SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

ETIKA MENGAJAR


A.     Pengertian Pendidik

Dari segi bahasa, pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam mendidik. Kata-kata yang dipakai dalam pendidik antara lain guru, ustadz, mudarris, mu’allim dan muaddib.
Dengan demikian kata “pendidik” secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, ketrampilan, pendidikan, pengalaman dan sebagainya. Sedangkan dalam beberapa literatur kependidikan pada umumnya, istilah pendidik sering diwakili oleh istilah guru.
Istilah guru sebagaimana penjelasan Hadari Nawawi adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.[1]
Selanjutnya guru adalah spiritual father atau seorang bapak rohani bagi murid. Dialah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu pendidikan akhlak dan membenarkannya.[2]

B.    Keutamaan Mengajar

Banyak dalil yang menerangkan tentang keutamaan mengajar, baik dari  Al Qur'an maupun hadis. Diantaranya dalam Q.S Al Mujadilah ayat 11 yang artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Dalam hadis Nabi SAW juga disebutkan yang artinya : “Barangsiapa yang mempelajari satu bab ilmu untuk diajarkannya kembali kepada orang lain maka ia akan diberi pahala sebanyak 70 orang shiddiq”.[3]
Disamping itu juga, dalam hadis Nabi SAW yang menunjukkan tentang keutamaan mengajar seperti hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Anas yang artinya : “Orang yang menunjukkan jalan kebaikan adalah sama (dalam memperoleh pahala) seperti orang yang mengerjakannya.[4]
Dari dalil-dalil tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa mendidik merupakan amal perbuatan yang dapat mendatangkan magfirah Allah SWT serta merupakan perbuatan yang sangat mulia.
Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik. Allah SWT mengangkat derajat mereka dan memuliakannya.[5]

C.    Etika Mengajar

Dalam proses belajar mengajar, seorang guru merupakan  model atau suri tauladan bagi siswa dalam setiap perilakunya. Untuk itu ia harus mengerti bagaimana sebenarnya sikap dirinya sebagai pendidik. Maka diperlukan pula tata cara atau etika dalam mengajar.
Muhammad Athiyah Al Abrasyi menjelaskan tentang sifat yang harus dimiliki oleh guru (pendidik) dalam pendidikan Islam. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Zuhud, maksudnya tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridhaan Allah SWT semata.
2.      Kebersihan guru, maksudnya bersih dari sifat-sifat tercela.
3.      Ikhlas dalam pekerjaan.
4.      Pemaaf.
5.      Seorang guru merupakan seorang bapak sebelum ia seorang guru.
6.      Mengetahui tabiat murid.
7.      Menguasai mata pelajaran.[6]

Sementara itu Ibnu Khaldun berpendapat___sebagaimana dikutip Basuki dan Miftahul Ulum____bah seorang guru harus mengajar secara bertahap, mengulang-ulang sesuai dengan pokok bahasan dan kesanggupan murid , tidak memaksakan atau membunuh daya nalar siswa, tidak berpindah satu topik ke topik lain sebelum topik pertama dikuasai, tidak memandang kelupaan sebagai aib, tidak bersikap keras terhadap murid, memilih bidang kajian yang dikuasai murid, mendekatkan murid pada pencapaian tujuan, memperhatikan tingkat kesanggupan murid dan menolongnya agar murid tersebut mampu memahami pelajaran.[7]
Dalam kaitannya dengan etika seorang guru kepada muridnya, Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum Al Din menjelaskan sebagai berikut :

1. Menaruh rasa kasih sayang terhadap murid-muridnya, memperlakukannya sebagai anaknya sendiri.
2.  Mencari keridhaan Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya.
3.  Tidak meninggalkan nasehat.
4.  Mencegah murid-muridnya dari akhlak yang buruk.
5.  Tidak memberikan pelajaran di luar keahliannya.
6.  Memperhatikan tingkat akal pikiran menurut kadar pemahamannya.
7.  Menyampaikan dengan jelas dan pantas bagi murid-muridnya.
8.  Seorang guru harus mengamalkan ilmunya dan tidak mendustakannya.[8]

Lebih lanjut, Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab Al Alim Wal Muta’allim menjelaskan etika guru dalam mengajar antara lain : membersihkan dirinya maupun pakaiannya, mengambil posisi yang jelas dalam duduknya, memberikan pelajaran dengan bertahap mulai yang penting dan seterusnya dan berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, tidak mengeraskan suaranya yang berlebihan, menjaga diri dari membuat gaduh.[9]
Dari uraian di atas tentang etika seorang pengajar terlihat bahwa sosok guru yang ideal adalah guru yang memiliki motivasi mengajar yang tulus yaitu ikhlas dalam mengamalkan ilmunya, bertindak sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, bersifat terbuka dan demokratis untuk menerima dan menghargai pendapat siswanya, dapat bekerjasama untuk memecahkan masalah dan menjadi seorang yang uswatun hasanah/ suri tauladan bagi siswanya.[10]

DAFTAR PUSTAKA

Al Abrasyi, Muhammad Athiyah. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam, Terj. Abdullah Zakiy Al Kaafi. Bandung: Pustaka Setia, 2003.
Asy’ari, Hasyim. Adab Al Alim Wal Muta’allim. Jombang : Maktabah Turats Al Islami, tt.
Basuki Dan Ulum, Miftahul. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo : STAIN Po Press, 2007.
Ghazali, Imam. Ihya’ Ulum Al Din, Terj. Moh. Zuhri. Semarang : Asy Syifa’, tt.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/04/etika-mengajar.html



[1] Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Ponorogo : STAIN Po Press, 2007), 79.
[2] Muhammad Athiyah Al Abrasyi, Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam, Terj. Abdullah Zakiy Al Kaafi (Bandung: Pustaka Setia, 2003), 146.
[3] Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu ..., 94.
[4] Ibid., 95.
[5] Ibid., 97.
[6] Muhammad Athiyah Al Abrasyi, Prinsip-Prinsip Dasar ..., 146-149.
[7] Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu ..., 99.
[8] Imam Ghazali, Ihya’ Ulum Al Din, Terj. Moh. Zuhri (Semarang : Asy Syifa’, Tt), 170-181.
[9] Hasyim Asy’ari, Adab Al Alim Wal Muta’allim (Jombang : Maktabah Turats Al Islami, Tt), 71-80.
[10] Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu ..., 101.



MATERI TERKAIT:

Judul: ETIKA MENGAJAR
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah ETIKA MENGAJAR. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/04/etika-mengajar.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger