SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

CONTOH DARI PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : UPAYA GURU PAI


I.      JUDUL PENELITIAN
UPAYA GURU PAI UNTUK MENANGGULANGI DEKADENSI MORAL SISWA DALAM PERGAULAN SISWA DI SMA NEGERI 3 PONOROGO

II.     LATAR BELAKANG MASALAH
Moral berasal dari kata Latin Mores, yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat.[1] Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk suatu perbuatan,dan kelakuan. Akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan perbuatan benar dan salah.[2] Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.[3] Suatu komunitas moral bisa dipahami hanya sebagai umat yang berada di bawah perintah Illahi, yakni suatu umat Allah, dan komunitas ini sesungguhnya berada di bawah hukum-hukum kebajikan.[4] Ada suatu aspek umum yang terdapat pada semua perilaku yang biasa kita sebut perilaku moral. Semua perilaku semacam itu selalu sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ada. Bertindak secara moral berarti menaati suatu norma, yang menetapkan perilaku apa yang harus diambil pada suatu saat tertentu, bahkan sebelum kita dituntut untuk bertindak. Ruang lingkup moralitas adalah ruang lingkup kewajiban. Dan kewajiban adalah perilaku yang telah ditetapkan lebih dahulu.[5] Konsep-konsep moralitas banyak terdapat dalam kehidupan keagaamaan. Karena kita adalah umat banyak terdapat dalam kehidupan keagamaan. Karena kita adalah umat beragam, maka kita tidak bisa meninggalkan konsep-konsep, aturan-aturan, ataupun kaidah-kaidah agama dalam kehidupan kita masig-masing.[6]
Bagi remaja akhir yang agresif, moral dan etis dipakai sebagai dasar atau pokok dalam menilai tatanan yang tidak memuaskan berupa kritik atau kecaman karena bertentangan dengan norma dan etik yang ideal.[7] Ada + 20% dan siswa-siswi kelas XII IPA di SMA N 3 Ponorogo tahun 2008 yang telah berpacaran di luar batas kewajaran.[8] Suatu ironi yang aneh: bergenerasi-generasi yang lalu, kaum remaja harus berjuang dengan pembatasan-pembatasan moral yang berat yang dipaksakan oleh keluarga-keluarga mereka dan tentu juga dipaksakan oleh orang-orang yang datang dari luar rumah. Zaman sekarang banyak kaum remaja memiliki orang tua yang lebih berminat pada psikologi daripada penyelidikan moral dan masyarakat sekuler itu sangat relativistis dalam pandangan moralnya.[9] Cara-cara kekerasan dalam mendisiplinkan anak atau menunjukkan kekuasaan dan kekuatan orang tua hanya akan mengembangkan moralitas eksternal yang membuat anak sekedar takut pada hukuman orang tua.[10] Sehingga ketika telah berada di luar rumah yang jauh dari pengawasan orang tua, anak akan berbuat semaunya, seperti pacaran dengan teman lawan jenisnya, berkata-kata kotor, dan lain sebagainya, serta inilah realitas moral yang buruk.
Realitas di atas adalah masalah yang penting untuk diteliti, karena bagaimanapun juga kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung kepada generasi mudahnya. Apabila moral generasi mudanya buruk, tentu akan buruk pula yang akan terjadi di masa mendatang. Untuk itu penelitian ini mencoba mencari jawaban tentang usaha-usaha apakah yang dilakukan oleh guru PAI SMA N 3 Ponorogo dalam rangka meningkatan moralitas siswa-siswinya.
Dari hasil wawancara dengan guru PAI di SMA N 3 Ponorogo telah diperoleh informasi bahwa guru PAI mengajari dan memberi bimbingan perilaku bermoral kepada siswa selama pembelajaran di dalam kelas, memperlakukan siswanya secara adil selama pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas, sholat Dhuha bersama untuk yang mendapat jam pelajaran PAI pagi (jam pertama) dan sholah Dhuhur berjama’ah untuk yang mendapat jam pelajaran PAI terakhir di masjid Nurul Huda SMAN 3 Ponorogo.
Berangkat dari latar belakang masalah seperti yang diuraikan di atas, maka judul penelitian ini adalah “UPAYA GURU PAI UNTUK MENANGANI DEKADENSI MORAL SISWA DALAM PERGAULAN DI SMA NEGERI 3 PONOROGO”.
III.      FOKUS PENELITIAN
Fokus penelitian ini adalah upaya guru PAI untuk menanggulangi dekadensi moral siswa dalam pergaulan yang meliputi pengertian dekadensi moral siswa, faktor-faktor penyebab terjadinya dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo dan juga upaya-upaya yang dilakukan oleh guru PAI untuk menanggulangi dekadensi moral siswa dalam pergaulan.

IV.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.    Apakah pengertian dekadensi moral siswa?
2.    Apakah faktor-faktor penyebab terjadinya dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo?
3.  Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan guru PAI untuk menanggulangi dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo.

V.      TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan :
1.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pengertian dekadensi moral siswa
2.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo
3.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan guru PAI untuk menanggulangi dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo.

VI.     MANFAAT PENELITIAN
1.    Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini akan ditemukan pola guru PAI dalam menanggulangi dekadensi moral siswa dalam pergaulan di SMAN 3 Ponorogo.
2.    Manfaat Praktis
Dengan diketahuinya hal-hal yang telah dirumuskan dalam penelitian tersebut, maka diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi :
a. Pendidik, akan lebih memberikan banyak kesempatan untuk menyerahkan anak-anak didik mereka pada moralitas dalam pergaulan yang baik
b.   Peserta didik, akan lebih berhati-hati dalam memilih pergaulan serta menjunjung tinggi moral yang baik
c.    Lembaga pendidikan, dapat meningkatkan mutu dan kualitas moral peserta didik dalam pergaulan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

VII.   LANDASAN TEORI DAN TELAAH PUSTAKA
1.    Landasan Teori
Dekadensi terdiri dari dua kata, yaitu dekadensi dan moral. Dekadensi berasal dari bahasa Inggris descend[11] yang artinya penurunan, dan dalam bahasa Indonesia dekadensi[12] artinya kemunduran, kemerosotan kebudayaan, kesenian dan sebagainya. Sedangkan moral itu sendiri seperti yang telah disebutkan di latar belakang masalah, yaitu ajaran tentang baik dan buruk suatu perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya.[13] Jadi, dapat disimpulkan pengertian dekadensi moral sebagai suatu kemerosotan tata cara/kebiasaan dalam perbuatan, kelakukan, akhlak dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya dekadensi moral siswa. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa perkembangan anak pada masa ini sangat labil karena masa ini merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak untuk mulai memasuki dunia dewasa. Di mana setiap peralihan pasti menimbulkan gejolak.[14] Sebuah lingkungan dimana bermacam kejahatan terjadi. Akan menyebabkan si anak meniru perbuatan-perbuatan itu, walaupun kadang-kadang tidak disadarinya. Tidak jarang seorang remaja yang alim berubah menjadi berandalan karena pergaulannya dengan ramaja berandalan lainnya.[15] Dan tantangan moral yang cukup berat bagi guru khususnya guru PAI atas semua realita dekandesi moral siswa dewasa ini. Guru sebenarnya adalah tokoh ideal, pembawa norma dan nilai-nilai kehidupan masyarakat dan sekaligus pembawa cahaya terang bagi anak didik dalam kehidupan ilmu pengetahuan.[16]
Guru bukan hanya menerima amanat dari orang tua untuk mendidik, tapi juga dari setiap orang yang memerlukan bantuan untuk mendidiknya. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab atas amanat yang diserhkan kepadanya.
Allah SWT menjelaskan :

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. An-Nisa’ : 58).

Ada sekelompok masyarakat yang menganggap pekerjaan mendidik atau jabatan sebagai guru adalah yang rendah jika dibandingkan dengan pekerjaan lain. Ini disebabkan karena pandangan masyarakat bersifat materialistik yag mempertuhankan harta benda. Tapi kalau dilihat secara mendalam bahwa pekerjaan sebagai guru adalah suatu pekerjaan yang luhur dan mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat, negara dan dari sudut keagamaan.[17] Keutamaan dan tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri, naja sudah pasti agama Islam memuliakan seorang pendidik. Guru hendaklah berusaha menjalankan tugas kewajiban sebaik-baiknya sehingga dengan demikian masyarakat menginsafi sunguh-sungguh betapa berat dan mulianya pekerjaan guru. Tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Maka, untuk melakukan tugas sebagai guru, tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Sebagai guru yang baik harus memenuhi syarat-syarat yang di dalam undang-undang no. 12 tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia, pada pasal 15 dinyatakan tentang guru yang dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat untuk menjadi guru antara lain : berijazah, sehat jasmani dan rohani, takwa kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional.[18] Untuk menjadi seorang pendidik yang baik haruslah memiliki ijazah yang diperlukan. Itulah bukti bahwa yang bersangkutan telah mempunyai wewenang, telah dipercayai oleh negara dan masyarakat untuk menjalankan tugasnya sebagai guru. Kesehatan merupakan syarat utama bagi guru, sebagai orang yang setiap hari bekerja dan bergaul dengan dan diantara anak-anak. Selain tugasnya sebagai guru di sekolah, guru pun merupakan anggota masyarakat, yang mempunyai tugas-tugas dan kewajiban lain, sehingga tidak boleh pula dilupakan tanggung jawabnya. Untuk menanamkan jiwa nasional itu memerlukan orang-orang yang berjiwanasional sehingga guru harus berjiwa nasional merupakan syarat yang penting untuk mendidik anak-anak sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah digariskan oleh MPR.[19] Sikap dan sifat-sifat guru yang baik antara lain adil, percaya dan suka kepada murid-muridnya, sabar dan rela berkorban, memiliki perbawa (gezag) terhadap anak-anak, penggembira, bersikap baik terhadap guru lainnya, bersikap baik terhadap masyarakat, benar-benar menguasai mata pelajarannya, suka kepada mata pelajaran yang diberikannya dan berpengetahuan luas.[20]
Secara konseptual, guru yang diharapkan adala sosok guru yang ideal yang diterima oleh setiap pihak yang terkait. Dari sudut pandang siswa, guru ideal adalah guru yang memiliki penampilan sedemikian rupa sebagai sumber motivasi belajar yang menyenangkan. Pada umumnya siswa mengidamkan gurunya memiliki sifat-sifat yang ideal sebagai sumber keteladanan, bersikap ramah dan penuh kasih sayang, penyabar, menguasai materi ajar, mampu mengajar dengan suasana menyenangkan. Dari sudut pandang orang tua murid, guru yang diharapkan adalah guru yang dapat menjadi mitra pendidik bagi anak-anak yang dititipkan untuk dididik. Orang tua sangat mengharapkan agar guru itu menjadi orang tua di sekolah sehingga dapat melengkapi, menambah, memperbaiki pola-pola pendidikan dalam keluarga. Dari sudut padang pemerintah, menginginkan agar guru itu mampu berperan secara profesional sebagai unsur penunjang dalam kebijakan program pemerintah terutama di bidang pendidikan. Dari sudut pandang budaya, guru merupakan subyek yang berperan dalam pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam pelestarian nilai-nilai budaya. Sedangkan dari sudut pandang guru sendiri, mereka sangat mengharapkan ada pengakuan terhadap keberadaan dirinya sebagai pribadi insan pendidikan dan diberikan peluang untuk mewujudkan otonomi pedagogisnya secara profesional. Dalam mewujudkan otonomi pedagogisnya, guru mengharapkan agar memperoleh kesempatan untuk mewujudkan kinerja pribadi dan profesional melalui pemberdayaan diri secara kreatif.[21] Guru yang profesional tidak hanya mengethui, tetapi betul-betul melaksanakan apa-apa yang menjadi tugas dan pernananya.[22]
Bentuk keteladanan terhadap guru erat kaitannya dengan kompetensi guru baik sebagai pribadi dalam hal ini dikenal dengan kompetensi kepribadian maupun sebagai anggota masyarakat yang dikenal dengan kompetensi sosial serta kompetensi profesional yang lebih mengarah pada dunia profesi yang digelutinya. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial merupakan kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan profesinya dimasyarakat baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, kompetensi profesional menyiratkan adanya suatu keharusan yang memiliki kompetensi agar profesi itu berfungsi dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian guru dituntut untuk memahami lebih jauh mengenai kompetensi profesional di bidang pendidikan.[23]Kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki  guru antara lain sebagai berikut : menembangkan kepribadian yang meliputi : bertakwa kepada Allah SWT, berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang baik, dan  mengembangkan sifat-sifat terpuji; berinteraksi dan berkomunikasi, profesional, dan berinteraksi dengan masyarakat untuk untuk penunaian misi pendidikan, melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, yang meliputi : siswa yang berkelainan dan berbakat khusus; melaksanakan administrasi sekolah, yang meliputi : mengenal pengadministrasian keiatan sekolah dan melaksanakan kegiatan administrasi sekolah : melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran yang meiputi mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah dan melaksanakan penelitian sederhana.[24] Kompetensi profesional yang perlu dimiliki oleh guru adalah : menguasai landasan pendidikan, yang meliputi : mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar; menguasai bahan pengajaran, yang meliputi menguasai bahan pengajaran kurkulum pendidikan dasr dan menengah, dan menguasai bahan pengayaan; menyusun program pengajaran, yang meliputi menetapkan tujuan pembelajaran, memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran, memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar, memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai dan memilih dan memanfaatkan sumber belajar, melaksanakan program pembelajaran, yang meliputi menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat, mengatur ruangan belajar, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, yang meliputi menilai siswa untuk kepentingan pengajaran, menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.[25] Aapun ruang lingkup kompetensi sosial guru menurut Ceck Wijaya sebagaimana yang dikutip oleh Dja’an Satori, dkk antara lain : terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik, bersikap simpatik, dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah; Pandai bergaul dengan kawan sekserja dan mitra pendidkan; dan memahami dunia sekitarnya (lingkungan).[26] Dari butir-butir tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru berkaitan dengan bagaimana seorang guru mampu menyesuaikan dirinya kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitarnya pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

2.    Telaah Pustaka
Berdasarkan hasil pelacakan di perpustakaan STAIN Ponorogo ada dua skripsi yang menulis tentang guru agama Islam. Yaitu sebagai berikut :
a.    Dalam skripsi yang ditulis oleh Nita Alwiana Ika Saputri (September 2005, STAIN PO) yang berjudul “Peran Guru Agama Islam dalam Peningkatan Kehidupan Keagamaan Masyarakat Desa (Studi Kasus di Desa Bangkleyan, Kecamatan Doplang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah)” meneliti tentang kondisi keagamaan, aktivitas guru agama Islam, dan peran guru agama dalam peningkatan kehidupan keagamaan masyarakat di desa Bangkleyan, Kecamtan Doplang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
b.    Dalam Skripsi yang ditulis oleh Siti Nurkhayartin (April 2005, STAIN PO) yang berjudul “Studi Komparatif Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan Guru dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Jenangan”. Meneliti tentang peran guru BK adalah mengatasi kenakalan siswa, peran guru agama dalam mengatasi kenakalan siswa, dan perbandingan peran antara guru BK dan guru agama dalam mengatasi kenakalan siswa di SMAN I Jenangan.

VIII.     METODE PENELITAIN
A.   Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif,[27] dengan karakteristik-karakteristik (a) berpijak pada konsep naturalistik, (b) kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh, terbuka, berubah, (c) hubungan peneliti dengan obyek berinteraksi, penelitian dari luar dan dalam, peneliti sebagai instrumen, bersifat subyektif, judgment, (d) Seting penelitian alamiah, terkait tempat dan waktu, (e) Analisis subyektif, intuitif, rasional, (f) hasil peneitian berupa deskripsi, interpretasi, tentatif, situasional.
Secara garis besar, metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dibedakan dalam dua macam, kualitatif dan non interaktif. Ada lima macam metode kualitatif interaktif, yaitu metode etnegrafik, metode fenomenologis, studi kasus, teori dasar (granunded theory), dan studi kritikal.[28] Dan dalam hal ini jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian kualitatif ini adalah studi kasus, yaitu suatu bentuk pendekatan yang memusatkan kajiannya pada perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu; peneliti seolah-olah bertindak selaku saksi hidup dari perubahan itu.[29] Studi kasus dapat digunakan secara tepat dalam banyak bidang.

B.   Instrumen Penelitian
Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci,[30] partisipas penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.

C.   Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data utama adalah penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumenda dan lainnya. Untuk itu teknik pengumpulan data yang digunakan adala intervew, observasi dan dokumentasi.[31]
Teknik tersebut digunakan peneliti, karena suatu fenomena itu akan dimengerti maknanya secara baik, apabila peneliti melakukan interaksi dengan subyek penelitian dimana fenomena tersebut berlangsung.

1.    Teknik Wawancara
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan, sehingga dengan wawancara mendalam ini data-data dapat dikumpulkan semaksimal mungkin.
Orang-orang yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah informan, yaitu :
·         1 (satu) Guru PAI Kelas X dan XI SMA N 3 Ponorogo
·         1 (satu) Guru PAI Kelas XII SMA N 3 Ponorogo
·         1 (satu) Guru Bahasa Arab SMA N 3 Ponorogo
2.    Teknik Observasi
Ada beberapa alasan mengapa teknik observasi atau pengamatan digunakan dalam penelitian ini. Pertama, pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. Kedua, pengamatan memungkinkan peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Dengan teknik ini, peneliti mengamati aktivitas-aktivitas sehari-hari obyek penelitian, karakteristik fisik situasi sosial dan perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif (selective observation). Sekalipun demikian, peneliti masih terus melakukan observasi deskriptif sampai akhir pengumpulan data.
Hasil observasi dalam penelitian ini dicatat dalam catatan lapangan merupakan alat yang sangat pening dalam penelitian kualitatif. dalam penelitian kualitatif, peneliti mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam pengumpulan data di lapangan. Format rekaman hasil observasi catatan lapangan dalam penelitianini menggunakan format rekaman hasil observasi.
3.    Teknik Dokumentasi
Dalam penelirian kualitatif, teknik ini merupakan alat pengumpul data yang utama karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis dan rasional.[32] Teknik dokumentasi sengaja digunakan dalam penelitian ini, sebab : pertama, sumber ini selalu tersedia danmurah terutama ditinjau dari waktu; kedua, merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi di masa lampau, maupun dapat dan dianalisis kembali tanpa mengalami perubahan; ketiga, rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara kontekstual relevan dan mendasar dalam konteksnya; keempat, sumber ini sering merupakan pernyataan legal yang dapat memenuhi akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam format rekaman dokumentasi.

D.   Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan akepada orang lain.
Teknik analisis data yang digunakan penelitian ini menggunakan konsep yang diberikan Miles dan Huberman yang mengemukakan bahwa motivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif[33] dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas dan datanya sampai jenuh.
Aktifitas dalam analisis data, meliputi data reduction,[34] data display[35] dan conclution.[36] Langkah-langkah anaisis ditunjukkan pada gambar berikut :


 











Selanjutnya menurut Sprodley teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data, grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.

E.   Pengecekah Kredibilitas Data
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dnegan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif dan pengecekan anggota.[37] Dalam penelitian ini, uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan :
1.     Perpanjangan Keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Dalam hal ini keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian. Maka perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam penelitian ini akan memungkinkan penngkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Maksud dan tujuan memperpanjang keikutsertaan dalam penelitian ini adalah : dapat menguji ketidak benaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri, maupun dari responden dan selain itu dapat membangun kepercayaan subyek, dengan terjun ke lokasi dalam waktu yang cukup panjang, peneliti dapat mendeteksi dan memperhitungkan distrosi yang mungking mengotori data, pertama-tama dan yang terpenting adalah distrosi pribadi.
2.    Pengamatan yang Tekun
Ketekunan pengamatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari. Jadi, kalau perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
3.    Triagulasi
Teknik triagulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Ada empat macam triagulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.[38]
Dalam penelitian ini, dalam hal ini digunakan teknik triagulasi dengan pemanfaatan sumber dan penyidik teknik triagulasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. hal itu dapat dicapai peneliti dengan jalan : (a) membanding-kan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (b) mem-bandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (c) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (d) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; (c)  membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Teknik Triagulasi dengan penyidik, artinya dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemenangan dalam pengumpulan data.
4.    Pengecekan Sejawat melalaui Diskusi
Teknik ini dilakukan peneliti dengan cara mengekspost hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Hal ini dilakukan dengan maksud (a) untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, (b) diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti.

F.    Tahapan Penelitian
Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada 3 (tiga) tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah : (1) tahap pra lapangan, yang meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengakap-an penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian. Tahap ini dilakukan bulan Agustus s.d. September 2008; (2) Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi : memahami latar pendidikan dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperanserta sambil mengumpulkan data. Tahap ini dilakukan bulan September s.d. Oktober 2008; (3) Tahap analisis data, yang meliputi : analisis selama dan setelah pengumpulan data. Yaitu bulan November s.d  Desember 2008; (4) Tahap penulisan hasil laporan penelitian. Yaitu bulan Januari 2009.

IX.       SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Dalam penelitianini ada lima batang tubuh, yaitu 5 bab. Pada bab pertama, setiap penelitian pasti berangkat dari fenomena/kejadian/masalah. Penelitian pada dasarnya merupakan suatu pencarian, menghimpun data, mengadakan pengukuran, analisis, sintesis, membandingkan, mencari hubungan, dan menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki. Oleh karena itulah diperlukan adanya prosedur penelitian bagi seorang peneliti seperti yang dibahas pada bab satu.
Setiap penelitian yang akan dilakukan oleh seorang peneliti pasti dilandasi leh teori-teori yang ada. Dan fungsi teori dalam penelitian kualitatif ini adalah untukmembaca data, sehingga dalam bab dua diuraikan mengenai landasan teori tentang sosok guru PAI yang ideal, berkompeten, serta peran-perannya dalam upaya menanggulangi dekadensi moral.
Makna sesuatu aspek arau kegiatan dalam penelitian kualitatif akan berkembang dalam pengumpulan data, baik data umum maupun data khusus. Maka dari itu, pada bab tiga dipaparkan gambaran umum lokasi penelitian serta data khusus tentang moralitas siswa.
Analisis data merupakan bagian kegiatan penelitian yang sangat penting. Setelah peneliti mengumpulkan data, maka langkah selanjutnya adalah mengorganisasikan dan melakukan analisis data untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Sehingga pada bab keempat ini akan dibahas kegiatan analisis data yang terkait erat dengan langkah-langkah kegiatan penelitian sebelumnya.
Adapun bab terakhir adalah penutup. Bab ini merupakan bab yang di dalamnya menguraikan kesimpulan sebagai jawaban dari pokok-pokok permasalahan dan saran-saran yang berhubungan dengan penelitian sebagai masukan-masukan untuk berbagai pihak terkait.


RANCANGAN DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL............................................................................................
HALAMAN JUDUL...............................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING......................................................
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................
MOTTO...................................................................................................................
ABSTRAK..............................................................................................................
KATA PENGANTAR............................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
DAFTAR TABEL (Jika ada)...............................................................................
DAFTAR GAMBAR (Jika ada)...........................................................................
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................
PEDOMAN TRANSLITERASI...........................................................................

BAB I       PENDAHULUAN
A.   Latar belakang...............................................................................
B.   Fokus penelitian...........................................................................
C.   Rumusan masalah.......................................................................
D.   Tujuan penelitian..........................................................................
E.   Manfaat penelitian........................................................................
F.    Metode penelitian.........................................................................
1.    Pendekatan dan jenis penelitian.........................................
2.    Instrumen peneliti...................................................................
3.    Sumber dan teknik pengumpulan data..............................
4.    Analisis Data............................................................................
5.    Pengecekan Kredibilitas Data..............................................
6.    Tahapan penelittian...............................................................
G.   Sistematika Pembahasan ...........................................................
BAB II      PROFIL GURU PAI DAN DEKADENSI MORAL SISWA DALAM PERGAULAN
A.   Profil Guru PAI..............................................................................
1.    Pengertian Guru PAI..............................................................
2.    Syarat-syarat Menjadi Guru...................................................
3.    Peran dan Tugas Guru..........................................................
4.    Standar Kompetensi Guru.....................................................
5.    Kode Etik Guru........................................................................
B.   Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan...............................
1.    Pengertian Dekadensi Moral................................................
2.    Pengertian Pergaulan............................................................
3.    Bentuk-bentuk Dekadensi Moral.........................................
4.    Faktor-faktor Penyebab Dekadensi Moral..........................
BAB III     DATA PENELITIAN UPAYA GURU PAI UNTUK ME-NANGGULANGI REKAPITULASI MORAL SIWA DI SEMAN 3 PONOROGO
A.   Data Umum....................................................................................
1.    Sejarah Berdirinya SMAN 3 Ponorogo..............................
2.    Letak Geografis SMAN 3 Ponorogo....................................
3.    Visi, Misi dan Tujuan SMAN 3 Ponorogo..........................
4.    Struktur Organisasi SMAN 3 Ponorogo.............................
B.   Data Khusus..................................................................................
1.    Data Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo 
2.    Data Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo.............................................................
3.    Data tentang Upaya-upaya Guru PAI untuk Menanggulangi Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo.................
BAB IV     ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI UNTUK ME-NANGGULANGI DEKADENSI MORAL SISWA DI SMA N 3 PONOROGO
A.   Analisis Dekadenso Moral Sisw dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo  
B.   Analisis Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo...................................................................
C.   Analisis Upaya-upaya Guru PAI untuk Menanggulangi Dekadensi Moral Siswa dalam Pergaulan di SMAN 3 Ponorogo...............................................
BAB V      PENUTUP
A.   Kesimpulan....................................................................................
B.   Saran...............................................................................................
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN



DAFTAR RUJUKAN SEMENTARA

Anggora, M. Toha dkk. Metode Penelitian. Jakarta : Universitas Terbuka, 2007.
Arifinm Muzayyin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2007.
Basuki dan M. Miftahul Ulum. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo : STAIN PO PRESS, 2007.
Cales, Robert. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. Terj. T. Hermaya. Jakarta : Gramedia. Pustaka Utama, 2000.
Durkheim. Pendidikan Moral : Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan, terj. Lukas Ginting. Jakarta : Erlangga, 1961.
Echols, John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta : Gramedia, 2005.
Fatimah, Enung, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gunung Mulia, 1999.
Hasan, M. Ali dan Mukti Ali. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2005.
Hurlok, Elizabeth B. Perkembangan Anak, terj. Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga, 1999.
Kartono, Kartini. Bimbingan bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta : Rajawali Press, 1991.
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cepta, 2003.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.
Mustaqim, Abdul. Menjadi Orang Tua Bijak. Bandung : Mizan Pustaka, 2005.
Purwanti, Endang dan Nurwidodo. Perkembangan Peserta Didik. Malang : UMM Press, 2002.
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung : Remaja Rosdakarya, 1998.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia, 2008.
Rumini, Sri Sundari. Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Sampurna. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Cipta Karya, 2003.
Satori, Djam’an, dkk. Profesi Keguruan. Jakarta : Universitas Terbuka, 2007.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007.
Tjahjadi, S.P. Lili. Hukum Moral, Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif Kategoris. Jakarta: Gunung Mulia, 1991.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/09/contoh-dari-proposal-penelitian.html


[1] Elizabeth B.Hurlock, Perkembangan Anak, terj. Meitosari Tjandrasa (Jakarta: erlangga, 1999), 74.
[2] Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik) (Bandung : Pustaka Setia, 1006), 120.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan…., 74.
[4] S.P. Lili Tjahjadi, Hukum Moral, Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif Kategoris (Jakarta: Gunung Muia, 1991), 59.
[5] Durkheim, Pendidikan Moral : Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosisologi Pendidikan, terj. Lukas Ginting (Jakarta : Erlangga, 1961), 17.
[6] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan (Jakarta : Gunung Mulia, 1999), 55.
[7] Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), 76.
[8] Dari Hasil Wawancara dengan Saudari Nifa Siswa SMA N 3 Ponorogo Kelas XII IPA di Broto, Slahung Ponorogo, Selasa 2 September 2008.
[9] Robert Cales, Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak, terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 167.
[10] Abdul Mustaqim, Menjadi Orang Tua Bijak (Bandung: Mizan {ustaka, 2005), 109.
[11] John M. Echals dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta : Gramedia, 1005), 176.
[12] Sampurna, Kamus Lengkap Bahasa Indoensia (Surabaya: Cipta Karya, 2003), 125.
[13] Enung Fatimah, Psikologi …., 120.
[14] Endang Poerwanti dan Nurwidodo, Perkembangan Peserta Didik (Malang: UMM Press, 2002), 45.
[15] Kartini Kartono, Bimbingan bagi Anak dan Remaja yang bermasalah (Jakarta : Rajawali: Press, 1991), 117.
[16] Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), 119.
[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kolam Mulia, 2002), 60-61.
[18] M.Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan: Teoritis Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998), 135.
[19] Ibid, 140-142
[20] Djam’an Satori, dkk. Profesi Keguruan 9Jakarta : Universitas Terbuka, 2007), 2.2.
[21] M. Ali Hasan dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003), 82.
[22] Ibid.
[23] Djam’an Satori, dkk. Profesi ….., 2.2.
[24] Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Ponorogo: STAIN PO PRESS, 2007), 113.
[25] Ibid, 114.
[26] Djam’an Satori, dkk., Profesi……, 2.17-2.19.

[27] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: remaja Rosdakarya, 2007), 60-61.
[28] Ibid, 62.
[29] M. Toha Anggora,dkk., Metode Penelitian (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), 3.7.
[30] Instrumen Kunci berarti peneliti tidak boeh mewakilkan kepada orang lain, akan tetapi peneliti sendiri yang harus melaksanakannya di lapangan.
[31] S. Margono, Metodologi Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 158-181.
[32] Ibid, 181
[33] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode …., 114.
[34] Merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuat kategori. Lihat dalam Matthew B. Miles & AS. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, terj. Tjet.jep. Rohendi (Jakarta: UI Press, 1992), 16.
[35] Menyajikan data ke dalam pola yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, grafik, matrik, newtwork dan chart. Ibid., 17.
[36] Penarikan kesimpulan dan verivikasi. Ibid, 19.
[37] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), 175.
[38] Ibid, 178.



MATERI TERKAIT:

Judul: CONTOH DARI PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : UPAYA GURU PAI
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah CONTOH DARI PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : UPAYA GURU PAI . Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/09/contoh-dari-proposal-penelitian.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger