SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

HADIS PENDIDIKAN : KEWAJIBAN MENDIDIK KELUARGA DAN ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan berkeluarga, seorang kepala keluarga mempunyai  tugas yang amat berat, sebab dialah yang harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap seluruh anggota keluarganya baik terhadap istrinya, anak-anaknya maupun terhadap pembantu rumah tangganya.[1]
Pendek kata, seorang kepala keluarga haruslah bertanggung jawab terhadap seluruh kebutuhan keluarga mulai dari kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain disamping juga bertanggung jawab terhadap kehidupan orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak yatim.
Jika hal ini disadari oleh kepala keluarga, maka yang namanya kebodohan, keterbelakangan serta kemiskinan tidak akan ada, insya Allah. Namun kenyataan sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak kasus-kasus yang menimpa sebuah keluarga, sebagai contoh masalah narkoba, terdapat kekerasan di dalam keluarga, penganiayaan, buta huruf, gizi buruk, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan lain-lain. Hal itu disebabkan karena kurangnya tanggung jawab dari kepala keluarga dalam mengurus kehidupan rumah tangganya.
Untuk mengatasi hal tersebut tentunya jalan keluar yang terbaik adalah dengan mengikuti apa-apa yang telah diajarkan oleh Nabi kita Rasulullah SAW dalam membina kehidupan rumah tangga.[2]
Berlatar belakang masalah tersebut, maka kami akan membahas dalam makalah ini mengenai kewajiban mendidik keluarga dan anak dengan mengambil sumber dari hadis Rasulullah dalam kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi, yaitu hadis no 2 dan 3 halaman 158. Dan penulisan makalah ini kami beri judul “Kewajiban Mendidik Keluarga Dan Anak”.

B.    Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.  Bagaimana bunyi/ teks hadis, mufradat, terjemah dan apa isi kandungan hadis tersebut pada hadis nomor 2 dan 3 ?
2.  Hikmah apa yang dapat dipetik dari isi kandungan hadis tersebut pada hadis nomor 2 dan 3 ?

C.    Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui :
1.  Bunyi/ teks hadis, mufradat, terjemah dan apa isi kandungan hadis tersebut pada hadis nomor 2 dan 3.
2.  Hikmah yang dapat dipetik dari isi kandungan hadis tersebut pada hadis nomor 2 dan 3.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Hadis Dalam Kitab Riyadhus Shalihin Nomor 2

1.  Teks hadis

٢

. وعن ابى حفص عمر بن ابى سلمة عبد الله بن عبد الاسدربيب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال : كنت غلاما فى حجر رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وكانت يدى تطيش فى الصّحفة، فقال لى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يا غلام سمّ الله (تعالى) وكل بيمينك وكل ممّا يليك فما زالت تلك طعمتى بعد (متّفق عليه)[3]


وطيش : تدور فى تواحى الصّحفة.
2.  Arti kosa kata  (Syarh Al Mufradat)

غلامٌ
:
Anak kecil
سمّ الله
:
Sebutlah nama Allah
حجر
:
Pangkuan
كل
:
Makanlah
تطيش
:
Memutar-mutar
بيمينك
:
Dengan tangan kananmu
صحفة
:
Piring
فما زالت
:
Tidak henti-hentinya
طعمتى
:
Cara makanku
بعد
:
Setelah itu


3.  Terjemah Hadis

Dari Abu Hafs Umar Ibn Abi Salamah Abdullah Ibn Abd Al Asad anak tiri Rasulullah SAW, ia berkata : “ Ketika saya masih kecil, saya berada dalam asuhan Rasulullah SAW dan saya sering berganti tangan untuk mengambil makanan di piring, kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada saya : “Hai anak, sebutlah nama Allah ta’ala dan makanlah dengan tangan kananmu (dan makanlah dari makanan yang terdekat),” seperti itulah cara makan saya setelah itu”.[4] (HR. Bukhari Dan Muslim)

4.  Kandungan Hadis

Umar Bin Abi Salamah adalah putra tiri Rasulullah SAW sebab sepeninggal ayahnya__Abi Salabah___ibunya yaitu Umi Salamah dikawini Rasulullah SAW. pada masa kecilnya, umar bertempat tinggal di rumah Rasulullah SAW bersama ibunya. Ia bercerita bahwa di kala masih kecil di masa kanak-kanaknya, kalau ia hendak makan maka tangannya berputar-putar pada piring tanpa ada maksud apa-apa, apa yang ia lakukan itu hanya karena kebiasaan saja.
Kemudian Rasulullah SAW memberikan bimbingan, bahwa setiap hendak makan harus dimulai dengan membaca basmalah, makan harus dengan tangan kanan dan makan makanan yang ada di dekatnya, jangan sampai meraih-raih makanan yang ada di tempat yang jauh sehingga tampak kerakusannya, terutama kalau sedang bersama dengan orang lain.[5]

Berdasarkan isi kandungan hadis tersebut dapat diambil suatu pelajaran yaitu :
1. Kewajiban mendidik dan membimbing serta mengarahkan anak-anak kepada akhlakul karimah.
2.  Mendidik anak untuk tidak rakus.[6]
3.  Mendidik melalui kebiasaan.[7]
Sehubungan dengan pendidikan melalui kebiasaan, ini juga banyak terdapat dalam  Al Qur'an dan hadis.[8]

B.    Hadis Dalam Kitab Riyadhus Shalihin Nomor 3

1.            Teks hadis

٣. وعن ابن عمر رضى الله عنهما قال : سممعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول كلّكم راعٍ و كلّكم مسؤلٌ عن رعيته الامام راع و مسؤلٌ عن رعيته و الرّجل راع فى اهله و مسؤلٌ عن رعيته والمراة راعية فى بيت زوجها و مسؤلةٌ عن رعيتها والخادم راع فى مال سيّده و مسؤلٌ عن رعيته و كلّكم راعٍ و مسؤلٌ عن رعيته (متّفقٌ عليه)[9]

2.            Arti kosa kata

سمع
:
Mendengar
اهله
:
Keluarganya

راع
:
Pemimpin
الخادم
:
Pembantu  
مسؤلٌ
:
Ditanyai (diminta pertangungjawaban)
سيّد
:
Tuan



كلّكم
:
Kamu semuanya


3.            Terjemahan hadis

“ Dari ibn umar r.a ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata : “ Kalian adalah pemimpin dan yang dimintai pertanggungjawaban  tentang kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap (istri dan anaknya/ keluarganya) dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.[10]

4.            Kandungan hadis

Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban tentang beban yang dipikul di atas pundaknya. Tanggungjawab itu besar kecilnya, sempit luasnya adalah tergantun atas besar kecilnya dan sempit luasnya peran, status dan martabat seseorang. Semakin tinggi kedudukan seseorang akan semakin besar pula tanggungjawabnya.[11]
Dengan demikian maka setiap orang tentu punya tanggung jawab, siapapun orangnya mulai dari pembantu rumah tanga, istri, suami sampai kepala negara, mereka semuanya kelak di akhirat akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan akhirat tentang beban yang terpikul di atas pundak masing-masing dari mereka, sehingga pada dasarnya tidak ada manusia tanpa beban.

Berdasarkan isi kandungan hadis tersebut dapat diambil suatu pelajaran yaitu :
1.   Pengarahan Islam kepada pemeluknya untuk menjadi manusia yang berpribadi mulia (konsekuen) dengan membiasakan diri memikul tanggungjawab yang menjadi bebannya.
2.  Yang menjadi perhatian Islam bukan pada besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul seseorang, tetapi pada tingginya rasa tanggungjawab itu sendiri, yang harus dimiliki oleh setiap muslim, apapun bebal yang dipikulnya itu.[12]

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Dari pembahasan hadis nomor 2 dan 3 dalam kitab Riyadhus Shalihin halaman 158 mengenai kewajiban mendidik keluarga dan  anak, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.  Teks hadis nomor 2 dan 3 halaman 158 dalam kitab Riyadhus Shalihin, mufradat, terjemah sebagaimana tercantum dalam pembahasan. Sedangkan isi kandungannya al pada hadis nomor 2 berisi tentang bimbinan Rasulullah SAW mengenai tata cara makan yaitu harus memulai dengan mambaca basmalah, makan dengan tangan kanan dan makan makanan yang di dekatnya. Adapun pada hadis nomor 3 berisi tentang tanggungjawab tiap-tiap orang terhadap urusannya yang kelak akan dipertanggunjawabkan di pengadilan akhirat.

2.  Hikmah dari isi kandungan hadis nomor 2 dan nomor 3 adalah :

a. Kewajiban mendidik dan membimbing serta mengarahkan anak-anak kepada akhlakul karimah.
b.  Mendidik anak untuk tidak rakus.
c.   Mendidik melalui kebiasaan.

Hikmah dari isi kandungan hadis nomor 3 adalah :

a.  Pengarahan Islam kepada pemeluknya untuk menjadi manusia yang berpribadi mulia (konsekuen) dengan membiasakan diri memikul tanggungjawab yang menjadi bebannya.
b.  Yang menjadi perhatian Islam bukannya pada besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul seseorang, tetapi pada tingginya rasa tanggunjawab itu sendiri, yang harus dimiliki oleh setiap muslim apapun beban yang dipikulnya itu.
B.    Saran
     Hendaknya kewajiban mendidik keluarga dan anak diutamakan untuk memelihara dan menyelamatkan mereka dari siksa api neraka dan hendaklah tangungjawab yang dibebankan pada kita menjadi kebiasaan untuk memikulnya tanpa rasa mengeluh dan merasa berat.

DAFTAR PUSTAKA

Hasyim, Husaini Al Majid. Syarah Riyadhus Shalihin, Alih Bahasa Mu’ammal Hamidy Dan Imron A. Manan. Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006.
Nawawi, H. Hadari. Pendidikan Dalam Islam cet. 1. Surabaya : Al Ikhlas, 1993.
Nawawi, Imam. Riyadhus Shalihin, Jilid 1. Beirut : Dar Al Fikr, tt.
Sunarto, Ahmad. Terjemah Riyadhus Shalihin, Jilid Satu, Cet. IV. Jakarta: Pustaka Amani, 1999.
TM. Sanihiyah. Pesan-Pesan Rasulullah. Bandung: Citra Umbara, 1997.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/05/hadis-pendidikan-kewajiban-mendidik.html



[1] Lihat Q.S Al Tahrim ayat 6, artinya : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ...”, lihat juga Q.S Thaha ayat 132, artinya : “Dan perintahlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya ...”
            Dan oleh karena beratnya tanggung jawab yang dipikulnya itu, maka Allah menjanjikan akan memberikan pahala yang besar terhadap setiap yang ia lakukan untuk keluarganya sampai-sampai memberikan nafkah yang memang merupakan kewajibanpun memperoleh pahala yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang mungkin ia keluarkan untuk kepentingan mempertahankan agama Allah dan untuk memerdekakan budak.
            Kendati demikian, tidak berarti lantas seluruh harta benda yang kita miliki kita gunakan seluruhnya untuk kepentingan keluarga kita, sebab Allah memerintahkan kepada kita untuk menafkahkan rizki yang dianugerahkan oleh Allah bagi kepentingan orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain. Lihat dalam TM. Sanihiyah, Pesan-Pesan Rasulullah (Bandung: Citra Umbara, 1997), 153-154.
[2] Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Q.S. Al-Ahzab [33] :21)”.
[3] Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Jilid 1 (Beirut : Dar Al Fikr, tt), 158.
[4] Ahmad Sunarto, Terjemah Riyadhus Shalihin, Jilid Satu, Cet. IV (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), 315.
[5] Husaini Al Majid Hasyim, Syarah Riyadhus Shalihin, Alih Bahasa Mu’ammal Hamidy Dan Imron A. Manan (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), 497-498.
[6] Ibid.
[7] Berbagai kebiasaan juga harus dibentuk pada anak (subjek) didik oleh para pendidiknya, terutama orang tua, seperti contoh sejak kecil anak harus dibiasakan mencuci kaki dan menyikat gigi sebelum tidur, mencuci tangan sebelum makan atau makan dengan sendok, menghormati orang tua, guru, orang-orang yang lebih tua di dalam dan di luar keluarga dalam berbicara, bertemu atau berpapasan dan lain-lain. Demikian banyak kebiasaan dalam kehidupan beragama yang perlu dibentuk agar menjadi tingkah laku yang dilakukan secara otomatis. Seperti kebiasaan mengucapkan  salam pada waktu masuk atau meninggalkan rumah bila ada orang lain. Demikian pula kebiasaan bangun pagi dan segera meninggalkan tempat tidur, berwudhu dan menunaikan shalat subuh, kebiasaan melafalkan “bismillah” setiap mulai pekerjaan, selanjutnya melafalkan “alhamdulillah” setelah menyelesaikan suatu pekerjaan atau setiap kali mendapat nikmat dari Allah SWT. Lihat dalam H. Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam cet. 1 (Surabaya : Al Ikhlas, 1993), 216.
[8] Lihat Q.S An Nur ayat 27, artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikianlah yang sebaiknya untukmu, semoga kamu mendapat pelajaran”.
            Lihat Q.S Al Muzammil ayat 8, artinya : “Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya setekun-tekunnya”.
            Lihat Q.S Al Alaq ayat satu, artinya : “Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan”.
            Baca hadis Rasulullah SAW, artinya : “Jika malam telah tiba atau telah sore hari, maka tahanlah anak-anakmu karena syetan sedang berkeliaran pada waktu itu. Maka jika telah lewat sedikit dari waktu malam itu maka bebaskanlah anak itu, tutuplah pintu-pintu dan bacalah bismillah, maka sesungguhnya syetan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Dan tutuplah tempat airmu serta bacalah bismillah dan tutuplah pula bejanamu serta bacalah bismillah walaupun engkau hanya menutupnya sedikit dan padamkanlah lampumu”.
            Baca juga hadis Rasulullah SAW , artinya : “Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan pada Allah adalah dikerjakan dengan tetap (teratur) walaupun dikerjakan sedikit”.
[9] Nawawi, Riyadhus ..., 158.
[10] Sunarto, Terjemah ..., 316.
[11] Tanggungjawab keluarga meliputi urusan duniawiyah dan dinniyah (agama). Orang tua wajib menyuruh anak-anaknya mengerjakan shalat ketika mereka menginjak usia 7 tahun. Demikian juga bagi orang yang menggantikan kedudukan ayah dan ibu mereka (wali).
Sedang ketika mereka telah mulai menginjak usia 10 tahun apabila tidak mau mengerjakan shalat maka harus diberi pelajaran dengan cara dipukul dan sama cara caranya dengan pukulan yang tidak membahayakan, juga tempat tidur mereka harus dipisah-pisahkan terutama antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Sebab tanpa mereka sadari, mereka akan saling melihat aurat yang lain, sehingga dikhawatirkan akan membangkitkan nafsu seksual mereka pada usia mulai baligh, yang boleh jadi bisa berakibat hal-hal yang sangat tidak diinginkan dan merugikan diri mereka dan masa depan mereka. Lihat dalam Husaini A. Majid  Hasyim, Syarah Riadhus Shalihin, alih bahasa Mu’ammal Hamidy dan Imron A. Manan (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), 500.
[12] Ibid., 499.





MATERI TERKAIT:

Judul: HADIS PENDIDIKAN : KEWAJIBAN MENDIDIK KELUARGA DAN ANAK
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah HADIS PENDIDIKAN : KEWAJIBAN MENDIDIK KELUARGA DAN ANAK. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/05/hadis-pendidikan-kewajiban-mendidik.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger