SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADIS PADA MASA SAHABAT DAN TABI’IN


A.     HADIS PADA MASA SAHABAT

1.      Fase awal dan cara sahabat mendapatkan hadis

                Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat, khususnya masa Khulafa’ Al-Rasyidin yang berlangsung sekitar tahun 11-40 H. Masa ini disebut juga masa sahabat besar.


            Pada masa ini nabi melarang para sahabatnya untuk menulis hadis. Akan tetapi nabi juga mengizinkan beberapa dari sahabat beliau  untuk menuliskan hadis.

           Sebab-sebab nabi melarang para sahabatnya untuk menulis hadis karena nabi khawatir jikalau terjadi percampuran dalam penulisan hadis dan al quran, karena pada masa beliau konsentrasi penuh adalah dalam penulisan al quran. Oleh  karena itu nabi menyuruh Abdullah Ibn Umar sebagai katib/ penulis dalam penulisan hadis. 

           Disamping itu nabi juga khawatir jikalau para sahabat lebih sibuk pada hadis dari pada al quran.[1] Para sahabat mendapatkan hadis langsung dari nabi Muhammmad tanpa adanya hijab ataupun penghalang, sehingga para sahabat dapat menjadikan semua bentuk dari aqwal, afal ataupun taqriri nabi  sebagai  landasan hukum yang sah. 

        Di antara para sahabat tidak sama kadar perolehan dan penguasaan hadis. Ada yang memilikinya lebih banyak, tetapi ada yang sedikit sekali. Hal ini tergantung kepada beberapa hal, pertama, perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasul. Kedua, perbedaan mereka dalam soal kesanggupan bertanya kepada sahabat lain.  Ketiga, perbedaan mereka karena berbedanya waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari masjid Rasul.

2.      Menghafal Dan Menulis Hadis

          Untuk periode ini para sahabat banyak menghafalkan hadis karena orang-orang Arab sangat terkenal dalam masalah hafalannya, disamping juga ada larangan dari nabi untuk menulis hadis. Akan tetapi ada juga dari segenap sahabat yang menulis hadis karena adanya mandat langsung dari nabi Muhammad saw seperti Abdullah Ibn Amr.
          Dari segenap sahabat nabi, sebagian dari mereka mempunyai keistimewaan dari sahabat yang lain. Mereka meriwayatkan lebih dari seribu hadis, mereka adalah: Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Anas Ibn Malik, Sayidah Aisah, Abdullah Ibn Abas, Jabir Ibn Abdullah, Abu Said Alkhudri.

B.    HADIS PADA MASA TABIIN

     Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan tabi’in tidak begitu berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat. Hal  ini karena mereka mengikuti jejak para sahabat yang menjadi guru-guru mereka. Hanya saja persoalan-persoalan yang dihadapi oleh mereka berbeda dengan yang dihadapi oleh para sahabat.

C.    HADIS MASA TADWIN

         Secara bahasa tadwin diterjemahkan dengan kumpulan shahifah (mujtama’ al-shuhuf). Secara luas tadwin diartikan dengan al-jam’u (mengumpulkan). Menurut Al-Zahrani, tadwin ialah “Mengikat yang berserak-serakan kemudian mengumpulkannya menjadi satu diwan atau kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran”.
           Khilifah Umar Bin Abdul Aziz (kholifah kedelapan dari bani Umayyah) mengintruksikan kepada para pejabat daerah agar memperhatikan dan mengumpulkan hadis dari para penghafalnya. Kepada Abu Bakar Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazm beliau mengirim instruksi “Perhatikan atau periksalah hadis-hadis Rasul SAW, kemudian tuliskanlah ! Aku khawatir akan lenyapnya ilmu dengan meninggalnya para ulama’ (para ahlinya). Dan janganlah kamu terima kecuali hadis Rasul SAW.” 
         Kholifah mengintruksikan kepada Abu Bakar Bin Hazm agar mengumpulkan hadis-hadis yang ada pada Amrah Binti Abdurrahman Al Ansari (murid kepercayaan Sayyidah Aisah) dan Al Qasim Bin Muhammad Bin Abi Bakar. Instruksi yang sama ditujukan kepada Muhammad Ibn Syihab Al-Zuhri yang dinilainya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadis dari pada yang lainnya.[3]
      Untuk periode pertama hadis, membicarakan hadis pada masa Rasul SAW. berarti membicarakan hadis pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul SAW sebagai sumber hadis. Rasul SAW membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwujudkannya Hadis.
           Pada periode sahabat belum ada pembukuan ataupun pengumpulan hadis secara satu buku atupun kitab, karena perhatian para sahabat masih dalam pengumpulan al quran dalam satu mushaf dan adanya pergolakan politik pada masa sayidina Usman dan Ali. Periode sahabat berakhir pada tahun  kurang lebih seratus hijriah.[2]
Pada masa ini al quran sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Di   pihak lain, para sahabat ahli hadis telah menyebar ke beberapa wilayah kekuasaan Islam, sehingga para tabiin dapat mempelajari hadis dari mereka.
Ketika pemerintahan dipegang oleh bani Umayyah, wilayah Islam telah meliputi Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand Dan Spanyol, disamping Mekah, Madinah, Basrah, dan Syam. Pesatnya perluasan wilayah kekuasaan Islam dan meningkatnya penyebaran para sahabat ke daerah daerah tersebut menjadikan masa ini dikenal dengan masa penyebaran periwayatan hadist.
Ada ulama’ ahli Hadis yang berhasil menyusun kitab tadwin yang bisa diwariskan kepada generasi sekarang, yaitu Malik Ibn Anas (93-179 H) di Madinah dengan karyanya Al-Muwaththa’. Para tadwin yang lain ialah, Muhammad Ibn Ishaq (w.151) dan Ibn Abi Zi’bin (80-158) di Madinah; Ibn Juraij (80-150) di Makkah; Al-Rabi’ Ibn Sabih (w.160 H) dan Hammad Ibn Salamah (w.176 H) di Bashrah; Sufyan Al-Tsauri (97-161 H) di Kufah; Al-Auza’i (988-157 H) di Syam; Ma’mar Ibn Rasyid (93-153 H) di Yaman; ibn Al-Mubarak (118-181 Hadis) di Khurasan; Abdullah ibn Al-Wahab (125-197 H) di Mesir; dan Jarir ibn Abd Al-Hamid (110-188 H) di Rei.[4]

D.    PERGOLAKAN POLITIK DAN PEMALSUAN HADITS

           Pergolakan politik ini terjadi pada masa sahabat, setelah terjadinya perang Jamal dan perang Siffin, ketika kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut, dengan terpecahnya umat Islam ke dalam beberapa kelompok (Khawarij, Syi’ah, Muawiyah, dan golongan mayoritas yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut).
        Secara langsung ataupun tidak, pergolakan politik tersebut memberikan pengaruh terhadap perkembangan Hadits berikutnya. Pengaruh yang langsung dan bersifat negatif ialah munculnya hadits-hadits palsu (maudhu’) untuk mendukung kepentingan politik masing-masing kelompoknya dan untuk menjatuhkan posisi lawan-lawannya.
         Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah lahirnya rencana dan usaha yang mendorong diadakannya kodifikasi dan tadwin hadits sebagai upaya penyelamatan dari pemalsuan sebagai akibat dari akibat pergolakan politik tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Al  Maliki, Sayyid Muhammad Bin Alawi. Qowaidul Asasiah. Malang : As Shofwah. tt.
Al Maliki, Syekh Alawi Abas. Annuri, Syekh Hasan Sulaiman. Ibanatul Ahkam. Beirut Lebanon: Darul Fikr, 2008.
Al Qodhoh, Syarof Mahmmud. Manhajul Hadis Fi Ulumil Hadis. Kuala Lumpur: Daruttauhid, 2003.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/04/pertumbuhan-dan-perkembangan-hadis-pada.html

[1] Syarof Mahmmud Al Qodhoh, Manhajul Hadis Fi Ulumil Hadis (Kuala Lumpur: Daruttauhid, 2003),
[2] Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki, Qowaidul Asasiah (Malang : As Shofwah. tt),
[3] Syekh Alawi Abas Al Maliki, Syekh Hasan Sulaiman Annuri, Ibanatul Ahkam, (Beirut Lebanon: Darul Fikr, 2008),
[4] Syekh Alawi Abas Al Maliki, Syekh Hasan Sulaiman Annuri,Ibanatul Ahkam  (Beirut Lebanon: Darul Fikr, 2008),





MATERI TERKAIT:

Judul: PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADIS PADA MASA SAHABAT DAN TABI’IN
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADIS PADA MASA SAHABAT DAN TABI’IN. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/04/pertumbuhan-dan-perkembangan-hadis-pada.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger