CONTOH MODEL PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM


Contoh model penelitian pendidikan Islam antara lain :

  1. Model Penelitian Tentang Problema Guru
  2. Model Penelitian Tentang Lembaga Pendidikan Islam
  3. Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam

A.     Model Penelitian Tentang Problema Guru

Model penelitian ini telah dilakukan oleh Himpunan Pendidikan Nasional (National Education Association) di Amerika Serikat pada tahun 1968.
Prosedur pelaksanaannya dengan cara mengumpulkan data melalui survei pendapat umum guru (Opinion Survey For Teacher) di kalangan guru-guru sekolah negeri yang dijadikan sampel secara nasional. Kemudian data yang terkumpul itu dijadikan landasan analisis.
Dengan demikian, metode penelitian tersebut termasuk penelitian survei, yaitu penelitian yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tanpa didahului oleh kerangka teori, asumsi atau hipotesis dan objek yang diteliti adalah problema yang dihadapi guru.
Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah dijumpainya lima aspek pokok yang menyangkut kondisi dan kompensasi tugas mengajar guru, yang dipandang sebagai problema major ± 25 % dari responden dan ± 40 % responden menganggapnya sebagai problema minor.
Adapun lima aspek pokok (top rangking aspect) tersebut berkenaan dengan :
1.  Sedikitnya waktu untuk istirahat dan untuk persiapan pada waktu dinas di sekolah.
2.  Ukuran kelas yang terlalu besar.
3.  Kurangnya bantuan administratif.
4.  Gaji yang kurang memadai.
5.  Kurangnya bantuan kesejahteraan.

B.    Model Penelitian Tentang Lembaga Pendidikan Islam

Salah satu penelitian yang berkenaan dengan lembaga pendidikan Islam Adalah penelitian yang dilakukan oleh Karel A. Steenbrink dalam bukunya berjudul “Pesantren, Madrasah Dan Sekolah Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern” yang diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta, tahun 1986.
Metode penelitiannya adalah pengamatan (observasi), sedangkan objek pengamatannya adalah sejumlah pesantren yang berada di Jawa dan Sumatera.
Melalui analisis historis yang dipadu dengan pendekatan komparatif, Karel A. Steenbrink menyimpulkan bahwa pesantren di Indonesia melalui beberapa pembahasan tetap berusaha memberikan pendidikan Islam yang juga memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan zamannya.
Steenbrink juga mengatakan, sejak permulaan tahun 1970-an, beberapa organisasi Islam mengalami de-politisasi yaitu melepaskan diri dari politik praktis dan politik partai serta lebih mementingkan cita-cita asli sebagai organisasi dakwah dan pendidikan.
Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa sungguhpun penelitian tersebut bersifat deskriptif, namun si peneliti memiliki alat analisis dari berbagai teori di bidang sejarah. Sehingga data-data yang ia dapat dari hasil penelitiannya memiliki makna dan dapat menjelaskan berbagai keadaan di dunia pesantren.

C.    Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam

Penelitian tentang kultur pendidikan Islam khusus di pesantren antara lain dilakukan oleh Mastuhu dan Zamakhsyari Dhofier.
Adapun model penelitian masing-masing adalah sebagai berikut :

1.    Model penelitian Mastuhu

Penelitian yang dilakukan Mastuhu yang bertemakan kultur pendidikan Islam ditulis dalam bukunya yang berjudul “Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren” yang diterbitkan oleh Indonesian Netherlands Cooperation In Islamic Studies (INIS), tahun 1994.
Penelitian tersebut dituangkan dalam lima bab, yaitu Bab Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Kerangka Dan Metode, Hasil Dan Pembahasan Dan Kesimpulan Dan Saran.
Pada bab pendahuluan, peneliti mengemukakan latar belakang pemikiran yang berpijak pada tema di sekitar hubungan antara pendidikan nasional dan pembangunan nasional.
Kemudian peneliti mengemukakan rumusan masalah tentang :
a.  Apa unsur-unsur yang terdapat dalam sistem pendidikan pesantren, mana yang perlu dikembangkan lebih lanjut, mana yang tidak perlu dipertahankan, mana yang perlu diubah dan disempurnakan atau diperbaiki lebih dahulu sebelum dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional ?
b. Apa nilai-nilai luhur yang dikandung dalam unsur-unsur tersebut, mana yang perlu dikembangkan, yang tidak perlu dipertahankan, yang perlu diperbaiki lebih dulu sebelum dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional ?
c. Bagaimana perspektif dan dinamika sistem pendidikan pesantren di dalam menghadapi tantangan zamannya, yaitu kebutuhan pembangunan nasional lengkap dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang dibutuhkannya, apa kemungkinan bentuk-bentuk pendidikan pesantren yang akan terjadi di masa depan sehubungan dengan tantangan zaman tersebut ?

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :

a.  Mencari butir-butir sistem pendidikan pesantren yang perlu dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional yang disebut butir-butir positif.
b. Mencari butir-butir sistem pendidikan pesantren yang tidak perlu dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional dan perspektif pesantren di masa depan, karena sudah tidak sesuai lagi dengan tantangan zaman yang disebut butir-butir negatif.
c. Mencari butir-butir sistem pendidikan pesantren yang perlu diperbaiki sebelum dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional dan sistem pendidikan pesantren dalam menyongsong masa depannya, yang disebut butir-butir plus-minus.
d. Mengantisipasi berbagai kemungkinan bentuk-bentuk pendidikan pesantren yang akan terjadi sehubungan dengan tantangan zaman.
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah pengertian tentang berbagai peristilahan yang digunakan dalam penelitiannya, peneliti mencantumkan definisi operational tentang sistem pendidikan pesantren serta dinamika sistem pendidikan pesantren pada bab pendahuluan.
Kemudian metode penelitian ini menggunakan pendekatan Ground Research yang mendasarkan analisisnya pada data dan fakta yang ditemui di lapangan.
Objek penelitiannya yaitu enam pesantren dan pada bab penelitian dikemukakan tinjauan pustaka yang berisi uraian tentang manusia dan kehidupan, sistem pendidikan yang meliputi aliran-aliran pendidikan dan unsur-unsur sistem pendidikan, sistem pendidikan pesantren yang meliputi aliran-aliran pendidikan pesantren.
Pada bab ketiga peneliti mengemukakan kerangka dan metode serta menggunakan berbagai pendekatan antara lain pendekatan sosiologis, antropologis dan fenomenologis interaksi simbolis.
Pada bagian berikutnya dikemukakan langkah-langkah yang digunakan dalam Ground Research yaitu :

a.  Manakah kelompok-kelompok atau individu-individu penting harus diperbandingkan ?, langkah  ini menghasilkan deskripsi.
b. Apa persamaan dan perbedaan dari kelompok-kelompok tersebut ? , langkah ini menghasilkan kategori-kategori.
c.  Apakah ciri-ciri penting dari setiap kategori ?, langkah ini menghasilkan sifat-sifat.
d. Bagaimana kategori-kategori utama berhubungan satu dengan yang lain ?, langkah ini menghasilkan hipotesis-hipotesis.
e. Bagaimana hipotesis-hipotesis berhubungan dengan yang lain ?, langkah ini menghasilkan teori akhir yang diperoleh.
Pada bagian akhir bab tiga, dikemukakan tentang ruang lingkup penelitian yang meliputi tujuan, filsafat dan tata nilai, struktur organisasi, lingkungan kehidupan pesantren, kiai dan ustadz, santri, pengurus, interaksi pelaku, kurikulum dan sumber belajar, proses kegiatan belajar mengajar dan evaluasi, pengelolaan dana, sarana dan alat-alat pendidikan.
Selanjutnya pada bab empat, dikemukakan tentang hasil dan pembahasan dan akhirnya peneliti menyimpulkan pada bab lima. Inti dari kesimpulan tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan yang ada pada bab pendahuluan.
Selain dilengkapi dengan daftar pustaka, penelitian tersebut juga dilengkapi berbagai tabel yang relevansi dengan tema penelitian dan akhirnya penelitian yang dilakukan Mastuhu tersebut termasuk penelitian Ground Research yang amat baik, sehingga model penelitiannya dapat dijadikan model penelitian yang mungkin akan kita lakukan.

2.   Model penelitian Zamakhsyari Dhofier

Model penelitian Zamakhsyari Dhofier masih di sekitar  “Dunia Pesantren”. Dan ditulis dalam buku yang berjudul “Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai”, yang diterbitkan LP3ES tahun 1982.
Pada bagian pendahuluan dikemukakan bahwa buku ini ditulis berdasarkan studi lapangan.
Pada bagian lain, peneliti mengatakan bahwa pada umumnya studi tentang Islam di Jawa selama ini hanya menitik beratkan analisisnya pada segi pendekatan intelektual dan pendekatan teologi hingga seringkali memberi kesimpulan yang meleset.
Selanjutnya peneliti berusaha menyumbangkan pendekatan sosiologis dalam memahami Islam di Jawa secara tepat. Pendekatan ini akan mengurangi kecenderungan menarik kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa.
Pada bagian pendahuluan peneliti mengemukakan bahwa buku tersebut bersifat deskriptif analitis. Analisis tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa data etnografis yang lebih banyak dan analisis yang lebih imajinatif masih sangat diperlukan untuk memahami masyarakat dan kebudayaan manusia.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan tentang metode pembahasan yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu metode deskriptif dan analisis terbatas.
Dengan metode ini dapat dihasilkan deskripsi atau uraian secara utuh dan menyeluruh tentang objek penelitian yang ditetapkan dengan didukung oleh data-data dari lapangan. Sedangkan dengan analisis dapat dilakukan upaya identifikasi, kategorisasi untuk selanjutnya dihasilkan kesimpulan yang dapat mengambil bentuk teori atau hipotesis.
Akhirnya, penelitian ini menghasilkan deskripsi tentang tradisi pesantren yang dituangkan dalam bab-bab. Misalnya, bab I membahas sifat-sifat umum sistem dan struktur pendidikan Islam tradisional di Jawa, yaitu pengajian di rumah-rumah kyai, di langgar, masjid dan pesantren-pesantren, bab II membahas elemen-elemen pesantren yang pokok yaitu pondok, masjid, kitab-kitab Islam klasik, para kyai dan para santri, bab III membahas luasnya jaringan-jaringan aliansi perkawinan yang endogamous dan tradisi transmisi intelektual dari pengetahuan Islam antara sesama kyai, bab IV membahas dan meneliti pesantren sebagai suatu studi kasus tentang sebuah pesantren besar abad 20, bab V membahas bentuk thariqat yang diamalkan kyai sebagai arena mengembangkan ajaran Islam dan memberikan kepemimpinan keagamaan bagi orang tua, bab VI membahas paham Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan bab VII merupakan kesimpulan dari studi tentang pesantren tersebut .
Berdasarkan uraian di atas, model penelitian Zamakhsyari Dhofier tergolong penelitian lapangan dengan metode survei, pengamatan, wawancara dan studi dokumentasi. Pembahasannya bersifat deskriptif dan analisisnya menggunakan pendekatan sosiologis.

Sumber bacaan : Metodologi Studi Islam 

http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/02/contoh-model-penelitian-pendidikan-islam.html





Previous
Next Post »