat Wawancara                 :     Ruang kantor  SMAN I Babadan
Topik Wawancara                    : Pola hubungan (interaksi) antara guru dengan murid


Materi Wawancara
Peneliti
(Pertanyaan)
Informan
(Jawaban)





P


J


P








J

P









J




P








J












P

J





















P


J




P




J









P


J



P















J










:      Agar dapat berkomunikasi dengan baik, apa yang harus di miliki oleh seorang guru menurut Bapak?
:       Begini dik, menurut Bapak, Guru perlu memiliki kemampuan berbahasa dengan baik, juga harus pandai mengatur volume suara dan gaya bicara, juga penampilan yang  baik seperti memperlihatkan sikap bersahabat, keramahan, keterbukaan, dan kesediaan untuk membantu dan penguasaan bahan pengajaran dan juga penguasaan cara mengajar (metode yang digunakan) dan  lain-lain.
:       Adapun bentuk komunikasi yang dapat dilakukan guru dalam rangka interaksi dengan murid itu apa saja menurut Bapak?
:       Ya bermacam-macam dik, di antaranya penyampaian informasi secara lisan, penyampaian informasi secara tertulis,  komunikasi dalam aktivitas kelompok.
:       Selanjutnya dalam menyampaikan informasi kepada murid di kelas ataupun kelompok , bagaimana guru menyajikan informasi tersebut ? apakah secara sistematis atau berurutan ? berbicara terarah pada pencapaian tujuan ? berbicara dengan semangat? tidak menunjukkan kelesuan atau kebosanan? penyampaian informasi diselingi dengan humor? untuk menimbulkan rasa senang pada murid, penyampaian informasi disertai dengan alat peraga? dan guru memberikan petunjuk dengan jelas?
:       Wah ...banyak amat pertanyaannya dik ? he.he..ya jelas iya dong ? cukup itu saja jawaban semuanya, sudah pasti.
:       Apakah guru mendorong para murid untuk mau memberikan informasi atau pengetahuannya kepada orang lain, termasuk kepada gurunya ? Apakah guru mendengarkan pembicaraan murid dengan seksama ? Apakah guru mendorong murid untuk  mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dengan jelas ? Mendorong murid untuk mengemukakan pendapat ? Apakah guru menciptakan berbagai bentuk kegiatan kelompok ? Juga apakah guru mendorong dan membimbing murid untuk mengaplikasikan atau menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari ?
:       Ya..ya contoh dalam kegiatan diskusi itu, anak-anak sudah terlatih untuk mengemukakan pendapat, menanggapi, memecahkan suatu persoalan dengan jalan musyawarah. Dan itu semua nantinya akan berguna kalau terjun di masyarakat nanti dik...
:       Apakah guru dalam berinteraksi dengan murid membangkitkan motivasi belajar murid dengan cara memberikan penghargaan atau pujian ? contohnya apa ? Apakah guru memberikan komentar tertulis terhadap pekerjaan murid ? contohnya bagaimana ? Apakah guru  memberikan strategi atau metode mengajar yang sesuai dan bervariasi ? contohnya apa ? Juga apakah guru memberikan kritik pada murid agar terjadi perubahan atau perkembangan pada dirinya ? contohnya bagaimana ?
:       Ya dik, contohnya kalau ada anak didik yang berprestasi di samping mendapatkan hadiah, juga mendapatkan ucapan selamat dari para guru untuk menguatkan motivasi dirinya. Ada komentar tertulis sehubungan dengan pekerjaan murid seperti setelah menyelesaikan tugas porto folio itu, pasti ada catatan-catatan dari guru terkait dengan hasil dari pekerjaannya itu. Banyak sekali metode mengajar yang dipakai, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, resitasi (pemberian tugas), demonstrasi, karya wisata, drill, latihan, eksperimen, kerja kelompok, bercerita dan lain-lain. Dan guru sering memberikan kritik yang bersifat membangun demi perubahan dan perkembangan murid itu sendiri, dengan jalan bijaksana dan hati-hati.
:       Bagaimanakah sebetulnya sikap guru terhadap murid itu dan sikap murid terhadap guru, menurut Bapak?
:       Menurut Bapak, sikap guru terhadap murid itu mendahulukan pemberian pujian daripada hukuman,   menghormati muridnya, memberikan motivasi kepada para murid agar giat belajar, memperlakukan murid secara adil tidak pilih kasih, memberikan bantuan kepada murid sesuai dengan kesanggupannya, bersikap  rendah hati, sabar dan menyenangkan, kasih sayang terhadap murid-muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri, tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima kasih, harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, harus mampu menarik simpati murid-muridnya. Adapun sikap murid terhadap guru itu menurut saya murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa, agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal dan mengamalkannya, harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru, harus menunjukkan akhlak yang tinggi, pandai membagi waktu,   memahami tatakrama, berupaya menyenangkan hati gurunya, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidak senangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu. Jadi sikap-sikap yang demikianlah yang akan menghantarkan murid mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu dan taat.
:       Apakah betul asumsi yang mengatakan bahwa murid dan guru saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain ? contohnya bagaimana ?
:       Bapak rasa ada benarnya juga, contohnya jika guru mengajar, murid-murid memperhatikan dengan seksama dan aktif, maka akan berpengaruh pada guru tersebut, guru menjadi bersemangat dalam mengajar dan semangat dalam tugas-tugas selanjutnya, begitu juga sebaliknya...
:       Apakah benar pernyataan ini, bahwa “Anak-anak yang oleh gurunya diharapkan bisa mencapai perkembangan kecerdasan yang lebih besar, akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar pula”? Contohnya bagaimana?
:       Bapak rasa ada benarnya juga, contohnya murid-murid yang dalam kelas selalu memperhatikan guru, ketika diajar, otomatis guru itu juga banyak memperhatikan murid tersebut dan konsentrasinya lebih terfokus kepadanya, dari pada murid yang tidak memperhatikan. Nah nanti hasil akhirnya juga akan berbeda, karena guru tersebut telah menaruh kepercayaan terhadap murid yang memperhatikan, yang pastinya di harapkan oleh guru tadi akan kesuksesannya. Dan itu merupakan motivasi terbesar murid yang jarang didapatkan oleh murid yang lain.
:       Apakah sistem evaluasi itu dapat  mempengaruhi kadar semangat dan kepercayaan murid  terhadap tugas yang akan dikerjakan selanjutnya ? contohnya bagaimana ?
:       Ya jelas itu dik. Murid yang mendapat nilai bagus pasti akan lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas selanjutnya dan merasa tambah percaya diri untuk memacu kemampuannya dalam  proses pembelajaran.
:       Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal seperti TK, SD, SLTP,  peranan guru sangat besar dan bahkan dominan. Pada taraf pendidikan formal tersebut guru mempunyai peranan yang cenderung mutlak di dalam membentuk dan mengubah pola perilaku anak didik. Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja) memasuki Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Peranan guru di dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik, dibatasi dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan mengubah perilakunya. Apakah benar pernyataan ini ? Pada tahap ini para siswa yang terdiri dari para remaja sudah mulai mempunyai sikap tertentu terhadap gurunya, Oleh karena itu para remaja mulai mengritik keadaan sekolah yang kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Apakah ada Kritikan semacam itu ? contohnya apa saja ?
:       Ada benarnya juga, masa SMA adalah masa remaja yang merupakan suatu masa yang sangat menentukan, karena pada masa ini seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Dan masa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Jadi wajar jika pada diri murid-murid sudah muncul suatu pandangan dan penilaian terhadap sesuatu. Namun selama ini yang Bapak rasakan, belum ada kritikan yang dilontarkan murid-murid saya, mungkin hanya sebatas gunjingan di luar kelas bersama teman-temannya mengenai ketidakpuasan terhadap suatu hal berkaitan dengan pendidikan. Karena tidak ada kritikan yang secara resmi diajukan oleh murid- murid, maka Bapak tidak dapat memberikan contoh kritikan tersebut dik..
:       Terima kasih, Bapak telah meluangkan waktu untuk wawancara ini, semoga bermanfaat bagi kita semua ya Pak?
:       Sama-sama dik, dan silahkan nanti berkunjung ke sekolah kami lagi, jika ada keperluan-keperluan lagi terkait dengan tugas perkuliahan. Semoga berhasil dan sukses selalu..
        : Amiin. Ya Robbal Alamiin....


Lampiran 5

SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN INDIVIDUAL


Lampiran 6

SURAT KETERANGAN TELAH MENGADAKAN PENELITIAN
REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA    


        [1]    Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya , 2005), 259.
        [2]    Ibid., 261.
        [3]    Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1995), 237.
        [4]    Syaiful Bahri Djamarah dan  Aswan Zain , Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), 207.

      [5]    Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan..., 259-260.
        [6]    Ibid., 261-262.       
        [7]    Ibid., 263-264.
        [8]    Ibid., 264-265.
        [9]    Ibid., 265-266.
        [10]   Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Ponorogo : STAIN Po PRESS, 2007), 97.

        [11]   Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu…, 98.
      [12]  Ibid., 99.
      [13] Ibid., 99-100.
        [14]   Ibid., 103.
        [15] Ibid., 101.
        [16] Ibid., 102.
        [17]   Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, t.t.), 167.
        [18]   Ibid., 169.
[19]   Ibid., 173.
      [20] Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia juga mempunyai resistensi (daya tahan) terhadap ketertutupan ranah cipta yang premature (terlampau dini) dalam pengamatan dan pengenalan. Lihat dalam  Muhibbin Syah, Psikologi ..., 226. dan Hal lain yang juga menjadi faktor yang turut menentukan keberhasilan tugas seorang guru adalah keterbukaan psikologis guru itu sendiri. Guru yang terbuka secara psikologis biasanya ditandai dengan kesediaannya yang relatif tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern antara lain siswa, teman sejawat, dan lingkungan pendidikan tempat ia bekerja. Keterbukaan psikologis sangat penting bagi guru mengingat posisinya sebagai anutan siswa, dan perlu dimiliki guru untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain, dan untuk menciptakan suasana hubungan antar pribadi guru dan siswa yang harmonis, sehingga mendorong siswa untuk mengembangkan dirinya secara bebas dan tanpa ganjalan. Ibid., 228-229.
[21]   Sanapiah Faisal, Sosiologi..., 173.
[22]   Ibid.,183-184.
[23] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996), 501.
        [24]   Ibid., 501-502.
[25] Dari menyalin dokumen I (satu) KTSP SMAN 1 Babadan Ponorogo
[26] Dari menyalin dokumen I (satu) KTSP SMAN 1 Babadan Ponorogo

MATERI TERKAIT:

Judul: POLA HUBUNGAN ANTARA GURU DAN MURID DI SMA
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : masmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah POLA HUBUNGAN ANTARA GURU DAN MURID DI SMA. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/pola-hubungan-antara-guru-dan-murid-di.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger