SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

MENERJEMAH BERDASARKAN VARIASI KALIMAT


BAB I
                                                            PENDAHULUAN                 
 A. Latar Belakang
Menerjemahkan kata dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia bisa di bilang mudah, karena bisa menggunakan kamus. Tetapi jika kata-kata tersebut berkumpul menjadi satu kalimat, bisa dikatakan cukup rumit. Menerjemahkan sebuah kalimat tidak semudah menerjemahkan sebuah kata.
Kalimat mempunyai banyak variasi, karena itu penerjemah harus memilih dan memilah serta menggunakan kata yang tepat dalam penerjemahan sebuah kalimat. Supaya hasil terjemahan bisa mudah dimengerti oleh pembaca dan tidak salah dalam pemahaman makna sebuah kalimat tersebut.
Maka dari itu, di sini akan dijelaskan bagaimana menerjemahkan berdasarkan variasi kalimat, diantaranya menerjemah isim tafdhil, huruf ‘athaf, dzaraf, tarkib idhofi dan tarkib washfi.
Selanjutnya dalam penulisan makalah ini kami beri judul “Menerjemah Berdasarkan Variasi Kalimat”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.    Apa saja yang termasuk dalam variasi kalimat?
2.    Bagaimana menerjemah berdasarkan variasi kalimat?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini agar kita dapat mengetahui :
1.      Macam-macam variasi kalimat.
2.      Cara menerjemah berdasarkan variasi kalimat.



BAB II
Menerjemah Berdasarkan
Variasi Kalimat

Dalam pembahasan ini, kami akan menjelaskan tentang bagaimana menerjemah berdasarkan variasi kalimat, diantaranya yakni: menerjemah isim tafdhil, huruf ‘athaf, dzaraf, tarkib idhofi dan tarkib washfi.

A.   Menerjemah Isim Tafdhil
Tidak ada persoalan dalam menerjemahkan kalimat (kata) berbentuk komparasi, yakni dengan menerjemahkannya dengan kata lebih...dari pada..., hanya saja dalam konteks tertentu penerjemahan ini juga kurang tepat. Konteks dan rasa bahasa Indonesia menghendaki isim tafdhil  diterjemahkan menjadi ‘terlalu’. Perhatikan contoh sebagai berikut :
١.       ليس ذلك مؤكدا، فأنظار هذا الشاعر الجوال كانت أقصر من أن تحترق خمائل البستان أو جدران القصر، لتكشف عن الفتاة.
٢ .      منذ العصر الجاهلي وصناعة الكلام تجد بين العرب سوقا نافقة، وأخبار أسواقهم الأدبية وتفاخرهم بالبيان واحتكامهم إلى النقاد أوضح من أن يشار إليه.
٣ .      هذا الفستان أصغر من مقاسها.
1.      1. Itu belum tentu, karena pandangan sang penyair kelana itu terlalu lemah untuk bisa menembus belukar-belukar taman dan tembok-tembok istana untuk melihat sang putri.
Konteks bahasa Indonesia menghendaki penerjemahan isim tafdil di atas dengan “terlalu”. Akan jelek kalau kita terjemahkan menjadi:...penyair kelana itu paling/ lebih lemah untuk bisa...
2.      2. Sejak jaman jahiliah dan masa pembentukan kalam, di kalangan bangsa Arab banyak diadakan festival-fistival yang ramai. Berita tentang festival-fistival sastra, kebanggaan dengan ilmu bayan serta penghakiman mereka berdasarkan para kritikus sastra, adalah sesuatu yang sudah terlalu jelas untuk disebutkan.
Tidak kita terjemahkan menjadi:...adalah sesuatu yang lebih/ paling jelas untuk
3.      3. Gaun ini terlalu kecil untuknya.
Tidak kita terjemahkan menjadi: gaun ini lebih kecil untuknya, atau: gaun ini paling kecil untuknya.
Sedangkan dalam bentuk superlasi kita masih sering mendapati penerjemahan yang jelek atau tidak lazim dalam pemakaian bahasa Indonesia, yaitu dengan kata se..-...nya. Seharusnya, menurut rasa bahasa Indonesia, bentuk semacam ini kita terjemahkan menjadi kata paling. Misalnya:
١.      خير الناس أنفعهم للناس.
٢.      كان أبو بكر أفرس الناس.
٣.      لقد كان الناس على عهد رسول لله صلى الله عليه وسلم وعهد أبى بكر الصديق رضى الله عنه أكثر التزاما بتعالهم اللإسلام ما دق منها وجل. ولقد كانوا أكثر تعقلا في جميع أمورهم منهم في زمن الفاروق...
1.    Orang yang paling baik adalah mereka yang paling berguna bagi orang lain.
Kita tidak menerjemahkannya dengan: sebaik-baik manusia mereka yang sepenolong-penolong bagi manusia.
2.    Abu Bakar adalah orang yang paling kuat firasatnya.
Tidak diterjemahkan menjadi: Abu Bakar adalah sefirasat-firasat manusia.
3. Pada masa Rosululah Saw. dan masa Abu Bakar as-Shidiq, orang lebih banyak berpegang pada ajaran-ajaran Islam (tanpa bertanya mengapa)…baik yang detail maupun yang global…sedangkan pada masa Umar al-Faruq, mereka lebih banyak menggunakan akal (mencari alasannya) dalam segala urusan mereka daripada orang yang hidup di masa Rasul dan Abu Bakar.
Pada contoh yang terakhir, bentuk komparasi tetap kita alihkan dengan bentuk yang sama dalam bahasa kita (perhatikan yang dicetak tebal) yakni dengan kata lebih.
Perlu juga diketahui bahwa bentuk komparasi atau superlasi dalam bahasa Arab ada yang tidak dimaksudkan sebagai perbandingan atau superlasi (paling). Tetapi bentuk ini berfungsi sebagai taukid (sebagai emphasis). Misalnya :
مهما يكن من الأمر فقد قلق المسلمون بالحديبية على عثمان أشد القلق وتمثل أمامهم غذر قريش وقتلهم إياه في هذا الشهر الذى لاتجيز فيه أديان العرب جميعا لعدو أن يقتل في حرمة الكعبة ولافى حرم مكة عدوه...
Betapapun persoalannya, orang-orang Islam di Hudaibiyyah benar-benar mengkhawatirkan keadaan ‘Utsman bin ‘Affan. Mereka membayangkan persekongkolan orang-orang Quraisy dan pembunuhan-nya terhadap ‘Utsman pada bulan itu dimana semua agama Arab tidak memperbolehkan seorang lawan membunuh lawannya baik di dalam Ka’bah yang suci maupun di tanah suci Makkah…
Disini bentuk komparasi atau superlasi tersebut tidak kita alihbahasakan menjadi: Betapapun persoalannya, orang-orang Islam di Hudaibiyyah lebih panik atau paling panik (atau sepanik-paniknya).[1]
B.   Menerjemah Huruf ‘Athaf
Sub judul di atas memiliki maksud, athaf yang mudhaf ilaih-nya berupa kata ganti dari ma’thuf ilaih tersebut. Cara penerjemahannya, mudhaf ilaih diterjemahkan di posisi paling belakang, menempati posisi dhamir. Sedangkan dhamir tidak perlu diterjemahkan. Contoh:
قسم اللغة العربية وأدبها
Diterjemahkan → Jurusan Bahasa dan Sastra Arab.
(bukan: Jurusan Bahasa Arab dan Sastranya)
ان قضية صراع الحضارات أو حوارها هى احدى القضايا السياسية التى تشغل العالم
Diterjemahkan → Problematika pertarungan atau dialog antar peradaban merupakan salah satu persoalan politik yang menyita perhatian dunia.
(bukan: Pertarungan antar peradaban dan dialog-dialognya merupakan salah satu persoalan yang menyita perhatian dunia)

ان التقدم فى التعاون الدولى وتنسيقها سيسهم فى ترقية ما يسميه
Diterjemahkan → Kemajuan kerjasama dan keselarasan (negara-negara di) dunia akan memberikan kontribusi bagi peningkatan apa yang disebut dengan ‘global harmony’.
(bukan: Kerjasama negara-negara dunia dan keselarasannya akan memberikan kontribusi bagi peningkatan apa yang disebut dengan ‘global harmony’)
يكون في هذا الكتاب دعوة للقارنين الى صحة أفراد المجتمع وسعادتهم
Diterjemahkan → Dalam kitab ini terdapat seruan untuk (memelihara) kesehatan dan kebahagiaan setiap individu dalam masyarakat.
(bukan: Dalam kitab ini terdapat seruan untuk (memelihara) kesehatan setiap individu dalam masyarakat dan kebahagiaan mereka)
سيطر القوى البرجوازية الرأسمالية على الطبقات الشعبية واستغلالها
Diterjemahkan → Dominasi dan eksploitasi kelas borjuis-kapitalis terhadap masyarakat kelas bawah
(bukan: Dominasi kelas borjuis-kapitalis terhadap masyarakat kelas bawah dan eksploitasinya terhadap mereka.)[2]
C.   Menerjemah Dzaraf
Dzaraf adalah kata keterangan; keterangan waktu dan keterangan tempat. Berikut beberapa contoh dzorof dan terjemahannya:
١.      للحلال رائحة طيبة وللحرام رائحة خبيثة وللشبهات رائحة دون الحرام فى الخبث.
٢.      ... وجادلوا أعداء الإسلام دون الوقوع فيما ذكرنا من محظورات.
٣.      ولو كانت الأفعال غير مخلوقة لكان الله عز وجل خالق بعض الأشياء دون جميعها...
٤ .      و فى يوم من الأيام خرج السيد الشريف أحمد الرافعى الكبير رضى الله عنه إلى "الحدادية" فخرج أهلها يستقبلونه وبينهم العرجاء فاطمة.
٥ .      نعمل تحت لواء جمعية واحدة هى الجمعية الرحمانية الأحمدية ونتعاون فيما بيننا على تنظيم الإحتفالات فى ذكرى المولد النبوى الشريف.
٦ .      وشأن التاريح فى ذلك شأن أنواع العلوم والمعارف. وأنواع العلوم الإنسانية متداخلة متشابكة فيما بينها.
٧ .      ... ما نلاحظه من أن العامل الإقتصادى كان من بين العوامل الهامة التى أدت إلى اندفاع العرب – عند ظهور اللإسلام – من شبه الجزيرة ... إلى سهول العراق.
٨ .      إن مجتمعنا فى حاجة إلى روح إنسانية تملأ نفوس أبنائه قبل حاجته إلى قوانين تملأ دواوين الدولة.
1.  (benda yang) halal berbau haram, yang haram berbau busuk dan yang syubhat berbau busuk di bawah bau haram.
2. Mereka berdebat dengan musuh-musuh Islam, tanpa terjebak dalam larangan-larangan yang telah kami sebutkan.
3.  Jika perbuatan bukanlah makhluk, maka Allah Azza Wa Jalla hanya menciptakan sebagian benda, bukan semuanya.
4.    Pada suatu hari, Tuan yang mulia Ahmad al-Rafi’i r.a. datang ke Hidadiyah, maka keluarlah penduduk desa tersebut untuk menyambut kedatangannya, termasuk Fatimah ....
Kita tidak menyalinnya dengan: ... untuk menyambut kedatangannya, di antara mereka Fatimah...
5.    Kami bekerja di bawah bendera lembaga yang sama, yaitu Jam’iyah al-Rahmaniyah al-Ahmadiyah, dan kami bekerjasama satu sama lain untuk menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi yang mulia.
Tidak kami terjemahkan menjadi: ... kami bekerjasama di antara kami.
6.    ... apa yang kita lihat bahwa faktor ekonomi adalah salah satu faktor penting yang mengakibatkan bangsa Arab – pada masa awal Islam – berpindah dari semenanjung ... ke daratan Irak.
7.    Dalam hal ini, sejarah sama dengan ilmu-ilmu dan pengetahuan yang lain. Berbagai macam ilmu humaniora itu saling tumpang tindih, overlaping, satu sama lain.
8.    Masyarakat kita memerlukan ruh kemanusiaan yang memenuhi hati para warganya, lebih dari kebutuhannya terhadap undang-undang yang memenuhi catatan negara.
Konteks kalimat disini menghendaki kita menerjemahkan qabla dengan ‘lebih dari’ atau ‘di atas’. Kurang enak jika kalimat ini kita salin menjadi: ... warganya, sebelum kebutuhannya terhadap...[3]

D.   Menerjemah Tarkib Washfi dan Tarkib Idhofi
a.    Tarkib Washfi
Tarkib Washfi adalah dua kata atau lebih yang membentuk satuan frase dengan pola hubungan benda yang disebut (man’ut) dan sifatnya (na’at). Berbeda dengan susunan bahasa Inggris yang berpola “sifat-benda”, dalam bahasa Arab berlaku hukum “benda-sifat” seperti yang berlaku di dalam bahasa Indonesia. Dalam penerjemahan satuan frase ini ke dalam bahasa Indonesia dapat dikatakan tidak ada masalah yang perlu dibahas panjang lebar.
Secara umum, penerjemahan di antara dua kata yang membentuk frase ini hanya perlu ditambahkan kata ‘yang’. Namun tidak jarang pula, kata ‘yang’ tidak perlu ditambahkan mengingat dalam bahasa Indonesia frase tersebut sering kali tidak menunjukkan hubungan makna sifat, contoh:
التفكيرالسياصي                                             pemikiran politik
اللغة الانجليلزية                                             bahasa Inggris
Sedangkan susunan terjemahan tetap sama dengan pola susunan bahasa Arabnya, yakni “kata benda-kata sifat”, contoh:
السلطان التقليدي                                   kekuasaan (yang) tradisional
النفوس الضعيفة                                            jiwa-jiwa yang lemah
مجتمع حديث                                        masyarakat (yang) modern
Untuk frase Washfi dengan sifat lebih dari satu, dalam kasus tertentu cara penerjemahannya harus ditambah kata ‘dan’ atau ‘lagi’. Sebagai contoh:
عدل كامل شامل                        keadilan yang sempurna dan (lagi) menyeluruh
الله الملك الحق                           Allah yang Maha Berkuasa lagi (dan) Maha Benar
نظام ليبر الي ظالم                       sistem (yang) liberal dan tiran
Namun pada kasus yang lain, kata ‘dan’ atau ‘lagi’ kadang-kadang tidak perlu ditambahkan. Ini terutama bila dalam terjemahan (bahasa Indonesia) tersebut kata benda dan kata sifat yang pertama terkesan tidak berhubungan sebagai benda (yang disifati) dan hal yang mensifati. Sebagai contoh:
الاتساعية الأوروبية المنظمة          ekspansi Eropa yang sistematis
التغيرات السياسية الدولية           perubahan-perubahan politik dunia
Pada contoh di atas, terdapat sejumlah frase, yakni ‘ekspansi Eropa’ dan ‘perubahan-perubahan politik. Sekalipun dalam ungkapan bahasa Arab frase-frase tersebut menggunakan pola Washfi, namun ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maknanya tidak mengesankan sebagai benda + sifatnya. Oleh karena itu, pada terjemahannya tidak memerlukan tambahan ‘dan’atau ‘lagi’.
b.    Tarkib Idhofi
Makna Idhofi kurang lebih adalah penambahan atau penyandaran. Karena itu frase Idhofi terdiri dari mudhaf (pokok atau yang disandari) dan mudhaf ilaih (tambahan yang disandarkan). Frase Idhofi umumnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagaimana susunan bahasa Arab-nya tanpa penambahan atau susunan bahasa Arab-nya, yakni kata pokok berada di depan dan kata tambahan terletak di belakangnya. Sebagai contoh:
مواجهة الرأسمالية                   menghadapi kapitalisme
اقامة التجديد الجذرى                      menegakkan reformasi (pembaharuan) mendasar
Di samping itu, para ahli tata bahasa Arab memberikan penjelasan bahwa rajutan frase ini sebenarnya mengandung makna implisit, seperti “dari, dalam, untuk/ milik dan kepada”.
Apabila dua kata Arab dalam model frase tersebut dirasa tidak nyaman diterjemahkan apa adanya (tanpa tambahan) ke dalam bahasa Indonesia, penerjemah dapat memilih salah satu kata di atas (dari, dalam, untuk/ milik dan kepada) untuk ditambahkan, dengan tujuan agar hasil terjemahan terasa lebih lugas ketika dibaca. Sebagai contoh:
زرت حديقة محمد                   saya mengunjungi kebun milik Muhammad
أعطيتها خاتم ذهب                saya memberinya cincin dari emas
كان اتباع السيد ضروريا            dulu, ketaatan kepada tuan sangatlah penting
Pada contoh di atas, kehadiran kata-kata yang dicetak miring bagi sebagian penerjemah barang kali terasa diperlukan, setidaknya untuk menjadikan hasil terjemahan lebih enak didengar. Atau hal itu bahkan menjadi hal substansial dalam menentukan ketepatan maksud kalimat. Lihat contoh kalimat ketiga. Dalam contoh ketiga ini, tanpa bantuan kata kepada, saya rasa pesan yang disampaikan akan menjadi kurang jelas.[4]


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

1.   Yang termasuk variasi kalimat di antaranya isim tafdhil, huruf ‘athaf, dzaraf, tarkib idhofi dan tarkib washfi.
2.    Cara menerjemahkan isim tafdhil, konteks dan rasa bahasa Indonesia menghendaki isim tafdhil  diterjemahkan menjadi ‘terlalu’.

athaf yang mudhaf ilaih-nya berupa kata ganti dari ma’thuf ilaih tersebut, cara penerjemahankan mudhaf ilaih diterjemahkan di posisi paling belakang, menempati posisi dhamir. Sedangkan dhamir tidak perlu diterjemahkan.

Cara menerjemahkan dzaraf  (kata keterangan waktu dan keterangan tempat), menyesuaikan maksud dari kalimat.

Untuk frase Washfi dengan sifat lebih dari satu, dalam kasus tertentu cara penerjemahannya harus ditambah kata ‘dan’ atau ‘lagi’. Sedangkan untuk frase Idhofi umumnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagaimana susunan bahasa Arab-nya tanpa penambahan atau susunan bahasa Arab-nya, yakni kata pokok berada di depan dan kata tambahan terletak di belakangnya. Penerjemah dapat memilih salah satu kata di atas (dari, dalam, untuk/ milik dan kepada) untuk ditambahkan, dengan tujuan agar hasil terjemahan terasa lebih lugas ketika dibaca.
B. Saran
Hendaknya dalam menerjemah suatu kalimat benar-benar diperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku dan dari segi ketepatan makna sehingga sesuai dengan maksud kalimatnya.


DAFTAR PUSTAKA
 
Burdah, Ibnu. Menjadi Penerjemah (Metode dan wawasan Menerjemah Teks Arab), Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004.
Mufid, Nur. Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesia (Cara Paling Tepat, Mudah dan Kreatif), Surabaya: -,2007.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/menerjemah-berdasarkan-variasi-kalimat.html


[1] Nur Mufid, dkk. Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesia (Cara Paling Tepat, Mudah dan Kreatif). (Surabaya: -,2007), 104.
[2] Ibnu Burdah. Menjadi Penerjemah (Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab) (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), 116.
[3] Nur Mufid, dkk. Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesia (Cara Paling Tepat, Mudah dan Kreatif)(Surabaya: -,2007), 166.
[4] Ibnu Burdah. Menjadi Penerjemah (Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab) (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), 76.


MATERI TERKAIT:

Judul: MENERJEMAH BERDASARKAN VARIASI KALIMAT
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah MENERJEMAH BERDASARKAN VARIASI KALIMAT. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/menerjemah-berdasarkan-variasi-kalimat.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger