SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI SHALAT LIMA WAKTU PADA MATA PELAJARAN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI BAGI SISWA-SISWI KELAS VII E MTsN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2008-2009

A.   Latar Belakang Masalah


        Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Beragam program inovasi pendidikan ikut serta memeriahkan reformasi pendidikan.[1] Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend bagi para pelaku dunia pendidikan, khususnya para pendidik sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan.
        Sekolah adalah wahana proses belajar mengajar yang paling pokok, dan juga sebagai proses tingkah laku ditimbulkannya melalui latihan atau pengalaman. Dalam proses belajar ini seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan alat inderanya. Karena pentingnya pendidikan tersebut, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen serta pendidikan diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan.
         Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik, ini berarti tujuan belajar siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan saja. Sebagai konsekuensi pengertian semacam ini, dapat membuat suatu kecenderungan anak menjadi pasif karena hanya menerima informasi atau pengetahuan yang diberikan oleh gurunya. Jadi gurulah yang memegang kunci dalam proses belajar mengajar di kelas.[2]Agar hasil pendidikan sesuai dengan apa yang seharusnya dan apa yang diharapkan, maka dituntut guru untuk dapat mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang efektif dan kondusif. Yaitu dengan menggunakan berbagai metode yang bervariasi yang dapat membantu, memotivasi, membimbing, membelajarkan, memfasilitasi peserta didik sehingga melakukan kegiatan belajar mengajar dengan baik.[3] Karena kenyataannya di kelas banyak dijumpai para peserta didik yang tidak mau memperhatikan pelajaran disebabkan kurang bervariasinya gaya mengajar guru yang mengakibatkan proses pembelajaran itu sendiri terkesan monoton.   Sehingga siswa tidak termotivasi untuk mempelajari pelajaran tersebut, khususnya mata pelajaran Fiqih, yang kenyataannya pelajaran ini merupakan ilmu yang wajib dipelajari di dalam Islam sebagai penunjang kegiatan ibadah sehari-hari.
        Peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan di kelas.
         Banyak metode mengajar yang dapat ditetapkan dalam proses KBM salah satunya adalah dengan metode Demonstrasi. Dengan metode Demonstrasi diharapkan anak dapat menggali dan menemukan inti-inti materi melalui peragaan/ mempraktikkan materi sehingga anak merasa senang dan materi yang dipelajari melekat dalam benaknya.
     Oleh sebab itu penerapan metode Demonstrasi diharapkan mampu mengatasi keterbatasan waktu tersebut. Guru tidak lagi harus secara monoton menjelaskan materi pelajaran kepada siswa.
             Berlatar belakang masalah tersebut di atas, maka penulisan laporan ini kami beri judul UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI SHALAT LIMA WAKTU PADA MATA PELAJARAN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI BAGI SISWA-SISWI KELAS VII E MTsN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2008-2009.

B.   Identifikasi Masalah
       Dari permasalahan tersebut di atas, dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Apakah metode demonstrasi berpengaruh terhadap peningkatan penguasaan peserta didik pada mata pelajaran Fiqih?
2. Apakah penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar Fiqih?
3.Apakah penggunaan metode demonstrasi dapat memotivasi guru untuk mengembangkan metode lain pada kompetensi lain?

C.   Pembatasan dan Rumusan Masalah
           Masalah yang ada dalam PTK ini adalah  siswa tidak memperhatikan dan kesulitan siswa dalam penguasaan materi mata pelajaran Fiqih.Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran dengan metode Demonstrasi dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Fiqih di kelas VII E MTsN Ponorogo?
2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan metode Demonstrasi?
3. Bagaimanakah peningkatan penguasaan siswa terhadap pelajaran Fiqih dengan diterapkannya metode Demonstrasi di kelas VII E MTsN Ponorogo?
4. Kesulitan apakah yang dihadapi guru dalam menerapkan metode Demonstrasi di kelas VII E MTsN Ponorogo?

D.   Hipotesis Tindakan
         Hipoteis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka langkah selanjutnya adalah membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji. Dengan mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis.[4]
            Hipotesis tindakan dalam PTK ini adalah:
1. Penerapan metode demontrasi adalah dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi tertentu yang sedang dipelajari. Yaitu disertai dengan penjelasan lisan.
2. Dengan metode demontrasi ini siswa dirangsang  untuk aktif mengawasi, menyesuaikan antara teori dan kenyataan,  dan mencoba melakukannya sendiri.
3. Siswa lebih mudah memahami materi yang dipelajari tidak hanya dalam teori saja tetapi juga pelaksanaannya.
4. Guru kurang memiliki keterampilan secara khusus, fasilitas kurang memadai serta minimnya waktu yang ada. [5]

E.   Tujuan Penelitian
       Penelitaian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kecakapan sosial siswa dalam mengikuti pembelajaran Fiqih di kelas VII E MTsN Ponorogo pada bulan Nopember 2008.

F.   Manfaat Hasil Penelitian
1.  Teoritis
Penelitian ini diharapakan untuk mengetahui langkah-langkah strategi pembelajaran Fiqih melalui metode Demonstrasi.
2.  Praktis
a. Sebagai bahan pertimbangan bagi para pendidik dalam mengajar, membimbing, dan mendorong siswa untuk lebih aktif dalam menjalankan pembelajaran.
b. Sebagai sumbangan pikiran dan untuk menambah referensi perpustakaan berupa hasil penelitian bagi lembaga.
c.  Pengembangan penelitian lebih lanjut, yakni dapat dijadikan sebagai acuan pertimbangan dalam menambah cakrawala berpikir.

G.   Metodologi Penelitian Tindakan Kelas

1. Objek Tindakan Kelas
Adapun jenis tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:
a. Minat siswa untuk belajar aktif mengamati materi dan mencoba melakukannya.
b. Kesungguhan siswa dalam prosesnya.

2. Setting/ Lokasi/ Subjek Penelitian Tindakan Kelas
           Setting atau lokasi PTK ada di kelas VII E MTsN Ponorogo Jl. Ki Ageng Mirah No. 79 Telp. (0352) 461227 Japan Babadan Ponorogo dengan jumlah siswa 42 anak. Mata pelajaran Fiqih dengan pokok bahasan Sholat Lima Waktu, Semester I, Tahun Pelajaran 2008/ 2009.

3. Metode Pengumpulan Data
PTK di laksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu perencanaan (Planning), tindakan (Acting), observasi (Observing) dan refleksi (Reflecting). Logika 4 (empat) tahap tersebut adalah sebagai berikut :
4. Teknik Analisis Data
Sebelum melakukan pembelajaran berbasis PTK, mahasiswa peserta PPLK II harus melakukan observasi awal untuk :
1.   Menemukan masalah.
2.   Melakukan identifikasi masalah.
3.   Menentukan batasan masalah.
4.   Menganalisis masalah dengan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama terjadinya masalah.
5.   Merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah dengan merumuskan "hipotesis-hipotesis tindakan" sebagai pemecahan.
6.   Menentukan "pilihan hipotesis tindakan" sebagai masalah.
7.   Merumuskan judul perencanaan kegiatan pembelajaran Berbasisi PTK.
Setelah judul perencanaan kegiatan, pembelajaran berbasis PTK di rumuskan, langkah berikutnya adalah :
1.   Menyusun perencanaan (Planning).
          Pada tahap ini, kegiatan yang harus di lakukan mahasiswa peserta PPLK II adalah :
a.   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b.   Mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang di pergunakan di kelas.
c.   Mempersiapkan instrument untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
2.   Melaksanakan Tindakan (Acting).
          Pada tahap ini mahasiswa peserta PPLK II harus melaksanakan tindakan yang telah dirumuskan pada RPP dalam situasi yang aktual, yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
3.   Melaksanakan Pengamatan (Observing).
          Pada tahap ini, yang harus di lakukan mahasiswa peserta PPLK II adalah :
1.   Mengamati perilaku siswa/ siswi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
2.   Memantau kegiatan diskusi/ kerjasama antar siswa/ siswi dalam kelompok.
3.   Mengamati pemahaman masing-masing anak terhadap penguasaan materi pembelajaran.
4.   Melakukan Refleksi (Reflecting).
          Pada tahap ini, yang harus di lakukan mahasiswa peserta PPLK II adalah :
1.   Mencatat hasil observasi.
2.   Mengevaluasi hasil observasi.
3.   Menganalisis hasil pembelajaran.
4.   Mencatat kelemahan-kelemahan untuk dijadikan bahan memperbaiki siklus berikutnya.[6]


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.   Kajian Teori

1.    Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Dalam bahasa Inggris PTK diartikan dengan Classroom Action Research, disingkat CAR, yang mana mempunyai tiga pengertian. Pertama, Penelitian yaitu kegiatan mencermati suatu objek. Kedua, Tindakan yaitu suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang berbentuk rangkaian siklus kegiatan. Ketiga, Kelas yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Dengan ini, maka penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.[7] Atau dapat diartikan dengan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.
PTK di gambarkan sebagai suatu proses yang dinamis melalui aspek perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang merupakan langkah berurutan dalam satu siklus atau daur yang berhubungan dengan siklus berikutnya. Akar pelaksanaan PTK di gambarkan dalam bentuk spiral tindakan (adaptasi Hopkins, 1993) sebagai berikut :


PTK di mulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran setelah itu dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan  perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi.
Keempat langkah tersebut merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus, siklus kedua dengan langkah yang sama.
Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan PTK :
a.   PTK penting untuk guru dengan alasan sebagai berikut :
1.  PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya.
2.  PTK dapat meningkatkan kinerja guru.
3.  Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya.[8]
b.   Karakteristik PTK, yaitu:
1.  Masalah berawal dari guru.
2.  Tujuannya membiayai pembelajaran.
3.  Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.
4.  Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.
5.  Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.
c.   Jenis-jenis PTK, yaitu:
1.  PTK Diagnostik, ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan.
2.  PTK Partisipan, ialah apabila orang yang akan melakukan penelitian, harus terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai hasil penelitian yang berupa laporan.
3.  PTK Empiris, ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung.
4.  PTK Eksperimental, ialah apabila PTK diselenggarakan dengan upaya menerapkan berbagai strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar mengajar.[9]
d.   Tujuan PTK
Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.
e.   Manfaat PTK
Manfaat PTK bagi guru adalah :
1.  Membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran.
2.  Meningkatkan profesionalitas guru.
3.  Meningkatkan rasa percaya diri guru.
4.  Meningkatkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.
Dalam PTK tahap perencanaannya terdiri atas tiga hal :
a. Mengidentifikasikan dan menetapkan masalah.
b. Menganalisi dan merumuskan masalah.
c.  Merencanakan tindakan perbaikan.[10]
Sebenarnya ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam PTK di antaranya :
-        Model Kurt Lewin.
-        Model Kemmis dan Mc. Toggart.
-        Model John Elliot.
-        Model Dave Ebbutt.
Tetapi yang paling terkenal dan biasa digunakan adalah model Kemmis dan Mc Toggart.
2.   Metode Pembelajaran “Demonstrasi”
Metode Demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau pun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.[11]
Dalam arti lain demonstrasi merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu murid untuk mengetahui proses pelaksanaan sesuatu apa yang terkandung di dalamnya dan cara mana yang paling tepat dan sesuai melalui pengamatan induktif.[12]
Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara  mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung.
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen suatu cara dengan cara lain dan untuk mengetahui melihat kebenaran sesuatu.

Langkah-langkah :
1.    Guru menyampaikan setiap kompetensi yang ingin dicapai.
2.    Guru menyampaikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.
3.    Menyiapkan bahan atau alat yang disampaikan.
4.    Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
5.    Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisanya.
6. Tiap siswa mengungkapkan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan.
7.    Guru membuat kesimpulan.[13]


Metode Demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu:
a.   Kelebihan Metode Demonstrasi.
1. Dapat membuat pengajaran lebih jelas dan lebih konkret, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat).
2. Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
3. Proses pengajaran lebih menarik.
4. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.
5. Siswa dapat menghayati dengan sepenuh hati mengenai pelajaran yang diberikan.
6. Perhatian anak dapat terpusat pada hal-hal yang penting yang di demonstrasikan.
7. Mengurangi kesalahan-kesalahan dalam mengambil kesimpulan dari apa yang diterangkan guru secara lisan atau apa yang dipelajari dalam buku, karena murid memperoleh gambaran pengamatan langsung terhadap suatu proses.
8. Masalah-masalah yang mungkin timbul dari anak-anak dapat langsung terjawab.[14]
b.   Kekurangan Metode Demontrasi.
1.  Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu pelaksanaan Demonstrasi tidak akan efektif.
2.  Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3.  Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.[15]

B.  Kajian Hasil Penelitian Terdahulu. 

Rencana penelitian ini berangkat dari telaah pustaka dan dari  kajian penelitian yang terdahulu, adapun penelitian yang dilakukan sebelumnya antara lain :

Nama
Nim
Judul
Rumusan Masalah
Hasil Penelitian
Mahmud Suyuti
243
062
001
Upaya peningkatan motivasi siswa terhadap pembelaja
ran al-Qur'an hadits dengan metode demonstrasi kelas VIII D MTsN Ponorogo.
1. Apakah pembelajaran dengan metode Demonstrasi dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Fiqih di kelas VII E MTsN Ponorogo?
Dengan metode Demonstrasi ini tenyata para siswa sangat senang sehingga menumbuhkan semangat dalam dirinya untuk mencoba memperagakan keterampilan yang juga dapat memudahkan mereka dalam memahami materi.
2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan metode Demonstrasi?
Melalui pengamatan yang dilakukan, terlihat para siswa sangat antusias dengan strategi/ metode tersebut, beberapa yang sebelumnya kurang aktif karena motivasi dari diri siswa telah mengalami peningkatan.
3. Bagaimanakah peningkatan pemahaman siswa terhadap pelajaran al-Qur'an Hadits dengan diterapkannya metode Demonstrasi?
Siswa semakin paham terhadap materi al-Qur'an Hadits tidak hanya secara teori saja tetapi juga secara praktik, hal ini dapat dilihat dari siklus satu ke siklus berikutnya dalam upaya peningkatan motivasi siswa dalam belajar.


BAB III
HASIL PENELITIAN

A.   Gambaran Setting Penelitian

          Penelitian tindakan kelas ini mengambil setting di MTsN Ponorogo yang bertempat di Jalan Ki Ageng Mirah No. 79 Japan Babadan Ponorogo.
Dan kelas yang diteliti yaitu kelas VII E dengan jumlah siswa 42 siswa. Dan di dalamnya terdapat 42 kursi untuk siswa, 1 meja dan kursi untuk guru, 1 papan tulis, I papan absensi, 1 gambar Burung Garuda, gambar Presiden dan wakil Presiden, 1 jadwal piket sehari-hari, 1 tata tertib kelas, 3 gambar pahlawan, 1 kata mutiara, 1 jam dinding. 

B.  Penjelasan Per Siklus

      Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan alur/ tahapan perencanaan, tindakan,  observasi  dan refleksi, dihasilkan dalam siklus sebagai berikut. 
No
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
1
- Menyusun rencana program pengajaran.
- Menjelaskan KBM secara umum.

- Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar.
- Mencatat hasil observasi.
- Menyiapkan, KKM,  dan  soal/ resitasi.
- Memberikan hand out materi.
- Mengamati proses transfer of knowledge antar kelompok, dan sikap siswa pada saat menanggapi pendapat orang lain.
-Menganalisis proses pembelajaran.
- Menyiapkan blanko observasi, wawancara, angket.
- Menjelaskan indikator yang ingin dicapai.
- Memantau praktik atau peragaan.
- Mengevaluasi praktik atau peragaan.
- Menyiapkan blanko evaluasi.
- Tiap siswa mengerja kan soal ulangan harian.
- Mengamati pemahaman dan penguasaan masing-masing anggota kelompok.
- Memperbaiki kelemahan –kalemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya. 

C.   Proses Analisa Data

      Proses analisa data sebagai hasil penelitian meliputi peningkatan aktivitas dan pemunculan keterampilan kooperatif siswa, serta hasil prestasi belajarnya dalam menguasai materi Fiqih disajikan dalam 1 siklus :
1.   Siklus I
Dalam proses pembelajaran siklus pertama pengenalan materi dilakukan dengan diskusi kelas yang materinya dari buku paket. Hasilnya :
Siswa aktif           :  ada 20 siswa
Siswa kooperatif  :  ada 4 siswa
Siswa pasif          :  ada 10 siswa
Siswa tidak masuk        :  ada 7 siswa
Interprestasi :
Pengenalan materi perlu diperjelas lagi karena awal belum dikuasai, akibatnya proses pembelajaran belum maksimal

D.   Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan

          Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami materi dengan menggunakan model pembelajaran demonstrasi adalah memuaskan, Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan, baik aktivitas, kerja sama, maupun prestasi siswa.
Salah satu hasil observasi selain 3 hal di atas menjadi sasaran tindakan penelitian adalah dengan berkembangnya penguasaan materi sejalan dengan berkembangnya aktivitas dan ketrampilan siswa. A.  Kesimpulan

Siklus I  (pertama)
Menggunakan Strategi Demonstrasi
-      Aktivitas siswa pada siklus pertama mencapai 30 %.
-      Aktivitas siswa pada siklus kedua mencapai 70  %.
-      Hasil prestasi belajar pada siklus pertama mencapai 50 %.
-      Hasil prestasi belajar pada siklus kedua mencapai 90 %. 

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari PTK ini adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri cenderung meningkat (mengerjakan soal pertanyaan, berdiskusi, dan merespon pertanyaan).
2.     Ketrampilan kooperatif siswa selama proses pembelajaran dengan model Demonstrasi dapat muncul dan sebagian menunjukkan peningkatan.
3.     Prestasi belajar Fiqih pada materi pelajaran mengalami peningkatan yang signifikan setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model Demonstrasi.

B.  Saran
Dari kesimpulan di atas dapat disarankan hal-hal sebagai       berikut :
1. Pembelajaran Fiqih yang selama ini masih menggunakan cara-cara konvensional hendaknya diperkaya dengan menggunakan beberapa teknik diantaranya dengan teknik pembelajaran yang inovatif seperti model pembelajaran demonstrasi.
2.Dengan melihat hasil pembelajaran model demonstrasi ini, tentunya bisa dikembangkan dengan pendekatan model atau variasi (inovasi) pembelajaran lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Alipandie, Imansyah. Didaktik Metode Pendidikan Umum. Surabaya: Usaha Nasional. 1984.
A.M, SardimanInteraksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung: Raja Grafindo Persada,  1996.
Arikunto, SuharsimiProsedur Penelitian (Edis Revisi). Jakarta: PT. Rhineka Cipta,  2002.
Aqib, Zainal. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Rama Widya, 2007.
Jamarah, Saiful Bahri. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta1996.
Majid, AbdulPerencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya2007.
Mundilarto, RustamPenelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004.
Subroto, Suryo. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta1997.
SugiyonoMetode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta2006.
Widianingrum, RetnoStatistik Pendidikan. Ponorogo: STAIN Press, 2005.
Zuhairi, dkk. Metodologi Pendidikan Agama. Solo: Ramadhani1993.  
__________2008. Modul 2 Pembekalan Mahasiswa PPLK II. Ponorogo: STAIN Press.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-laporan-penelitian-tindakan_1.html


[1] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), 3.

[2] Sardiman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo, 1996), 47.
[3] Suryo Subroto, proses belajar mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1997 ), 3.
[4] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Edisi Revisi) (Jakarta: PT. Rhineka Cipta, 2002), 64.
[5] Saiful Bahri Jamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 102-103.    
[6] Pedoman Pelaksanaan PPLK II Berbasis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) (Ponorogo : Jurusan Tarbiyan STAIN Ponorogo, 2007) 11-12. 
[7] Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakn Kelas (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004), 1.
[8] Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas (Rama Widya, 2007), 128.
[9] Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakn Kelas, 1.
[10] Saiful Bahri Jamarah, Strategi belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 102.
[11] Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakn Kelas, 1.
[12] Zuhairi dkk, Metodologi Pendidikan Agama (Solo: Ramadhani, 1993), 82.
[13] __________Modul 2 pembekalan mahasiswa PPLK II (Ponorogo: STAIN Press, 2008).
[14]  Saiful Bahri Jamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1996, 1996), 102-103.
[15]  Ibid., 103.



MATERI TERKAIT:

Judul: CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI SHALAT LIMA WAKTU PADA MATA PELAJARAN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI BAGI SISWA-SISWI KELAS VII E MTsN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2008-2009
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN MATERI SHALAT LIMA WAKTU PADA MATA PELAJARAN FIQIH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI BAGI SISWA-SISWI KELAS VII E MTsN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2008-2009. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-laporan-penelitian-tindakan_1.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger