SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI (Mata Kuliah Fiqih Keluarga)

A.     Pengertian Hak Dan Kewajiban Suami Istri

Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah memenuhi syarat rukunnya, maka akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, akan menimbulkan pula hak dan kewajibannya selaku suami istri dalam keluarga.[1]
Yang dimaksud dengan hak di sini adalah apa-apa yang diterima oleh seseorang dari orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah apa yang mesti dilakukan seseorang terhadap orang lain.
Di dalam hubungan suami istri dalam sebuah rumah tangga, suami mempunyai hak dan begitu pula istri mempunyai hak. Sebaliknya suami mempunyai beberapa kewajiban dan begitu pula sikap istri juga mempunyai beberapa kewajiban.[2]

B.    Dalil Tentang hak dan kewajiban suami istri

Adanya hak dan kewajiban antara suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga itu dapat dilihat dalam  Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 228, artinya : “...Bagi istri itu ada hak-hak berimbang dengan kewajiban-kewajibannya secara makruf dan bagi suami setingkat lebih dari istri ...” (Q.S  Al Baqarah :228). Dan dalam hadis nabi, dari Amru bin al Ahwash, artinya : “Ketahuilah bahwa kamu mempunyai hak yang harus dipikul oleh istrimu dan istrimu juga mempunyai hak yang harus kamu pikul”.
Hak suami merupakan kewajiban bagi istri, sebaliknya kewajiban suami merupakan hak bagi istri.
Dalam kaitan ini ada beberapa hal :
1.  Kewajiban suami terhadap istri.
2.  Kewajiban istri terhadap suami.
3.  Hak bersama suami istri.
4.  Kewajiban bersama suami istri.[3]

C.    Hak Bersama Suami Istri

Yang dimaksud dengan hak bersama suami istri ini adalah hak bersama secara timbal balik dari pasangan suami istri terhadap yang lain. Adapun hak bersama itu adalah sebagai berikut :
1.  Suami istri dihalalkan saling bergaul mengadakan hubungan seksual.
2.  Haram melakukan perkawinan yaitu istri haram dinikahi oleh ayah suaminya, datuknya, anaknya dan cucunya. Begitu juga ibu istrinya, anak perempuannya dan seluruh cucunya haram dinikahi oleh suaminya.
3.  Hak saling mendapat warisan.
4.  Anak mempunyai nasab (keturunan) yang jelas bagi suami.
5.  Kedua belah pihak wajib bergaul (berperilaku) yang baik, sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamaian hidup.[4]
Hal ini berdasar firman Allah SWT dalam surat An Nisa ayat 19, artinya : “...Dan pergaulilah mereka (istri) dengan baik ...”.(Q.S An Nisa :19)

D.    Kewajiban Bersama Suami Istri

Adapun kewajiban bersama suami istri diantaranya :
1.  Memelihara dan mendidik anak keturunan yang lahir dari perkawinan tersebut.
2.  Memelihara kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.[5]

E.     Hak Dan Kewajiban Suami Terhadap Istri

1.  Hak suami atas istri

a.  Ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat.
b.  Istri menjaga dirinya sendiri dan harta suami.
c.   Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami.
d.  Tidak bermuka masam di hadapan suami.
e.  Tidak menunjukkan keadaan yang tidak disenangi suami.[6]
Dalam  Al Qur'an surat an Nisa ayat 34 dijelaskan bahwa istri harus bisa menjaga dirinya, baik ketika berada di depan suami maupun di belakangnya, dan ini merupakan salah satu ciri istri shalihah. Artinya : “Perempuan-perempuan yang shalihah adalah perempuan yang taat kepada Allah (dan patuh kepada suami), memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka ...” (Q.S An Nisa :34)

2.  Kewajiban suami terhadap istri

Adapun kewajiban suami terhadap istrinya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a.      Kewajiban yang bersifat materi
1).    Mahar.
2).    Nafaqah.[7]
b.     Kewajiban yang tidak bersifat materi
Kewajiban suami merupakan hakk bagi istrinya yang tidak bersifat materi adalah sebagai berikut :
1).       Menggauli istrinya secara baik dan patut.
2). Menjaganya dari segala sesuatu yang mungkin melibatkannya pada suatu perbuatan dan maksiat atau ditimpa oleh suatu kesulitan dan marabahaya.
3). Suami wajib mewujudkan kehidupan perkawinan yang diharapkan Allah untuk terwujud yaitu mawaddah, rahmah, sakinah.[8]
4).       Membimbing istri sebaik-baiknya.
5). Berusaha memperkuat, mempertinggi keimanan, ibadah dan kecerdasan istri.
6).       Tidak memaksa bekerja keras untuk urusan rumah tangga.
7).       Selalu bersikap jujur kepada istri.
8). Melindunginya dan memberikan semua keperluan hidup rumah tangga sesuai kemampuannya.[9]

F.     Nafaqah

Kata nafaqah yang berasal dari kata انفق  dalam bahasa Arab secara etimologi mengandung arti نقص،قل yang berarti kurang, juga berarti فنى، ذهب yang berarti hilang atau pergi. Dengan demikian, nafaqah istri berarti pemberian yang wajib dilakukan oleh suami terhadap istrinya dalam masa perkawinannya.[10]
Nafaqah merupakan hak istri dan anak dalam hal makanan, pakaian dan kediaman, serta beberapa kebutuhan pokok lainnya dan pengobatan, bahkan sekalipun istrinya adalah seorang wanita yang kaya.
Nafaqah dalam bentuk ini wajib hukumnya berdasarkan  Al Qur'an, as sunnah, dan ijma ulama.[11]
Ada tiga sebab yang mewajibkan nafaqah yaitu :
1.  Karena ikatan perkawinan.
2.  Hubungan kerabat.
3.  Sebagai hak milik.[12]
Mengenai besarnya nafaqah, imam Syafii berpendapat bahwa besarnya nafaqah itu ditentukan atas kemampuan suami, yaitu bagi orang kaya dua mud, orang yang sedang satu setengah mud dan orang yang miskin satu mud.[13]
Imam Malik berpendapat bahwa besarnya nafaqah itu tidak ditentukan berdasarkan syari’at, tetapi berdasarkan keadaan masing-masing suami istri dan ini berbeda-beda sesuai dengan waktu, keadaan dan tempat. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah.[14]

G. HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI BERDASARKAN UU PERKAWINAN DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)

Hak dan kewajiban suami istri diatur secara tuntas dalam Bab VI UU Perkawinan N0. 1 Tahun 1974 yaitu :
BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI
Pasal 30

Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
Pasal 31
(1).      Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak kedudukan suami dalam rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
(2).      Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
(3).      Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.
Pasal 32
(1).     Suami harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
(2).     Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini ditentukan oleh suami istri bersama.
Pasal 33
(1).     Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu pada yang lain.
Pasal 34
(1).     Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(2).     Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.
(3).     Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.[15]

            Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam, hak dan kewajiban  suami istri dapat diperinci sebagai berikut  :
BAB XII
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI
Pasal 77

(1).     Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
(2).     Suami istri wajib saling cinta dan mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir dan batin yang satu kepada yang lain.
(3).     Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani, maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.
(4).     Suami istri wajib memelihara kehormatannya.
(5).     Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan agama.
Pasal 78
(1).     Suami harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
(2).     Rumah kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh suami istri bersama.
KEWAJIBAN SUAMI
Pasal 80
(1).     Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama
(2).     Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya
(3).     Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama dan bangsa.
(4).     Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung : a. Nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri; b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak ; c. Biaya pendidikan bagi anak.
(5).     Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya.
(6).     Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b.
(7).     Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (2), gugur apabila istri nusyuz.
KEWAJIBAN ISTRI
Pasal 83
(1).     Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam.
(2).     Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Pasal 84
(1).     Istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat (1) kecuali dengan alasan yang sah
(2).     Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya.
(3).     Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) di atas berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz.
(4).     Ketentuan tentang ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus didasarkan atas bukti yang sah.[16]





DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Slamet Dkk. Fiqh Munakahat I. Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Daly, Peunoh. Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Pt. Bulan Bintang, 2005.
Ghazaly, Abd. Rahman. Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana, 2006.
Idoi, Abdul Rahman. Perkawinan Dalam Syariat Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996.
Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Fokusmedia, 2007.
Sabiq, Sayid. Fiqh Sunah. Terj. Moh. Tholib. Bandung: Al Ma’arif, 1996.
Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2006.
UU Perkawinan Di Indonesia. Surabaya : Arkola, tt.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/hak-dan-kewajiban-suami-istri-mata.html




[1] Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2006), 155.
[2] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2006), 159.
[3] Ibid., 60.
[4] Sayid Sabiq, Fiqh Sunah, Terj. Moh. Tholib (Bandung: Al Ma’arif, 1996), 52.
[5] Ghazaly, Fiqh ..., 158.
[6] Ibid., 160.
[7] Sabiq, Fiqh ..., 52.
[8] Syarifuddin, Hukum ..., 161.
[9] Slamet Abidin, Dkk, Fiqh Munakahat I (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 171.
[10] Syarifuddin, Hukum ..., 165.
[11] Abdul Rahman Idoi, Perkawinan Dalam Syariat Islam (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), 129.
[12] Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam (Jakarta: Pt. Bulan Bintang, 2005), 98.
[13]  1 mud = 1 kati atau 800 gram.
[14] Abidin, Dkk, Fiqh ..., 169.
[15] UU Perkawinan Di Indonesia (Surabaya : Arkola, tt), 10.
[16] Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Fokusmedia, 2007), 28-31.

MATERI TERKAIT:

Judul: HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI (Mata Kuliah Fiqih Keluarga)
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI (Mata Kuliah Fiqih Keluarga). Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/07/hak-dan-kewajiban-suami-istri-mata.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger