PARADIGMA PENDIDIKAN (Konservatif, Liberal dan Kritis)

 


Oleh: Mas Mahmud

BAB I
PENDAHULUAN

 

A.                 Latar Belakang Masalah  

Para praktisi pendidikan (guru, dosen, pelatih, pemandu) di berbagai lembaga pendidikan atau pendidikan rakyat (popular education) di kalangan buruh, petani dan rakyat miskin, banyak yang tidak sadar bahwa mereka tengah terlibat dalam suatu pergumulan politik dan ideologi melalui arena pendidikan. Mereka memahami bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan mulia yang mengandung kebajikan dan berwatak netral. Dunia pendidikan kemudian dikejutkan oleh asumsi bahwa setiap usaha pendidikan yang selalu dimuliakan dan diasumsikan mengandung kebajikan tersebut mendapat kritik mendasar oleh Paulo Freire pada awal tahun '70an dan Ivan Illich pada dekade yang sama.1

Freire dan Illich menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini hampir dianggap sakral dan penuh kebajikan ternyata juga mengandung penindasan. Namun demikian, berbagai kritik mendasar tersebut justru semakin mendewasakan dunia pendidikan karena memperkaya berbagai upaya pencarian model pendidikan sehingga melahirkan pengalaman lapangan di berbagai belahan dunia mengenai praktek pendidikan sebagai bagian dari aksi kultural dan transformasi sosial.2

Selanjutnya, untuk kesekian kalinya pendidikan tengah diuji untuk mampu memberikan jawaban yang sulit yakni antara melegitimasi atau melanggengkan sistem dan struktur sosial yang ada atau pendidikan harus berperan kritis dalam melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil. Kedua peran dilematis pendidikan tersebut hanya dapat dijawab melalui pemilihan paradigma pendidikan yang mendasarinya. Untuk memahami paradigma tersebut akan sedikit diulas mengenai berbagai paradigma pendidikan dan implikasinya yakni konservatif, liberal dan kritis.3

Berangkat dari masalah tersebut di atas, kami akan membahas dalam makalah ini Paradigma Pendidikan (Konservatif, Liberal dan Kritis) dan yang berkaitan dengannya.

Dan selanjutnya makalah ini kami beri judul “Paradigma Pendidikan (Konservatif, Liberal dan Kritis)”.


B.                 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini akan membahas diantaranya :

1.       Bagaimana Paradigma Pendidikan Konservatif ?

2.       Bagaimana Paradigma Pendidikan Liberal ?

3.       Bagaimana Paradigma Pendidikan Kritis ?

 

C.                 Tujuan Penulisan

Adapun       tujuan       penulisan       makalah       ini       adalah       untuk mendeskripsikan tentang :

1.       Paradigma Pendidikan Konservatif

2.       Bagaimana Paradigma Pendidikan Liberal

3.       Bagaimana Paradigma Pendidikan Kritis

 
BAB II
PEMBAHASAN

 

A.     Paradigma Pendidikan Konservatif

Paradigma pendidikan konservatif bermula dari suatu konstruksi filosofis yang lebih banyak berkiblat pada aliran filsafat pendidikan Perenialisme dan Essensialisme. Konsep-konsep dasar tentang berbagai unsur pendidikan cenderung bersifat statis serta kurang mampu mengakomodir pandangan-pandangan baru (eksklusif). Orientasi pendidikan konservatif adalah untuk mempertahankan nilai-nilai normatif yang telah mapan (status quo). Pendidikan tidak jauh beda dengan proses transfer nilai yang kemudian dijadikan sebagai pedoman hidup. Dua aliran filsafat yang mendasari pendidikan konservatif ini sebenarnya memiliki orientasi yang sama, yakni lebih meyakini nilai-nilai keabadian sebagai tujuan akhir. Jika perenialisme langsung memahami orientasi akhir dari pendidikan sebagai pengakuan terhadap nilai-nilai transendental. Sedangkan essensialisme lebih meyakini nilai-nilai kemanusiaan yang paling fundamental, yaitu dimensi moralitas yang bersumber dari ajaran agama. Meskipun model atau perwujudan aliran filsafat pendidikan ini terlihat berbeda, namun secara substantif adalah sama.4

Konservatisme pendidikan sebenarnya berkembang ketika filsafat sekolastik jaya. Aliran filsafat sekolastik telah mendominasi konstruksi pengetahuan di Barat. Tepatnya ketika filosof Thomas Aquinas (1225- 1274) berjaya dengan seluruh pandangan-pandangan filosofisnya. Konservatisme pendidikan itu sebenarnya tercermin dari suatu model pembelajaran di Barat yang menggunakan istilah school dan kemudian menjadi popular menjadi abad sekolastik. Dan jika mengkaji lebih jauh seputar pandangan-pandangan filosofis Thomas Aquinas, sebenarnya dia banyak mengadopsi pandangan-pandangan Al-Ghazali (1058-1111) yang lebih menekankan pada aspek filsafat perenialisme (keabadian).5

Paradigma Konservatif. Bagi mereka, ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil dapat dihindari serta merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah sesuatu yang harus dlperjuangkan karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara. Dalam bentuknya yang klasik, paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak dapat merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial. Hanya Tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya Dia yang tahu makna di balik semuanya itu. Dengan pandangan seperti ini, kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka." Dalam perjalanan selanjutnya, paradigma konservatif cenderung menyalahkan subyeknya. Bagi kaum konservatif, mereka yang menderita yakni orang- orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang di penjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Banyak orang lain yang ternyata dapat bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang ke sekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak di penjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang. Karena, pada akhirnya, semua orang kelak akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, kaum konservatif melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan menghindarkan konflik    dan kontradiksi.6

 

Paradigma pendidikan adalah suatu cara atau konsep memandang dan memahami pendidikan. Tentu saja, setiap paradigma tidak bisa terlepas dari akar filosofisnya. Katakanlah paradigma pendidikan konservatif, liberal, dan kritis, ketiganya memiliki karakter tersendiri. Bagaimana mengetahui karakter dari masing-masing paradigma pendidikan? Tentu dengan memahami landasan filosofisnya, atau minimalnya kita tahu aliran filsafat apa yang mendasari suatu paradigma pendidikan itu.7

Seperti halnya esensialisme, filsafat parenialisme juga anti terhadap modernitas yang menyebabkan kekacauan, ketidakpastian, terutama dalam kehidupan moral. Solusi yang ditawarkan adalah untuk mundur ke belakang menggunakan kembali nilai-nilai yang yang telah menjadi pandangan hidup pada masa Yunani kuno dan pertengahan. Katakanlah Plato dan Aristoteles pandangannya mewakili masa Yunani kuno, sedangkan Thomas Aquinas mewakili abad pertengahan. Menurut aliran ini, pemikiran dari filosuf tersebut telah teruji oleh sejarah serta memiliki kualitas untuk dijadikan pandangan hidup pada abad ke-20an ini.8

Istilah konservatif berasal dari kata dalam bahasa Latin “conservare”, yang dapat diartikan “melestarikan, menjaga, memelihara, mengamalkan”. Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, maka kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Hal yang sama dikemukakan oleh Farida (2009) yang menyatakan bahwa konservatif berasal dari bahasa latin com servare, yang artinya "melindungi dari kerusakan/ kerugian". Jadi orang yang dinamakan "kolot/ konservatif" adalah orang yang tidak mau melakukan perubahan karena kuatir mempunyai dampak yang tidak baik terhadap dirinya maupun lingkungan. Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang otentik sebagai “bertahannya dan penguatan orang-orang tertentu dan ungkapan-ungkapan kebudayaannya yang dilembagakan. Roger Scruton menyebutnya sebagai “pelestarian ekologi sosial” dan “politik penundaan, yang tujuannya adalah mempertahankan, selama mungkin, keberadaan sebagai kehidupan dan kesehatan dari suatu organisme sosial. Dengan demikian konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional yang harus dipertahankan.9

Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante. Menurut Giroux dan Aronowitz (1985), konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat, dalam hal ini peserta didik, pada dasarnya tidak merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial. Dengan pandangan seperti itu, para pendidik yang menggunakan paradigma konservatif menganggap peserta didik tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk melakukan perubahan atas kondisi mereka.10

Pandangan pendidikan konservatif tentang hakikat manusia menurut filsafat pandidikan konsevatif, manusia hanya menduduki posisi sebagai objek pasif. Manusia dipandang sebagai objek dari kebijakan Tuhan sehingga dia tidak memiliki daya upaya untuk merubah nasib hidupnya. Apa yang telah dirasakan apa yang telah dijalani dan apa yang menjadi miliknya maka itulah yang terbaik bagi mereka, inilah karakter aliran filsafat perenialis itu. Manusia konservatif tidak mampu membaca relasi-relasi sosial yang mempengaruhi nasib hidupnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dia tidak bisa membantah kondisi sosial atau nasibnya disebabkan keyakinan yang fatalistik. Dalam diri manusia konservatif meyakini bahwa nasib, perbuatan baik maupun buruk, adalah ketetapan (takdir) dari Tuhan.11

Oleh karena itu manusia konservatif dikategorikan pada tipe berkesadaran magis. Paradigma konservatif dalam pandangan Islam mengenal hakikat manusia sebagai objek statis tanpa kebebasan berekspresi, berkreasi dan berdialektika dengan beragam persoalan hidupnya. Orientasi pendidikan konservatif cenderung untuk melestarikan norma-norma kemapanan, hal inipun senafas dengan aliran esensialisme. Aplikasi nyata konsep manusia sebagai objek statis bisa dilihat dalam praktek-praktek pembelajaran yang tertuang dalam metode-metode seperti menghafal (muhafadzah), membaca (qiraah), dan menerjemah (tarjamah), mendengar (istima’) dan sebagainya. Manusia diposisikan sebagai objek statis dan wajib taat kepada guru. Dalam istilahnya kaum santri dikenal semboyan sami’na waato’na. Ketika kiayi atau ustadz mengajar atau memberikan intruksi murid-murid wajib mendengarkan atau mentaatinya. Dalam pandangan filsafat konservatif potensi-potensi konflik (kontardiksi) dalam relitas sosial selalu dihindari. Pendidikan konservatif selalu mengutamakan harmoni hubungan antar relasi- relasi, sehingga hidup ini selalu dijalani dengan sabar dan tanpa neko- neko atau bermacam-macam, pasrah dan tunduk pada norma-norma mapan.12

Dengan demikian pendidikan bagi kaum konservatif diibaratkan sebagai proses menerima, bersabar atau menanggung nasib dengan penuh keyakinan bahwa merekayakin akan mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat. Paradigma pendidikan konservatif anti perubahan dan tidak mengarah pada progresif. Tidak ada prinsip persaingan hidup, apalagi harus merubah nasib sesuai dengan kehendaknya sendiri.13

Bagi kaum konservatif, tujuan atau sasaran pendidikan adalah sebagai sarana pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi. Berciri "orientasi ke masa kini", para pendidik konservatif sangat menghargai masa silam, namun terutama memusatkan perhatiannya pada kegunaan dan pola-pola belajar mengajar di dalam konteks sosial yang ada sekarang ini, ia ingin mempromosikan perkembangan masyarakat kontemporer yang seutuhnya dengan cara memastikan terjadinya perubahan yang perlahan-lahan dan bersifat organis yang sesuai dengan keperluan-keperluan legal intitusional suatu kemapanan. Selain itu konservatisme juga bertujuan untuk mendorong pemapanan dan penghargaan bagi lembaga-lembaga, tradisi-tradisi dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang tinggi. Dengan demikian, kaum konservatif menganggap bahwa meneruskan informasi dan ketrampilan yang sesuai, supaya berhasil dalam tatanan soial yang ada, adalah merupakan tujuan lembaga pendidikannya.14

Istilah konservatif berasal dari bahasa latin yaitu conservāre yang artinya melestarikan, menjaga, memelihara, mengamalkan. Konservatisme diartikan sebagai ideologi dan filsafat yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional. Konservatisme sosial menurut Wiliam F.O’nail merupakan posisi yang mengembangkan ketaatan terhadap lembaga-lembaga serta budaya yang teruji oleh waktu, diiringi bentuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukum dan tatanan sebagai landasan setiap jenis perubahan sosial yang konstruktif.15

Konservatif merupakan ideologi yang ingin mempertahankan tradisi dan stabilitas sosial, melestarikan tradisi yang sudah ada lama,menentang perubahan yang radikal. Definisi lain mengatakan, konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai- nilai tradisional. Dilihat dari historisnya konservatisme adalah sebuah filsafat politik, yang merupakan respon dari revolusi Perancis, revolusi yang melawan tradisi, rezim, kekuasaan yang telah lama mapan. Konservatisme berkembang di berbagai negara yaitu negara yang mengalami revolusi dan yang terancam oleh revolusi, terutama di negeri seperti Jerman, Prancis dan Inggris.16

Politik konservatif dinilai cenderung “kolot” oleh para liberalis, karena konservatif selalu menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional. Ciri-ciri ajaran ideologi konservatisme lebih mementingkan lembaga-lembaga kerajaan (pemerintah). Agama dipandang sebagai kekuatan utama disamping upaya pelestarian tradisi dan kebiasaan dalam tata kehidupan masyarakat. Dalam orientasi sekuler, konservatif dibagi menjadi empat macam yaitu: Konservatif kemapanan (the   tories),   Pemahaman the tory berkembang sejak tahun 1600-an. Konservatif kemapanan menekankan pada kekuasaan raja di atas parlemen dan lebih memajukan kepentingan-kepentingan para pemilik tanah (kapitalis) dibanding membela kaum-kaum industri perdagangan. Menurut Edmund Burke ciri konservatif tory yaitu: pertama, menyalahkan perubahan sosial yang radikal, khususnya perubahan sosial lewat kekerasan. Kedua, kaum konservatif percaya bahwa pemerintah adalah penjamin perdamaian dan kesetaraan. Ketiga, kaum konservatif memandang manusia sebagai sesuatu yang sifatnya komplek tidak bisa diperkirakan, dan sering kali immoral. Pemahaman konservatif tory bersifat psimistis mengenai hakikat manusia dan kebiasaan lebih diutamakan dibanding ajaran Konservatif pasar bebas (the free marketeers).17

Implikasi konservatisme dalam sistem pendidikan

 

Dalam dunia pendidikan, seorang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola- pola sosial serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Adapun dua dasar konservatif dalam pendidikan yaitu: pertama, konservatisme pendidikan religius, yaitu menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral. Menyalurkan keyakinan dan praktek-praktek yang sudah mapan yakni ortodoksi moral dan keagamaan yang sudah mapan teruji oleh waktu yang dimiliki oleh lembaga-lembaga. Konsep ini sejalan dengan konsep aliran konservatif Islam (al-muhafidz) yang dipelopori oleh Iman Al-ghazali, Nasiruddin al-Thusi, Ibnu Jamaah, Sahnun, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Al-Qobisi. Kedua, konservatisme pendidikan sekuler yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan dan praktek-praktek yang sudah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial serta efektifitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih al-kitabiyah dan evangelis (mendakwah agama) yang secara teologis jelas-jelas kurang liberal jika dibanding dengan berbagai aliran utama.18

Tujuan utama kaum konservatif dalam pendidikan adalah untuk melestarikan dan menyalurkan pola-pola perilaku sosial konvensional. Sasaran sekolah yaitu: pertama, untuk mendorong pemahaman dan penghargaan terhadap lembaga-lembaga dan tradisi-tradisi, proses-proses budaya yang telah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukum dan tatanan. Kedua untuk menyalurkan dan menamkan informasi serta keperluan informasi yang diperlukan supaya berhasil dalam tatanan sosial yang ada.19

Ciri-ciri konservatisme pendidikan menurut Wiliam F O’nail yaitu: pertama, nilai dasar pengetahuan ada pada kegunaan sosialnya, bahwa pengetahuan adalah sebuah cara untuk mengajukan nilai-nilai sosial yang mapan. Kedua, menekankan peran manusia sebagai warga negara    dan    perannya    sebagai    anggota    warganegara     yang mapan. Ketiga, memandang bahwa pendidikan sebagai sebuah pembelajaran (sosialisasi) nilai yang sudah mapan. Keempat, menekankan stabilitasi budaya daripada melakukan memperbaharuinya.20

Sekolah harus menekankan pembelajaran politis, melatih siswa untuk menjadi warga negara yang baik. Sekolah harus memperhatikan dan pengkondisian sosial membantu siswa untuk mencapai pemenuhan nilai-nilai budaya konvensional. Jadi kurikulum dikonstruk oleh pemerintah dan pendidik. Peserta didik dituntut taat terhadap budaya pemerintah yang telah mapan, sehingga praktek pembelajarannya tetap konvensional walaupun dengan adanya kemajuan teknologi yang cepat. Metode pembelajaran konservatisme pendidikan lebih pada pendisiplinan jasmani dan mental (baris berbaris, berhitung dan menghafal) sehingga pembelajaran yang terbaik adalah pembelajaran yang diarahkan oleh guru karena guru adalah sebagai sumber ilmu. Penekanan pembelajaran lebih bersifat kognitif dan diarahkan ke ranah afektif. Proses penilaian hasil pembelajaran bersifat kuantitaif melalui tes seperti ujian akhir nasional.21

Kurikulum 2013 yang telah digulirkan oleh pemerintah belum mengarah pada perkembangan pendidikan di Indoensia karena secara realistis di lapangan pandangan guru masih konservatif. Dengan adanya kurikulum baru yang dibuat oleh pemerintah dan harus diikuti oleh setiap tingkat satuan pendidikan, menunjukkan bahwa sekolah belum diberikan kebebasan untuk membuat kurikulum sendiri yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat dimana lembaga pendidikan itu berdiri. Ketika setiap elemen pendidikan harus mengikuti aturan pemerintah dan mengikutinya, ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih bersifat konservatif, walaupun di sisi lain proses pembelajaran di sekolah mengedepankan kemandirian peserta didik, tapi dalam hal penilaian masih konservatif karena masih mengadopsi penilaian sistem lama.22

Kurikulum 2013 kalau dilihat dari paradigma ideologi pendidikan belum menunjukkan jenis kelaminnya. Dalam proses pembelajaran ingin mengadopsi pembelajaran yang mandiri atau modernis liberal tapi dalam pelaksanaan penilaian masih dengan hitungan angka. Pemerintah di sisi lain ingin mengikuti pola pendidikan yang modern dengan melihat negara- negara yang berkembang yang berpaham liberal tapi proses pembuatan kurikulum masih konservatif karena pembuatan kurikulum dilakukan oleh lembaga pemerintah sehingga tingkat satuan pendidikan harus mengikutinya. Kurikulum 2013 yang ada di sisi yang lain ingin bersifat liberal tapi masih konservatif.23

Perubahan kurikulum dari masa ke masa merupakan bagian dari perubahan secara evolusi karena yang berubah bukan konten kurikulumnya tapi hanya pada pendekatan dan metodologinya. Perubahan kurikulum yang terjadi seperti pada kurikulum 2013 tidak bersifat revolusioner karena masih menganut conten kurikulum yang lama yang telah ada. Pemerintah belum berani melakukan perubahan kurikulum yang radikal karena masih dipengaruhi pemahaman yang konservatif.24


B.                 Paradigma Pendidikan Liberal

Paradigma ini muncul sebagai counter atas hegemoni otoritas gereja. Paradigma ini bertolak belakang dengan pendidikan konservatif yang menolak modernitas. Pandangan konservatif dianggap menjadi sebab manusia cenderung berpikiran naïf, bahkan magis karena mempertahankan  nilai-nilai                 yang                  sudah    mapan.  Kehadiran manusia    hanya            sekedar menjalankan firman Tuhan tanpa adanya aksi kritik, protes, untuk merubah tatanan sosial. Paradigma liberal mendasar pada aliran filsafat pendidikan progresivisme dan eksistensialisme, artinya berpandangan ke depan secara rasional dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia.25 Filsafat  progresivisme                 memandang                  pendidikan            harus berorientasi pada masa depan, bukan pada nilai-nilai yang telah mapan. Menurut aliran ini, pendidikan harus mampu berinteraksi dengan lingkungan yang mengalami proses perubahan secara terus menerus. Karena paham individualistik sangat mempengaruhi paradigma liberal ini, maka tak heran paradigma ini juga dalam pengaruh filsafat eksistensialisme pada umumnya. Akal manusia (Rasio) dipandang sesuatu yang urgen pada paradigma liberal. Disamping mendewaan akal, paradigma ini mengakui sepenuhnya atas hak-hak individu. Maksudnya, setiap manusia memiliki kebebasan memilih dan bertindak sesuai yang diinginkannya.26

Golongan Liberal ini berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat, tetapi bagi mereka, pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu, tugas pendidikan juga tidak ada sangkutpautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan dengan jalan memecahkan berbagai masalah pendidikan dengan usaha reformasi 'kosmetik'. Umumnya, yang dilakukan adalah perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memoderenkan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer dan laboratorium yang lebih canggih, serta berbagai usaha untuk menyehatkan rasio murid-guru. Selain itu, juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif seperti kelompok dinamik (group of dynamics) dan sebagainya.27

Akar dari pendidikan di atas adalah Liberalisme yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan, serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara instrumental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita-cita Barat tentang Individualisme. Sejarah politik liberalisme berkait erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh Kapitalisme. Pengaruh liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisis dengan melihat komponen-komponennya.28

 

C.                 Paradigma Pendidikan Kritis

Paradigma pendidikan kritis menghendaki adanya keadilan sosial yang berkeadilan. Tidak bisa mentolelir adanya unsur dominasi yang menindas salah satu klas dalam struktur sosial. Paradigma ini muncul sebagai counter pemikiran konservatif yang magis dan moderninasi liberal yang dehumanistik. Melihat realitas yang terjadi pada modernitas yang disambut baik oleh paradigma liberal untuk mengkikis pikiran konservatif. Semangat modernisme di awal dalam membebaskan manusia dari belenggu-belenggu determinisme, namun anehnya modernitas itu sendiri yang membelenggu manusia. Arus modernitas justru menghilangkan nilai-nilai humanitas. Modernitas kian menjadi paradoks. Karena manusia mulai terasing, tereksploitasi, dan menjadi objek atas produk-produk modernism karya akal mereka sendiri. Padahal, harusnya manusia yang menjadi subjek aktif yang menjalankan modernitas tadi. Namun, realitanya justru modernitas yang menjalankan manusia, bukan manusia yang menjalankan modernitas.29

Paradigma pendidikan kritis berdasar pada filsafat progresivisme, eksistensialisme, sekaligus rekonstruktivisme. Dengan gerakan rekonstruktif, maka akan melahirkan pendidikan yang kritis untuk keluar dari dominasi kuasa pada struktur sosial. Aliran filsafat rekonstruksionalisme betul-betul menjadi kekuatan baru dalam usaha membongkar tatanan lama yang penuh dengan permasalahan menjadi tatanan baru demi kebaikan hidup manusia.30

Sekiranya begitulah sedikit uraian filosofis tentang beberapa paradigma besar yang dibangun dalam memandang pendidikan mulai dari konservatif, liberal, hingga kritis. Setiap paradigma memiliki karakter tersendiri, karena landasan filosofisnya pun tidaklah sama. Pendidikan kritis yang akhir-akhir ini sering kita bicarakan tidaklah muncul tanpa suatu alasan, melainkan sebagai suatu reaksi atas sosio-historis manusia yang tak kunjung selesai.31

Dalam konteks pendidikan, Paulo Freire telah mengusung paradigma pendidikan kritis yang pada saat itu menjadi suatu solusi atas krisis di Brazil. Tentunya orang sebrilian Freire banyak dipengaryhi oleh pemikir-pemikir hebat lainnya. Seperti Marx, Satre, Nietzsche, dan lain- lain. Freire saat ini menjadi rujukan bagi para praktisi pendidikan maupun pengamat sosial kritis.32

Pendidikan merupakan pimpinan dan bimbingan bagi peserta didik. Pendidikan menjadikan prosesnya harus berjalan dengan kebijakan “Learning Process Skill” daripada “Learning Concept”. Pada pendekatan proses akan ditandai dengan kurikukulum yang student centered, bukan teacher centered. Peran guru lebih sebagai fasilitator, mediator, dinamisator, organisator, dan katalisator yang bekerja keras untuk memberlakukan “dialog” sebagai ruh yang mendasari hidupnya proses pendidikan, serta tidak mencoba menerapkan sikap “anti dialog” di dalamnya.33

Proses pendidikan ideal di atas memungkinkan munculnya sikap kritis (prise conscience) pada peserta didik, di mana persepsi terhadap siswa tidak lagi ia pandang sebagai “cawan” (yang pasif dan dituangi air ke dalamnya), tetapi sebagai subjek yang belajar dan bersama-sama dengan subjek yang mendidik untuk selalu berada dalam derap pencarian makna sesuatu kebenaran. Paradigma pendidikan semacam ini sering disebut sebagai pendidikan “produksi kesadaran kritis”. Lebih lanjut, hasil dari proses pendidikan adalah kesadaran kelas, kesadaran gender, maupun kesadaran kritis lainnya. Oleh karena itu, pendidikan lebih merupakan pembebasan manusia. Pendidikan merupakan sarana memproduksi kesadaran untuk mengembalikan kemanusiaan manusia.34 Pendidikan kritis merupakan media untuk resistensi dan aksi sosial yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan merupakan bagian dari proses transformasi sosial, maka pendidikan kritis merupakan proses perjuangan politik.35

Dalam perspektif kritis, proses pendidikan merupakan proses refleksi dalam aksi (praksis) terhadap seluruh tatanan dan relasi sosial dari sistem dan struktur sosial, dan bagaimana peranya dan cara kerjanya dalam mengembangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial. Oleh karena tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur yang diskriminatif terhadap kaum tertindas, kemudian bagaimana melakukan proses dekonstruksi dan aksi praktis maupun strategis menuju sistem sosial yang sensitif dan non-diskriminatif.

Melihat dasar filosofis dari pendidikan kritis di atas, maka selanjutnya ada 3 (tiga) ciri pokok pendidikan kritis.

     Belajar dari realitas atau pengalaman; yang dipelajari bukan ajaran (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasihat, dan seterusnya) dari seseorang, tetapi keadaan nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau sekelompok orang yang terlibat di atas keadaan nyata tersebut. Akibatnya, tidak ada otoritas pengetahuan seorang yang lebih tinggi dari lainnya. Keabsahan pengetahuan seorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam realitas tindakan/ pengalaman langsung, bukan pada retorika atau kepintaran omong-nya.  2. Tidak menggurui; karena itu tidak ada guru dan tidak ada murid yang digurui, semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan ini adalah guru sekaligus murid pada saat yang bersamaan. 3. Dialogis; proses berlangsungnya belajar mengajar bersifat komunikasi dalam berbagai bentuk kegiatan (diskusi, kelompok bermain, dan sebagainya), dan media (peraga, grafik, audio-visual, dan sebagainya) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog kritis antara semua orang yang terlibat dalam proses pelatihan tersebut.36

Paradigma Kritis. Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika paradigma konservatif bertujuan menjaga status quo dan paradigma liberal bertujuan untuk melakukan perubahan, maka paradigma kritis menghendaki adanya perubahan struktur secara fundamental, terutama dalam politik dan ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada bagi mereka, kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin dalam dunia pendidikan. Paham demikian bertentangan dengan pandangan kaum liberal dimana pendidikan dianggap terlepas dari persoalan kelas dan gender yang ada dalam masyarakat. Jika Descartes memaklumkan pernyataan 'Aku berpikir, maka aku ada', Albert Camus mengisyaratkan, 'Aku pemberontak, maka aku ada'. Pemberontakan metafisis adalah serangan terhadap fitrah sebagai manusia. Karena fitrah itu dilawan, berarti fitrah itu ada. Memberontak terhadap Tuhan juga berarti pembuktian bahwa Tuhan itu ada dalam pemahaman si murtad. Friedrlch Nietzsche (1844-1900) adalah pemikir pertama yang berhadapan empat mata dengan 'yang absurd', dan mencoba mencipta tatanan moral baru minus Tuhan, yang ditarik secara eksklusif dari eksistensi manusia. Camus menyanjung nihilisme Nietzsche dan berkomentar, 'Nietzsche akan menebus dunia ini'. Dalam kaitan ini, Fowler menyimpulkan, "Camus adalah seorang humanis liberal. Dalam The Rebei 'ia tawarkan kritik ideolcgi tuntas dari sudut pandang Itu. Camus menjadi 'orang penting' di zaman kita lantaran ia menyusun sistem etis yang sangat mendasar dan persuasif, ditimba dari konteks situasi kemanusiaan sendiri, tanpa mengacu ke prinsip-prinsip apriori. Dalam hal ini ia adalah eksistensialis; disarikannya eksistensi menjadi dalil-dalil yang kemudian akan dipakai sebagai pedoman perwujudan eksistensi itu sendiri. Jelas ia berbeda dengan Jean-Paul Sartre yang berkata bahwa meski manusia menyadari keabsurdan dan kehampaan eksistensi, manusia mesti melekatkan makna dengan cara mengikatkan diri pada tujuan tertentu, melibatkan diri dengan sistem tertentu yang diterimanya sebagai sistem sahih, sambil menunda kesangsiannya. Perbedaan antara Camus dengan Sarte mirip dengan perbedaan antara seseorang yang asyik menceburkan diri dan berenang dengan orang lain yang berdiri dalam air sebatas lutut, menggigil, memeluk bahu sendiri dan giginya gemeletuk kedinginan."^® Tentang llberaiisme, A.S. Nelll, - pendidik dan penulis berkebangsaan Scotlandia Ini diakui sebagai figur sentral dalam gerakan 'sekolah bebas' dl dunia Barat- mendirikan 'sekolah bebas'-nya pada tahun 1921 di Leiston, sebuah kota kecil di Suffolk, sekitar seratus mil dari London. Sekolah itu dinamai Summerhill, 'Bukit Musim Panas' yang menyiratkan kebebasan dan sinar terang-benderang, wama warni dan kesibukan. Hingga kini, Summerhill masih berdiri di bawah pimpinan Isterl Nelll, Ena. seperti Dewey, Nell bukan teoretikus. Dia lebih merupakan sosok Kepala Sekolah yang berpengalaman. Lantaran tanpa "pangkat llmiah" inilah gagasan- gagasan Nelll mula-mula dicueki orang sebelum la menerbitkan buku yang sangat kontroversial dan pengaruhnya luar biasa: Summerhill: A Radical Approach in ChildRearing 960). Buku Ini terbit sesudah Summerhill sempat merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Di Summerhill, Nell mencoba menetapkan eksperimen pendidikan tanpa paksaan dan tanpa tekanan terhadap murid. Siswa-siswinya berumur antara 5 hingga 15 tahun. Nell terpengaruh oleh pemikiran pembaharu sebelumnya yakni Homer Lane, la juga menyerap ide-ide Sigmund Freud (melalui tafsiran Wilhelm Reich). Nelll percaya bahwa anak-anak sesungguhnya cenderung 'baik'. Maka, di Summerhill, derajat guru dan murid sejajar. Wewenangnyapun sama besar. Sekolah ini dijalankan menurut prinsip 'pemerintahan sendiri’ yang demokratis di mana sang pendiri juga hanya kebagian satu suara dalam tiap musyawarah. Mau masuk atau tidak, diserahkan kepada anak. Tidak ada ulangan, tes, dan ujian.Tidak ada rapor dan nilai. Anak- anak tidak terlalu disiapkan untuk lulus masuk Perguruan Tinggi".37



BAB III
PENUTUP

 

A.     Kesimpulan

Dari pembahasan makalah yang berjudul “Paradigma Pendidikan (Konservatif, Liberal dan Kritis)”, dapat diambil kesimpulan :

1.       Paradigma Pendidikan Konservatif adalah suatu cara atau konsep memandang dan memahami pendidikan yang bermula dari suatu konstruksi filosofis yang lebih banyak berkiblat pada aliran filsafat pendidikan Perenialisme dan Essensialisme. Konsep-konsep dasar tentang berbagai unsur pendidikan cenderung bersifat statis serta kurang mampu mengakomodir pandangan-pandangan baru (eksklusif). Orientasi pendidikan konservatif adalah untuk mempertahankan nilai-nilai normatif yang telah mapan (status quo). Paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak dapat merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial. Hanya Tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya Dia yang tahu makna di balik semuanya itu. Pendidikan konservatif selalu mengutamakan harmoni hubungan antar relasi-relasi, sehingga hidup ini selalu dijalani dengan sabar dan tanpa neko-neko atau bermacam-macam, pasrah dan tunduk pada norma-norma mapan, tujuan atau sasaran pendidikan adalah sebagai sarana pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi. Berciri "orientasi ke masa kini", para pendidik konservatif sangat menghargai masa silam, namun terutama memusatkan perhatiannya pada kegunaan dan pola-pola belajar mengajar di dalam konteks sosial yang ada sekarang ini. Bertujuan untuk mendorong pemapanan dan penghargaan bagi lembaga- lembaga, tradisi-tradisi dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang tinggi. Dengan demikian, kaum konservatif menganggap bahwa meneruskan informasi dan ketrampilan yang sesuai, supaya berhasil dalam tatanan soial yang ada, adalah merupakan tujuan lembaga pendidikannya. Ideologi yang ingin mempertahankan tradisi dan stabilitas sosial, melestarikan tradisi yang sudah ada lama menentang perubahan yang radikal. Sekolah harus menekankan pembelajaran politis, melatih siswa untuk menjadi warga negara yang baik. Sekolah harus memperhatikan dan pengkondisian sosial membantu siswa untuk mencapai pemenuhan nilai-nilai budaya konvensional. Jadi kurikulum dikonstruk oleh pemerintah dan pendidik. Peserta didik dituntut taat terhadap budaya pemerintah yang telah mapan, sehingga praktek pembelajarannya tetap konvensional walaupun dengan adanya kemajuan teknologi yang cepat. Metode pembelajaran konservatisme yaitu pendidikan lebih pada pendisiplinan jasmani dan mental (baris berbaris, berhitung dan menghafal) sehingga pembelajaran yang terbaik adalah pembelajaran yang diarahkan oleh guru karena guru adalah sebagai sumber ilmu. Penekanan pembelajaran lebih bersifat kognitif dan diarahkan ke ranah afektif. Proses penilaian hasil pembelajaran bersifat kuantitaif melalui tes seperti ujian akhir nasional.

 

2.       Paradigma Pendidikan Liberal adalah suatu cara atau konsep memandang dan memahami pendidikan yang muncul sebagai counter atas hegemoni otoritas gereja. Paradigma ini bertolak belakang dengan pendidikan konservatif yang menolak modernitas dan mendasar pada aliran filsafat pendidikan progresivisme dan eksistensialisme, artinya berpandangan ke depan secara rasional dan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia, yang memandang pendidikan harus berorientasi pada masa depan, bukan pada nilai-nilai yang telah mapan. Bertujuan untuk melakukan perubahan. Pendidikan harus mampu berinteraksi dengan lingkungan yang mengalami proses perubahan secara terus menerus, mengakui sepenuhnya atas hak-hak individu. Maksudnya, setiap manusia memiliki kebebasan memilih dan bertindak sesuai yang diinginkannya. Dan merupakan pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan, serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara instrumental demi menjaga stabilitas jangka panjang.

 

3.       Paradigma Pendidikan Kritis adalah suatu cara atau konsep memandang dan memahami pendidikan yang menghendaki adanya keadilan sosial yang berkeadilan. Tidak bisa mentolelir adanya unsur dominasi yang menindas salah satu klas dalam struktur sosial. Paradigma ini muncul sebagai counter pemikiran konservatif yang magis dan moderninasi liberal yang dehumanistik, berdasar pada filsafat progresivisme, eksistensialisme, sekaligus rekonstruktivisme. Dengan gerakan rekonstruktif, maka akan melahirkan pendidikan yang kritis untuk keluar dari dominasi kuasa pada struktur sosial. Pendidikan menjadikan prosesnya harus berjalan dengan kebijakan “Learning Process Skill” daripada “Learning Concept”. Pada pendekatan proses akan ditandai dengan kurikukulum yang student centered, bukan teacher centered. Peran guru lebih sebagai fasilitator, mediator, dinamisator, organisator, dan katalisator yang bekerja keras untuk memberlakukan “dialog” sebagai ruh yang mendasari hidupnya proses pendidikan, serta tidak mencoba menerapkan sikap “anti dialog” di dalamnya. Siswa tidak lagi ia pandang sebagai “cawan” (yang pasif dan dituangi air ke dalamnya), tetapi sebagai subjek yang belajar dan bersama-sama dengan subjek yang mendidik untuk selalu berada dalam derap pencarian makna sesuatu kebenaran, hasil dari proses pendidikan adalah kesadaran kelas, kesadaran gender, maupun kesadaran kritis lainnya. Oleh karena itu, pendidikan lebih merupakan pembebasan manusia. Pendidikan merupakan sarana memproduksi kesadaran untuk mengembalikan kemanusiaan manusia, proses pendidikan merupakan proses refleksi dalam aksi (praksis) terhadap seluruh tatanan dan relasi sosial dari sistem dan struktur sosial dan bagaimana perannya dan cara kerjanya dalam mengembangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial. Oleh karena tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur yang diskriminatif terhadap kaum tertindas, kemudian bagaimana melakukan proses dekonstruksi dan aksi praktis maupun strategis menuju sistem sosial yang sensitif dan non-diskriminatif. Tiga (3) ciri pokok pendidikan kritis yaitu (1). Belajar dari realitas atau pengalaman; yang dipelajari bukan ajaran (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasihat, dan seterusnya) dari seseorang, tetapi keadaan nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau sekelompok orang yang terlibat di atas keadaan nyata tersebut, (2). Tidak menggurui, semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan ini adalah guru sekaligus murid pada saat yang bersamaan. (3). Dialogis, proses berlangsungnya belajar mengajar bersifat komunikasi dalam berbagai bentuk kegiatan (diskusi, kelompok bermain, dan sebagainya), dan media (peraga, grafik, audio-visual, dan sebagainya) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog kritis antara semua orang yang terlibat dalam proses pelatihan tersebut. Paradigma kritis menghendaki adanya perubahan struktur secara fundamental, terutama dalam politik dan ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada bagi mereka, kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin dalam dunia pendidikan.

 

B.     Saran

Hendaknya      dalam     mencerna     dan     mengamalkan      paradigma

pendidikan ini perlu pemikiran yang benar-benar jernih yang bebas dari nafsu dan tujuan-tujuan yang semu      dari hati nurani      yang jauh dari niat yang tidak baik_ agar proses pendidikan sesuai tujuan yang diharapkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Chan, Stevan M. 2002. Mendemokratiskan Pembelajaran, Tujuan Pendidikan Liberal. Yogyakarta: Kreasi Wacana.


Fakih, Mansour. 2001. Ideoiogi dalam Pendidikan dalam William F. O'Neill, Educational Ideologies: Contemporary Expression of Educational Philosophies, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Ideologi- ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Freire, Paulo lllich, Ivari, Fromm, Erich dkk. 1999-2001. Menggugat Pendidikan

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Machfudin. 1996. “Antara Konsientasi, Masifikasi dan Gnosiologi Dalam Pendidikan”, Jurnal Insania No 2 Th I. Purwokerto: IAIN Walisongo Fak. Tarbiyah Purwokerto.

 

Masruri, Siswanto. 2006. Paradigma Liberal dalam Pendidikan Global, jurnal UNISIA No. 59/XXIX/I/.

Sadullah, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sunhaji, 2008. Insania, Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan|Vol. 13|No.

1|P3M STAIN Purwokerto http://cummank.blogspot.com/2010/04/konservatisme-pendidikan.html, http://rifaiahmadrifai.blogspot.com/2017/03/ideologi-pendidikankonservatif.html,

http://www.pmiigusdur.com/2019/08/mengenal-paradigma-pendidikan.html, https://hhakiman.wordpress.com/2015/11/09/pendidikan-konservatif/,

https://ravik.staff.uns.ac.id/files/2015/05/Paradigma-Pendidikan-Kuliah-Sospen- dan-Perubaha-Sosial.pdf,

 

https://www.kompasiana.com/undhanputri/550efc7e813311c22cbc6640/pendidika nkonservatif#:~:text=Paradigma%20pendidikan%20konservatis%20berm ula%20dari,filsafat%20pendidikan%20Perenialisme%20dan%20essensia lisme.&text=Pendidikan%20yang%20berhaluan%20konservatif%20kem udian,kecenderungan%20kearah%20nilai%2Dnilai%20transendental.,

 

 1 Mansour Fakih, "Ideoiogi dalam Pendidikan" dalam William F. O'Neill, Educational Ideologies: Contemporary Expression of Educational Philosophies, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Ideologi-ideologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), X.

2 Ibid.

3 Paulo Freire dkk. menyebutkan 4 paradigma yakni fundamentalis, konservatif, liberal, dan anarkis. Lihat, Paulo Freire, Ivari lllich, Erich Fromm dkk., Menggugat Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, 2001), vii-xxxix.

4https://www.kompasiana.com/undhanputri/550efc7e813311c22cbc6640/pendidikan-

konservatif#:~:text=Paradigma%20pendidikan%20konservatis%20bermula%20dari,filsafat%20pe ndidikan%20Perenialisme%20dan%20essensialisme.&text=Pendidikan%20yang%20berhaluan%2 0konservatif%20kemudian,kecenderungan%20kearah%20nilai%2Dnilai%20transendental., (online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:16.

5Ibid.

6 Siswanto Masruri, Paradigma Liberal dalam Pendidikan Global, jurnal UNISIA NO. 59/XXIX/I/2006, 152.

7http://www.pmiigusdur.com/2019/08/mengenal-paradigma-pendidikan.html,                         (online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:18

8Ibid.

9http://rifaiahmadrifai.blogspot.com/2017/03/ideologi-pendidikan-konservatif.html,

(online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:28

10Ibid.

11 Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung, Alfabeta, 2009), 124.

12http://rifaiahmadrifai.blogspot.com/2017/03/ideologi-pendidikan-konservatif.html,

(online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:28

13 Ibid.

14http://cummank.blogspot.com/2010/04/konservatisme-pendidikan.html,(online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:30.

15https://hhakiman.wordpress.com/2015/11/09/pendidikan-konservatif/, (online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:34.

16 Ibid.

17 Ibid.

18 Ibid.

19 Ibid.

20 Ibid.

21 Ibid.

22 Ibid.

23 Ibid.

24 Ibid.

25 http://www.pmiigusdur.com/2019/08/mengenal-paradigma-pendidikan.html, (online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:18

 26 Ibid.

27 Stevan M. Chan, Mendemokratiskan Pembelajaran, Tujuan Pendidikan Liberal

(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), 19.

 28 Siswanto Masruri, Paradigma Liberal dalam Pendidikan Global, jurnal UNISIA NO. 59/XXIX/I/2006, 153.

 

29 http://www.pmiigusdur.com/2019/08/mengenal-paradigma-pendidikan.html, (online), diakses pada 23 Agustus 2020, pukul 23:18.

30 Ibid.

31 Ibid.

32 Ibid.

33 Machfudin, “Antara Konsientasi, Masifikasi dan Gnosiologi Dalam Pendidikan”, dalam Jurnal Insania No 2 Th I (Purwokerto: IAIN Walisongo Fak. Tarbiyah Purwokerto, 1996), hal. 8.

34 Mansour Fakih, Pendidikan Populer, hal. Xi.

35 Sunhaji, INSANIA, JURNAL PEMIKIRAN ALTERNATIF PENDIDIKAN|Vol. 13|No. 1|P3M STAIN Purwokerto | 2 Jan-Apr 2008|110-115.

36 Ibid, 61.

37 Ibid.

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Rakhmat
AUTHOR
3 April 2023 pukul 10.42 delete

Thank you for nice information. Please visit our web:
www.uhamka.ac.id

rahmat20
rahmat uhamka

Reply
avatar
Rakhmat
AUTHOR
3 April 2023 pukul 10.43 delete

Thank you for nice information. Please visit our web:
www.uhamka.ac.id

rahmat20
rahmat uhamka

Reply
avatar