SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

RESUME MATERI ULUMUL HADITS: KODIFIKASI HADITS (TADWIN)


KODIFIKASI HADITS adalah usaha untuk mengumpulkan hadits secara resmi (dengan instruksi resmi) dari pemerintah (kepala negara) dengan melibatkan beberapa Sahabat yang ahli di bidangnya.

A.     Permulaan Zaman Pembukuan Hadits (Abad II H)

Kegiatan pembukuan hadits dimulai pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz melalui instruksinya kepada Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hasyim (Gubernur Madinah).
Hadits-hadits tersebut dikumpulkan dari Amran bin Abdurrahman al Ansari___seorang ahli fiqih murid Aisyah r.a__dan dari Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar ash Shidiq atas instruksi yang diperintahkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hasyim. Instruksi yang sama juga ditujukan kepada Muhammad bin Syihab Az Zuhri___seorang imam dan ulama besar di Hijaz dan Syam.
Itulah sebabnya para ahli tarikh dan ulama menganggap bahwa Muhammad bin Syihab Az Zuhri adalah orang yang mula-mula mendewankan hadits secara resmi atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Adapun motif utama Khalifah Umar bin Abdul Aziz berinisiatif untuk membukukan hadits adalah :

1.    Beliau khawatir hadits akan hilang dan lenyap dari peredaran masyarakat.
2.  Kemauan keras beliau untuk membersihkan dan memelihara hadits dari hadits-hadits Maudhu’ yang dibuat oleh orang-orang untuk mempertahankan ideologi golongannya.
3. Beliau mengkhawatirkan akan hilangnya hadits-hadits dengan meninggalnya para ulama di medan perang.

B.    Para Pentadwin Hadits Dan ciri-ciri Hadits Pada Abad II

Diantara para ulama setelah Az Zuhri, ada ulama ahli hadits yang berhasil menyusun kitab tadwin yaitu Malik bin Anas (93-179 H) di Madinah dengan kitabnya “Al Muwatta”. Selain itu Imam Syafi’i dengan karyanya “Musnadus Syafi’i” dan “Mukhtaliful Hadits”.
Para pentadwin lainnya yaitu Muhammad bin Ishaq (w. 151 H) di Madinah, Ibnu Juraij (80-150 H) di Makkah, Ibn Abi Dzi’bin (80-158 H) di Madinah, Ar Rabi’ bin Syahih (w.160 H) di Kuffah, Antara lain Auza’i (88-157 H) di Syam, Ma’mar bin Rasyid (93-153 H) di Yaman, Ibn al Mubarak (118-181 H) di Khurasan, Abdullah bin Wahab (125-197 H) di Mesir dan Jarir ibn Abdul Hamid (110-188 H).
Adapun ciri-ciri kodifikasi hadits abad ke II ini masih bercampur aduk antara hadits-hadits Rasulullah SAW dengan fatwa-fatwa sahabat dan Tabi’in, sehingga kitab-kitab hadits karya mereka belum diseleksi antara hadits-hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu’ serta antara hadits shahih, hasan dan dhoif.

C.    Periode Penyaringan Dan Pentashihan Hadits (Abad III )

Pada permulaan abad ke III, para ahli hadits berusaha membukukan hadits Rasulullah SAW semata-mata dan menyisihkannya dari fatwa Sahabat dan Tabi’in. Meski sudah disisihkan dari fatwa Sahabat dan Tabi’in, namun belum dipisahkan antara yang shahih, hasan dan dhaif juga hadits maudhu’.
Para ulama hadits pada masa ini menyusun kitabnya secara musnad, diantaranya adalah Abdul Asad Ibn Musa al Amawy, Nu’aim ibn Hammad al Khuza’iy, Ahmad ibn Hambal, Ishaq ibn Rohawaih dan Utsman ibn Abi Syaibah.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kitab-kitab hadits yang telah disusun pada abad ke III ini___yakni belum memisahkan antara yang shahih, hasan, dhaif____maka para ulama hadits bergerak untuk menyelamatkannya.
Mereka membuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat untuk menentukan apakah hadits itu shahih atau dhaif. Juga meneliti para perawi hadits mengenai kejujurannya, hafalannya dan lain-lain. Maka lahirlah tunas ilmu dirayah.
Ulama yang memulai usaha memisahkan hadits-hadits yang shahih adalah Ishaq ibn Rohawaih yang dilanjutkan dengan sempurna oleh Imam Bukhari dengan kitabnya yang terkenal “Al Jami’us Shahih”.
Kemudian usaha itu diikuti oleh Abu Husein Muslim bin Al Hajjaj Al Kusairi An Naisaburi (imam Muslim) dengan kitabnya “Al Jami’us Shahih”. Menyusul Abu Dawud Sulaiman bin al As’anak didik bin Ishaq al Sajistani (202-275 H), Abu Ishaq bin Isa bin Surah atau Turmudzi (200-273 H). Hasil karya keempat ulama ini dikenal dengan “kitab Sunan”.
Adapun kitab-kitab hadits bisa diurutkan berdasarkan urutan kualitasnya yaitu :

1.     Al Jami’ as Shahih susunan imam Bukhari.
2.   Al Jami’ as Shahih susunan imam Muslim.
3.  As Sunan Abu Dawud.
4. As Sunan At Turmudzi.
5.  As Sunan An Nasai.
6.  As Sunan Ibn Majah.
Dan keenam kitab hadits tersebut di atas dinamakan “Kutubus Sitah

Pada masa ini pula para ulama hadits telah melahirkan ilmu mustalakhul hadits yaitu ilmu yang menetapkan kaidah-kaidah ilmiah untuk menshahihkan khabar dan kaidah-kaidah ilmiah untuk mengkritik, mengoreksi khabar dan riwayat.

D.    Periode Menghafal Dan Meng-isnadkan Hadits Pada ‘Ulama Mutaqaddimin (Abad IV)

Ulama-ulama hadits pada abad II dan III digelari dengan ulama “Mutaqaddimin” yaitu ulama yang mengumpulkan hadits dengan semata-mata berpegang kepada usaha sendiri dan pemeriksaan sendiri dengan menemui para penghafalnya yang tersebar di pelosok negara Arab, Persia dan lain-lain. Sedangkan ulama hadits pada abad IV dan seterusnya digelari dengan ulama “Mutaakhirin” yaitu ulama yang dalam usahanya menyusun kitab-kitab hadits hanya dengan menukil dari kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama “Mutaqaddimin”.
Para ulama abad IV ini selain mentahdzibkan dan memeriksa sanad kitab-kitab yang sudah ada, mereka berlomba-lomba untuk menghafal sebanyak-banyaknya hadits yang telah terdenah itu.
Sejak periode inilah timbul berbagai gelar keahlian dalam ilmu hadits diantaranya :
1. Amirul Mukminin Fil Hadits yaitu  orang-orang sepeninggal Nabi SAW yang meriwayatkan hadits yang seolah-olah berfungsi sebagai khalifah dalam menyampaikan sunnah. Tokoh-tokoh yang memperoleh gelar ini antara lain : Syu’bah ibn Al Hajjaj, Sufyan as Tsauri, Ishaq bin Rohawaih, Ahmad ibn Hambal, Al Bukhari, Ad Daruquthni dan Muslim.
2.  Al Hakim yaitu gelar keahlian bagi imam-imam hadits yang menguasai seluruh hadits yang diriwayatkan baik matan maupun sanadnya dan mengetahui ta’dil dan tarjih para perawi dan mereka juga menghafal. Yang mendapat gelar ini antara lain : Ibn Dinnar, Al Laits bin Saad, Imam Malik dan Imam Syafi’i.
3.  Al Hujjaj yaitu gelar keahlian bagi imam yang sanggup menghafal 300.000 hadits baik matan, sanad maupun perihal perawi. Yang mendapat gelar ini antara lain : Hisyam bin Urwah, abu Huzail Muhammad bin Al Walid dan Muhammad Abdullah bin Amr.
4.  Al Hafidz yaitu gelar ahli hadits yang menshahihkan sanad dan matan hadits dan dapat menta’dilkan dan menjarhkan rawinya. Menurut sebagian pendapat, mereka harus menghafal 100.000 hadits. Yang mendapat gelar ini antara lain : al Iraqy, Syamsuddin ad Dimyati Ibn Hajar al Asqalaniy dan Ibn Daqiqil’id.
5.  Al Muhadits yaitu orang yang dapat mengetahui sanad-sanad dan nazil (rendahnya) suatu hadits, memahami kutubus sittah, musnad Ahmad, Sunan Al Baihaqy, Mu’jam Thabarany dan menghafal sekurang-kurangnya 1000 hadits. Yang mendapat gelar ini antara lain : Atha’ bin Abi Ribah dan imam Az Zabidy.
6.  Al Musnid yaitu gelar bagi orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya, baik menguasai ilmunya maupun tidak. Al Musnid juga disebut ar Rawy.

Adapun kitab yang masyhur hasil karya ulama abad ke IV ini antara lain :

1.    Mu’jamul Kabir, Mu’jamul Ausath dan Mu’jamush Shaghir karya imam Sulaiman bin Ahmad at Thabarany.
2. Sunan ad Daruquthny, karya imam Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad ad Daruquthny.
3.    Shahih Abi ‘Awanah.
4.   Shahih Ibnu Khuzaimah.
5.   Ataqsim wa Anwa’ susunan Ibnu HHHHibban.
6.   Al Mustadrak susunan al Hakim.

E.     Periode Mengklasifikasi Dan Mensistematiskan Susunan Kitab-kitab Hadits (Abad V dan seterusnya )

Usaha ulama abad ke V ini ditujukan untuk mengklasifikasikan hadits dengan menghimpun hadits-hadits yang sejenis kandungannya atau sejenis sifat-sifat isinya dalam suatu kitab hadits. Mereka juga mensyarah dan mengikhtisarkan kitab-kitab hadits yang telah disusun oleh ulama yang terdahulu. Maka lahirlah kitab-kitab hukum seperti  :
1.  Sunan Al Kubra karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Ali al Baihaqy (384-458 H).
2.  Muntaqal Akhbar karya Majduddin al Harrany (w. 562 H).
3.  Nailul Authar sebagai syarah Muntaqal Akhbar karya Muhammad bin Ali as Syaukai (1172-1250 H).

Sedangkan kitab-kitab hadits Targhib Wa Tarhib seperti :

1.  At Targhib Wa al Tarhib karya imam Zakiyuddin Abdu Al Munziri (w. 656 H).
2.  Dalil Al Falihin karya Muhammad Ibn Allan as Shidiy (w. 1057 H) sebagai syarah kitab Riyad as Shalikhin karya imam Muhyiddin Abi Zakariya an Nawawi. (w. 676 H).

Selanjutnya ulama hadits bangkit untuk berusaha menciptakan kamus hadits untuk mencari pentakhrij suatu hadits atau mengetahui dari kitab hadits apa suatu hadits didapatkan. Misalnya :

1. Al Jami’ As Shaghir Fi Ahadits Al Basyir An Nazir karya imam Jalaluddin as Syuyuthi (849-911 H).
2.  Dakhair Al Mawarits Fi Al Dalalati ‘Ala Mawadli’ Al Ahadits, karya Al Allamah As Sayyid Abdu Al Ghani Al Maqditsi An Nabulsi.
3.  Al Mu’jam Al Mufahras Li Alfadzi Ahaditsi An Nabawi, karya Dr. A.J. Wensinck dan Dr. J.F. Mensing. Keduanya adalah dosen bahasa Arab Universitas Leiden.
4.  Miftahunuzi As Sunnah karya Dr. A.J. Wensinck. Kitab tersebut disalin dalam bahasa Arab oleh ustadz Muhammad Fuad Abdu Al Baqi dan dicetak di Mesir tahun 1934 M.


SUMBER = http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/resume-materi-ulumul-hadits-kodifikasi.html



MATERI TERKAIT:

Judul: RESUME MATERI ULUMUL HADITS: KODIFIKASI HADITS (TADWIN)
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah RESUME MATERI ULUMUL HADITS: KODIFIKASI HADITS (TADWIN) . Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/resume-materi-ulumul-hadits-kodifikasi.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger