SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

            Pengembangan variasi mengajar merupakan suatu hal yang harus dimiliki seorang pendidik, yang mana dengan kemampuan mengembangkan variasi mengajar,   pendidik mampu menciptakan suasana belajar yang diinginkan oleh peserta didik sehingga mereka mampu menyerap pelajaran dengan baik.
Namun di sisi lain faktor kebosanan yang disebabkan oleh adanya penyajian kegiatan belajar yang monoton mengakibatkan perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran menurun. Untuk itu diperlukan adanya keanekaragaman dalam  penyajian variasi mengajar.
Berlatarbelakang dari adanya faktor-faktor kebosanan tersebut yang mengakibatkan perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran menurun, dan perlu adanya variasi mengajar, maka penulisan makalah ini kami beri judul “Pengembangan Variasi Mengajar.

B.  Rumusan Masalah
                     
            Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.         Apa pengertian variasi mengajar ?
2.         Apa tujuan variasi mengajar ?
3.         Apa prinsip / kearifan penggunaan variasi mengajar ?
4.         Apa dimensi/ komponen dalam  variasi mengajar ?
C.  Tujuan Penulisan

            Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui :
1.         Pengertian  variasi mengajar
2.         Tujuan  variasi mengajar
3.         Prinsip/ kearifan penggunaan variasi mengajar
4.         Dimensi/ komponen dalam  variasi mengajar

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Variasi Mengajar
Pengertian “variasi” menurut kamus istilah populer adalah “selingan, selang-seling, atau pergantian”.[1] Sedangkan menggunakan variasi diartikan sebagai perbuatan guru dalam  konteks proses belajar mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam  proses belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan serta secara aktif.[2]
Menurut Udin S. Winataputra seperti dikutip dalam  buku ini mengatakan bahwa variasi adalah keanekaragaman yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan atau dibuat untuk memberikan kesan yang unik.[3]
Dalam  proses belajar mengajar ada variasi apabila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam  gaya mengajar, media yang berganti-ganti, dan ada perubahan dalam  pola interaksi antara guru-siswa dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.[4]
B.  Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi mengajar adalah :
1.    Agar perhatian siswa meningkat.
Dengan perhatian penuh yang diberikan oleh seorang guru, diharapkan siswa akan mampu menguasai materi yang diberikan guru.
2.    Memotivasi siswa.
Dalam  konteks ini variasi mengajar yang diberikan guru sangat berkontribusi besar dalam  membantu siswa agar lebih termotivasi dalam  belajar.
3.    Menjaga wibawa guru.
Guru hendaknya menyadari bahwa kehadirannya sewaktu mengajar tidak seluruh siswa menyenanginya. Banyak guru yang kehadirannya di kelas disambut dengan senyum kecut, ditertawai bahkan adakalanya siswa menggunjing baik secara langsung maupun tidak langsung.
Untuk menghindari berbagai kejadian yang dapat merendahkan wibawa guru, salah satunya guru harus mampu mengajar dengan penuh percaya diri, memiliki kesiapan mental dan intelektual, memiliki kekayaan metode, keleluasaan teknik dan sebagainya. Dengan kata lain guru harus memiliki bentuk dan model pengajaran yang bervariasi.[5]
4.    Mendorong kelengkapan fasilitas pengajaran.
Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah. Fungsinya berguna sebagai alat bantu pengajaran, alat peraga. Sebagai sumber belajar adalah sisi lain dari peranannya yang tidak boleh dilupakan guru. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus dilakukan guru dan sangat terbatasnya fasilitas belajar cenderung lebih sedikit alternatif yang tersedia untuk melakukan pemilihan.
5.    Mendorong anak didik untuk belajar.
Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar.[6]
C.  Prinsip/ Kearifan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi mengajar harus tersusun berdasarkan rencana yang jelas yang didasarkan pada rujukan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai keharusan tersebut, maka seorang guru dituntut kearifan dalam  menggunakan variasi mengajar.
Beberapa langkah untuk mewujudkan kearifan tersebut diantaranya sebagai berikut:
1.    Variasi pengajaran yang diselenggarakan harus menunjang dan dalam  rangka merealisasikan tujuan pembelajaran.
2.    Penggunaan variasi mengajar harus lancar dan berkesinambungan tidak mengganggu proses belajar mengajar dan anak didik akan lebih memperhatikan berbagai proses pengajaran secara utuh.
3.    Penggunaan variasi mengajar harus bersifat terstruktur, terencana dan sistematik.
4. Penggunaan variasi mengajar harus luwes (tidak kaku) sehingga kehadiran variasi itu semakin mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar.
Kearifan itulah yang setidaknya diperlukan seorang guru dalam  penggunaan variasi mengajar. Kearifan ini menunjukkan bahwa dalam  penggunaan variasi mengajar, guru hendaknya memperhatikan keberadaan siswa, situasi dan kondisi lingkungan.[7]
D.  Dimensi/ Komponen Variasi Mengajar
Pada dasarnya dimensi atau komponen dalam  mengajar dibagi dalam tiga kategori besar yaitu variasi gaya mengajar, variasi media dan bahan, dan variasi interaksi.
1.    Variasi gaya mengajar
a.    Penggunaan variasi suara (teacher voice), variasi suara adalah perubahan dari tinggi ke rendah, dari cepat menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
b.  Pemusatan perhatian siswa (focusing), memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting yang dapat dilakukan guru.
c.    Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), adanya kesenyapan, kebisuan atau selingan diam yang secara tiba-tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu, yang mana ini merupakan salah satu alat yang baik untuk menarik perhatian siswa.
d. Mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), apabila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim/ harmonis dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian dan pemahaman siswa.
e.  Gerakan badan mimik, variasi dalam  ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam  berkomunikasi. Gunanya untuk menyampaikan pesan yang disampaikan dan menarik perhatian. Ekspresi wajah yaitu dengan tersenyum, mengerutkan dahi, cemberut, menaikkan alis mata dan untuk menunjukkan kekaguman yaitu dengan tercengang maupun heran. Gerakan kepala dapat dilakukan dengan bermacam-macam yaitu dengan mengangguk atau menggeleng. Gerakan jari yaitu dengan mengetuk-ngetuk yang menandakan waktu dan lain sebagainya.
f.   Pergantian posisi guru dalam  kelas dan gerak guru (teacher movement), pergantian gerak guru dalam  kelas yaitu agar dapat mempertahankan perhatian siswa. Terutama sekali bagi guru yang menyajikan pelajaran di kelas, biasakan bergerak bebas tidak kikuk atau ragu dan menghindari perilaku yang negatif. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
1).      Biasakan bergerak bebas dalam  kelas. Gunanya untuk menanamkan rasa dekat dengan murid sambil mengontrol tingkah laku murid.
2).      Jangan membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan tulis.
3).  Jangan membiasakan menerangkan dengan arah pandang ke langit-langit, lantai atau ke luar kelas, tetapi arahkan pandangan menjelajahi seluruh kelas.
4).      Bila diinginkan untuk mengobservasi seluruh kelas, bergeraklah perlahan-lahan dari belakang ke arah depan untuk mengetahui tingkah laku murid.
2.    Variasi media dan bahan
Media dan alat pengajaran bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yaitu didengar, dilihat dan diraba.
Dalam  perbedaan ini guru harus mampu menyesuaikan kemampuannya, karena pada diri anak terdapat perbedaan dalam  menggunakan alat inderanya. Ada yang termasuk tipe visual, auditif dan motorik. Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut:
a.    Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual ads), alat atau media yang termasuk dalam  jenis ini antara lain grafik, bagan, poster, diorama, specimen, gambar, film dan slide.
b.    Variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif ads), antara lain suara guru, rekaman suara, radio, musik, deklamasi puisi, sosiodrama, dapat dipakai sebagai penggunaan indera pendengar yang divariasikan dengan indra lainnya.
c.    Variasi alat atau bahan yang dapat diraba,dimanipulasi dan digerakkan (motorik). Penggunaan alat yang termasuk ke dalam  jenis ini akan dapat menarik perhatian siswa dan dapat melibatkan siswa dalam  membentuk dan memperagakan kegiatannya baik secara perseorangan ataupun kelompok. Yang termasuk dalam  hal ini misalnya peragaan yang dilakukan oleh guru atau siswa, model, specimen, patung, topeng, dan boneka, dapat digunakan oleh anak untuk diraba, diperagakan maupun dimanipulasikan.
d.   Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat dan diraba (audio visual ads), penggunaan alat ini merupakan jenis paling tinggi karena melibatkan semua indera yang kita miliki. Hal ini sangat dianjurkan dalam  proses belajar mengajar. Media yang termasuk dalam kategori ini misalnya tv, radio, slide proyektor yang diiringi penjelasan guru, dan tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang hedak dicapai.
3.    Variasi interaksi
Pola interaksi guru dengan murid dalam  kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya, mulai dari gerakan yang didominasi oleh guru sampai kegiatan yang dilakukan oleh murid itu sendiri. Yang mana ini semua dilakukan untuk menghindari kebosanan dalam  belajar. Adapun jenis pola interaksi (gaya interaksi) dapat digambarkan sebagai berikut:
a.    Pola guru è murid : komunikasi sebagai aksi satu arah.
b.    Pola guru èmurid èguru : ada kebalikan (feedback) bagi guru, tidak ada interaksi antara siswa.
c.    Pola guru èmuridèmurid: ada balikan bagi guru, siswa saling belajar satu sama lain.
d.   Pola guru èmurid, murid èguru , muridèmurid : interaksi optimal antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid (komunikasi sebagai transaksi, multi arah)
e.    Pola melingkar: setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.[8]
 
BAB III
PENUTUP


A.  Kesimpulan
            Dari pembahasan pengembangan variasi mengajar dapat kami simpulkan sebagai berikut  :

.
1.   Variasi mengajar  adalah suatu kegiatan yang berbeda-beda atau berubah-ubah yang dilakukan oleh guru di dalam  kelas pada saat menyampaikan pelajaran kepada anak didik agar mereka mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan mampu mencapai tujuan yang diinginkan
2.    Tujuan  variasi mengajar yaitu agar perhatian siswa meningkat, mampu memotivasi siswa dalam  belajar, menjaga wibawa guru di depan murid, mendorong kelengkapan fasilitas pengajaran.
3.    Prinsip/ kearifan penggunaan variasi mengajar yaitu variasi hendaknya digunakan dengan maksud yang relevan demi terciapainya tujuan yang hendak dicapai, variasi sebaiknya dilakukan berkesinambungan agar tidak merusak perhatian siswa, variasi hendaknya direncanakan dengan baik dan eksplisit yaitu dicantumkan dalam  rencana pembelajaran.
4.     Dimensi/ komponen dalam  variasi mengajar yaitu variasi cara mengajar, variasi dalam  penggunaan media, dan variasi dalam  pola interaksi.

B.  Saran
       Guru hendaknya memperhatikan keberadaan siswa, situasi dan kondisi lingkungan dalam mempraktekkan berbagai variasi dalam mengajar agar tepat sasaran dan membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Fathurrohman, Pupuh, Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama, 2009.
Hasibuan, J.J.,  Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
Jamarah, Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/pengembangan-variasi-mengajar.html



[1] Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Refika Aditama, 2009), 91.
[2] J.J. Hasibuan, Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), 64.
[3] Pupuh Fathurrohman, Strategi..., 91.
[4] Syaiful Bahri Jamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 161.
[5] Pupuh Fathurrohman, Strategi..., 92-93.
[6] Syaiful Bahri Jamarah, Strategi... 164-165.
[7] Pupuh Fathurrohman, Strategi...,94.
[8] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), 87-88.



MATERI TERKAIT:

Judul: PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/pengembangan-variasi-mengajar.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger