SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

POLA HUBUNGAN GURU DENGAN MURID DI MA DARUL HUDA MAYAK TONATAN PONOROGO


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah 
Di dalam dunia pendidikan sangat diperlukan untuk membangun hubungan antara guru dengan murid agar tujuan-tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai. Agar proses pendidikan yang intinya merupakan interaksi antara guru dan  murid itu dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang ditetapkan, seorang guru sebagai pelaku utama kegiatan pendidikan harus memerlukan persiapan, baik dari segi penguasaan terhadap ilmu yang diajarkannya, kemampuan menyampaikan ilmu tersebut secara efisien dan tepat sasaran kepada obyek didik yang bervariasi dari kepribadian atau akhlaknya.[1]
Selain itu, agar proses pendidikan dapat tercapai dengan baik yang sangat perlu dilakukan adalah menciptakan hubungan interaksi antara guru dan murid agar berjalan dengan baik dan sehat. Guru melakukan tugas dan perannya yaitu sebagai fasilisator, motivator, inovator dan lain-lain dan murid juga melakukan apa yang menjadi tugasnya sehingga antara tugas guru dan murid bisa berjalan seimbang.
Dari keterangan di atas penulis ingin mengetahui dan memahami tentang bagaimana hubungan antara guru dan  murid sehingga penulis mengadakan penelitian dan memberi judul “Pola Hubungan Guru Dengan Murid Di MA Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo”.  

B.  Rumusan Masalah  
1.    Bagaimana pola hubungan antara guru dengan  murid di MA Darul Huda ?
2.    Bagaimana sikap guru terhadap murid di MA Darul Huda ?
3.    Bagaimana sikap murid terhadap guru  di MA Darul Huda ?
C.  Tujuan Pembahasan
1.    Mengetahui pola hubungan antara guru dan  murid di MA Darul Huda
2.    Mengetahui sikap guru terhadap murid di MA Darul Huda
3.    Mengetahui sikap murid terhadap guru  di MA Darul Huda


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Landasan Teori
1.    Pola hubungan antara guru dengan murid
Kelas merupakan masyarakat yang di dalamnya terdapat struktur kelas dan terdapat masyarakat kelas yaitu guru dan murid. Murid mempengaruhi guru dan sebaliknya guru juga mempengaruhi belajarnya murid. Pada murid juga saling mempengaruhi antara  yang satu dengan yang lain. Guru dan murid mempunyai peranan yang berbeda. Dibandingkan dengan peranan guru, peranan murid ditandai dengan kepasifan. Murid yang baik ialah murid yang mendengarkan gurunya, mengikuti pelajaran, tidak mengganggu kelas, dan lagi pula patuh.
Para ahli sosiologi menandaskan bahwa hubungan guru dengan murid dimaksudkan merupakan hubungan tak seimbang. Tiga hal yang membedakan peranan guru dan murid antara lain :
1.    Tingkat kesukarelaan
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Dreegen, guru bekerja di sekolah karena digaji, sedangkan murid masuk sekolah karena kewajiban belajarnya.
2.    Tingkat keaktifan vs kepasifan
Peranan murid yang baik, lebih banyak menuntut kepatuhan dan kesabaran daripada inisiatif dan tanggung jawab diri sendiri. Dan menurut Moore, guru itu memonopoli peranan aktif dan membiarkan anak-anak bersabar terhadap tindakan guru sebagai agen.
3.    Kekuasaan dan wewenang
Guru adalah atasannya murid karena umurnya, pendidikannya, sumber kontrol di kelas (termasuk hadiah dan hukuman). Dan salah satu hal penting yang dipelajari murid adalah bagaimana ia memahami otoritas yang tidak bersifat pribadi.[2]
Selain hal-hal yang disebutkan di atas guru juga mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai educator, pengajar, fasilisator, pembimbing, pelayan, perancang, pengelola, inovator dan penilai. Selain peran-peran di atas, guru juga mempunyai fungsi di dalam kelas yaitu sebagai (1). Pembimbing siswa dalam memecahkan kesulitan dalam pembelajaran, (2). Sebagai sumber yang dapat membantu memecahkan dan menjawab pertanyaan siswa, (3). Penilai hasil belajar.[3]
Kemudian agar proses pendidikan yang merupakan interaksi antara guru dan murid dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan, seorang guru  harus memerlukan persiapan, baik dari segi penguasaan terhadap ilmu yang diajarkan, kemampuan penyampaian ilmu sehingga tepat sasaran kepada obyek didik dan kepribadian atau akhlaknya.[4]
Adapun pola hubungan antara guru dan murid yang terjalin di MA Darul Huda sangat baik. Jika  antara guru dan murid ada perbedaan pendapat dalam proses belajar mengajar, guru berusaha untuk menjelaskan secara perlahan-lahan. Dan agar hubungan itu tetap berjalan dengan baik, seorang guru itu tidak hanya bertindak sebagai guru tapi juga sebagai teman belajar dan terus memotivasi anak didik. Dan ketika di antara muridnya ada yang mempunyai masalah, guru mengadakan pendekatan individual sehingga murid tidak merasa sendirian.[5]
2.    Sikap guru terhadap murid
Akhlak guru yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas menghadapi para siswa telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Menurut Ibnu Jama’ah, seorang guru dalam menghadapi muridnya hendaknya : (1). Bertujuan mengharapkan ridho dari Alloh, (2). Memiliki niat yang baik, (3). Menyukai ilmu dan mengamalkannya, (4). Memberikan peluang terhadap pelajaran yang menunjukkan kecerdasan dan keunggulan, (5). Memberikan pemahaman menurut kadar kesanggupan muridnya, (6). Mendahulukan pemberian pujian daripada hukuman , (7). Menghormati muridnya, (8). Memberikan motivasi kepada para siswa agar giat belajar, (9). Tidak mengajarkan suatu mata pelajaran yang tidak diminati oleh para siswa , (10). Memperlakukan siswa secara adil tidak pilih kasih, (11). Memberikan bantuan kepada pelajar sesuai dengan kesanggupannya, (12). Bersikap  rendah hati.[6]
Sedangkan menurut ahli sosiologi, masih banyak ketimpangan antara hubungan orang yang mempunyai kekuasaan yaitu guru dan orang yang tidak memegang kekuasaan yaitu para murid. Guru mempertunjukkan tata aturan sosial yang sudah kokoh di sekolah dan berminat untuk memeliharanya, sedangkan murid hanya memiliki minat negatif. Guru dan murid saling berhadapan antara yang satu dengan yang lain dengan sikap yang menimbulkan pertentangan. Murid dianggap bahan oleh guru yang diharapkan bisa memberi hasil.[7]
Tetapi dalam sumber lain dijelaskan bahwa seorang guru itu juga perlu mengetahui dan memahami gejala aktivitas jiwa peserta didik. Peserta didik (murid ) memiliki karakteristik yang unik yang perlu dipahami oleh para guru. Pengetahuan tentang karakteristik psikologis peserta didik yang berkaitan dengan aktivitas umum jiwa peserta didik sangat penting bagi para guru dalam memahami peserta didik secara individual untuk menyukseskan pembelajaran di kelas.
Adapun gejala umum aktifitas jiwa peserta didik yang perlu menjadi perhatian bagi seorang guru adalah : perhatian, pengamatan, persepsi, fantasi, ingatan, berfikir, motif, sikap, minat dan sebagainya. Itu semua gejala-gejala aktifitas jiwa yang sangat perlu diperhatikan bagi seorang guru.[8] 
Adapun sikap guru terhadap murid di MA Darul Huda bisa dilihat dari cara guru untuk memahami muridnya. Apabila guru itu bisa memahami siswanya mulai dari yang kemampuannya rendah sampai yang mempunyai kemampuan tinggi maka hubungan guru dan murid bisa berjalan dengan baik dan sikap guru itu merupakan cerminan dari sifat dan kepribadian guru tersebut.


3.    Sikap murid terhadap guru
Dalam kitab Ilmu Wa Adab Al-Alim Wa Al-Muta’alim dikatakan bahwa sikap murid sama dengan sikap guru, yaitu sikap murid sebagai pribadi dan sikap murid sebagai penuntut ilmu. Sebagai pribadi, seorang murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran dan mengamalkannya.
Selanjutnya seorang pelajar juga harus bersikap rendah hati pada ilmu dan guru. Dengan cara demikian ia akan tercapai cita-citanya. Ia juga harus menjaga keridhaan gurunya. Seorang murid jangan menggunjing di sisi gurunya, juga jangan menunjukkan perbuatan buruk, mencegah orang lain yang menggunjing gurunya. Dan jika ia tidak sanggup mencegahnya, maka sebaiknya ia harus menjauhi orang tersebut.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa seorang murid harus bersih hatinya agar mendapat pancaran ilmu dengan mudah dari Tuhan. Ia juga harus menunjukkaan sikap akhlak yang tinggi terutama terhadap gurunya, pandai membagi waktu yang baik, memahami tatakrama dalam majlis ta’lim, berupaya menyenangkan hati seorang guru, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidak senangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu.[9]
Sedangkan sikap murid kepada gurunya di MA Darul Huda masih berjalan dengan baik, meskipun murid kadang-kadang diberi tugas yang tidak disukainya, tapi murid masih menghormati guru , masih bersikap ta’dzim para guru dan masih mendengar nasehat-nasehatnya.[10]
B.  Data 
1.    Data umum

SELAYANG PANDANG

MADRASAH ALIYAH DARUL HUDA

Madrasah Aliyah Darul Huda Ponorogo merupalan salah satu lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren “Darul Huda” . Yayasan ini telah berdiri sejak tahun 1940 dibawah asuhan K. Hilaluddin dengan dukungan dari KH. Husein. Pada awal perkembangannya, pendidikan di Pondok Pesantren Darul Huda tidak berjalan lancar karena pengaruh situasi negara pada waktu itu. Bahkan pada tahun 1954 Pondok Pesantren Darul Huda mengalami masa yang sangat suram, dengan meninggalnya pengasuh Pondok Pesantren in. Sementara disisi lain, kader pengganti belum diterjunkan. Baru pada tahun 1967 setibanya KH. HASYIM SHOLEH dari Pondok Pesantren Jampes Kediri Jawa Timur kegiatan pendidikan mulai diaktifkan kembali.

Tantangan yang dihadapi pada waktu itu adalah kurangnya sarana dan prasarana sebagai penunjang pendidikan. Selama 13 tahun KH. HASYIM SHOLEH berjuang keras untuk mengatasi masalah ini. Baru sekitar tahun 1980, Pondok Pesantren Darul Huda banyak mengalami kemajuan , baik dari segi fisik, kualitas muapun kuantitasnya.
Sistem Pengelolaan Pondok Pesantren Darul Huda secara organisatoris adalah sebuah yayasan ( bukan merupakan single fighter dalam pengelolaan Pondok Pesantren ), kaderisasi tidak hanya pada lingkup internal keluarga ndalem tetapi juga berdasarkan minat, bakat serta kualitas individu kader-kader yang akan diterjunkan. Sehingga untuk meningkatkan kualitas Pondok Pesantren akan sangat terbuka dengan banyaknya pilihan kader yang berkompeten.

Membangun insan muslim yang handal memang bukan pekerjaan yang mudah, sehingga untuk mewujudkan tujuan yang mulia ini, Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda pada tahun 1989 mendirikan berbagai lembaga pendidikan, diantaranya :
1.      Madrasah Tsanawiyah Darul Huda
2.      Madrasah Aliyah Darul Huda
3.      Madrasah Aliyah Keagamaan Darul Huda
4.      Madrasah Miftahul Huda ( Diniyah 6 th )

Selain program formal tersebut, Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda juga memberikan berbagai program pendidikan yang terhimpun dalam program ekstrakurikuler, diantaranya :
a.       Pramuka
b.      Komputer
c.       Program Pengembangan bahasa Arab dan bahasa Inggris
d.      Pengajian kitab-kitab kuning
e.       Khot / Kaligrafi
f.       Olah Raga

Demikian selayang pandang Madrasah Aliyah darul Huda, semoga bermanfaat.  Amien..



PROFIL
MADRASAH ALIYAH DARUL HUDA
MAYAK TONATAN PONOROGO 

A.          PENDAHULUAN

Madrasah Aliyah  Darul Huda yang berdiri pada tanggal 29 September 1989 dengan nomor izin operasional  W.n. 06.04/00.0352/58.14/1989, bernaung dibawah Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda, merupakan salah satu dari sekian Madrasah Aliyah yang ada dikabupaten Ponorogo.
Madrasah Aliyah Darul Huda sebagaimana Yayasan Pondok Pesantren  Darul Huda tempat bernaung,  menggunakan metode "  على نهج السلفية الحديثة "           dengan pengertian 
" المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح "   yang artinya tetap melestarikan metode lama yang baik dan mengambil baru yang lebih baik. Metode ini diharapkan sesuai arah kebijakan pemerintah mengenai kurikulum tahun 2004 dengan pendekatan berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004.

B.           STATUS MADRASAH

Madrasah Aliyah Darul Huda sejak awal berdirinya sesuai dengan izin Pendirian Madrasah dari Kantor wilayah Departemen Agama RI, No.  W.n. 06.04/00.0352/58.14/1989 tanggal 29 September 1989. dengan  Nomor Statatistik Madrasah ( NSM ) 312 350 216 280  Status TERDAFTAR  Sesuai dengan jenjang akreditasi dari Departeman Agama Republik Indonesia nomor : E.IV/29/1994 tanggal 24 Maret 1994 Madrasah Aliyah Darul Huda memiliki Status DIAKUI. Sesuai sertifikat Nomor Identitas Sekolah ( NIS ) Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Ponorogo nomor : 421 / 1228 / 405.17 / 2003 Madrasah Aliyah Darul Huda tercatat dengan Nomor Identitas Sekolah     ( NIS ) 31 00 50   , dan terakhir sesuai dengan jenjang akreditasi yang dilakukan oleh Dewan Akreditasi Madrasah  Provinsi Jawa Timur Nomor : B/Kw.13.4/MA/182/2005. sebagai Madrasah TERAKREDITASI dengan peringkat B ( Baik )

C.          VISI

Berilmu, Beramal, Bertaqwa 

D.          MISI

Mewujudkan warga madrasah berilmu yang amaliyah dan beramal yang ilmiah hingga mencapai insan yang bertaqwa.

E.           TUJUAN

1.      Meningkatkan sumber daya manusia yang dibutukan dalam manajemen Pendidikan di madrasah, baik kepala sekolah , tenaga pengajar, murid, tata usaha  serta masyarakat dalam fungsinya untuk memposisikan dan posisinya masing – masing sehingga secara bersama – sama dapat berperan serta dalam proses pendidikan.
2.      Memberikan kwalitas proses belajar mengajar. Di sini hak kepala madrasah, guru dan maupun para  murid   didorong untuk meningkatkan prestasinya , termasuk dalam hal ini adalah upaya meningkatkan wawasan kepala sekolah , guru dan murid.
3.      Menghasilkan output yang menghasilkan kemampuan akademis dan kepedulian sosial yang tinggi. Sehingga disamping menjadi manusia yang berilmu , juga menjadi manusia yang berperan aktif dalam membangun masyarakat.
4.      Mendorong seluruh komponen yang terlibat untuk mampu menjadikan fungsi manajemen dan metode pembelajaran bagi penyelenggara madrasah.

F.      TARGET

1.      Terciptanya kegiatan di madrasah yang terencana dan terarah dengan acuan manajemen yang baik.
2.      Meningkatnya kualitas para guru dan jajaran pengelola madrasah lainnya, sehingga memungkinkan terciptanya proses belajar mengajar yang kondusif dan menciptakan output yang handal.
3.      Berfungsinya unit – unit pendidikan baik  yang berkaitan dengan kegiatan murid, guru dan kepala sekolah serta seluruh jajaran pengelola dan masyarakat, baik unit organisasional maupun fungsional , sehingga memungkinkan terjadinya kerjasama yang baik dan terbangunnya rasa tanggung jawab bersama antara kita.

G.      SASARAN

         Sasaran kegiatan peningkatan manajemen mutu pendidikan ini adalah manajemen pendidikan yang dijalankan oleh madrasah.  Oleh karena itu seluruh komponen yang terlibat didalamnya, mulai dari kepala sekolah , guru, murid serta seluruh jajaran pengelola komite madrasah dan masyarakat dilingkungan madrasah sekitar. Seluru kegunaan yang dikembangkan dan komponen apa saja yang terlibat akan dijelaskan lebih jauh dalam bab selanjutnya.
         Dengan demikian kegiatan peningkatan manajemen mutu pendidikan bersifat menyeluruh, tidak hanya meningkatkan kualitas belajar mengajar sebagai sarana tunggal tetapi juga seluruh faktor yang mendukung baik internal maupun external. Oleh karena itu, maka untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak juga merupakan bagian tak terlupakan dalam kegiatan ini.                                                                         
2.    Data khusus
Data khusus ini kami dapat dari hasil wawancara dengan :
2.a.    Bu Arini Luthfiana pada hari Jum’atau tanggal 12 Desember 2008 jam 16.00 di rumah. Adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut :
Pertanyaan : Bagaimana pola hubungan antara guru dan murid di MA Darul Huda ?
Jawab          : Untuk pola hubungan antara guru dan murid berjalan cukup baik, mungkin jika ada perbedaan pendapat di kelas, guru selalu berusaha untuk menjelaskan secara perlahan-lahan sehingga murid bisa memahami dan mengerti tanpa melalui perdebatan yang panjang lebar.
P      : Bagaimana sikap murid jika diberi hukuman atas kesalahan yang dilakukan ?
J      :   Ya untuk sementara ini jika ada murid yang melakukan kesalahan cukup hanya diberi teguran saja tidak sampai ada hukuman sebab dengan ditegur saja mereka sudah pada kapok.
P      :   Bagaimana caranya agar hubungan antara guru dan murid bisa berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan ?
J      :   Selain guru itu bertindak sebagai fasilisator, seorang guru itu harus bisa menjadi teman dalam belajar sehingga hubungan antara guru dan murid itu bisa berjalan dengan baik tidak hanya diliputi suasana yang tegang saja, tapi kadang-kadang juga diselingi dengan canda tawa.
P      :   Bagaimana reaksi / sikap murid jika guru memberikan tugas yang tidak disukainya ?
J      :   Mereka biasanya mengeluh, bu kok sulit sih tugasnya …, tapi meskipun mereka mengeluh, kita sebagai seorang guru harus bisa memberi pengertian kepada mereka dan selalu memberi motivasi bahwa tugas yang diberikan itu merupakan salah satu cara  bagi mereka untuk bisa memahami pelajaran.
P      :   Bagaimana hubungan antara guru dan murid ketika berada di luar kelas? Apakah murid masih menghormati gurunya ?
J      :   Biasanya mereka yang masih kelas X dan kelas XI mereka masih menghormati sebab mereka masih bertemu di kelas, tapi kalau yang sudah alumni kebanyakan dari mereka sudah tidak mengindahkan guru karena mereka berfikir “Mandak Aku Wis Gak Diajar Wae Kok” sehingga berkurang rasa hormat mereka.
P      :   Apakah guru mengadakan pendekatan individual kepada murid yang mempunyai masalah ?

J      :   Ia itu sudah pasti, seorang guru berusaha bertanya atau mendekati kepada muridnya yang bermasalah, dan membantu untuk menyelesaikan dan terus memotivasi murid agar terus semangat dalam belajar, tapi kebanyakan dari mereka yang bermasalah itu karena ada masalah dari rumah.

2.b.    Luluk Zakiyah Rifqiati  kelas XII IPA pada hari Rabu tanggal 17 Desember 2008 pukul 17.00 WIB. Adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut :
Pertanyaan : Bagaimana pola hubungan antara guru dan murid di MA Darul Huda ?
Jawab          : Ya kalau hubungannya sih berjalan dengan baik, tapi itu semua ya relatif tergantung dari gurunya kalau gurunya itu disenangi anak-anak maka hubungan antara guru dan murid bisa berjalan dengan baik, tapi kalau gurunya itu terlalu “killer” anak-anak itu tidak senang sehingga hubungan yang terjalin kurang berjalan dengan baik.
P      :   Bagaimana sikap murid jika diberi hukuman atas kesalahan yang dilakukan ?
J      :   Itu semua sih tergantung dari hukuman yang diberikan, jika hukuman yang diberikan itu sesuai dengan kesalahannya maka murid bisa menerima, tapi jika kesalahannya itu tidak seberapa dan guru memberikan hukuman yang berat maka murid tersebut merasa tidak terima dan cenderung bersikap kurang suka terhadap guru tersebut.
P      :   Bagaimana caranya agar hubungan antara guru dan murid bisa berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan ?
J      :   Untuk membangun hubungan dengan baik antara  guru dan murid, seorang guru itu harus bisa memahami muridnya begitu juga sebaliknya, guru itu harus memahami mana murid yang mempunyai kemampuan rendah, sedang, dan tinggi, sehingga dalam penyampaian materi guru bisa memilih strategi yang tepat sehingga semua muridnya bisa memahami.
P      :   Bagaimana reaksi/ sikap murid jika guru memberikan tugas yang tidak disukainya ?
J      :   Ya kalau reaksinya sih kami semua sebagai murid mengeluh atas tugas yang diberikan karena kita tidak menyukainya, tapi kalau sikap kita sih lihat-lihat guru yang memberi tugas, kalau gurunya itu disegani,  kami sebagai murid hanya bisa “nggrundel” di belakang, tapi kalau gurunya itu biasanya setiap harinya bercanda tawa dengan murid, maka kami sebagai murid berani untuk mengungkapkannya.
P      :   Bagaimana hubungan antara guru dan murid ketika berada di luar kelas? Apakah murid masih menghormati gurunya ?
J      :   Kalau di luar kelas, murid itu masih menghormati  gurunya, sebab sebagai seorang murid kami merasa bahwa guru itu adalah orang yang mrnyampaikan ilmu kepada murid dan termasuk orang yang berjasa kepada kita sehingga kita harus menghormati guru.
P      :   Apakah guru mengadakan pendekatan individual kepada murid yang mempunyai masalah ?
J      :   Itu semua sih tergantung dari gurunya masing-masing, kalau gurunya itu peka dan perhatian kepada muridnya pasti guru tersebut akan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi anak didiknya, begitu juga sebaliknya.

C.  Analisis Data      
1.    Pola hubungan antara guru dengan murid
Pola hubungan antara guru dan murid di MA Darul Huda sangat baik, jika antara guru dan murid ada perbedaan pendapat dalam proses belajar mengajar, guru berusaha untuk menjelaskan secara perlahan-lahan. Dan agar hubungan itu tetap berjalan dengan  baik seorang guru tidak hanya bertindak sebagai guru tapi juga sebagai teman  belajar dan terus memotivasi anak didik. Dan ketika anak didiknya ada yang mempunyai masalah, guru mengadakan pendekatan individual sehingga murid tidak merasa sendirian.
                                                                                                                     
2.    Sikap guru terhadap murid
Adapun sikap guru terhadap murid di MA Darul Huda bisa dilihat dari cara guru untuk memahami muridnya. Apabila guru itu bisa memahami siswanya mulai dari yang kemampuannya rendah sampai yang mempunyai kemampuan tinggi maka hubungan guru dan murid bisa berjalan dengan baik dan sikap guru itu merupakan cerminan dari sifat dan kepribadian guru tersebut.
3.    Sikap murid terhadap guru
Adapun sikap murid terhadap guru di MA Darul Huda berjalan dengan baik, walaupun kadang-kadang dari mereka diberi tugas yang tidak disukainya tapi murid masih menghormati guru, masih bersikap ta’dzim kepada guru dan masih mau mendengarkan dan melaksanakan nasehat-nasehat yang diberikan.                       
                                                                                                                                   
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan   
1.    Pola hubungan antara guru dan  murid itu saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lain sehingga bisa mencapai tujuan yang telah ditentukan. Di MA Darul Huda hubungan antara guru dan murid berjalan dengan baik meskipun kadang terjadi perbedaan pendapat tapi itu bisa terselesaikan dengan cara guru memberikan pengertian secara perlahan-lahan sehingga mereka bisa memahami.                     
2.    Sikap guru terhadap murid bisa berupa menghormati kepribadian pelajar, memberi kepahaman menurut kesanggupan muridnya serta memberi motivasi kepada siswa agar giat belajar. Untuk sikap guru dan murid di MA Darul Huda berjalan dengan baik, selain guru bertindak sebagai fasilisator, guru juga bertindak sebagai teman belajar, sehingga dari itu semua bisa dijalin hubungan yang baik tanpa ada rasa dendam.
3.    Sedangkan sikap murid kepada gurunya di MA Darul Huda berjalan dengan baik, meskipun murid kadang-kadang diberi tugas yang tidak disenanginya, tapi murid masih menghormati guru, masih bersikap ta’dzim kepada guru dan masih mau mendengar nasehat-nasehatnya.
 B. Saran
            Hendaknya pola hubungan antara guru dengan murid dipertahankan keharmonisannya, agar tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.


REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA


Faisal, Sanapiah. Sosiologi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional, t.t.
Hadis, Abdul ,Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta, 2006.
Suparlan, Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta : Hikayat Publishing, 2006.
Ulum, M. Miftahul dan  Basuki, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo : STAIN Po Press, 2007.
Wawancara
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/pola-hubungan-guru-dengan-murid-di-ma.html

      [1] Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Ponorogo : STAIN Po Press, 2007), 97.
     [2]   Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, tt),167-168.
     [3]    Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Yogyakarta : Hikayat Publishing, 2006), 37-39.
     [4]    Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu…, 97.
     [5]    Wawancara dengan bu Arini Luthfiana, hari Jum’at tanggal 12 Desember 2008.
     [6]    Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu…, 98.
     [7]    Sanapiah Faisal, Sosiologi…, 169.
     [8]    Abdul Hadis, Psikologi Dalam Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2006), 21-22.
     [9]    Basuki dan M. Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu…, 101-102.
     [10]   Wawancara dengan bu Arini Luthfiana, hari Jum’at tanggal 12 Desember 2008.

MATERI TERKAIT:

Judul: POLA HUBUNGAN GURU DENGAN MURID DI MA DARUL HUDA MAYAK TONATAN PONOROGO
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah POLA HUBUNGAN GURU DENGAN MURID DI MA DARUL HUDA MAYAK TONATAN PONOROGO. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/pola-hubungan-guru-dengan-murid-di-ma.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger