SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

KONSEP DASAR GERAKAN PEMBAHARUAN DALAM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Periode keemasan dan kejayaan pendidikan Islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah ataupun pada masa Dinasti Umayyah di Spanyol. Dikatakan bahwa, “Pada periode ini, daerah kekuasaan Islam sudah meluas mulai dari India dan Asia tengah sampai ke Spanyol dan Maroko. Kebudayaan dan peradaban mengalami kemajuan pesat dalam segala bidang, terutama dalam bidang administrasi pemerintah, ekonomi, pendidikan dan ilmiah. Di bidang pendidikan dan ilmiah, kemajuan ditandai dengan mengadaptasi warisan kebudayaan dan peradaban serta ilmu-ilmu yang didapat dari Yunani, Persia, Mesir, Yahudi, Kristen dan India ke dalam Islam. Kemudian warisan-warisan tersebut dikembangkan dan diIslamkan oleh  sarjana-sarjana muslim. Maka terjadilah ia sebagai  kebudayaan, peradaban dan ilmu pengetahuan Islam sendiri.[1]   Dikatakan juga bahwa, “Di samping itu mereka juga menggalakkan penulisan buku-buku ilmiah, mengadakan penelitian dan pengklasifikasian ilmu-ilmu keislaman, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa karakteristik dari pendidikan Islam pada periode ini adalah karakteristik yang paling tinggi yang pernah dicapai umat-umat Islam dalam semua bidang pendidikan. Dan karakteristik ini merupakan kelanjutan dan pengembangan maksimal dari karakteristik pendidikan Islam yang telah dirintis pada periode pertama.[2]
Namun periode keemasan dan kejayaan pendidikan Islam ini mengalami kemunduran pada permulaan abad ke-11 Masehi sampai akhir abad ke-15 Masehi. Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah ditulis dalam ilmu sejarah, menurunnya periode keemasan Islam ini disebabkan karena sikap umat Islam terhadap pendidikan dan pemikiran semakin berkurang. Al Qur’an dan Hadis sudah mulai ditinggalkan sebagai  sumber pemikiran dan sikap hidup, pintu ijtihad dianggap tertutup, pemikiran membeku, pandangan sempit, orientasi berat ke akhirat dan dunia dianggap tidak perlu, ilmu dan agama terpisah, sikap taqlid dan fatalistik, dan lain-lain.[3] Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai hilangnya sebagian karakteristik pendidikan yang telah dicapai pada zaman klasik.
Dari beberapa penyebab kemunduran dalam dunia pendidikan Islam ini dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang dilakukan oleh  tokoh-tokoh Islam untuk mengatasi kemunduran pendidikan Islam tersebut ?” Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah ditulis dalam ilmu sejarah, telah ditemukan upaya dari tokoh-tokoh pembaharu Islam untuk mengatasi penyebab kemunduran dunia pendidikan Islam, dengan mengadakan pembaharuan yang berupa pembaharuan pemikiran maupun yang berwujud gerakan pembaharuan. Adapun wujud dari pembaharuan tersebut dapat dilihat antara lain di negara Saudi Arabia, Mesir, Turki, India-Pakistan dan negara-negara Islam lainnya. Yang
Selanjutnya, berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulisan makalah ini kami beri judul “Konsep Dasar Gerakan Pembaharuan Dalam Islam”.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.       Apa landasan teologis gerakan pembaharuan dalam Islam ?
2.       Apa dasar teoritis gerakan pembaharuan dalam Islam ?
C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat menjelaskan/ mendeskripsikan:
1.       Landasan teologis gerakan pembaharuan dalam Islam
2.      Dasar teoritis gerakan pembaharuan dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Landasan Teologis Gerakan Pembaharuan Dalam Islam
1.       Pengertian Pembaharuan Islam
Pembaharuan Islam adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi madern.[4]
Pembaharuan Islam adalah pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[5]
2.     Negara-negara pembaharu
a.       Sebelum periode modern
1).    Kerajaan usmani dengan tokohnya Ibrahim Mutafarrika yang menghasilkan pembukaan percetakan di Istambul dan memperkenalkan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan kemajuan barat kepada pembaca-pembaca Turki dan usaha penterjemahan buku-buku barat ke bahasa Turki.[6]
2).    India dengan tokohnya Syah Waliullah[7] yang menghasilkan pemikiran bahwa diantara kelemahan Islam adalah perubahan sistem pemerintahan dari kekhalifahan yang bersifat demokratis menjadi sistem kerajaan yang bersifat otokratis. Raja-raja Islam pada umumnya mempunyai kekuasaan absolut. Pajak tinggi yang harus dibayar rakyat hanya membawa pada kelemahan umat, perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam menurutnya disebabkan oleh  perpecahan yang ditimbulkan oleh  aliran-aliran dan mazhab-mazhab yang terdapat dalam Islam, seperti Syi’ah, Sunni, Mu’tazilah/ Asy’ariah dan lain-lain, dan masuknya adat istiadat dan ajaran-ajaran bukan Islam ke dalam Islam. Di India, ajaran Islam banyak dipengaruhi oleh  ajaran Hindu.  Ide Syah Waliullah adalah sistem pemerintahan yang terdapat di zaman khalifah perlu dihidupkan kembali, mengadakan suasana damai antara golongan, aliran dan mazhab yang berbeda-beda. Keyakinan umat Islam harus dibawa kembali kepada ajaran yang sebenarnya  dan sumber aslinya hanyalah Al Qur’an dan Hadits. Dan dia juga tidak setuju dengan taklid, mengikut, dan patuh pada penafsiran ulama di masa lampau. Dia melihat bahwa masyarakat bersifat dinamis. Penafsiran yang sesuai untuk suatu zaman belum tentu sesuai dengan zaman sesudahnya. Oleh karena itu dia menentang taklid dan menganjurkan pengadaan ijtihad.[8]
3). Saudi Arabia dengan aliran Wahabiah dengan tokohnya Muhammad Abdul Wahhab. Pemikirannya adalah memperbaiki kedudukan umat Islam dalam bidang tauhid, yang menurutnya kemurnian faham tauhid mereka telah dirusak oleh  ajaran-ajaran tarekat yang tersebar luas semenjak abad ketiga belas. Dan juga faham animisme masih mempengaruhi keyakinan umat Islam yang menurutnya merupakan syirik atau politeisme. Muhammad Abdul Wahhab memusatkan pada soal-soal diantaranya yang boleh disembah hanyalah Tuhan, meninggalkan bid’ah, umat Islam harus kembali kepada Islam yang asli, meninggalkan taklid, membuka pintu ijtihad.[9]
Pemikiran Muhammad Abdul Wahhab :
a).     Hanya Al Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber asli Islam.
b).    Taklid tidak dibenarkan.
c).     Pintu ijtihad terbuka tidak tertutup.[10]
b.      Setelah periode modern[11]
1).         Mesir
2).       Turki
3).        India-Pakistan
3.       Tokoh-tokoh Pembaharu
Adapun tokoh-tokoh gerakan pembaharuan dalam Islam adalah :
a.       Mesir :
1).  Muhammad Ali Pasya dengan usahanya menterjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab.
2).  Al-Tahtawi yang berpendapat bahwa penterjemahan buku-buku Barat ke dalam bahasa Arab penting, agar umat Islam dapat mengetahui ilmu-ilmu yang membawa kemajuan Barat. Dia juga aktif mengarang dan menerbitkan surat kabar resmi " الوقا ئع المصرية" dan mendirikan majallah " روضة المدارس" yang bertujuan memajukan bahasa Arab dan menyebarkan ilmu-ilmu pengetahuan modern kepada khalayak ramai. Dia berpendapat bahwa ulama harus mengetahui ilmu-ilmu modern agar mereka dapat menyesuaikan syari’at dengan kebutuhan-kebutuhan modern. Ini mengisyaratkan bahwa pintu ijtihad masih terbuka, tapi dia belum berani mengatakan secara terang-terangan. Dia juga mencela paham fatalisme. Menurutnya, disamping orang harus percaya pada qadha dan kadar Tuhan, ia harus berusaha.[12]
3).  Jamaluddin Al Afghani  dengan usahanya mendirikan perkumpulan “Urwatul Wusqo” . Pemikirannya : Islam adalah sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. Pintu ijtihad masih terbuka, kemunduran Islam karena meninggalkan ajaran Islam yang sebenarnya. Paham qadha dan kadar dirusak oleh  paham fatalisme yang membawa umat Islam pada keadaan statis, lemahnya rasa persaudaraan umat Islam.[13]
4).    Muhammad Abduh dengan pemikirannya bahwa, kemunduran-kemunduran disebabkan oleh  paham jumud di kalangan umat Islam yaitu keadaan membeku, statis, tidak ada perubahan, dan juga masuknya bid’ah dalam Islam yang membuat umat Islam lupa akan ajaran Islam yang sebenarnya, pintu ijtihad perlu dibuka kembali, memerangi taklid, merubah cara pandang/faham jumud/fatalisme menjadi faham dinamika (kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan).[14]
5). Rasyid Ridha dengan usahanya menerbitkan majalah “ Al Manar” yang bertujuan mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial dan ekonomi, memberantas takhayul, bid’ah, menghilangkan paham fatalisme. Pemikirannya bahwa umat Islam mundur sebab tidak mengamalkan ajaran yang sebenarnya. Perlu dihidupkan paham jihad, persatuan umat Islam, ijtihad.[15]
b.      Turki
1).    Sultan Mahmud II dengan mengadakan perubahan : dalam organisasi pemerintahan, bidang pendidikan antara lain menambahkan pengetahuan umum ke dalam kurikulum madrasah, mendirikan sekolah militer, sekolah teknik, kedokteran dan sekolah pembedahan, mengirim siswa-siswa ke Eropa.[16]
2). TANZIMAT yaitu pembaharuan sebagai  lanjutan dari usaha-usaha sultan Mahmud II, dengan tokohnya Mustafa Rasyid Pasya.[17]
3).  USMANI MUDA yaitu golongan intelegensia kerajaan Usmani yang banyak menentang kekuasaan absolut Sultan, dengan tokohnya Ziya Pasya.[18]
4).    TURKI MUDA
5).    Mustafa Kemal Pasya dengan ide westernisme, sekularisasi, nasionalisme.[19]
c.       India-Pakistan
1).    GERAKAN MUJAHIDIN dengan tokohnya sayyid Ahmad Syahid dengan pemikirannya : bahwa umat Islam India mundur karena agama yang mereka anut tidak lagi murni, tetapi bercampur dengan faham dari Persia dan India, Animisme dan adat istiadat Hindu. Yang boleh disembah hanya Tuhan tanpa perantara dan tanpa upacara yang berlebihan, tidak boleh memberikan sifat yang berlebihan pada makhluk, sunnah yang diterima hanyalah sunnah Nabi dan sunnah Khalifah yang empat, dan larangan bid’ah, menentang taklid.[20]
2).    Sayyid Ahmad Khan dengan pandangan bahwa umat Islam India mundur karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman, harus menghargai kekuatan akal, menentang paham fatalisme, menolak taklid, pendidikan merupakan satu-satunya jalan bagi umat Islam India untuk mencapai kemajuan.[21]
3).    GERAKAN ALIGARH [22]
4).    Sayyid Amir Ali [23]
5).    Muhammad Iqbal[24], Muhammad Ali Jinnah [25]
6).    Abul Kalam Azad [26]
4.        Bentuk-bentuk ekspresi
a.       Saudi Arabia : berupa gerakan Wahabi dengan tokohnya Muhammad Bin Abdul Wahab.[27]
b.       Mesir : berupa penerbitan surat kabar resmi "الوقا ئع المصرية" dan majallah " روضة المدارس"  yang bertujuan memajukan bahasa Arab dan menyebarkan ilmu-ilmu pengetahuan modern kepada khalayak ramai. Dia  berpendapat bahwa ulama harus mengetahui ilmu-ilmu modern agar mereka dapat menyesuaikan syari’at dengan kebutuhan-kebutuhan modern.[28]
c.       Turki : berupa Gerakan Usmani Muda  dengan tokohnya Ziya Pasya, dan Gerakan Turki Muda  dengan tokohnya Mustafa Kemal Pasya.[29]
d.       India-Pakistan : berupa gerakan Aligarh.[30]   
    
    
5.       Landasan Teologis Gerakan Pembaharuan
Dari gerakan-gerakan pembaharuan dalam Islam yang muncul di beberapa negara dengan para tokohnya, dapat diambil inti dari landasan teologisnya antara lain : 
a.       Pemurnian ajaran Islam dari syirik takhayul, bid’ah, khurafat, animisme, kembali pada Al Qur’an dan Hadits.
b.       Menghargai akal.
c.       Pembukaan ijtihad.
d.      Menolak taklid.
e.       Persatuan umat islam / ukhuwah islamiyah.
f.        Penolakan paham fatalisme.

B.     Dasar Teoritis Gerakan Pembaharuan Dalam Islam
Dasar teoritis gerakan pembaharuan dalam Islam dapat dilihat dari cara pengamalan ajaran dari segi tinjauan sosiologis maupun rumusan keyakinan dari para tokoh pembaharunya, antara lain :
1.       Cara pengamalan ajaran dalam tinjauan sosiologis
Gerakan pembaharuan yang dilakukan para tokoh pembaharu itu, memiliki nilai-nilai positif ditinjau dari segi sosiologi, bagi terbentuknya suatu tatanan dunia baru Islam yang dapat menghadapi perkembangan dunia dengan segala persoalannya yang ada. Nilai-nilai positif tersebut adalah :
a.    Nilai Persatuan yaitu gerakan pembaharuan bertujuan untuk menciptakan persatuan bagi umat Islam dan mengatasi perpecahan karena perbedaan dalam persoalan faham, kesukuan dan lain-lain.
b. Nilai Solidaritas (Ukhuwah Islamiyah) yaitu gerakan pembaharuan menjalin solidaritas (persaudaraan) senasib sepenanggungan untuk membela umat Islam dalam keadaan suka maupun duka.
c.      Nilai Pembaharuan yaitu gerakan pembaharuan dalam bidang agama (pemurnian ajaran Islam dari takhayul, bid’ah dan khurafat), dalam aspek akhlak, aspek ekonomi (menciptakan semangat kerja dan percaya diri tidak tergantung kepada orang lain), serta dalam bidang politik (menciptakan sistem pemerintahan demokratis dan menghapus sistem pemerintahan otoriter).
d.   Nilai Perjuangan (jihad fi sabilillah) yaitu gerakan pembaharuan mengandung nilai perjuangan menemukan kembali ajaran Islam yang penuh dinamika perjuangan.
e. Nilai Kemerdekaan yaitu gerakan pembaharuan mengutamakan kemerdekaan, terutama kemerdekaan berpikir. Dengan kebebasan berpikir berarti umat Islam membebaskan dirinya dari belenggu taklid yang selama ini menyelimutinya. Juga kemerdekaan fisik, yaitu kemerdekaan untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa-bangsa Eropa yang telah menjajah negeri-negeri Islam. Juga kemerdekaan dari ketergantungan ekonomi, dari penindasan politik dan kekuasaan, dan kemerdekaan dari bentuk-bentuk kebudayaan Barat yang melanda dunia Islam.[31]
    
2.       Rumusan Keyakinan Gerakan Pembaharuan Dalam Islam
a.       Memurnikan ajaran Islam dari takhayul, bid’ah, dan khurafat (Muhammad Abdul Wahhab).
b.   Membebaskan umat Islam dari belenggu taklid___sehingga mereka jumud/beku. (Muhammad Abduh).
c.     Memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, memperkuat paham nasionalisme yang diwujudkan dalam bentuk partai Al-Hizb Al-Wathoni dan menanamkan paham patriotisme (Al Tahtawi).
d.      Memperkuat Ukhuwah Islamiyah, melakukan pembaharuan bidang agama, politik pemerintahan, ide pokok pan islamisme (Jamaluddin Al-Afghani)
e.   Menumbuhkan sikap aktif dan dinamis, meninggalkan sikap fatalisme, penggunaan akal dalam memahami ajaran Islam, serta keharusan umat Islam menguasai sains dan teknologi (Rasyid Ridho).
f.        Perlunya dilakukan ijtihad (Sayyid Ahmad Khan).
g.       Pembangunan kembali pemikiran Islam (Muhammad Iqbal).[32]

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari pembahasan konsep dasar gerakan pembaharuan dalam Islam dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1.       Landasan Teologis Gerakan Pembaharuan Dalam Islam
a.     Pengertian Pembaharuan Islam adalah pikiran dan gerakan atau upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
b.       Negara-negara pembaharu antara lain : Sebelum periode modern yaitu Kerajaan usmani, dengan tokohnya Ibrahim Mutafarrika, India dengan tokohnya Syah Waliullah, Saudi Arabia dengan tokohnya Muhammad Abdul Wahhab, Setelah periode modern yaitu Mesir, Turki, India-Pakistan.
c.       Tokoh-tokoh Pembaharu gerakan pembaharuan dalam Islam adalah : (Mesir) : Muhammad Ali Pasya, Al-Tahtawi, Jamaluddin Al Afghani,  Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, (Turki) : Sultan Mahmud II, Mustafa Rasyid Pasya, Ziya Pasya, .Mustafa Kemal Pasya. (India-Pakistan) : Sayyid Ahmad Syahid,. Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbal,  Muhammad Ali Jinnah, Abul Kalam Azad.
d.      Bentuk-bentuk ekspresi antara lain di Saudi Arabia : berupa gerakan Wahabi,  Mesir : berupa penerbitan surat kabar resmi " الوقا ئع المصرية  dan majallah " روضة المدارس",  Turki : berupa Gerakan Usmani Muda  dan Gerakan Turki Muda,   India-Pakistan : berupa gerakan Aligarh
e.   Landasan Teologis Gerakan Pembaharuan adalah Pemurnian ajaran Islam dari syirik takhayul, bid’ah, khurafat, animisme, kembali pada Al Qur’an dan Hadits, Menghargai akal, Pembukaan ijtihad, Menolak taklid, Persatuan umat Islam / Ukhuwah Islamiyah, Penolakan paham fatalisme.
2.       Dasar Teoritis Gerakan Pembaharuan Dalam Islam adalah menurut cara pengamalan ajaran dari segi tinjauan sosiologis dan  rumusan keyakinan dari para tokoh pembaharunya, antara lain : Cara-cara pengamalan ajaran secara tinjauan sosiologis mempunyai wujud Nilai Persatuan, Nilai Solidaritas,  Nilai Pembaharuan, Nilai Perjuangan (jihad fi sabilillah), Nilai Kemerdekaan.  Adapun Rumusan keyakinannya adalah Memurnikan ajaran Islam dari takhayul, bid’ah, dan khurafat (Muhammad Abdul Wahhab), Membebaskan umat Islam dari belenggu taklid___sehingga mereka jumud/beku. (Muhammad Abduh), Memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, memperkuat paham nasionalisme yang diwujudkan dalam bentuk partai Al-Hizb Al-Wathoni dan menanamkan paham patriotisme (Al Tahtawi) Memperkuat Ukhuwah Islamiyah, melakukan pembaharuan bidang agama, politik pemerintahan, ide pokok pan Islamisme (Jamaluddin Al-Afghani), Menumbuhkan sikap aktif dan dinamis, meninggalkan sikap fatalisme, penggunaan akal dalam memahami ajaran Islam, serta keharusan umat Islam menguasai sains dan teknologi (Rasyid Ridho), Perlunya dilakukan ijtihad (Sayyid Ahmad Khan), Pembangunan kembali pemikiran Islam (Muhammad Iqbal).
B.     Saran
Hendaknya kita umat Islam lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi adanya suatu pembaharuan dalam Islam. Dengan adanya kemajuan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dapatlah diambil suatu pelajaran bahwa itu semua berkat usaha gigih tokoh-tokoh Barat dalam mengadakan pembaharuan demi menuju suatu kemajuan dan kita umat Islam patut mencontoh usaha mereka dengan tetap berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi.


DAFTAR PUSTAKA

Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, MA kelas 3. Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997.
Nasution, Harun Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Cet. 6. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1988.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Cet. 9. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Nurhakim, Moh, Metodologi Studi Islam. Malang: UMM Press, 2005.
Rahman, Fazlur, Gelombang Perubahan Dalam Islam, Studi Tentang Fundamentalisme Islam. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Keempat. Jakarta: Kalam Mulia, 2004.
Subhi, Imam, Sejarah Kebudayaan Islam, untuk MA kelas XII. Jakarta: PT. Listafariska Putra, 2006.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/konsep-dasar-gerakan-pembaharuan-dalam.html


[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Keempat (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), 223.
[2] Ibid., 224-225.
[3] Ibid., 225-226.
[4]  Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Cet. 9 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 378-379.
[5] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Cet. 6 (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1988), 11-12.
[6] Ibid.
[7] Terlahir dengan nama Ahmad Bin Abdul Rahman yang merupakan seorang penulis yang produktif dan pemikir yang berpengaruh, tidak hanya di India tapi juga di jazirah Arab. Lihat dalam Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan Dalam Islam, Studi Tentang Fundamentalisme Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), 245.
[8] Ibid.
[9] Menurut Muhammad Abdul Wahhab, mengunci ijtihad akan menjadikan umat Islam beku dan mandeg, karena mereka hanya akan berkutat pada pendapat atau fatwa dari mujtahid yang terdahulu. Lihat dalam Imam Subchi, Sejarah Kebudayaan Islam untuk MA kelas XII (Jakarta: PT. Listafariska Putra, 2006), 44.
[10] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, MA kelas 3 (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997), 170. Lihat juga dalam Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Cet. 6 (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1988), 26.
[11] Dalam perkembangan menghadapi modernisasi, umat Islam pada abad ke-19 mempunyai sikap (respon) yang berbeda-beda dan selanjutnya melahirkan kelompok pembaharuan. Adapun bentuk-bentuk respon tersebut  adalah menolak dan menarik diri (tradisionalis), sekularisme dan westernisasi dengan tokohnya Musthafa Kemal al-Tatturk dari Turki dan Thaha Husein dari Mesir, dan modernisme dengan tokohnya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dari Mesir. Lihat dalam Moh. Nurhakim, Metodologi Studi Islam (Malang: UMM Press, 2005), 168-170.
[12] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Cet. 6 (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1988), 42-50.
[13] Ibid., 51-57.
[14] Ibid., 58-68.
[15] Ibid., 69-76.
[16] Ibid., 90-96.
[17] Ibid., 97-104.
[18] Ibid., 105-117.
[19] Ibid., 142-154.
[20] Ibid., 156-164.
[21] Ibid., 165-173.
[22] Ibid., 174.
[23] Ibid., 181-189.
[24] Dalam riwayat hidupnya, Iqbal tercatat sebagai  Presiden Liga Muslim di tahun 1930. beliau mempunyai ide__bahwa umat Islam India merupakan suatu bangsa, karena itu memerlukan satu negara tersendiri___tidaklah bertentangan dengan pendiriannya tentang persaudaraan dan persatuan umat Islam. Ia bukanlah seorang nasionalis dalam arti sempit, tapi sebenarnya adalah  seorang pan-Islamis. Islam bukanlah nasionalisme dan bukan pula imperialisme, tetapi liga bangsa-bangsa. Lihat dalam Imam Subhi, Sejarah Kebudayaan Islam, untuk MA kelas XII (Jakarta: PT. Listafariska Putra, 2006), 72. lihat juga dalam Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Cet. 6 (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1988), 194.
[25] Ibid., 199.
[26] Ibid., 201-205.
[27] Ibid., 58-68.
[28] Ibid., 42-50.
[29] Ibid., 90-96.
[30] Ibid., 174.
[31] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, MA kelas 3 (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997), 183-184.
[32] Ibid., 183.

MATERI TERKAIT:

Judul: KONSEP DASAR GERAKAN PEMBAHARUAN DALAM ISLAM
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : masmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah KONSEP DASAR GERAKAN PEMBAHARUAN DALAM ISLAM. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/konsep-dasar-gerakan-pembaharuan-dalam.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger