BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Surah Al-Hijr (bahasa Arab: الحجر, "Al-Hijr") adalah surah ke-15 dalam al-Qur an. Surah ini terdiri atas 99 ayat
dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama
sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan
antara Madinah dan
Syam (Syria). Nama surah ini diambil
dari nama daerah pegunungan itu yang berkaitan dengan nasib penduduknya yaitu
kaum Tsamud____pada ayat 80 sampai dengan 84____mereka telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Shaleh dan berpaling
dari ayat-ayat Allah. Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang
telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu'aib. Surah ini juga
mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.[1]
Dalam era
kekinian, Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia___salah satunya dalam surat al Hijr ini___di dalamnya terkandung ayat-ayat yang dapat kita gunakan sebagai
pedoman hidup manusia. Diantaranya merupakan ayat-ayat yang menggali tentang tujuan
pendidikan/ filosofi pendidikan, kurikulum pendidikan, materi pendidikan,
metode pendidikan, evaluasi pendidikan, pendidik, peserta didik, isu-isu kontemporer
terkait pendidikan. Namun kiranya
belum banyak yang mempelajari dan memahami ayat-ayat tersebut. Dan hal ini
merupakan masalah yang perlu dicarikan solusinya.
Untuk itu, dalam
makalah ini penulis mencoba memaparkan sedikit tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang
berhubungan dengan hal tersebut di atas,
dengan harapan dapat lebih memahami tafsir dan hadis pendidikan yang
terkandung di dalam Al-Quran surat al Hijr.
Berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulisan makalah ini kami beri judul “Kajian Tafsir Dan Hadis (Qs. Al Hijr : Surat Ke 15).”
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan Masalah dalam makalah ini akan
membahas diantaranya :
1.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Tujuan pendidikan/ filosofi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr ?
2.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Kurikulum pendidikan Dalam Q.S Al Hijr ?
3.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Materi pendidikan Dalam Q.S Al Hijr ?
4.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Metode pendidikan Dalam Q.S Al Hijr ?
5.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Evaluasi pendidikan Dalam Q.S Al Hijr ?
6.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Pendidik Dalam Q.S Al Hijr ?
7.
Bagaimanakah
Tafsir Dan Hadis Tentang Peserta didik Dalam Q.S Al Hijr ?
8.
Bagaimanakah
isu-isu
kontemporer terkait pendidikan?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk mendiskripsikan tentang :
1.
Tafsir Dan Hadis Tentang Tujuan pendidikan/
filosofi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
2.
Tafsir Dan Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
3.
Tafsir Dan Hadis Tentang Materi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
4.
Tafsir Dan Hadis Tentang Metode Pendidikan Dalam
Q.S Al Hijr
5.
Tafsir Dan Hadis Tentang Evaluasi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
6.
Tafsir Dan Hadis Tentang Pendidik Dalam Q.S Al Hijr
7.
Tafsir Dan Hadis Tentang Peserta Didik Dalam Q.S
Al Hijr
8.
Isu-Isu Kontemporer Terkait
Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tafsir Dan Hadis Tentang Tujuan
pendidikan/ filosofi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
Bila
tujuan pendidikan seperti apa yang disampaikan oleh Asma Hasan al Fahmi dan
Munir Mursi, maka tujuan pendidikan adalah pengembangan akal dan akhlak yang
dalam akhirnya dipakai untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Manusia
mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat
29 : “Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya
roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”. Dan tujuan akhir pendidikan
Islam itu dapat dipahami dari firman Allah SWT yang artinya : ”Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya
takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada
Allah.” (Q.S. Ali Imran:
102). Jadi insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada
Allah inilah merupakan tujuan akhir dari pendidikan Islam.[2]
Sebagaimana
dalam tafsir ayat di atas, Allah SWT menyebutkan
perihal Adam di kalangan para malaikat-Nya sebelum Adam diciptakan dan
dimuliakan-Nya dengan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Allah
menyebutkan pula pembangkangan yang dilakukan oleh iblis yang tidak mau
bersujud kepada Adam, pada saat itu iblis berada bersama golongan para
malaikat. Iblis tidak mau bersujud kepada Adam karena kafir, ingkar, sombong,
dan membanggakan dirinya dengan kebatilan. Iblis menjawab alasan penolakannya,
seperti yang disitir oleh firman-Nya:
{لَمْ
أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَأٍ مَسْنُونٍ}
"Aku sekali-kali tidak akan sujud
kepada manusia yang Engkau lelah menciptakannya dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al-Hijr: 33)
Dalam ayat lain disebutkan:
{أَنَا
خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ}
Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau
ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. (Al
A’raf: 12; Shad: 76)
Dalam ayat lainnya lagi disebutkan:
أَرَأَيْتَكَ
هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا
Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang
Engkau muliakan atas diriku? (Al-Isra: 62), hingga akhir ayat.[3]
Dalam bab ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan
sebuah asar yang garib lagi aneh melalui hadis Syabib ibnu Bisyr, dari Ikrimah,
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Allah telah menciptakan para
malaikat, berfirmanlah Dia: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari
tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kalian bersungkur dengan bersujud kepadanya.
(Shad: 71-72) Mereka menjawab, "Kami tidak akan
menurut." Maka Allah mengirimkan api kepada mereka dan membakar habis
mereka. Kemudian Allah menciptakan malaikat lainnya, dan berfirman kepada
mereka seperti firman-Nya yang pertama, tetapi mereka menjawab dengan jawaban
yang sama seperti pendahulunya. Maka Allah mengirimkan kepada mereka api yang
membakar habis mereka semua. Kemudian Allah menciptakan malaikat yang lain,
setelah itu Dia berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah. Apabila Aku telah menciptakannya, maka bersujudlah kalian
kepadanya!" Tetapi mereka membangkang. Maka Allah mengirimkan api kepada
mereka dan membakar habis mereka semuanya. Kemudian Allah menciptakan malaikat
lainnya, lalu berfirman kepada mereka, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah, apabila Aku telah menciptakannya, maka bersujudlah kalian
kepadanya!" Mereka menjawab, "Kami tunduk dan patuh kepada
perintah¬Mu," kecuali iblis, dia termasuk kaum yang kafir seperti para
pendahulunya. Akan tetapi, kebenaran asar ini dari Ibnu Abbas masih
terlalu jauh dari kebenaran. Jelasnya asar ini berasal dari kisah Israiliyat.[4]
B.
Tafsir Dan Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
Kurikulum merupakan
salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan,
karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan
sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan
tingkat pendidikan.[5]
Secara
etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang
artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah
kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang
mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis
start sampai garis finis.[6]
Dalam
bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan Manhaj yang berarti
jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan.
Sedangkan arti manhaj (kurikulum) dalam pendidikan Islam____sebagaimana
yang terdapat dalam Qamus al- Tarbiyah___adalah seperangkat perencanaan dan
media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan
tujuan-tujuan pendidikan.[7]
Hasan
Langgulung memandang bahwa kurikulum mempunyai empat komponen utama, yaitu :
1.
Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas
lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
2.
Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data,
aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum
itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
3.
Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar
dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh
kurikulum.
4.
Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai
kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.[8]
Selanjutnya,
pendidikan Islam yang berfalsafat Al Quran sebagai sumber utamanya menjadikan
Al Quran sebagai sumber utama penyusunan kurikulum dan ditambah dengan Al
Hadits untuk melengkapinya. Di dalam Al Quran dan Al Hadits ditemukan kerangka
dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan
kurikulum pendidikan Islam. Kerangka tersebut adalah Tauhid dan Perintah
membaca.[9]
Sesuai dengan
tuntunan Al Qur an bahwa yang menjadi kurikulum inti Pendidikan Islam adalah “Tauhid”
dan harus dimantapkan sebagai unsur pokok yang tak dapat dirubah. Pemantapan
kalimat tauhid ini sudah dimulai semenjak bayi dilahirkan dengan
memperdengarkan Adzan dan Iqamah terhadap anak yang dilahirkan.
Sebagaimana hadis Nabi, dari Husain bin Ali telah berkata Rasulullah SAW, “Barangsiapa
yang lahir anaknya maka adzankan ia pada telinga kanan anak itu dan iqamat ia
di telinga kiri anak itu dan anak itu tidak dimudharatkan oleh jin”. (HR.
Ibn Syuni)[10]
Tauhid merupakan
prinsip utama dalam seluruh dimensi kehidupan manusia baik dalam aspek hubungan
vertikal antara manusia dengan tuhan maupun aspek hubungan horizontal antara
manusia dengan sesamanya dan diantara manusia dengan alam sekitarnya. Tauhid
yang seperti inilah yang dapat menyusun pergaulan manusia secara harmonis
sesamanya dalam rangka menyelamatkan manusia dan perikemanusiaan dalam rangka
pencapaian kehidupan yang sejahtera dan bahagia dunia dan akhirat termasuk di
dalamnya pergaulan dalam proses pendidikan.[11]
Kurikulum inti
selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang
meliputi tiga macam ayat yaitu :
1.
Ayat Allah yang berdasarkan wahyu,
2.
Ayat Allah yang ada pada diri manusia,
3.
Ayat Allah yang terdapat di alam semesta di luar diri manusia.[12]
Ketiga macam ayat Allah tersebut jiwanya adalah “Tauhid”.
Di sinilah letaknya kurikulum pendidikan Islam, sebab menurut Islam, semua
pengetahuan datang dari Tuhan, tetapi penyampaiannya ada yang langsung dari
Tuhan dan ada yang melalui pemikiran manusia dan pengalaman indera yang berbeda
satu sama lain.[13]
Kurikulum pendidikan Islam yang berjiwa Tauhid
sebagaimana dijelaskan di atas, disebutkan dalam Q.S Al Hijr : 16[14],
19-28, 75, 77, dan 98.
Allah SWT menyebutkan bahwa Dialah yang memiliki segala
sesuatu, dan bahwa segala sesuatu mudah bagi-Nya serta tiada harganya bagiNya.
Di sisi-Nya Dia memiliki perbendaharaan segala sesuatu yang terdiri atas
berbagai macam jenis dan ragamnya.
{وَمَا
نُنزلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ}
Dan Kami
tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. (Al-Hijr:
21)
Yakni menurut apa yang dikehendaki dan yang
disukai-Nya, dan karena adanya hikmah yang sangat besar serta rahmat bagi
hamba-hamba-Nya dalam hal tersebut, bukanlah sebagai suatu keharusan; bahkan
Dia menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat).
Yazid ibnu Abu Ziyad telah meriwayatkan dari
Abu Juhaifah, dari Abdullah, bahwa tiada suatu daerah pun yang diberi hujan
selama setahun penuh, tetapi Allah membagi-bagikannya sesuai dengan apa yang
dikehendaki-Nya. Maka Dia memberikan hujan secara terbagi-bagi, terkadang di
sana dan terkadang di sini. Kemudian Abdullah ibnu Mas'ud membacakan
firman-Nya: Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah
khazanah (perbendaharaannya. (Al-Hijr: 21), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.[15]
C.
Tafsir Dan Hadis Tentang Materi
Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
Materi pendidikan
ialah semua bahan pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik dalam suatu
sistem institusional pendidikan.[16]
Dalam pendidikan
Islam, materi pelajaran adalah sumber normative Islam, yaitu Al-Qur’an dan
al-Sunnah. Secara filosofis, rumusan materi pendidikan Islam adalah seperangkat
bahan yang dijadikan sajian dalam upaya mengembangkan kepribadian yang selaras
dengan Al-Qur’an, yaitu manusia yang bertakwa,[17] dimana
rumusan materi pelajaran tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan
Islam yaitu agar tercapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian peserta didik
secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal
pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indra.[18] Karena
itu, materi pendidikan Islam hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek
fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah
dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif serta mendorong semua aspek
tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir
pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada
Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
Dalam hal ini,
beberapa cendekiawan Muslim memberikan pernyataan mengenai materi pendidikan
Islam yang harus diberikan kepada peserta didik. Di antaranya adalah Ibnu
Khaldun yang menyatakan bahwa materi pendidikan Islam pada masa kanak-kanak
adalah mengajarkan al-Qur’an, sebab meresapkan al-Qur’an di dalam hati akan
memperkuat iman. Oleh karena itu, al-Qur’an menjadi dasar pengajaran yang patut
didahulukan sebelum mengembangkan kemampuan-kemampuan lain.[19]
Sejalan dengan hal
tersebut, al-Ghazali mengemukakan bahwa
sebaiknya peserta didik diajarkan al-Qur’an, sejarah kehidupan orang-orang
besar, hukum-hukum agama, dan sajak-sajak.[20] Dengan
tetap selalu berlandaskan pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Materi pendidikan
hendaknya dirancang sedemikian rupa dan tentunya materi tersebut hendaknya
mengacu kepada tercapainya kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.[21]
Selanjutnya,
materi pendidikan Islam di lingkungan keluarga dapat disesuaikan dengan
landasan dasar, fungsi, dan tujuan yang termaktub dalam ilmu pendidikan
teoritis. Dalam hal ini penulis akan membahas materi pendidikan yang
disampaikan oleh Luqman al-Hakim terhadap anaknya, yaitu:
1.
Tauhid
Materi yang
berkenaan dengan tauhid ini bisa dilihat dalam nasehat Luqman al-Hakim dalam
QS. Luqman/ 31:13.
Terjemahnya:
Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.[22]
Penulis
berpandangan bahwa ayat ini memiliki kandungan makna bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah. Dan jika di dalam hati masih terdapat suatu keikhlasan yang tidak tulus dalam menyembah Allah, maka
perbuatan tersebut termasuk perbuatan syirik.
2.
Akhlak
Materi kedua yang
terkandung di dalam kisah Luqman al-Hakim adalah materi akhlak. Materi yang
dimaksudkan di sini adalah segala nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut
yang berhubungan erat dengan akhlak yang mencakup ajaran akhlak yang diberikan
Tuhan, juga akhlak yang disampaikan Luqman al-Hakim. Akhlak adalah sikap yang
melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia.[23]
Dari kisah Luqman
al-Hakim, terdapat beberapa bentuk akhlak yang dijadikan kerangka dasar
pembentukan sikap, baik secara lahir maupun batin. Bentuk akhlak atau sasaran
akhlak itu adalah akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap orang tua, akhlak
terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkungan.[24]
3.
Ibadah
Materi ibadah ini
dapat dilihat dari nasehar Luqman sebagaimana tercantum dalam QS. Luqman/ 31:17.
Terjemahnya:
Hai anakku,
dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa
kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
Allah).[25]
Pengertian
etimologis ibadah adalah pengabdian. Sedangkan terminologis ibadah yaitu
pengabdian yang dimaksud oleh agama Islam yaitu berserah diri kepada kehendak
Allah dan ketentuan Allah SWT untuk memperoleh ridha-Nya (mardhatillah).[26]
4.
Mu’amalah
Pendidikan
Mu’amalah yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada anaknya paling tidak memiliki
esensi tujuan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Tujuan pendidikan
mu’amalah itu adalah membentuk kehidupan yang baik, membina kepribadian, dan
mengetahui hak dan kewajiban bermasyarakat.
Dalam ranah
pendidikan formal di Indonesia, terdapat sistem pendidikan yang dikotomis
sehingga materi pelajaran berbeda bobotnya antara satuan pendidikan Islam dan
satuan pendidikan umum. Materi pendidikan agama Islam pada sekolah umum telah
diatur dalam Silabus PAI, melalui defenisi pendidikan agama Islam yang
diberikan Puskur Balitbang Depdiknas RI, yaitu rumpun mata pelajaran yang
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan takwa kepada
Tuhan yang Maha Esa, serta berakhlak mulia/ budi pekerti luhur dan menghormati
penganut agama lain. Ruang lingkup materi pendidikan agama Islam, terdiri atas
aspek: al-Qur’an, keimanan/ aqidah, akhlak mulia, fiqhi ibadah/ muamalah, dan
tarikh Islam. Namun demikian, materi-materi keislaman yang disajikan di sekolah
umum masih bersifat teoretis-normatif, dan kurang pada aspek penghayatan dan
implementasi. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi yang akan disajikan dan
terbatasnya waktu yang tersedia.[27]
Jadi Materi
pendidikan sangat menentukan dalam proses pendidikan, sebab melalui materi
inilah, segala aspek kependidikan ditanamkan kepada peserta didik. Materi juga
memiliki hubungan yang integral dengan unsur lainnya, apalagi jika dikaitkan
dengan tujuan pendidikan. Artinya tujuan tidak mungkin tercapai kecuali materi
yang akan dikembangkan terseleksi secara baik dan tepat.
Dari uraian di
atas, dapat dipahami bahwa di lingkungan keluarga merupakan kegiatan pendidikan
pertama dan utama. Dimana materi pendidikan yang diterapkan berorientasi pada
pendidikan spiritual dan akhlakul karimah.
Kemudian di
lingkungan pendidikan formal adalah pengembangan kognitif, psikomotorik,
dan sosial-intrapersonal. Sedangkan di lingkungan pendidikan masyarakat
adalah pengembangan dalam bentuk implementatif dari berbagai aspek. Selain itu,
dapat pula dipahami bahwa jelas materi pendidikan Islam mempunyai peran penting
dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Apalagi dengan tujuan pendidikan
Islam yang begitu kompleks, peserta didik
tidak hanya memiliki kemampuan secara afektif, kognitif maupun psikomotorik, tetapi dalam dirinya harus tertanam sikap dan
pribadi yang berakhlakul karimah.[28]
Beberapa alasan
perlunya pilihan materi pendidikan yang didasarkan pada luasnya ilmu
pengetahuan, sehingga tanpa adanya pilihan materi, bisa mengaburkan dalam
pelaksanaan pendidikan, karena dapat terjadi apa yang dipelajari di sekolah
beraneka ragam coraknya, sehingga apa yang ditetapkan dalam tujuan pendidikan
tidak tercapai sebagaimana mestinya.[29]
Sesuai dengan
rumusan tersebut, isi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.
Materi pendidikan berupa bahan pelajaran yang terdiri atas bahan kajian
atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh peserta didik dalam proses
belajar dan pembelajaran.
b.
Materi pendidikan mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan
pendidikan . perbedaan ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran disebabkan oleh
perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
c.
Materi pendidikan diarahkan mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal
ini, tujuan pendidikan Nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai
melalui penyampaian materi pendidikan.[30]
Materi pendidikan
salah satu diantaranya yaitu tauhid, telah disebutkan dalam Q.S al
Hijr : 86 “Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha
Mengetahui”.
Penegasan tentang
adanya hari kembali (kiamat), dan bahwa Allah SWT mampu menjadikan hari kiamat,
karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta, tiada sesuatu pun yang tidak
dapat diciptakan-Nya. Dia Maha Mengetahui semua tubuh yang telah berserakan dan
telah berpisah-pisah di tempat yang berbeda-beda di bumi.[31]
Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
{أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ
عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ فَسُبْحَانَ
الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}
Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu
berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha
Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka
terjadilah ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala
sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan. (Yasin: 81-83)[32]
Hadis Nabi :
عَنْ مُعَاذٍ - رضى الله عنه - قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ
النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ :«
يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ
الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ؟ » . قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ :«
فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِه
شَيْئاً ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئاً » . فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ
النَّاسَ ؟ قَالَ :« لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ».
Dari Mu’adz radhiyallahu 'anhu ia
berkata, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas
sebuah keledai yang bernama ‘Ufair, lalu Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz,
tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba
yang pasti dipenuhi Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hamba
adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu,
dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang
yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah,
bolehkah aku beritahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab,
“Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar." (HR. Bukhari
dan Muslim)[33]
D.
Tafsir Dan Hadis Tentang Metode
Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
Dalam proses
pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya
pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi
pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga
dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang
fungsional terhadap tingkah lakunya.[34]
Metode dalam
bahasa Arab, dikenal dengan istilah “thariqah” yang berarti
langkah-langkah strategis dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[35]
Metode juga dapat
diartikan sebagai cara mengajar untuk mencapai tujuan. Metode pendidikan yang
hanya menitiberatkan pada kemampuan verbalistik harus diubah menjadi kemampuan
menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama yang merentang antara yang
paling wajib sampai yang paling haram.[36]
Menurut
al-Nahlawi, dalam Al Qur an dan Hadits dapat ditemukan berbagai metode
pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan
semangat. Metode-metode itu mampu menggugah puluhan ribu muslimin untuk membuka
hati umat manusia menerima tuntunan Tuhan.[37]
Adapun macam-macam
metode untuk menanamkan rasa iman menurut Al-Nahlawi adalah sebagai berikut :
1.
Metode Hiwar (percakapan/ dialog) Qur ani dan Nabawi
2.
Metode Kisah Qur ani dan Nabawi
3.
Metode Amtsal (perumpamaan) Qur ani dan Nabawi
4.
Metode Keteladanan
5.
Metode Pembiasaan
6.
Metode ’Ibrah (pelajaran) dan Mau’izah (nasihat)
7.
Metode Targhib (janji) dan Tarhib (ancaman).[38]
Metode pendidikan
diantaranya Targhib (janji) dan Tarhib (ancaman) disebutkan dalam
Q. S al Hijr : 45-49 (Targhib),
43-44, 50 (Tarhib). Setelah
Allah menyebutkan keadaan ahli neraka, maka hal itu diiringiNya dengan sebutan
tentang ahli surga, bahwa mereka berada di dalam taman-taman yang bermata air
banyak.[39]
Firman Allah
Swt.:
{ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ}
Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera.
(Al-Hijr: 46)
Yakni dalam keadaan terbebas dari
semua penyakit dan kalian selalu dalam keadaan sejahtera.[40]
{آمِنِينَ}
lagi aman. (Al-Hijr: 46)
Maksudnya, aman dari semua
ketakutan dan keterkejutan; dan janganlah kalian takut akan dikeluarkan, jangan
pula takut akan terputus serta fana (mati).[41]
Firman Allah
Swt.:
{وَنزعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى
سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ}
Dan Kami lenyapkan segala rasa
dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Al-Hijr: 47)[42]
Hadits Nabi :
Al-Qasim telah meriwayatkan dari
Abu Umamah yang mengatakan bahwa ahli surga masuk ke dalam surga berikut dengan
apa yang terpendam di dalam hati mereka ketika di dunia, yaitu rasa benci dan
dendam. Tetapi setelah mereka saling berhadapan dan bersua satu sama lainnya,
maka Allah melenyapkan rasa dendam yang ada dalam hati mereka ketika di dunia.
Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya: Dan Kami lenyapkan segala rasa
dendam yang berada dalam hati mereka. (Al-Hijr: 47)
Demikianlah
menurut riwayat ini, tetapi Al-Qasim ibnu Abdur Rahman dalam riwayatnya yang
dari Abu Umamah berpredikat daif.
Sunaid di dalam
kitab tafsirnya telah meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudalah,
dari Luqman, dari Abu Umamah yang mengatakan, "Tidaklah masuk surga
seorang mukmin sebelum Allah melenyapkan rasa dendam yang ada dalam hatinya.
Allah mencabut rasa dendam darinya sebagaimana hewan pemangsa mencabut
mangsanya."[43]
Pendapat inilah
yang sesuai dengan apa yang terdapat di dalam hadis sahih melalui riwayat
Qatadah, telah menceritakan kepada kami Abul Mutawakkil An-Naji; Abu Sa'id
Al-Khudri pernah menceritakan hadis kepada mereka, bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda:
"يَخْلُص الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فيُحبسون عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ
الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فيُقتص لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضِهِمْ، مَظَالِمُ كَانَتْ
بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبوا ونُقّوا، أُذِنَ لَهُمْ فِي
دُخُولِ الْجَنَّةِ"
Orang-orang mukmin diselamatkan dari neraka, lalu mereka ditahan di atas sebuah jembatan yang
terletak di antara surga dan neraka. Maka sebagian dari mereka meng-qisas
sebagian yang lainnya menyangkut perkara penganiayaan yang pernah terjadi di
antara mereka ketika di dunia. Setelah mereka dibersihkan dan disucikan (dari
semua kesalahan), barulah mereka diizinkan untuk masuk surga.[44]
E.
Tafsir Dan Hadis Tentang Evaluasi
Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr
Evaluasi berasal
dari kata “to evaluate” yang berarti “menilai”. Istilah nilai (value/
al-qimat) pada mulanya dipopulerkan oleh filosof dan Plato lah yang
mula-mula mengemukakannya.[45]
Disamping evaluasi
terdapat pula istilah pengukuran. Pengukuran dalam pendidikan adalah usaha
untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai.
Penilaian dan pengukuran dalam Islam akan objektif apabila didasarkan dengan
tolak ukur Al Quran atau Al Hadits sebagai pembandingnya.[46]
Evaluasi merupakan
suatu cara memberikan penilaian terhadap hasil belajar murid. Pemberian
evaluasi dalam menentukan pencapaian keberhasilan dapat melalui bentuk tes
maupun non tes. Sistem evaluasi hasil pelaksanaan pendidikan agama di sekolah
masih perlu dirumuskan kembali sehingga sasaran evaluasi benar-benar tepat
mengenai sasaran sesuai tujuan pokok pendidikan agama di sekolah yang lebih
menitik beratkan pada faktor internalisasi nilai-nilai yang terindikasi pada
perilaku akhlakiah sebagai manifestasi dari corak kepribadian manusia beriman
dan bertaqwa.[47]
Evaluasi ini
disebutkan dalam Q.S Al Hijr : 2-3. Ayat ini menceritakan tentang
orang-orang kafir, bahwa di akhirat kelak mereka akan menyesali kekafiran
mereka selama di dunia, dan mereka hanya bisa berharap seandainya saja mereka
menjadi orang-orang muslim ketika di dunia.[48]
As-Saddi di dalam
kitab tafsirnya telah menukil sebuah asar berikut sanadnya yang berpredikat
masyhur dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud serta sahabat-sahabat lainnya, bahwa
orang-orang kafir Quraisy___saat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka___berharap
seandainya saja mereka dahulu menjadi orang-orang muslim.[49]
Menurut pendapat
lain, makna yang dimaksud ialah setiap orang kafir di saat menghadapi
kematiannya menginginkan seandainya saja dia menjadi orang mukmin sebelumnya.[50]
Menurut pendapat
yang lainnya, ayat ini menceritakan perihal hari kiamat, sama dengan yang
disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا
لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ}
Dan jika kamu (Muhammad) melihat
ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami
dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta
menjadi orang-orang yang beriman, " (tentulah kamu melihat suatu peristiwa
yang mengharukan). (Al-An'am: 27)[51]
Sufyan As-Sauri
telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Abuz Zahiriyah, dari Abdullah
(Ibnu Mas'ud) sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Orang-orang yang kafir
itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di
dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2) Bahwa ayat ini menceritakan
perihal orang-orang yang menghuni neraka Jahanam ketika melihat teman-teman
mereka dikeluarkan dari neraka.[52]
Ibnu Jarir
mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada
kami Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada
kami Ibnu Abu Farwah Al-Abdi, bahwa Ibnu Abbas dan Anas ibnu Malik menakwilkan
ayat ini, yaitu firman-Nya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di
akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang
muslim. (Al-Hijr: 2) dengan pengertian berikut: Ayat ini menceritakan hari
(ketika itu) Allah memasukkan orang-orang yang berdosa dari kalangan kaum
muslim ke dalam neraka bersama orang-orang musyrik. Kemudian orang-orang
musyrik berkata kepada mereka, "Tiada manfaatnya bagi kalian
penyembahan kalian (kepada Allah) ketika di dunia." Maka Allah murka
kepada orang-orang musyrik, lalu berkat kemurahan dari-Nya, Dia mengeluarkan
orang-orang muslim dari neraka. Yang demikian itu disebutkan oleh Allah SWT
dalam firman-Nya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat)
menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.
(Al-Hijr: 2)[53]
Dan juga
evaluasi ini disebutkan dalam ayat 21. yaitu At-Taqdir,
ketentuan, jumlah, ukuran, seperti firman Allah QS. Al-Hijr 15:21 Artinya : Dan
tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah Khazanahnya, dan Kami tidak
menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.
At-Taqdir dapat
juga disamakan dengan pengujian validitas hasil belajar yakni penganalisaan
terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas yang dapat dilakukan dengan
dua cara, Pertama : penganalisaan dengan cara berfikir secara rasional atau
penganalisaan yang menggunakan logika (logical analysis). Kedua :
penganalisaan yang dilakukan berdasarkan kenyataan empiris (empirical
analysis).[54]
Jika dilihat dari
teori taksonomi Benjamin S. Bloom, maka jelaslah bahwa yang dijadikan sasaran
evaluasi Tuhan dan Nabi adalah sebagai berikut : 1). Evaluasi Tuhan lebih
menitik beratkan pada sikap, perasaan dan pengetahuan manusia seperti iman dan
kekafiran, ketaqwaan dan kefajiran (kognitif-afektif). 2). Evaluasi Nabi
sebagai pelaksana perintah Tuhan sesuai wahyu yang diturunkan kepada beliau
lebih menitik beratkan pada kemampuan dan kesediaan manusia mengamalkan
ajaran-Nya, di mana faktor psikomotorik menjadi penggeraknya. Di samping itu
faktor konatif (kemauan) juga dijadikan sasarannya(Konatif-psikomotorik).[55]
Ketentuan hasil evaluasi
yang dilakukan oleh Allah terhadap makhluknya, tidak akan menyalahi aturan yang
telah ditetapkan sehingga tidak ada orang yang teraniaya atau dirugikan.[56]
F.
Tafsir Dan Hadis Tentang Pendidik Dalam Q.S Al Hijr
Dari segi bahasa, pendidik
adalah orang yang mendidik.[57]
Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan
kegiatan dalam mendidik.[58]
Kata
yang berdekatan dengan artinya pendidik diantaranya yaitu teacher, guru
(pengajar), tutor, ustadz, mudarris,
mu’allim, muaddib, lecturer (dosen), trainer(pemandu), educator dan
lain-lain.[59]
Dengan
demikian kata “pendidik” secara fungsional menunjukkan kepada seseorang
yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, ketrampilan, pendidikan,
pengalaman dan sebagainya. Orang yang melakukan ini bisa siapa saja dan di mana
saja. Di rumah, orang yang melakukan tugas tersebut adalah kedua orang
tua, karena secara moral dan teologis merekalah yang diserahi
tanggungjawab pendidikan anaknya. Selanjutnya di sekolah, tugas tersebut
dilakukan oleh guru. Dan
di masyarakat dilakukan oleh organisasi-organisasi kependidikan
dan sebagainya. Atas dasar itu maka yang termasuk ke dalam pendidik itu bisa
kedua orang tua, guru, tokoh masyarakat dan sebagainya.[60]
Adapun pengertian pendidik menurut para pakar
diantaranya:
1.
Ahmad tafsir : pendidik dalam Islam sama dengan teori di Barat yaitu siapa
saja yaitu orang tua, ayah/ ibu yang karena kodrat yaitu ditakdirkan
bertanggung jawab mendidik anaknya dan kedua orang tua tersebut berkepentingan
terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua
juga.[61]
Selanjutnya dalam beberapa literatur kependidikan pada umumnya, istilah
pendidik sering diwakili oleh istilah guru yaitu orang
yang kerjaannya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/ kelas.[62]
2.
Hadari Nawawi : guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan
pelajaran di sekolah/ kelas. Atau orang yang bekerja dalam bidang pendidikan
dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai
kedewasaan masing-masing.[63]
Selanjutnya jika
kita mencoba mengikuti petunjuk Al Qur an, akan dijumpai informasi, bahwa yang
menjadi pendidik itu, secara garis besar ada empat yaitu: Allah sebagai pendidik
pertama[64], nabi Muhammad
SAW sebagai pendidik kedua, orang tua sebagai pendidik
ketiga, dan orang lain sebagai pendidik keempat.[65]
Pendidik__apabila yang
dimaksud Allah sebagai pendidik pertama__juga disebutkan
dalam Q.S Al Hijr : 9-10, 85, 87, 89, 94. Allah SWT berfirman kepada
Nabi-Nya, bahwa sebagaimana Kami berikan kepadamu Al-Qur'an yang agung, maka
jangan sekali-kali kamu memandang kepada dunia dan perhiasannya serta
kesenangan duniawi yang telah Kami berikan kepada mereka yang ahlinya, yaitu
kesenangan yang fana; hal itu sebagai ujian buat mereka. Maka janganlah kamu
menginginkan apa yang ada pada mereka, janganlah pula kamu bersedih hati karena
mereka bersikap mendustakan dan menentang agamamu.[66]
{وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ}
Dan berendah dirilah kamu terhadap
orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (Asy-Syu'ara: 215)
Artinya, bersikap rendah dirilah kamu
kepada mereka, sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam firman-Nya:
{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ
مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}
Sesungguhnya telah datang kepada
kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan
kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas
kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)
Hadis Nabi,
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَضَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وسلم ضيف وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ شَيْءٌ يُصْلِحُهُ، فَأَرْسَلَ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْيَهُودِ: يَقُولُ
لَكَ مُحَمَّدٌ رَسُولَ اللَّهِ: أَسْلِفْنِي دَقِيقًا إِلَى هِلَالِ رَجَبٍ.
قَالَ: لَا إِلَّا بِرَهْن. فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ [فَأَخْبَرْتُهُ] فَقَالَ: "أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَمِينُ مَنْ
فِي السَّمَاءِ وَأَمِينُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَلَئِنْ أَسْلَفَنِي أَوْ بَاعَنِي
لِأُؤَدِّيَنَّ إِلَيْهِ". فَلَمَّا خَرَجْتُ من عنده نزلت هذه الآية: {لَا
تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهَرَةَ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا} إِلَى آخَرِ الْآيَةِ. [طه: 131] كَأَنَّهُ يُعَزِّيهِ عَنِ الدُّنْيَا
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah
diceritakan dari Waki' ibnul Jarrah, bahwa telah menceritakan kepada kami
Musa ibnu Ubaidah, dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Abu
Rafi'___sahabat Nabi SAW___yang mengatakan bahwa Nabi Saw. menjamu sejumlah
tamu, padahal Nabi SAW tidak mempunyai sesuatu yang akan disuguhkan kepada
tamu-tamunya itu. Maka beliau SAW mengirimkan seseorang kepada seorang Yahudi
untuk menyampaikan, "Muhammad, utusan Allah, berpesan kepadamu: Berilah ia
utang tepung gandum yang akan dibayar pada permulaan bulan Rajab." Tetapi
lelaki Yahudi itu menolaknya kecuali dengan jaminan. Maka si utusan (perawi
sendiri) kembali kepada Nabi SAW dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan
oleh si Yahudi itu. Maka Nabi Saw. bersabda, "Ingatlah, demi Allah,
sesungguhnya aku benar-benar kepercayaan semua orang yang ada di langit dan
yang ada di bumi. Dan jikalau dia memberiku utang atau menjualnya kepadaku,
pasti aku akan membayarnya." Setelah aku keluar dari sisi Nabi SAW,
turunlah firman Allah SWT: Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa
yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan
dunia. (Thaha: 131) Seakan-akan Allah Swt. menghiburnya dari perkara
duniawi.
Al-Aufi telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah
sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu.(Al-Hijr. 88) Bahwa Allah SWT
melarang seseorang mengharapkan apa yang menjadi milik temannya.
Mujahid mengatakan
sehubungan dengan makna firman-Nya: kepada kenikmatan hidup yang telah Kami
berikan kepada beberapa golongan di antara mereka. (Al-Hijr: 88) Menurutnya,
yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang kaya.[67]
G.
Tafsir Dan Hadis Tentang Peserta
Didik Dalam Q.S Al Hijr
Dalam term Islam,
seorang peserta didik dikenal dengan istilah T{a<lib. Kata t{a<lib
berasal dari akar kata t{a<laba-yat{lubu yang berarti
mencari dan menuntut. Sehingga seorang anak peserta didik adalah seorang
t{a<lib yang selalu merasa gelisah untuk mencari dan menemukan ilmu
di manapun dan kapanpun. Kegelisahan tersebut tidak selesai atau terobati
meskipun ilmu itu sudah ditemukan, akan tetapi kegelisahan berubah menjadi
ketidak puasan dengan apa yang sudah didapat sehingga secara terus menerus ada
upaya untuk mencari dan mendapatkan yang lebih dari apa yang sudah diterima (never
ending process).[68]
Sehingga tidak ada kamus menunggu untuk diberi akan
tetapi menjemput untuk meraih dan mendapatkan. Pemahaman ini sangatlah penting
sehingga ada upaya yang berjalan secara terus menerus dan tidak henti-hentinya
pada diri anak untuk selalu berubah, berevolusi dan berinovasi. Perubahan yang
dimaksud tentunya untuk berubah dalam pengertian positif.[69]
Peserta Didik disebutkan dalam Q. S Al Hijr : 59.
Allah SWT berfirman menceritakan perihal Ibrahim a.s.
setelah rasa takutnya lenyap dan mendapat berita gembira bahwa sesungguhnya dia
balik bertanya kepada para utusan itu tentang latar belakang dan tujuan
kedatangan mereka kepadanya. Maka mereka menjawab:
{إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ}
Kami sesungguhnya diutus
kepada kaum yang berdosa. (Al-Hijr: 58)
Yang mereka maksud adalah
kaum Nabi Lut. Lalu mereka memberitakan kepada Ibrahim a.s. bahwa mereka akan
menyelamatkan keluarga Lut dari kalangan kaumnya, kecuali istrinya; karena
sesungguhnya istrinya termasuk orang-orang yang binasa bersama-sama kaumnya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{إِلا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ}
kecuali istrinya. Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya). (Al-Hijr: 60) Yakni termasuk orang yang tertinggal dan dibinasakan.[70]
Hadis Nabi,
Hadis yang diriwayatkan oleh Bukha>ri>, bersumber dari Abdulla>h ibn Mas’u>d:
“Menceritakan kepada kami H{umaid,
ia berkata, menceritakan kepada kami Sufya>n, ia berkata, menceritakan
kepadaku Isma>’il ibn Abu Kha>lid atas selain yang kami ceritakan olehnya
al-Zuhriy, ia berkata, “aku mendengar Ibn Qais ibn Abu H{a>zim, ia berkata,
aku mendengar ‘Abdulla>h ibn Mas’u>d berkata, Nabi saw., bersabda, ”tidak
boleh iri hati kecuali dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh
Allah lalu harta itu di kuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang
laki-laki di beri hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar
dengannya” (H.R. Bukha>ri>).[71]
H.
Isu-Isu Kontemporer Terkait
Pendidikan
Masalah di Bidang Pendidikan
Problematika yang dihadapi bangsa
Indonesia mencakup beberapa hal sebagai berikut:
Sistem Pendidikan yang dianut di Indonesia
Indonesia sekarang menganut sistem
pendidikan nasional yang masih belum bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Ada beberapa sistem di Indonesia yang telah dilaksanakan, diantaranya adalah
sebagai berikut:
a.
Sistem
pendidikan yang berorietasi pada nilai
Sistem pendidikan ini diterapkan
sejak SD. Di sini peserta didik diberikan pengajaran pengenai kejujuran, tenggang
rasa, dan kedisiplinan. Nilai ini disampaikan melalui pelajaran Pkn, bahkan
nilai ini juga disampaikan pada tingkat pendidikan menengah maupun pendidikan
tinggi.
b.
Sistem
pendidikan terbuka
Menurut sistem pendidikan ini, peserta didik dituntut
untuk dapat bersaing dengan teman, berfikir kreatif dan inovatif.
c.
Sistem
pendidikan beragam
Di Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, daerah,
dan budaya yang terdiri dari pendidikan formal, non formal, dan informal.
d.
Sistem
pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu
Di dalam kegiatan belajar mengajar, waktu di atur
sedemikian rupa agar peserta didik tidak merasa terbebani dengan mata pelajaran
yang disampaikan karena waktunya terlalu singkat atau sebaliknya.
e.
Sistem
pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman
Dalam sistem pendidikan ini, pemerintah harus
menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kurikulum di
Indonesia sering mengalami perubahan atau pergantian dari waktu ke waktu
sehingga sekarang Indonesia menggunakan kurikulum 2013.
f.
Pemerataan
Pendidikan
Indonesia saat ini masih mengalami masalah di bidang pemerataan pendidikan. Hal ini disebabkan karena pendidikan yang masih didominasi oleh kaum menengah ke atas sehingga ada beberapa kaum menengah ke bawah yang tidak bisa merasakan pendidikan. Karena hal inilah muncul kesenjangan antara pendidikan di Kota dan di desa terutama di daerah perbatasan dan di luar pulau Jawa. Dengan demikian, untuk mewujudkan hal tersebut maka pemerintah harus membuat atau mengambil kebijakan yang tepat, seperti adanya kebijakan wajib belajar 9 tahun. Kebijakan ini dilaksanakan mulai dari SD hingga SMP dengan pemerataan tenaga pendidik di setiap daerah
g.
Kualitas
atau Mutu Pendidikan
Permasalahan yang paling mendasar dalam pendidikan
adalah masalah mutu pendidikan. Karena pendidikan di Indonesia masih jauh
tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya tenaga pendidikan yang mengajar namun tidak sesuai dengan
bidangnya. Selain itu, tingkat kejujuran dan kedisiplinan peserta didik juga
masih rendah. Contohnya, ketika sedang mengikuti ujian Nasional peserta didik
melakukan kecurangan dengan memilih jawaban secara instan. Misalnya, dengan
membeli kunci jawaban UN. Oleh karena itu, mutu pendidikan harus diperbaiki
dengan membuat kebijakan yang berupa peningkatan mutu pendidik. Semua itu
dilakukan dengan cara mengevaluasi ulang tenaga pendidik agar sesuai dengan
syarat untuk menjadi pendidik. Selain itu, pemerintah harus meningkatkan sarana
dan prasarana di sekolah, seperti memperbaiki fasilitas gedung dan memperbanyak
buku.
Pendidikan sangat penting bagi suatu
bangsa. Tanpa adanya pendidikan, maka bangsa tersebut akan tertinggal dengan
bangsa lain. Seperti halnya Indonesia, pendidikan merupakan salah satu upaya yang
dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain khususnya
bangsa-bangsa ASEAN. Maka dari itu, pendidikan Indonesia harus diperbaiki, baik
dari segi sistem pendidikan maupun sarana prasarana.
h.
Biaya
Pendidikan
Keadaan ekonomi di Indonesia yang semakin
terpuruk berdampak pula pada pendidikan di Indonesia. Banyak sekali anak yang
tidak bisa merasakan pendidikan karena biayanya yang mahal. Maka dari itu, agar
bangsa
Indonesia tidak semakin terbelakang, pemerintah mengeluarkan dana BOS, yang
diberikan pada peserta didik di SD dan SMP. Hal ini dilakukan dengan
membebaskan biaya SPP atau membuat kebijakan free-school bagi pendidikan
dasar. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, diharapkan semua pendidikan
dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat yang ada di Indonesia.
i.
Keadaan
Lingkungan Belajar
Keadaan lingkungan belajar di Indonesia juga menjadi
masalah dalam pendidikan di Indonesia. Dengan fasilitas yang minim untuk
sekolah tertentu memicu terciptanya suasana belajar yang tidak efektif dan efisien.
Namun sebaliknya, fasilitas yang terlalu berlebihan juga akan mempengaruhi
suasana belajar sehinggu muncul penyimpangan. Misalnya, terjadinya kekerasan
dan kejahatan seksual di lingkungan sekolah seperti Pemukulan guru oleh orang
tua siswa di Makasar dan Kejahatan seksual yang terjadi di JIS.
j.
Kebijakan
Pemerintah
Kebijakan yang diambil pemerintah terutama menteri
Pendidikan dan Kebudayaan beberapa tahun terakhir yang mengalami resafle
jabatan mengakibatkan perubahan beberapa kebijakan sehingga mengganggu sistem
pendidikan dan kurang efisien dalam melaksanakan beberapa program baru.
Kurangnya sosialisasi terhadap program baru juga menjadi permasalahan dalam
menyampaikan materi. Seperti halnya :
Perubahan KTSP menjadi K-13
Penghapusan Ujian Nasional
Diberlakukannya full day school yang masih
menjadi pro kontra dari beberapa pihak.
k.
Pihak
yang Terkait
Pihak yang terkait dalam problematika pendidikan di
Indonesia yaitu,
1).
Kesejahteraan
guru yang relatif rendah terutama guru honorer,
2).
Rendahnya
perhatian orang tua terhadap pentingnya pendidikan untuk anak,
3).
Kemauan
anak terhadap pendidikan yang rendah,
4).
Keadaan
lingkungan sekolah yang tidak mendukung.
Dari
sisi lain, penulis___mempunyai anggapapan__bahwa sebuah lembaga pendidikan
Islam termasuk salah satunya di dalamnya Madrasah akan selalu diminati dan
dicari oleh masyarakat apabila dari madrasah itu sendiri melakukan
perubahan-perubahan kearah yang lebih baik dan berkualitas. Untuk merubah ke arah
yang berkualitas dan lebih baik bagi madrasah seharusnya memperhatikan dua
faktor penting.
Pertama, ada upaya meningkatkan tenaga pendidiknya dengan
memberikan fasilitas untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti
yang belum lulus S-1 harus sekolah lagi agar lulus S-1 atau S-2 minimal untuk
tingkat madrasah. Kedua, Memperbaiki melengkapi dan menambah sarana dan prasarana
madrasah yang diperlukan, termasuk melengkapi sarana laboratorium yang memadai
dan tenaga yang profesional.
Disamping itu semua
untuk menunjang dan meningkatkan kesejahteraan para guru dan pendidik, maka
anggaran pendidikan di madrasah perlu ditingkatkan dan bahkan ditambah dari
pemerintah. Karena guru yang profesional dan berkualitas dibutuhkan anggaran
biaya yang tidak sedikit. Jangan asal-asalan guru atau pendidik hanya
memperoleh gaji yang pas-pasan, seperti pepatah kuno "Guru adalah
pahlawan tanpa tanda jasa'' itu adalah meremehkan martabat guru secara
finansial. Tapi pepatah itu sekarang harus diubah yaitu "Guru adalah
pahlawan yang harus di hormati dan dihargai". Seberapa harganya
yang harus diberikan oleh seorang guru atau pendidik tergantung persediaan
anggaran dari pemerintah dan tingkat kualitas mereka masing-masing dalam
mengabdikan ilmunya kepada anak didiknya.
Di sini penulis
juga optimis terhadap program sertifikasi pendidik dari pemerintah yang baru
bergulir sekarang ini. Karena dengan sertifikasi pendidik tersebut diharapkan
ada peningkatan-peningkatan dari berbagai faktor. Baik kualitas mutu pendidikan
terhadap anak didik meningkat menjadi baik, disiplin mengajar, dan perhatian
penuh kepada anak didiknya.
Disamping itu, dari
kebutuhan ekonomi akan tercukupi dan kebutuhan rumah tangga dapat menjadi lebih
baik lagi.
Pendidikan merupakan
aset bangsa. Anak juga merupakan aset bangsa namun dalam pengertian yang lain.
Pendidikan yang berkualitas akan membawa sebuah bangsa semakin maju. Sama
halnya dengan anak, semakin baik kualitas anak, akan membawa sebuah bangsa
semakin maju. Hal inilah yang menjadikan pendidikan dan anak merupakan dua hal
yang saling berkaitan satu sama lain. Anak merupakan generasi penerus masa
depan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pendidikan anak merupakan hal penting
yang tidak bisa diabaikan karena di dalamnya terdapat nasib masa depan bangsa
dan negara.
Namun, pada
realitasnya, pendidikan anak sampai saat ini, di negara Indonesia ini, belum
merupakan sebuah prioritas bersama antara pemerintah, orang tua maupun si anak
itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah biaya
pendidikan yang semakin tinggi. Sekarang ini, pendidikan yang berkualitas
sangat erat dengan biaya yang tinggi, tidak ada yang salah dengan pernyataan
tersebut karena memang seperti itu keterkaitan antara kualitas dengan biaya.
Namun, akan menjadi salah jika pendidikan yang berkualitas hanya dapat
dinikmati oleh masyarakat kelas atas saja yang mampu membayarnya. Jika seperti
ini terus, di masa depan, jurang pemisah antara miskin dan kaya akan semakin
jauh, karena masyarakat miskin tidak memiliki akses terhadap pendidikan yang
berkualitas. Ingat bahwa pendidikan merupakan salah satu solusi untuk menaikkan
kelas sosial.
Bukti lain bahwa
pendidikan belum menjadi prioritas bersama adalah pada setiap bergantinya rezim
pemerintahan, utamanya dengan bergantinya menteri pendidikan, selalui diikuti
dengan bergantinya kurikulum pendidikan. Dari sini tampak bahwa pemerintah
masih belum menemukan bentuk pengelolaan pendidikan yang tepat bagi anak-anak
kategori usia pendidikan dasar dan masih mencari-cari bentuk yang sesuai dengan
kondisi masyarakat Indonesia sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan seni.
Oleh karena itu,
negara (pemerintah) memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah kondisi
di atas, untuk menjadikan pendidikan berkualitas milik siapa saja, bukan hanya
si kaya. Di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia, penyelenggaraan
pendidikan merupakan beban tanggung jawab negara. Negara merupakan
penyelenggara pendidikan yang resmi. Negara kemudian menyerahkan beban tanggung
jawab tersebut kepada pemerintah sesuai dengan konstitusi. Namun, hal ini bukan
berarti beban tanggung jawab pendidikan semata-mata hanya ada di tangan negara.
Walaupun pendidikan merupakan tanggung jawab negara, namun tidak tertutup
kemungkinan adanya sektor privat yang turut serta melakukan penyelenggaraan
pendidikan. Walla<hu A’lam
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah Kajian Tafsir
Dan Hadis (Qs. Al Hijr : Surat Ke 15) dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Tafsir Dan Hadis Tentang Tujuan pendidikan/
filosofi Pendidikan Dalam Q.S Al
Hijr adalah insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri
kepada Allah inilah merupakan tujuan akhir dari pendidikan Islam.
2.
Tafsir Dan Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr adalah konsep Tauhid dan Perintah
membaca.
3.
Tafsir Dan Hadis Tentang Materi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr adalah materi tauhid, akhlak, ibadah dan muamalah.
4.
Tafsir Dan Hadis Tentang Metode Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr adalah diantaranya metode
Targhib (janji) dan metode Tarhib (ancaman).
5.
Tafsir Dan Hadis Tentang Evaluasi Pendidikan Dalam Q.S Al Hijr adalah yaitu At-Taqdir, ketentuan,
jumlah, ukuran. Ketentuan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Allah terhadap
makhluknya, tidak akan menyalahi aturan yang telah ditetapkan sehingga tidak
ada orang yang teraniaya atau dirugikan.
6.
Tafsir Dan Hadis Tentang Pendidik Dalam Q.S Al Hijr adalah Allah sebagai pendidik
pertama.
7.
Tafsir Dan Hadis Tentang Peserta Didik Dalam Q.S Al Hijr adalah keluarga nabi Luth dari kalangan kaumnya,
8.
Isu-Isu Kontemporer Terkait Pendidikan adalah Sistem pendidikan yang
berorietasi pada nilai, Sistem pendidikan terbuka, Sistem
pendidikan beragam, Sistem pendidikan yang efisien dalam pengelolaan
waktu, Sistem pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman,
Pemerataan Pendidikan, Kualitas atau Mutu Pendidikan, Biaya
Pendidikan, Keadaan Lingkungan Belajar, Kebijakan Pemerintah,
Pihak yang Terkait, upaya peningkatan tenaga pendidik dengan
memberikan fasilitas untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, Memperbaiki
melengkapi dan menambah sarana dan prasarana, Peningkatan anggaran dari
pemerintah, peningkatan program sertifikasi pendidik dari pemerintah.
Pendidikan yang berkualitas, biaya pendidikan yang semakin tinggi, sering
bergantinya kurikulum pendidikan. Walla<hu A’lam
B.
Saran
Hendaknya kita
sering mempelajari, mengkaji ayat-ayat al Qur an dan tafsirnya, juga
hadis-hadis Nabi karena di dalamnya tersimpan khazanah keilmuan yang tiada tara
yang dapat digali sebanyak yang kita inginkan. Yang kelak berguna bagi
kehidupan kita dan anak cucu kita mendatang, sebagai pedoman hidup dan bekal
untuk menjadi insan ka<mil yang senantiasa mendapatkan ridha-Nya. Aamiin
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud. 2008. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Al-Syaibany, Umar Muhammad al-Toumy. 1979. Falsafatut Tarbiyyah Al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Hasan Langgulung dengan judul Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Cet. 1. Jakarta: Ciputat Pers.
Arifin, HM. 1993. Kapita Selekta Pendidikan Islam Dan Umum. Jakarta: Bumi Aksara.
Barsihannor. 2009. Belajar dari Luqman al-Hakim, Cet.1. Yogyakarta: Kota Kembang.
Basuki dan Ulum, Miftahul. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo: STAIN Po Press.
Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur an Dan Terjemahannya. Bandung: CV. Penerbit J-ART.
Emang, Muh. Ruddin. 2002. Pendidikan Agama Islam, Cet.1. Makassar: Yayasan Fatiya.
Enciclopedia Americana, Int. Edition. 1977. New York:, vol.27.
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran, Cet. 4. Jakarta: Bumi Aksara.
Ihsan, Hamdani dan Ihsan, Fuad. 2007. Filsafat Pendidikan Islam, cetakan III. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Joesoef, Soelaiman & Santoso, Slamet. Tt. Pengantar Pendidikan Sosial. Surabaya: Usaha Nasional.
Langgulung, Hasan. 1986. Teori-Teori Kesehatan Mental. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Langgulung, Hasan. 1986. Manusia Dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:
Logos Wacana Ilmu.
Nawawi, Hadari. 1989.
Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas. Jakarta: Haji Masagung.
Nizar, Samsul. 2008. Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, Cet. 1. Jakarta: Kencana.
Purwadarminta, 1991. Kamus
Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Puskur Balitbang Depdiknas. 2007. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulun Mata Pelajaran Pendidikan Agama. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Ramayulis, 2002. Ilmu
Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Sasono, Adi. 1998. Solusi Islam atas Problematika Umat Ekonomi, Pendidikan dan Dakwah, Cet.1. Jakarta: Gema Insani Press.
Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umar, Moh. Chudlori. 2012. http://fahdamjad.Files.wordpres.com/pendidikan-islam-kontemporer.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Hijr
http://journal.walisongo.ac.id/index.php/Nadwa/article/download/567/514
http://fauzanma-fitkuinjkt.blogspot.com/2008/12/evaluasi-dalam-al-quran.html
http://wawasankeislaman.blogspot.com/2013/03/kumpulan-hadits-tentang-tauhid-1.html,
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-28-33.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-16-20.html.
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-21-25.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-45-50.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-2-3.html,
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-87-88.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-57-60.html,
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Hijr
[2] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam, cetakan III (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007), 64.
[3] http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-28-33.html, (online), diakses pada 25-01-2020, pukul 07.05
WIB.
[4]http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-28-33.html, (online), diakses pada 25-01-2020, pukul 07.10
WIB.
[5] Ramayulis, Ilmu Pendidikan
Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 127.
[6] Ibid., 128. Lihat dalam Hasan Langgulung, Manusia
Dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan (Jakarta: Pustaka
Al-Husna, 1986), 176.
[7] Ramayulis, Ilmu..., 129.
[8] Ibid., 130-131.
[9] Ibid., 137.
[10] Lihat dalam Ramayulis, Ilmu...,137.
[11] Ibid.
[12] Hasan Langgulung, Teori-Teori
Kesehatan Mental (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), 258.
[13] Ibid.
[14] Allah Swt. menyebutkan tentang
langit yang diciptakan-Nya, yang sangat tinggi disertai dengan bintang-bintang yang
menghiasinya, baik yang tetap maupun yang beredar. Hal tersebut dapat dijadikan
tanda-tanda yang jelas menunjukkan kekuasaan-Nya bagi orang yang merenungkannya
dan menggunakan akal pikirannya dalam menganalisis keajaiban-keajaiban alam
yang sangat mengagumkan itu dan membuat terpesona orang yang memandangnya. Lihat dalam http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-16-20.html.
[15] http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-21-25.html (online), diakses pada 25-01-2020, pukul 07.39
WIB.
[16] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat...,133.
[17] Moh. Chudlori Umar,
http://fahdamjad.Files.wordpres.com/pendidikan-islam-kontemporer.pdf (28 Maret 2012)
[18] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan
Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, Cet. 1 (Jakarta: Kencana,
2008), 119.
[19] Umar Muhammad al-Toumy
al-Syaibany, Falsafatut Tarbiyyah
Al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Hasan Langgulung dengan judul Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1979), 497.
[20] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Cet. 1 (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 30.
[21] Adi Sasono, Solusi Islam Atas Problematika Umat Ekonomi,
Pendidikan Dan Dakwah, Cet.1 (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), 93.
[22] Departemen Agama RI, Al-Qur an Dan Terjemahannya
(Bandung: CV. Penerbit J-ART, 2005), 413.
[23] Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam ( Jakarta:
Rajawali Pers, 2008), 351.
[24] Barsihannor, Belajar dari Luqman al-Hakim, Cet.1 (Yogyakarta: Kota Kembang, 2009), 53.
[25] Departemen Agama RI, Al-Qur an..., 413.
[26] Muh. Ruddin Emang, Pendidikan Agama Islam, Cet.1 (Makassar: Yayasan Fatiya, 2002), 71.
[27] Puskur Balitbang Depdiknas, Naskah Akademik Kajian Kebijakan
Kurikulun Mata Pelajaran Pendidikan Agama (Jakarta: Balitbang
Depdiknas, 2007), 3.
[28] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Cet. 4 (Jakarta: Bumi Aksara,
2003), 25.
[29] Ibid.
[30] Ibid.
[31] http://wawasankeislaman.blogspot.com/2013/03/kumpulan-hadits-tentang-tauhid-1.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.23
WIB.
[32] http://wawasankeislaman.blogspot.com/2013/03/kumpulan-hadits-tentang-tauhid-1.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.24 WIB.
[33] http://wawasankeislaman.blogspot.com/2013/03/kumpulan-hadits-tentang-tauhid-1.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.26
WIB.
[34] Hamdani Ihsan dkk., Filsafat..., 163.
[35] Ramayulis, Ilmu...,155.
[36] HM. Arifin, Kapita
Selekta Pendidikan Islam Dan Umum (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 88.
[37] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),
135.
[38] Ibid.
[39] Lihat di http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-45-50.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.41
WIB.
[40] Ibid.
[41] Ibid.
[42] Lihat di http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-45-50.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.45
WIB.
[43] Ibid.
[44] Lihat di http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-45-50.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.50
WIB.
[45] Lebih jelas lihat Enciclopedia
Americana, Int. Edition (New York: 1977, vol.27), 867.
[46] Ramayulis, Ilmu..., 197.
[47] Ibid., 92
[48] Lihat dalam http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-2-3.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.53
WIB.
[49] Ibid.
[50] Ibid.
[51] Lihat dalam http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-2-3.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.55
WIB.
[52] Ibid.
[53] Ibid.
[54] Lihat dalam http://fauzanma-fitkuinjkt.blogspot.com/2008/12/evaluasi-dalam-al-quran.html (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 08.53 WIB
[55] Ibid.
[56] Ibid..
[57] Purwadarminta, Kamus
Umum Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 1991), 250.
[58] Basuki Dan Miftahul Ulum,
Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Ponorogo: STAIN Po Press, 2007), 77.
[59] Ibid.
[60] Ibid., 78.
[61] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992),
74.
[62] Basuki Dan Miftahul Ulum,
Pengantar..., 79.
[63] Hadari Nawawi, Organisasi
Sekolah Dan Pengelolaan Kelas (Jakarta: Haji Masagung, 1989), 123.
[64] Dari berbagai ayat Al Qur an yang membicarakan mengenai kedudukan Allah SWT
sebagai guru dapat difahami. Allah SWT Maha memiliki pengetahuan yang amat luas
dan Maha pemurah dalam arti tidak kikir dengan ilmu-Nya, Maha tinggi, Penentu,
Pembimbing, Penumbuh prakarsa, Mengetahui kesungguhan manusia yang beribadat
kepada-Nya, Mengetahui siapa yang baik dan yang buruk, Menguasai cara-cara
(metode) dalam membina umat-Nya antara lain melalui penegasan, perintah,
pemberitahuan, kisah, sumpah, pencelaan, hukuman, keteladanan, pembantahan,
mengemukakan teka-teki, mengajukan pertanyaan, memperingatkan, mengutuk, dan
meminta perhatian. Baca surat Al- Alaq, Al Qalam, Al Muzammil, Al Mudatsir,
Al Lahab, At Takwir dan Al A’la. Lihat dalam Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar...,
83.
[65] Abudin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 65.
[66] Lihat dalam http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-87-88.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 09.35 WIB.
[67] Lihat dalam http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-87-88.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 09.37
WIB.
[68] Soelaiman Joesoef &
Slamet Santoso, Pengantar Pendidikan Sosial (Surabaya: Usaha Nasional,
tt.), 14.
[69] Basuki Dan Miftahul Ulum, Pengantar..., 123.
[70] http://www.ibnukatsironline.com/2015/06/tafsir-surat-al-hijr-ayat-57-60.html, (online) diakses pada 25-01-2020, pukul 09.49
WIB.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon