SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

RESUME MATERI ULUMUL HADITS: SEJARAH HADITS PRA KODIFIKASI


A.     Hadits pada masa Rasulullah SAW

Periode Rasul SAW merupakan periode pertama sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits. Masa ini berlangsung selama 23 tahun. Dimulai tahun 13 SH – 11 H atau tahun 610 M – 632 M.
Karakteristik yang berkenaan dengan kondisi (keadaan) hadits pada zaman Nabi SAW dapat digambarkan sebagai berikut :
1.  Cara Rasul menyampaikan hadits.
2.  Keadaan para Sahabat dalam menerima dan menguasai hadits.
3.  Pemeliharaan hadits dalam hafalan dan tulisan.

Cara Rasul dalam menyampaikan hadits bermacam-macam, diantaranya :

1.   Lewat majlis taklim (pengajian) atau di rumah Nabi.
2.  Kemudian lewat sahabat tertentu yang disampaikan kepada Sahabat lainnya.
3.  Ada lagi melalui ceramah (pidato) di tempat-tempat terbuka seperti ketika Haji Wada’ dan ketika Futuh Makkah.
4.  Kemudian melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para Sahabatnya (jalan musyahadah) seperti yang berkaitan dengan praktik ibadah dan muamalah. Seperti ketika Nabi sedang safar atau di pasar dan lain-lain.

Adapun keadaan para Sahabat dalam menerima dan menguasai hadits dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

1.  Sahabat yang banyak menerima dan menguasai hadits.
2.  Sahabat yang sedang dalam menerima dan menguasai hadits.
3.  Sahabat yang sedikit dalam menerima dan menguasai hadits.

Hal tersebut disebabkan karena :

1.  Adanya perbedaan di antara mereka dalam hal kesempatan bersama Nabi SAW.
2. Adanya perbedaan di antara mereka dalam hal waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal mereka dari majlis Nabi SAW.
3. Adanya perbedaan di antara mereka dalam hal hafalan dan kesungguhan bertanya kepada Sahabat lain.
4.  Adanya perbedaan di antara mereka dalam hal keterampilan menulis hadits.

Di antara Sahabat Nabi yang banyak menerima hadits Nabi SAW. adalah :
1.  Assabiqunal Awwalun yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.
2.  Ummahatul Mukminin (istri-istri Rasul) seperti Aisyah dan Ummu Salamah.
3.  Sahabat Abdullah Amr Bin Ash.
4.Sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasulullah, tetapi sangat efisien memanfaatkan kesempatan dan bersungguh-sungguh bertanya kepada sahabat lain, seperti Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Anas Bin Malik dan Abdullah Bin Abbas.
Kemudian dalam masalah pemeliharaan hadits, Rasul SAW mengambil kebijaksanaan yang berbeda. Terhadap  Al Qur'an beliau secara resmi memberi instruksi untuk menulisnya dan menghafalkannya. Sedangkan terhadap hadits, secara resmi hanya memerintahkan untuk menghafal dan menyampaikan pada orang lain.
Adapun motivasi para Sahabat sehingga mereka giat menghafal hadits diantaranya :
1.  Menghafal adalah kegiatan budaya bangsa Arab yang telah diwariskan sejak jaman pra Islam.
2.  Mereka terkenal sangat kuat hafalan dibanding dengan bangsa lain.
3. Adanya spirit dari Rasul SAW berupa doa agar mereka diberikan kemudahan hafalan dan mendapatkan derajat yang tinggi.
4.  Rasul SAW seringkali menjanjikan kebaikan akhirat kepada mereka yang menghafal hadits dan menyampaikan kepada orang lain.
Dalam hal penulisan hadits di masa Nabi, belum ditulis (dibukukan) secara resmi, meskipun ada beberapa Sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadits. Larangan penulisan hadits tersebut untuk menghindarkan campur aduknya hadits dengan  Al Qur'an.
Meskipun ada larangan penulisan hadits, namun ada juga hadits yang membolehkan penulisan hadits.

Hikmah adanya larangan penulisan hadits yaitu : Untuk memelihara agar hadits itu tidak bercampur dengan   Al Qur'an. Tetapi setelah banyak yang mengenal  Al Qur'an, maka hukum larangan menulis hadits dinasahkan dengan perintah yang membolehkannya menulis hadits. Larangan menulis hadits itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang ahli menulis hingga terjaga dari kekeliruan menulis. Dan juga larangan menulis hadits ditujukan kepada orang yang lebih kuat hafalannya dari pada menulisnya. Sedangkan perizinan menulis hadits diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya.
Diantara para sahabat yang melakukan penulisan hadits dan memiliki catatan-catatan yaitu : Abdullah Bin Amr Bin Ash (27 SH-63 H), Jabir Bin Abdullah Bin Amr Bin Naram An Nashari (16 SH-78 H), Anas Bin Malik (10 SH-93 H), Abu Hurairah Ad Dausi (19 SH-59 H), Abu Syah, Abu Bakar Ash Shidiq, Ali Bin Abi Thalib, Abdullah Bin Abbas dan lain-lain.

B.    Hadits pada masa Sahabat (Khulafa Al Rasyidin, 11-40 H)

Pada masa ini, perhatian para Sahabat Khulafa Al Rasyidin masih berfokus pada pemeliharaan dan penyebaran  Al Qur'an. Periwayatan hadits belum begitu berkembang. Adanya pembatasan (kehati-hatian) atau memperketat periwayatan hadits.
Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab ada perhatian yang serius dalam memelihara hadits. Keduanya sangat berhati-hati dalam menerima hadits, bahkan Abu Bakar dan Umar tidak menerima hadits jika tidak disaksikan benarnya oleh seseorang yang lain.
Sikap kehati-hatian kedua sahabat tersebut, juga diikuti oleh khalifah Usman dan Ali. Bahkan Ali tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkan itu disumpah.
Pada masa ini belum ada usaha resmi untuk menghimpun hadits dalam suatu kitab seperti halnya  Al Qur'an. Hal ini disebabkan karena :
1.  Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari  Al Qur'an.
2.Para Sahabat yang banyak menerima hadits sudah banyak tersebar di daerah kekuasaan Islam dengan kesibukannya masing-masing sebagai pembina masyarakat, sehingga ada kesulitan mengumpulkan mereka secara lengkap.
3.  Soal membukukan hadits, di kalangan Sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan keshahihannya.

C.    Hadits pada masa Tabi’in

Pada masa tabi’in,  Al Qur'an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf, sehingga tidak mengkhawatirkan untuk tercampur dengan hadits. Dan sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan Islam dan banyaknya Sahabat ahli hadits yang juga menyebar ke beberapa wilayah Islam, berarti penyebaran hadits juga meningkat atau terjadi Ihtisar Ar Riwayah (penyebaran periwayatan).
Pada masa tabi’in juga terjadi kegiatan menghafal dan menulis hadits.
Adapun tokoh-tokoh pada masa tabi’in diantaranya : Ibnu Abi Laila, Abu Al Aliyah, Ibnu Syihab Az Zuhri, Urwah Bin Az Zubair adalah tokoh-tokoh terkemuka yang sangat menekankan pentingnya menghafal hadits secara terus-menerus.
Sedangkan tokoh tabi’in yang menuliskan hadits diantaranya : Abban Bin Usman Bin Affan, Ibrahim Bin Yazid An Nakhai, Abu Salamah Bin Abdurrahman, Abi Qilabah, Ummu Darda’, Junainah Binti Yahya, Jabir Bin Zaid Al Asdi dan lain-lain.
Pada masa tabi’in ini muncul persoalan politik yang secara langsung atau tidak langsung memberikan pengaruh, baik positif ataupun negatif terhadap perkembangan hadits berikutnya.
Pengaruh langsung yang bersifat negatif yaitu hadits digunakan untuk mendukung kepentingan politik masing-masing kelompok dan digunakan untuk menjatuhkan posisi lawn-lawannya. Sedangkan pengaruh positifnya adalah adanya rencana dan usaha kodifikasi hadits sebagai penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan hadits.


SUMBER = http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/resume-materi-ulumul-hadits-sejarah.html






MATERI TERKAIT:

Judul: RESUME MATERI ULUMUL HADITS: SEJARAH HADITS PRA KODIFIKASI
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah RESUME MATERI ULUMUL HADITS: SEJARAH HADITS PRA KODIFIKASI . Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/resume-materi-ulumul-hadits-sejarah.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger