SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : Konsep Rekulturisasi Madrasah Menjadi Komunitas Pembelajar Sebagai Pondasi Lahirnya Masyarakat Belajar (Learning Society) Dan Masyarakat Madani (Civil Society) Di Indonesia

Oleh Basuki
  
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Masyarakat dan bangsa Indonesia dewasa ini sedang menapak untuk mewujudkan  masyarakat Indonesia baru yang mencakup dua aspek. Pertama, mengatasi krisis nasional yang berkepanjangan dengan membangun kembali masyarakat dan bangsa yang demokratis. Kedua, mempersiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam kehidupan masyarakat baru.[1] Krisis yang melanda  kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia telah melahirkan suatu gerakan reformasi yang  menuntut masyarakat baru Indonesia. Keterkaitan antara pendidikan, kebudayaan, serta seluruh  kehidupan masyarakat, menuntut paradigma baru pendidikan kita di Indonesia.[2]
Paradigma baru pendidikan tersebut di antaranya adalah menuntut reposisi madrasah sebagai salah satu wadah pengembangan generasi muda yang sesuai dengan perubahan visi dan misi kehidupan bangsa dalam era reformasi dengan mengaktualisasikan potensi-potensi positif yang dimiliki madrasah dalam mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) sebagai  pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) Indonesia
Proses mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) merupakan pekerjaan pendidikan yang paling khas. Madrasah sebagai lembaga pendidikan formal, mempunyai potensi untuk melahirkan manusia-manusia pembelajar. Dalam mentrasformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner), institusi  pendidikan madrasah harus menjadi pelopor komunitas pembelajar.[3] Dengan demikian tugas pokok dan fungsi madrasah adalah menjadi komunitas pembelajar yang mampu membangun manusia pembelajar sebagai pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indoensia.
Berangkat dari uraian di atas penelitian tentang pola penciptaan kultur madrasah menjadi komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia adalah suatu keniscayaan.
Dipilihnya madrasah sebagai lokasi penelitian dalam penelitian ini didasarkan pada tiga hal. Pertama. Madrasah: Institusi pendidikan yang berbasis masyarakat (community–based education). Pendidikan yang berbasiskan masyarakat adalah sesuai dengan misi pembangunan Indonesia dewasa ini. Dengan diikutsertakannya masyarakat ke dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikannya, maka pendidikan tersebut betul-betul berakar di dalam masyarakat.
Kedua. Madrasah: Institusi pendidikan yang berakar pada budaya. Sebagaimana tersirat dalam UU No. 20 tahun 2003, pasal 1 dikemukakan bahwa "pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman".[4]  Dalam PP. No. 29 Tahun 1990, pasal 10 mengenai wawasan Wiyatamandala dengan tegas dinyatakan bahwa "pendidikan haruslah berdasar kepada kebudayaan". Namun demikian fenomena yang terjadi pendidikan di Tanah Air kita telah terlempar dari nilai-nilai luhur kebudayaan kita. Pengakuan terhadap nilai-nilai moral yang tinggi yang ada di dalam kebudayaan kita, tidak mendapat tempat di dalam proses pendidikan di sekolah-sekolah. Perkelahian pelajar, penggunaan narkoba, hampir tidak dapat kita temukan pada lembaga-lembaga pendidikan madrasah. Hal ini menunjukkan betapa nilai-nilai luhur masih tetap hidup di dalam lingkungan pendidikan madrasah. Berangkat dari fenomena ini, maka aktualisasi nilai-nilai positif yang ada pada madrasah merupakan suatu keniscayaan.
Ketiga. Otonomi dan desentralisasi melekat pada madrasah. Apabila kita simak UU No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah dikatakan bahwa "otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dengan peraturan perundang-undangan". Rumusan tersebut sesuai dan memang hidup dalam penyelenggaraan madrasah. Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat berdasarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masalah desentralisasi atau otonomi daerah merupakan nilai-nilai yang melekat di dalam kehidupan madrasah. Oleh sebab itu dalam rangka menunjang  pelaksanaan otonomi daerah, diperlukan reaktualisasi nilai-nilai yang hidup dan yang menghidupi madrasah. Pola pembinaan dan pengembangan madrasah dapat dijadikan model dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dalam pelaksanaan otonomi daerah sudah tentu prinsip-prinsip manajemen modern perlu dikembangkan untuk menghimpun segala aspirasi masyarakat yang hidup di daerah otonom yang dimaksud untuk memberdayakan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Salah satu potensi besar di dalam melaksanakan otonomi pendidikan di daerah adalah pengalaman ynag dimiliki oleh pendidikan madrasah.  
B.    Fokus Penelitian
Setelah dilakukan penjelejahan awal [5] pada beberapa madrasah di kabupaten Ponorogo, maka situasi sosial (setting situation) yang sengaja ditetapkan sebagai lokasi penelitian, [6] adalah Madrasah Tsanawiyah Aliyah Al-Islam Joresan Ponorogo. Pada madrasah tersebut, telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan peningkatan mutu bidang kurikulum, tenaga kependidikan, kesiswaan, kehumasan, dan sarana-prasarana pendidikan, yang merupakan suatu sistem yang membentuk komunitas pembelajar yang mempunyai tugas mentrasformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society)  Indonesia.
Dengan demikian fokus penelitian pada ini diarahkan kepada pola penciptaan kultur madrasah menjadi komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia, melalui kegiatan-kegiatan peningkatan mutu bidang kurikulum, kesiswaan,  dan kehumasan.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah:
1. Bagaimanakah pola penciptaan kultur MTs.A Al-Islam Joresan dalam membangun komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan peningkatan mutu di bidang kurikulum ?
2. Bagaimanakah pola penciptaan kultur MTs.A Al-Islam Joresan dalam membangun komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan peningkatan mutu di bidang kesiswaan?
3. Bagaimanakah pola penciptaan kultur MTs.A Al-Islam Joresan dalam membangun komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan peningkatan mutu di bidang kehumasan?
D.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1.     Menjelaskan makna kegiatan-kegiatan peningkatan mutu MTs.A Al-Islam Joresan bidang kurikulum dalam merekulturisasi madrasah menjadi komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia.
2.     Menjelaskan makna kegiatan-kegiatan peningkatan mutu MTs.A Al-Islam Joresan bidang kesiswaan dalam merekulturisasi madrasah menjadi komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia
3.     Menjelaskan makna kegiatan-kegiatan peningkatan mutu MTs.A Al-Islam Joresan bidang kehumasan dalam merekulturisasi madrasah menjadi komunitas pembelajar yang mampu mentransformasikan potensi atau sumber daya manusia menjadi manusia pembelajar (on becoming a learner) yang merupakan pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia
E.     Manfaat Penelitian
1.     Manfaat Teoritis
            Secara teoritis dari penelitian ini akan ditemukan konsep rekulturisasi madrasah menjadi komunitas pembelajar sebagai pondasi lahirnya masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat madani (civil society) di Indonesia.
2.     Manfaat Praktis
a.  Memberikan kontribusi secara praktis bagi stakeholder MTs.A Al-Islam Joresan dalam menjadikan Madrasah menjadi madrasah berkualitas
b.  Mendorong perubahan persepsi dan sikap masyarakat terhadap pendidikan madrasah, terutama menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) atas madrasah, tanggungjawab (responsibility), kemitraan, toleransi dan kesediaan menerima perbedaan struktur sosial dan kultural


F.     Landasan Teoritik
Pola pengembangan  madrasah harus berangkat dari akar nilai-nilai filosofis, normatif, religius, serta sejarah pendidikan di Indonesia. Dengan datangnya globalisasi, cita ideal “warga negara” yang baik perlu diperluas menjadi “warga dunia” yang baik, sehingga nilai-nilai moral Pancasila perlu berintegrasi dengan nilai-nilai moral universal. Teori-teori dalam filsafat pendidikan "perennialisme" dan "esensialisme" yang  berpusat pada pelestarian dan pengembangan budaya dan teori-teori dalam filsafat pendidikan "progressivisme", "eksistensialisme" yang berpusat pada pengembangan peserta didik, perlu disempurnakan dengan filsafat pendidikan yang mengintegrasikan pengembangan budaya dan subyek, sekaligus melihat "subyek" sebagai bagian dari “warga dunia”. Pada saat yang sama, perubahan sosial perlu diantisipasi agar masyarakat tidak didikte oleh perubahan, tetapi mampu bertindak afirmatif. Dengan demikian, misi pendidikan yang melandasi filsafat pendidikan di madrasah adalah “rekonstruksi-sosial" yang menaruh perhatian khusus terhadap pendidikan dalam kaitannya dengan masyarakat, yang mengambil posisi bahwa pendidikan adalah institusi sosial dan sekolah pun merupakan bagian dari masyarakat.[7]
Beberapa pandangan teori pendidikan rekonstruksionalisme adalah: (1) sekolah haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat, dan pendidikan sebagai alat untuk membangun masyarakat masa depan;[8] (2) pendidikan lebih sebagai instrumen masyarakat daripada kepentingan individu; sekolah berperan untuk meratakan kesejahteraan; sekolah hendaknya memberikan tempat semestinya bagi seluruh lapisan masyarakat;[9] (3) sekolah mempunyai peranan sebagai perantara utama bagi perubahan sosial, politik, ekonomi dalam masyarakat.[10] Untuk lebih  jelasnya, Pandangan Rekonstruksionalisme  tentang teori pendidikan bisa dapat kita lihat pada tabel berikut.[11]
Tabel 1. Konsep Teori Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme-sosial
No
KOMPONEN
Keterangan

1

Hakikat Pendidikan
Menghendaki agar peserta didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk  secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmuy pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas .

2

Tujuan Pendidikan
Disamping membangun tatanan masyarakat baru juga membangkitkan kesadaran  para peserta didik tentang masalah social, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global dan mengajarkan kepada mereka ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mengatasi mesalah tersebut.

3
Kurikulum
Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah social, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia, yang termasuk didalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri; dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah untuk aksi kolektif.
4
Metode
Analisis kritis terhadap kerusakan-kerusakan masyarakat dan kebutuhan-kebutuhan programatik untuk perbaikan. Dengan demikian menggunakan metode pemecahan masalah, analisis kebutuhan dan penyusunan program aksi perbaikan masyarakat (Scientific inquiry sebagai metode kerja problem solving)
5
Pelajar
Siswa hendaknya dipandang sebagai bunga yang sedang mekar. Hal ini mengandung arti bahwa siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.
6
Peranan Guru
Guru harus membuat para peserta didik manyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya dan menjamin bahwa mereka memiliki keterampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, maka tugas guru adalah sebagai direktur proyek. Apabila mereka tidak memilikinya, adalah tugas guru untuk mengajarkannya
7
FUngsi
sekolah
(a)Sekolah berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan social, ekonomi dan politik dalam masyarakat, (b) Mengembangkan “insinyur-insinyur” social, warga-warga negara yang mempunyai tujuan mengubah secar radikal wajah masyarakat masa kini, (c) Sekolah haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan social di masyarakat, dan pendidikan sebagai alat untuk membangun masyarakat masa depan, (d) Mendorong berkembangnya sekolah-sekolah masyarakat, atau “community schools”. Dengan lebih menekankan pada masyarakat merupakan sekolah yang berpusat pada masyarakat, atau “social-centered school”  yang menggunakan sekolah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Oleh karena itu sekolah hendaknya berhubungan dengan masalah-masalah nyata dan praktis yang ditemukan dalam masyarakat kita.

Fungsi pendidikan dalam masyarakat Indonesia baru, bukan pendidikan yang memupuk individualisme yang egoistis, tetapi individu yang berkembang potensinya sehingga dapat disumbangkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama. Itulah individu yang hidup di dalam masyarakat madani Indonesia (civil society), yang mempunyai identitas sebagai orang Indonesia dan sekaligus sebagai manusia yang hidup damai dengan sesama umat manusia di planet bumi ini. Dengan sendirinya, pendidikan untuk perdamaian dunia (world peace) merupakan salah satu agenda dalam pendidikan membangun masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani Indonesia.
Masyarakat belajar yang professional berarti semua warga sekolah/madrasah  selalu berusaha untuk: (1) mengejar dan mengembangkan  kepandaian atau keahlian secara terus-menerus sesuai dengan bidang/tugasnya; (2) komitmen terhadap kualitas; (3) memiliki dan mengembangkan rasa tanggungjwab moral, sosial, intelektual dan spiritual; serta (4) memiliki dan mengembangkan rasa kesejawatan dan/atau teamwork yang cerdas, dinamis dan kompak.[12]
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang masyarakat belajar yang profesional kiranya perlu difahami terlebih dahulu beberapa karakteristik masyarakat belajar,[13] berikut :

No.
Karakteristik
Keterangan
1
 Shared vision, mission and values
Yakni masing-masing anggota harus memiliki kesamaan pengertian dan komitmen terhadap visi, misi dan nilai-nilai yang telah disepakati untuk diperjuangkan secara bersama-sama.
2
 Collective inquiry
Yakni perlunya pengkajian  secara kolektif, dalam arti semua warga madrasah merupakan regu-regu atau kelompok belajar  yang kompak dan dinamis dalam mencapai visi, misi dan nilai-nilai yang disepakati, yang dalam prosesnya  dapat melalui empat tahapan, yaitu public reflection, shared  meaning, joint planning dan coordinated action.
3
 Collaborative teams
Yakni adanya kerjasama tim secara kolaboratif belajar, bukan hanya siswa yang belajar, tetapi kepala madrasah, para staf, guru dan tenaga-tenaga lainnya juga belajar.
4
 Action orientations and experimentation
Berorientasi pada tindakan nyata dan eksperimentasi, bukan sekedar bicara.
5
 Continous improvement
Yakni adanya upaya perbaikan secara terus-menerus dan tidak boleh cepat puas terhadap hasil-hasil yang telah dicapainya
6
 Result orientation
Beroirentasi pada hasil. Ini terkait dengan visi, misi dan nilai-nilai yang terlah disepakati.

Dalam membangun masyarakat, ada tiga paradigma yang berbeda,  antara paradigma konservatif, liberal dan  kritis.[14]  pertama,  paradigma konservatif. Bagi mereka ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu hokum keharusan alami, suatu hal yang mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Dalam bentuknya yang tidak klasik atau awal paradigma konservative dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan social, hanya tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua. Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif lama tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Namun dalam pekembangan selanjutnya, paradigma konservative cenderung lebih menyalahkan subyeknya. Bagi kaum konservatif mereka yang menderita, yakni orang-orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang kesekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena pada akhirnya kelak semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan. Kaum konservatif sangat melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan menghindarkan konflik dan kontradikasi.
Kedua, paradigma liberal. Golongan ini berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian  kaum liberal, selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan ekonomi dan politik  di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi ‘kosmetik’. Umumnya yang dilakukan adalah dengan membangun kelas dan fasilitas baru, me-moderen-kan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer yang lebih canggih dan laboratium, serta berbagai usaha yang menyehatkan rasio murid dan guru.  Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif.
Ketiga, paradigma kritis. Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka paradigma kritis, menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada.[15]  bagi mereka, kelas dan  diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. Paham ini bertentangan  dengan pandangan kaum liberal dimana pendidikan  dianggap terlepas dari persoalan kelas dan gender yang ada dalam masyarakat. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap ‘the dominant idelogy’ kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. 
Diantara tiga paradigma tersebut yang masing-masing memungkinkan dapat membawa masyarakat belajar (learning society), sesuai dengan konteks masyarakat berada. Sedangkan paradigma yang mendekati terciptanya learning society  adalah paradigma liberal dan kritis.
Peta ideologi pendidikan giroux tersebut, sejalan dengan analisis freire tentang kesadaran ideologis masyarakat.[16] freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga, yaitu kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness), dan kesadaran kritis  (critical consciousness).
Kesadaran magis (magical consciousness) yaitu  tingkat kesadaran yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dan faktor lainnya, misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan. Proses pendidikan yang menggunakan logika ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistem dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Murid secara dokmatik menerima ‘keberanian’ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideology dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.
Kesadaran naif (naival consciousness). Keadaan yang dikatagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini masalah etika, kreatifitas ‘need for achevement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena salah masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki jiwa kewiraswastaan, atau tidak memiliki budaya membangun dan seterusnya.[17] oleh karena itu ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor given dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas pendidikan adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.
Kesadaran kritis  (critical consciousness). Kesadaran ini, lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktur menghindari blaming the victims dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ketidakadilan dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentrasformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan dan kesempatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik.
Tiga kesadaran tersebut yang mendekati terciptanya masyarakat belajar (learning society) adalah kesadaran kritis dan keasadaran naïf, sesuai dengan kontek pendidikan global sekarang.
Di samping itu ada aliran-aliran pedagogik dalam membangun masa kini dan masa depan masyarakat, yaitu: (1) aliran fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya durkheim dan persons; (2) aliran kulturalisme dengan tokohnya brameld dan ki hadjar dewantara; (3) aliran kritikal dengan tokoh-tokohnya marx, bowles, freire, gyroux, dan vygotzky; (4) aliran interpretatif dengan tokohnya bernstein;  (5) aliran pasca–modern dengan tokoh-tokohnya derrida, foucault, gramsci.[18] Aliran-aliran tersebut diatas mempunyai pandangannya sendiri mengenai masa kini dan masa depan masyarakat yang diinginkan sebagai berikut

No.

Jenis aliran
Pokok-pokok pemikirannya tentang masa kini dan masa depan masyarakat yang diinginkan
Fungsi pendidikan masa kini
Fungsi pendidikan masa depan
(1)
(2)
(3)
(4)
1
Aliran fungsio-nalisme
Wahana transmisi kebudayaan dan mempertahankan tatanan sosial yang ada.
Mempersiapkan masyarakat  dengan mengajarkan fungsi-fungsi dalam masyarakat masa depan.
2
Aliran kultura-lisme
Merekonstruksi masyarakat, karena masyarakat mempunyai masalah-masalah.
Menata masyarakat berdasarkan budaya lokal yang berkembang ke arah kebudayaan nasional dan kebudayaan global
3
Aliran kritikal
Mereproduksi tatanan ekonomi yang sedang berjalan  dan begitu juga memberdayakan kaum tertindas. [19]
Ditekankan kepada pembinaan pemerataan ekonomi melalui perjuangan kelas
4
Aliran interpre-tatif
Mengajarkan berbagai peran dalam masyarakat melalui program-program dalam kurikulum.
Menghilangkan berbagai bias budaya dan kelas-kelas sosial yang membedakan antara kelompok elit dan rakyat jelata
5
Aliran pasca modern
Membina pribadi-pribadi yang bebas merumuskan pendapat dan menyatakan pendapatnya sendiri dalam berbagai perspektif. Individu yang diinginkan adalah individu  kreatif dan berpikir  produktif.

Membina pribadi-pribadi yang bebas merumuskan pendapat dan menyatakan pendapatnya sendiri dalam berbagai perspektif. Individu yang diinginkan adalah individu kreatif dan berpikir  produktif, maka masyarakat masa depan perlu menghargai kebhinekaan dan keragaman pendapat.
Aliran-aliran pedagogik kritis di atas mempunyai suatu kesamaan ialah pemberdayaan individu. Inilah inti dari masyarakat demokratis. Sudah tentu aliran-aliran pedagogik kritis diatas mempunyai keterbatasan, yang berarti bahwa kebebasan atau otonomi individu bukanlah otonomi tanpa batas tetapi otonomi dalam keseimbangan dengan tatanan social yang terkait kepada pengakuan akan nilai-nilai inti (core values) yang diakui bersama.
Fungsi pendidikan di dalam masyarakat indonesia baru, bukan pendidikan yang memupuk individualisme yang egoistis, tetapi individu yang berkembang potensinya sehingga dapat disumbangkan sebesar-besarnya bagi kepentingan bersama. Itulah individu yang hidup di dalam masyarakat madani indonesia (civil society), yang mempunyai identitas sebagai orang indonesia dan sekaligus sebagai manusia yang hidup damai dengan sesama umat manusia di planet bumi ini. Dengan sendirinya pendidikan untuk perdamaian dunia (world peace) merupakan salah satu agenda di dalam pendidikan membangun masyarakat indonesia baru yaitu masyarakat madani indonesia.


G.    Metode Penelitian
1.     Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif,[20] dengan karakteristik-karakteristik (a) penelitian kualitatif menggunakan latar alami (natural setting) sebagai sumber data langsung dan peneliti sendiri merupakan instrumen kunci. Sedangkan instrumen lain  sebagai instrumen penunjang, (b) penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk kata-kata dan gambar-gambar. Laporan penelitian memuat kutipan-kutipan data sebagai ilustrasi dan dukungan fakta pada penyajian. Data ini mencakup transkip wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen dan rekaman lainnya. Dan dalam memahami fenomena, peneliti berusaha melakukan analisis sekaya mungkin  mendekati bentuk data yang telah direkam, (d) dalam penelitian kualitatif proses lebih dipentingkan daripada hasil. Sesuai dengan latar yang bersifat alami, penelitian kualitatif lebih mem-perhatikan aktifitas-aktifitas nyata sehari-hari, prosedur-prosedur dan interaksi yang terjadi, (e) analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif, (f) makna merupakan hal yang esensial dalam penelitian kualitatif.
Ada 6 (enam) enam macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu etnografi, studi kasus, teori grounded, penelitian interaktif, penelitian ekologikal dan penelitian masa depan. [21]  Dan  dalam hal ini, jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian kualitatif ini adalah studi kasus, yaitu suatu deskripsi intensif dan analisis fenomena tertentu atau satuan  sosial seperti individu, kelompok, institusi atau masyarakat.  Studi kasus dapat digunakan secara  tepat dalam banyak bidang. Disamping itu merupakan penyelidikan secara rinci satu setting, satu subyek tunggal, satu kumpulan dokumen atau satu kejadian tertentu.[22]
2.         Instrumen Penelitian
Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan  berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya.[23] Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti betindak sebagai instrumen kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.
3.         Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lainnya. [24]  Untuk itu teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi berperan serta (participan observation), wawancara mendalam (in depth interiview) dan dokumentasi (document review). [25] Teknik tersebut digunakan peneliti, karena fenomena akan dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila peneliti melakukan interaksi dengan subyek penelitian dimana fenomena tersebut berlangsung.
a.         Teknik Wawancara
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan, sehingga dengan wawancara mendalam ini data-data bisa terkumpulkan semaksimal mungkin.
Orang-orang yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah 19  informan, yaitu yang diambil secara purposive, yaitu
         1 (satu) Direktur MTs.A ”AL-Islam” Joresan,
         1 (satu) Kepala Madrasah Tsanawiyah ”Al-Islam” Joresan,
         1 (satu) Kepala Madrasah Aliyah ”Al-Islam” Joresan,
         2 (dua) Waka Kurikulum MTs.A ”Al-Islam” Joresan,
         2 (dua) Waka Kesiswaan MTs.A ”Al-Islam” Joresan,
         2 (dua) Waka Kehumasan MTs.A ”Al-Islam” Joresan, dan
         5 (lima) tokoh masyarakat MTs.A ”Al-Islam” Joresan, serta
         5 (lima) alumni MTs.A ”Al-Islam” Joresan.
b.         Teknik Observasi
Ada beberapa alasan mengapa teknik observasi atau pengamatan digunakan dalam penelitian ini. Pertama,  pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. Kedua, pengamatan memungkinkan peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Dengan teknik ini, peneliti mengamati aktifitas-aktifitas sehari-hari obyek penelitian, karakteristik fisik situasi sosial dan perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, jenis observasinya tidak tetap. Dalam hal ini peneliti mulai dari observasi  deskriptif (descriptive observations) secara luas, yaitu berusaha melukiskan  secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi disana. Kemudian, setelah perekaman dan analisis data pertama, peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus (focused observations). Dan akhirnya, setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berulang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif (selective observations). Sekalipun demikian, peneliti masih terus melakukan observasi deskriptif sampai akhir pengumpulan data.
Hasil observasi dalam penelitian ini dicatat dalam catatan lapangan, sebab catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam pengumpulan data di lapangan. Pada waktu di lapangan dia membuat “catatan”, setelah pulang  ke rumah atau tempat tinggal barulah menyusun “catatan lapangan”. [26]
Dapat dikatakan bahwa  dalam penelitian kualitatif, “Jantungnya adalah catatan lapangan”. Catatan lapangan pada penelitian ini bersifat deskriptif. Artinya bahwa catatan lapangan ini berisi gambaran tentang latar pengamatan, orang, tindakan dan pembicaraan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan fokus penelitian.  Dan bagian deskripitif tersebut berisi beberapa hal, diantaranya adalah gambaran diri fisik, rekonstruksi dialog, deskripsi latar fisik, catatan tantang peristewa khusus,  gambaran kegiatan dan perilaku pengamat.[27] Format rekaman hasil observasi (pengamatan) catatan lapangan dalam penelitian ini menggunakan format rekaman hasil observasi.
c.     Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. “Rekaman” sebagai setiap tulisan  atau pernyataan yang dipersiapkan  oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristewa. Sedangkan “dokumen” digunakan untuk mengacu atau bukan selain rekaman, yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti surat-surat, buku harian,  catatan khusus, foto-foto, dan sebagainya.  [28]
Teknik dokumentasi ini sengaja digunakan dalam penelitian ini sebab; pertama, sumber ini selalu tersedia dan murah terutama ditinjau dari konsumsi waktu; kedua, rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi dimasa lampau, maupun dapat dan dianalisis kembali tanpa mengalami perubahan; ketiga, rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara konstektual relevan dan mendasar dalam konteknya; keempat, sumber ini sering merupakan pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam format rekaman dokumentasi 
4.     Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.[29]
Teknik analisis data yang digunakan untuk dalam penelitian ini menggunakan konsep yang diberikan Miles & Huberman yang mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktifitas dalam analisis data, meliputi data reduction,[30] data display [31] dan conclusion.[32] Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut:

Pengumpulan Data


Penyajian
Data



Reduksi
Data






Kesimpulan-kesimpulan: Penarikan/verivikasi

Selanjutnya menurut Spradley teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.[33]
5.     Pengecekan Kredibilitas Data
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif dan pengecekan anggota.[34]  Dalam penelitian ini, uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan:
a.    Perpanjangan Keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Dalam hal ini keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian. Maka perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam penelitian ini akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data dikumpulkan. Maksud dan tujuan memperpanjang keikutsertaan dalam penelitian ini adalah : (a) dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenal-kan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri, maupun dari responden dan selain itu dapat membangun kepercayaan subyek, (b) dengan terjun ke lokasi dalam waktu yang cukup panjang, peneliti dapat mende-teksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data, pertama-tama dan yang terpenting adalah distorsi pribadi.
b.      Pengamatan yang Tekun
Ketekunan pengamatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari. Jadi kalau perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
c.     Triangulasi.
Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Ada  empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan  penggunaan:  sumber, metode, penyidik, dan teori.[35]
Dalam penelitian ini, dalam hal ini digunakan teknik triangulasi dengan  pemanfaatkan sumber dan penyidik. Teknik triangulasi dengan sumber , berarti  membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal itu dapat dicapai peneliti dengan jalan : (a) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (b) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (c) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (d) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang  yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan, (c) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Teknik Triangulasi dengan penyidik, artinya dengan jalan meman-faatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kem-bali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemencengan dalam pengumpulan data.
d.             Pengecekan Sejawat Melalui Diskusi
Teknik ini dilakukan peneliti dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Hal ini dilakukan dengan maksud : (a) untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, (b) diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti.
6.        Tahapan Penelitian
Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada 3 (tiga) tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah  (1) tahap pra-lapangan,  yang meliputi: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan yang menyangkut persoalan etika penelitian. Tahap ini dilakukan bulan Maret s.d April 2008;  (2) Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi : memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperanserta sambil mengumpulkan data. Tahap ini dilakukan bulan April s.d Mei 2008 (3) Tahap analisis data, yang meliputi: analisis  selama dan setelah pengumpulan data. Yaitu bulan Mei s.d Juli 2008  (4) Tahap penulisan hasil laporan penelitian. Yaitu bulan Agustus 2008.




[1] Prof. Dr. H.A.R. Tilaar. M.Sc. Ed, Paradigama Baru Pendidikan Nasional (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 164.
[2] Ada keprihatinan yang perlu ditanggapi dan direspon secara serius di negeri kita berkenaan dengan pendidikan. Tampaknya pendidikan belum dianggap sebagai salah satu faktor pokok penyebab terpuruknya bangsa ini, terbukti bahwa tudingan-tudingan sebagian besar pengamat, apalagi para politisi hanya diarahkan pada ekonomi dan politik. Pendidikan seolah-olah bukan bagian pokok penyebab nyaris ambruknya negeri ini. Realitas ini menunjukkan kapasitas dan wawasan bangsa ini, masih belum bisa berfikir jauh ke depan, artinya kapasitas dan wawasan kita masih (hanya) berkutat pada kondisi kekinian saja, sehingga solusi dan pemecahan problem juga melulu bersifat teknis pragmatis, tidak strategis jangka panjang. Untuk itu, orientasi tentang pendidikan yang selama ini hanya menjadi masalah individual lembaga pendidikan formal semisal sekolah atau madrasah semata, adalah tidak benar. Sebab pendidikan juga menjadi masalah masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian “madrasah” tidak hanya diartikan secara formal-institusional, melainkan juga berada dimana-mana, terutama dalam keluarga dan lingkungan  masyarakat sekitar. Sehingga semua aspek dalam kehidupan tersebut menjadi sarana dan media pembelajaran. Suasana seperti inilah yang memberikan iklim kondusif bagi lahirnya manusia pembelajar (on becoming a learner) sebagai pondasi lahirnya masyarakat belajar (leraning society) dan masyarakat madani (civil society) Indonesia. Lihat Indra Dr. Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar; Menggagas Paradigma Baru Pendidikan (Jakarta: Paramadina, 2001), 3-10.

[3]Yaitu komunitas yang mampu membangun manusia pembelajar (orang-orang yang menempatkan perbuatan belajar sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya).  Lihat dalam Prof. Dr. Sudarwan Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar  (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 18.
[4] Lihat dalam UU SISDIKNAS 2003 No. 20 Tahun 2003 (Jakarta: Redaksi Sinar Grafika), 2.
[5] Observasi awal dilakukan oleh Tim Peneliti pada tanggal 1-2 Desember 2007
[6] Dalam penelitian kualitatif teknik sampling yang digunakan untuk memilih lokasi penelitian adalah purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu pada saat peneliti melakukan observasi awal.
[7]Lihat Imam Barnabid, Dasar-dasar Kependidikan; Memahami Makna dan Perspektif Beberapa Teori Pendidikan (Jakarta: Ghalia Indonesia, Anggota IKAPI, 1996), 41.
[8]Imam Barnabid, Dasar-dasar Kependidikan; Memahami Makna dan Perspektif Beberapa Teori Pendidikan (Jakarta: Ghalia Indonesia, Anggota IKAPI, 1996),  41.
[9]Richard Pratte, Contemporary Theories in Education (Richmont: Intext Education Publishers. 1971), 207-208.
[10] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 43.
[11] Deskripsi tentang pandangan pendidikan masing-masing madzhab pemikiran tersebut,  penulis paparkan dalam bentuk tabel dari deskripsi dan analisis dari (1) Dr. Muhaimin, MA dalam tulisannya, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 42-44; (2) Redjo Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 142-168; (3) Dr. Jalaluddin & Drs. Abdullah, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), 69-97; (4) Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 19-32.

[12] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 197
[13] Lihat dalam catatan-catatan Hasil Studi  Dr.Muhaimin, MA pada “School Management Training” di Kanada, bulan Oktober-Desember 2000. atau lihat dalam : Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003),  198-200
[14] Mansur Faqih dalam pengantar Ideologi-ideologi Pendidikan Wlilliam F. O’neil, Educational Ideologies ; Contemporary Expressions of Educational Philosophies (America Serikat : Goodyear Publishing Company, 1981). Alih bahasa Omi Intan Naomi, Ideologi-ideologi Pendidikan, (Yokyakarta : Pustaka Pelajar, cet ke-2, 2002), xiii.
[15] Giroux, H.A. Ideology, Culture and The Process of schooling. (Philadelphia : Temple University and Falmer Press, 1981).
[16]   Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New York : Praeger, 1986).
[17] Pemikiran yang bisa dikatagorikan dalam analisis ini adalah para penganut modernisasi yang menjadi aliran yang dominan dalam ilmu-ilmu social, juga mempengaruhi pendidikan dan training.
[18] Lihat: Joan Wink, Critical pedagogy (1997).
[19] Lihat Paulo Freire, Pedagogy of Hope (1998) yang merupakan kajian kembali bukunya yang terkenal Pedagogy of the Opressed. Lihat juga Mujdi Sutrisno, Pendidikan Pemerdekaan (1995) 
[20] Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang-orang dan perilaku yang dapat dialami. Lihat Lexy Moleong,  Metodologi Penelitian Kualitatif  (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000), 3.
[21] Marriam, S.B., G  Simpson, E.L.,  A.Quide to research for Educators and trainer on adults. (Malabar, Florida: Robert E. Krieger Publishing Company. 1984)
[22] Bogdan dan Biklen,  Qualitative Research for Education, An introduction to theory and methods. (Boston: Allyn and Bacon, 1982).
[23]Pengamatan berperanserta adalah sebagai penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu cukup lama antara peneliti dengan subyek dalam lingkungan subyek, dan selama itu data dalam bentuk catatan lapangan dikumpulkan  secara sistematis dan catatan tersebut berlaku tanpa gangguan. Lihat dalam Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 117.
[24] Lofland, Analyzing Social Setting: A Guide to Qualitative Observation and Analysis, (Belmont, Cal: Wadsworth Publishing Company, 1984), 47.
[25] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan RD   (Bandung: Al-Fabeta, 2005), 309.  
[26] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 153-154.
[27] Ibid., 156.
[28] Ibid., 161.
[29] Analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts, field notes, and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others. Lihat dalam  Bogdan dan Biklen,  Qualitative Research for Education, An introduction to theory and methods, 157.
[30] Mereduksi data dalam konteks penelitian yang dimaksud adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, menfokuskan pada hal-hal yang penting , membuat katagori. Dengan demikian data yang telah direduksiakan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpuklan data selanjutnya. Lihat dalam Matthew B. Miles & AS. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohidi (Jakarta: UI Press, 1992), 16.  
[31] Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data atau menyajikan data ke dalam pola  yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, grafik, matrik, network dan chart. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut sudah menjadi pola yang baku yang selanjutnya akan didisplaykan pada laporan akhir penelitian. Ibid., 17
[32] Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah  penarikan kesimpulan dan verivikasi. Ibid., 19
[33] James P. Spradley, Participant Observation (New York Chicago San Francisco Dallas Montreal Toronto London Sydney, 1980), 85, 112, 130, 140.
[34] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 175
[35] Ibid., 178

Sumber  :

http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-proposal-penelitian-kualitatif.html


MATERI TERKAIT:

Judul: CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : Konsep Rekulturisasi Madrasah Menjadi Komunitas Pembelajar Sebagai Pondasi Lahirnya Masyarakat Belajar (Learning Society) Dan Masyarakat Madani (Civil Society) Di Indonesia
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF : Konsep Rekulturisasi Madrasah Menjadi Komunitas Pembelajar Sebagai Pondasi Lahirnya Masyarakat Belajar (Learning Society) Dan Masyarakat Madani (Civil Society) Di Indonesia. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-proposal-penelitian-kualitatif.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger