oleh Muhammad Zainuddin
Firman Allah:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ
ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى
إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada
dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya
adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai
empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri
ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan
supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku
bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri". (QS,al-Ahqaf:15)
Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Hurairah, dia
berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:,
"Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan
baik?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi,
"Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya
lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia
bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu".
(HR Muslim)
Dari isi Hadist terlihat betapa Allah
melalui Rasulullah menilai besarnya pengorbanan orang tua kita terutama Ibu.
Apa yang sudah ibu berikan kepada anaknya tidak dapat dibandingkan dengan
apapun di dunia ini.
Orang tua, terutama ibu harus selalu
kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri.
Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua
kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka
berarti kita memaki orang tua kita sendiri.
Memuliakan orang tua kita bukan dengan
memberinya harta yang berlimpah. Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah
membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tidak dapat dibandingkan dengan
kemuliaan akhlak yang baik.
Kita sebagai anak harus memohon,
berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari
Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan
lapang dada.
Setiap kita tak akan bisa menghitung,
berapa banyak kesusahan yang telah kita timpakan kepada orang tua___dari mulai
kita berada dalam kandungan sampai saat ini. Sembilan bulan kita berada dalam
rahim ibu, dibawa___dirawatnya janin kita yang tak berdaya itu di manapun ia
berada. Tak ada kata istirahat buat Ibu. Saat tidurnyapun kita ini masih begitu
menyusahkan. Jangankan tengkurap, tidur telentang saja dirasakan ibu begitu
berat.
Ketika detik-detik kelahiran kian dekat, perjuangan
Ibupun semakin berat___ dihadapkan pada dua pilihan antara hidup atau mati.
Bersimbah peluh, berlumur darah untuk melahirkan anak kesayangan yang telah
lama dinanti-nantikan.
Setelah kita lahir, kesusahan yang kita timpakan
kepada duanya semakin bertambah pula. Kita minum air susunya kapanpun kita mau.
Ditengah kerewelan kita, segala macam kebutuhan dan keinginan kita dengan sabar
dilayaninya. Waktu istirahat Ibupun sering kita "rampas." Siang hari
kita enak tidur, namun malam hari, saat Ibu atau Bapak membutuhkan istirahat,
tangisan kita malah santer membuat mereka terjaga dan sulit terlelap kembali.
Lalu apakah kesusahan yang kita timpakan kepada ibu
selesai sampai di situ ? Tentu tidak. Justru semakin bertambah usia kita
semakin bertambah pula kesulitan yang ditanggungkan Ibu. Saat sekolah,
misalnya, tak jarang kita yang menjalani ujian, namun justru ibu kita yang
lebih banyak berdoa dan lebih khawatir. Takut tidak bisa-lah, takut tidak
lulus-lah, dan kecemasan lain, yang kita sendiri kurang peduli.
Setelah kita bekerja atau berkeluarga, berkurangkah
kasih sayang mereka ? Tidak sama sekali. Biarpun diri kita telah dianggap
mandiri, tetap saja Ibu mengkhawatirkan keadaan kita. Seperti saat kita sakit
misalnya.
***
Setelah kita berkeluarga, kasih sayang Ibu tetap tak berujung. Walaupun
secara kasat tampaknya lebih banyak dicurahkan kepada sang cucu, Toh, tetap
saja itu termasuk salah satu wujud kasih sayangnya kepada kita.
Maka, jika keduanya masih ada, bersikap
santunlah kepada ibu dan bapak. Berbuatlah yang terbaik bagi mereka. Simak
Firman Allah SWT :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا
فَلاَ
تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
"Dan Tuhanmu
telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu
berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah", dan
janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia."(QS.al-Isra':23)
Andaikan orang tua kita telah dipanggil Allah SWT, doakanlah mereka. Karena
beliau begitu merindukan doa-doa kita. Semoga saja kita tergolong sebagi
anak-anak yang shaleh. Aamiin.
Wallahua'lam bishshowwab
Semoga bermanfaat !
SUMBER = http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/11/indahnya-kasih-sayang-seorang-ibu.html
Sign up here with your email