SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

TATA BAHASA INDONESIA DILIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG


BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi, karena dalam penguasaan bahasa Belanda dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan), sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan dii sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "Bahasa Persatuan Bangsa" pada waktu Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah.
Dalam pidatonya pada    Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan : "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja.
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, maka penulisan makalah ini kami beri judul Tata Bahasa Indonesia Dilihat Dari Berbagai Sudut Pandang”.

B.        Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.     Apa pengertian tata bahasa dan bagaimana perkembangan tata bahasa Indonesia ?
2.     Apa saja cakupan dan kemaknawian ilmu bahasa ?

C.        Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat mengetahui :
1.     Pengertian tata bahasa dan perkembangan tata bahasa Indonesia.
2.     Cakupan dan kemaknawian ilmu bahasa.



BAB II
TATA BAHASA INDONESIA
DILIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG

A.     Pengertian Tata Bahasa Dan Perkembangan Tata Bahasa Indonesia  

Tata bahasa adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/ atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti "adik" dan "pacar" sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai contohnya.

Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari bahasa Sansekerta melalui bahasa Jawa Kuno.
Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.
Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.
Susunan kata dasar yaitu Subyek - Predikat - Obyek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".

B.    Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa

Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.

1.   Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.

2.   Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini adalah dalam pemberian nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik jika disesuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

3.   Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -­en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -­en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh ahli farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja langsung menggunakan obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.

4.   Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

5.   Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/ benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.

6.   Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa adalah guru dan/ atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.
Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.
                                    Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.

7.  Leksikografi
Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary  yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada dipasaran.



BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari pembahasan Tata Bahasa Indonesia Dilihat Dari Berbagai Sudut Pandang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.  Pengertian Tata Bahasa adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Adapun   perkembangan Tata Bahasa Indonesia  mengalami perubahan mulai di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender.
2.  Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Semantik membahas mengenai makna bahasa. Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus.
B.    Saran
Kekhawatiran semua pihak terhadap kurangnya pemahaman terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu di tanggapi, baik dalam kapasitas pengembangan, penjagaan dan pelestarian. Hendaknya kita perlu menjaga kelestarian Bahasa Indonesia yang baik dan benar agar kelak Bahasa Indonesia tidak berubah ke pola bahasa yang baru.


.


DAFTAR PUSTAKA


Samsuri . Analisa Bahasa. Jakarta : Erlangga, 1987.
Sumaatmadja, Nursid.  Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta : Bumi Aksara.  1998.
Wikipedia.http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_indonesia#Dialek_dan_ragam_bahasa.
 Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_bahasa.
A.Kwary,Deny.http://www.kwary.net/linguistics/gl/Gambaran%20Umum%20Ilmu%20Bahasa.doc.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/01/tata-bahasa-indonesia-dilihat-dari.html




PENGERTIAN, MANFAAT DAN FUNGSI KERANGKA KARANGAN, POLA PENYUSUNAN, MACAM-MACAM DAN SYARAT KERANGKA KARANGAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Kerangka karangan adalah rencana kerja yang memuat garis-garis besar suatu karangan yang mengandung ketentuan-ketentuan bagaimana kita akan menyusun kerangka-kerangka karangan yang mempunyai banyak fungsi dan manfaat bagi penulis.
Kerangka karangan mempunyai banyak bagian-bagian yang harus di pelajari agar suatu karangan bisa tersusun dengan baik dengan menggunakan pola-pola penyusunan seperti pola alamiah dan logis.
Agar karangan dapat dipahami oleh pembaca dan tidak terjadi pengulangan pembahasan maka penulis perlu memahami tatacara dan syarat-syarat yang telah dikemukakan dalam uraian kerangka karangan.
Kerangka karangan mempunyai macam-macam yang berdasarkan perincian dan perumusan teks. Serta mempelajari bagaimana cara penerapan penyusunan kerangka yang baik dan benar.
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas maka penulisan makalah ini kami beri judul “Pengertian, Manfaat Dan Fungsi Kerangka Karangan, Pola Penyusunan, Macam-Macam Dan Syarat Kerangka Karangan”.

B.           Rumusan Masalah
Adapun rumusan makalah adalah :
1.      Apakah pengertian kerangka karangan ?
2.      Apa manfaat kerangka karangan ?
3.      Apa sajakah fungsi kerangka karangan itu ?
4.      Bagaimana cara penyusunan kerangka karangan ?
5.      Ada berapa macam kerangka karangan ?
6.   Apa saja syarat-syarat kerangka karangan agar menjadi suatu karya ilmiah yang baik dan benar ?
7. Bagaimana caranya agar penulis bisa mengembangkan dan menerapkan penyusunan kerangka karangan

C.           Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat mengetahui :
1.      Pengertian kerangka karangan.
2.      Manfaat kerangka karangan.
3.      Fungsi kerangka karangan.
4.      Cara penyusunan kerangka karangan.
5.      Macam-macam kerangka karangan.
6.   Syarat-syarat kerangka karangan agar menjadi suatu karya ilmiah yang baik dan benar.
7.    Cara agar penulis bisa mengembangkan dan menerapkan penyusunan kerangka karangan.



BAB II
PENGERTIAN, MANFAAT DAN FUNGSI KERANGKA KARANGAN, POLA PENYUSUNAN, MACAM-MACAM DAN SYARAT KERANGKA KARANGAN

A.           Pengertian Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah rencana kerja yang membuat garis-garis besar suatu karangan yang ketentuan-ketentuan bagaimana kita akan menyusun karangan-karangan.[1]
Kerangka karangan dapat diartikan rancangan kerja yang memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan. Kerangka karangan dapat berbentuk catatan-catatan sederhana tapi juga dapat berbentuk mendetail dan digarap sangat cermat.

B.           Manfaat Kerangka Karangan

            Kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut :
1.    Untuk menyusun karangan secara teratur.
2.    Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda.
3.    Menghindari garapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.
4.    Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu.[2]

C.           Fungsi Kerangka Karangan

                  Adapun fungsi kerangka karangan adalah :
1.    Memperlihatkan pokok bahasan, sub bahasan.
2.    Mencegah pembahasan keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik, judul,kalimat, tesis dan tujuan karangan.
3.    Memudahkan penyusunan karangan sehingga menjadi lebih baik dan teratur.
4.    Memudahkan penempatan antara pembagian karangan yang penting dengan yang kurang penting.
5.    Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
6.    Membantu pengumpulan sumber-sumber yang diperlukan.[3]

D.           Penyusunan Kerangka Karangan
 Langkah-langkah dalam penyusunan kerangka karangan adalah :
1.    Rumuskan tema.
Harus berbentuk (tesis)  atau pengungkapan maksud.
2.    Inventarisasi topik.
3.    Evaluasi semua topik yang telah tercatat.
4.    Menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok.

E.           Pola Penyusunan Kerangka Karangan

1.    Pola Alamiah.
Pola Alamiah adalah suatu urutan kerangka karangan dengan keadaan nyata di alam yang didasari tiga atau empat dimensi dalam kehidupan manusia atas-bawah, melintang-menyeberang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat. Pola alamiah dapat di bagi menjadi tiga bagian :
a.     Urutan Berdasarkan Waktu (Kronologis)
Urutan kronologis adalah urutan yang didasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian berdasarkan kronologinya. Peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
b.     Urutan Ruang (Spasial)
Yaitu urutan yang didasarkan pada ruang atau tempat. yang biasanya digunakan dalam tulisan yang bersifat deskriptif.
c.      Topik yang ada.
Yaitu untuk menggambarkan  hal tersebut secara lengkap pada bagian-bagian tertentu.
2.    Pola Logis.
Macam-macam urutan logis :
a.     Urutan klimaks dan anti klimaks.
Posisi suatu rangkaian yang penting berada pada akhir rangkaian di sebut urutan klimaks. Sedangkan posisi yang penting berada di awal karangan disebut urutan anti klimaks.
b.     Urutan kausal.
Urutan  kausal mencakup dua pola dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab pola yang pertama disebut sebab. Pola selanjutnya disebut akibat.
c.      Urutan pemecahan masalah.
Urutan pemecahan masalah di mulai dari suatu masalah tertentu kemudian berkembang menuju kesimpulan umum atau pemecahan suatu masalah tersebut.
                          Landasan pemecahan masalah terdiri atas tiga bagian :
1).  Deskripsi        : mengenai persoalan atau masalah
2).  Analisa           : mengenai sebab akibat sari persoalan
3).  Alternatif        : untuk jalan keluar suatu masalah
d.     Urutan umum khusus.
Suatu  masalah yang dimulai dari suatu kelompok kecil di sebut urutan umum-khusus, tapi sebaliknya jika persoalan itu memaparkan peristiwa dari kelompok kecil sehingga menelusuri kelompok besar di sebut khusus-umum.
e.     Urutan familiaritas.
Adalah mengemukakan sesuatu yang sudah dikenal kemudian berangsur pindah kepada hal-hal yang kurang di kenal.
f.       Urutan akseptabilitas.
Adalah mempersoalkan apakah suatu gagasan diterima atau tidak oleh pembaca ataukah disetujui atau tidak.[4]

F.           Macam-Macam Kerangka Karangan

1.      Berdasarkan perincian.
a.   Kerangka karangan sederhana (non-formal)
Merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah.yang terdiri dari tesis dan pokok-pokok utama.
b.   Kerangka karangan formal.
Kerangka karangan yang timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan di garap bersifat sangat komplek atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.[5]
2.      Berdasarkan perumusan teks.
a.   Kerangka kalimat.
Menggunakan kalimat deklaratif yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, sub topik. Misalnya :
1).    Pendahuluan
2).    Latar belakang
3).    Rumusan masalah
4).    Tujuan.[6]
Manfaat menggunakan kerangka kalimat :
1).    Memaksa penulis untuk merumuskan topik yang akan diuraikan.
2).    Perumusan topik-topik akan tetap jelas.
3).    Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.
b.  Kerangka topik
Kerangka topik dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap dan menggunakan kata atau frase. Kerangka lebih baik manfaatnya dari kerangka topik, tetapi kelebihan kerangka topik adalah lebih jelas merumuskan hubungan-hubungan  kepentingan antar gagasan.

G.           Syarat-Syarat Kerangka Karangan

1.         Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas.
2.         Tiap unit dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan.
            3.         Pokok-pokok kerangka karangan harus disusun secara logis
            4.         Harus mempergunakan pasangan simbol yang konsisten.[7]

H.           Mengembangkan Kerangka Karangan

Setelah karangan tertulis tersusun langkah selanjutnya yang harus dilakukan penulis adalah mengembangkan kerangka karangan menjadi sebuah bentuk karya tulis yang utuh. Pengembangan kerangka karangan membutuhkan sejumlah data ataupun kebenaran-kebenaran yang mendukung gagasan.

I.             Penerapan Penyuntingan

Untuk menerapkan cara penyuntingan kerangka karangan dengan mempergunakan semua persyaratan akan memudahkan uraian mengenai penerapan penyusunan.[8]


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
          Dari kesimpulan di atas dapat di simpulkan bahwa kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang mengandung ketentuan-ketentuan bagaimana caranya menyusun karangan.
          Cara penyusunan kerangka karangan mempunyai dua pola. Pertama,  pola alamiah dan kedua pola logis.
          Kerangka karangan juga mempunyai macam-macam yang berdasarkan perincian dan rumusan teks, kerangka karangan yang berdasarkan perincian ada dua macam berupa kerangka karangan sementara dan kerangka karangan formal. Sedangkan yang berdasarkan perumusan teks yaitu kerangka kalimat dan kerangka topik.
          Kerangka karangan memberikan banyak manfaat. Diantaranya agar tidak terjadi pengulangan pembahasan sehingga pembaca tidak perlu bertanya lagi dan jelasnya topik yang akan di bahas.

B.   Saran
           Hendaknya dalam membuat sebuah karangan memperhatikan kaidah-kaidah yang benar sehingga akan menghasilkan karya tulis yang mudah dipahami oleh semua pembaca, sehingga maksud dan tujuan menulis tepat dan mengena dan dapat dirasakan nilai kemanfaatannya bagi semua.
      
DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Groys. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah, 1997.
Pratiwi, Yuni. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga, 2004.

Ramlan, M. Kalimat, Konfungsi, Dan Repsisi Dalam Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Karangan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharta, 2008.
Syamrotul Fuadi, Deti. Bahasa Indonesia : Ringkasan dan Bank Soal. Bandung : Yroma Widya 2005.

http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/01/pengertian-manfaat-dan-fungsi-kerangka.html



[1] Deti Syamrotul Fuadi, Bahasa Indonesia : Ringkasan Dan Bank Soal (Bandung : Yroma Widya 2005), 244-245.
[2] Groys Keraf, Tata Bahasa Indonesia (Jakarta : Nusa Indah, 1997), 132.
[3] M. Ramlan, Kalimat, Konfungsi, Dan Repsisi Dalam Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Karangan (Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, 2008), 158.
[4] Groys Keraf, Tata Bahasa Indonesia (Jakarta:  Nusa Indah, 1997), 136-142.
[5] Yuni Pratiwi, Bahasa Dan Sastra Indonesia (Jakarta: Erlangga, 2004), 56-59.
[6] M. Rahlan, Kalimat. Konjungsi Dan Reposisi Dalam Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Karangan (Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, 2008) 160.
[7] Yuni Pratiwi, Bahasa Dan Sastra Indonesia (Jakarta : Erlangga,2004), 95-100.
[8] Deti Syamrotul Fuadi, Bahasa Indonesia, Ringkasan Dan Bank Soal (Bandung : Yrama Widya 2005), 246.










.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger