SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Bahasa Inggris Dengan Active Learning Menggunakan Metode Active Knowledge Sharing Bagi Siswa Kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2009/ 2010


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa: "Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab".[1]
Maksud dari tujuan pendidikan tersebut yaitu mengarah dan membina siswa agar menjadi manusia yang berintelektual tinggi serta tidak melupakan aspek spiritual sebagai bekal hidup menjalani kehidupan di dunia untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Dengan demikian pendidikan diharapkan tidak hanya menyentuh ranah kognitif (pengetahuan), tetapi juga masuk pada wilayah afektif (pembentukan perilaku), bahkan juga psikomotorik (ketrampilan atau skill). Dalam melaksanakan proses pendidikan, seorang pendidik atau guru dituntut harus bisa mencapai ketiga ranah tersebut secara komprehensif. Yaitu di samping pendidikan sebagai wahana pengembangan intelektual, juga sebagai wahana pembinaan spiritual dan ketrampilan.
Berdasarkan pengamatan penulis di Kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo, waktu penulis mengadakan pengajaran di kelas, anak-anak kurang antusias untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Indikasinya adalah pada saat proses belajar mengajar siswa banyak yang  ngobrol dengan temannya. Pada saat diskusi siswa jarang yang bertanya, menjawab, dan berpendapat. Ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mereka sedang mengalami penurunan sehingga tidak ada gairah dan semangat belajar. Untuk mengembalikan minat belajar anak pada pelajaran diperlukan motivasi belajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang menarik perhatian siswa.
Ada berbagai alasan yang menyebabkan turunnya motivasi belajar siswa, diantaranya siswa kurang memiliki kemauan/ keinginan untuk belajar, siswa kurang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat atau gagasan.[2]
Berpijak dari realitas di atas, guru harus peka dan mengambil tindakan yang nyata sebagai upaya untuk mengaktifkan pembelajaran. Guru harus merespon secara kongkrit dan objektif yang berusaha membangkitkan motivasi dan partisipasi siswa dalam bentuk kontributif maupun inisiatif. Bentuk motivasi secara kontributif meliputi keberanian menyampaikan refleksi kepada guru baik dalam bentuk meyampaikan pertanyaan, pendapat, usul, sanggahan atau jawaban, termasuk partisipasi mengikuti pelajaran dengan baik. Sedang bentuk inisiatif seperti selalu mengerjakan tugas terstruktur di kelas dan di rumah dan lain-lain .
Salah satu ketrampilan yang harus dimiliki siswa yaitu ketrampilan sosial (social skill). Ketrampilan sosial itu meliputi kecakapan komunikasi, manajemen marah, solusi konflik, dan situasi berteman.
 Dengan menerapkan pendidikan yang berpedoman pada ketrampilan sosial akan memudahkan anak bersosialisasi dengan masyarakat, khususnya pada teman sekolahnya. Sehingga bisa menghindarkan siswa dari sifat individualis, materialistis dan pragmatis.
Untuk mengatasi kedua masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran jitu dengan menggabungkan keduanya, yaitu pembelajaran dengan belajar aktif (Active Learning) menggunakan metode Active Knowledge Sharing. Salah satu tujuannya untuk mengembalikan motivasi belajar siswa dan meningkatkan ketrampilan sosialisasi (social skill), sehingga hobby ngobrol mereka dengan teman dapat tersalurkan namun pembelajaran dapat tetap berjalan. Dengan metode ini diharapkan siswa akan senantiasa aktif sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik serta mudah dipahami siswa.
Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka penulis merasa perlu mengadakan penelitian lebih lanjut dengan mengambil judul: “Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Bahasa Inggris Dengan Active Learning Menggunakan Metode Active Knowledge Sharing  Bagi Siswa Kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2009/2010”.

B.   Identifikasi Masalah
Pembelajaran konvensional saja, dewasa ini kurang relevan dan akan menimbulkan kejenuhan dalam belajar. Sehingga akan menurunkan motivasi belajar siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan sarana termudah untuk meneliti, menyempurnakan, meningkatkan, dan mengevaluasi pengelolaan pembelajaran.
Dengan menggunakan model pembelajaran Active Learning akan menjadikan guru sebagai fasilitator dan mengubah kegiatan pembelajaran yang menjenuhkan menjadi menyenangkan. Model pembelajaran ini juga memuat kecakapan sosial (Social Skill). Proses pembelajaran menjadi lebih efektif serta dapat membangkitkan minat siswa untuk belajar menemukan sendiri, bekerjasama dan mengkomunikasikan hasil belajarnya. Sehingga menjadikan siswa semakin aktif belajar dan kooperatif dengan sesama teman.

C.   Batasan Masalah
Untuk menghindari penyimpangan terhadap pembahasan objek penelitian sebagaimana tujuan awal penelitian ini, maka perlu diadakan pembatasan terhadap ruang lingkup penelitian.
Adapun pembatasan masalah penelitian ini adalah upaya peningkatan motivasi belajar menulis bahasa Inggris dengan Active Learning menggunakan metode ActiveKnowledge Sharing bagi siswa kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2009/2010.
Berangkat dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1.   Apakah pembelajaran dengan metode Active Knowledge Sharing dapat meningkatkan motivasi belajar Bahasa Inggris?
2.   Bagaimana tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan metode Active Knowledge Sharing?
3.   Sejauh mana ketrampilan sosial siswa dapat dimunculkan dalam pembelajaran dengan metode Active Knowledge Sharing?

D.   Hipotesis Tindakan Kelas
Berdasarkan rumusan masalah di atas, Hipotesis tindakan dalam PTK ini adalah:
1.   Motivasi belajar siswa akan meningkat dengan penggunaan metode Active Knowledge Sharing.
2.   Tingkat keaktifan siswa akan meningkat dengan penggunaan metode Active Knowledge Sharing.
3.   Ketrampilan sosial siswa akan muncul dengan penggunaan metode Active Knowledge Sharing.

E.   Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Berdasarkan dari hipotesis tersebut di atas, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Bahasa Inggris Dengan Active Learning Menggunakan Metode Active Knowledge Sharing.
 
F.    Manfaat Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Secara teoritis, sebagai wahana dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.    Secara praktis:
a.    Bagi siswa
-          Siswa lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran.
-          Membantu dalam menguasai materi pelajaran dengan baik.
-          Dengan metode yang  bervariasi tidak membuat, siswa bosan.
-          Membantu siswa dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajarnya.
a.    Bagi  Guru
-          Meningkatkan model pembelajaran  dalam PBM.
-          Mendapat informasi tentang  kemampuan siswa.
-       Bahan pertimbangan dalam mengajar, mendorong, dan membimbing siswa untuk mengupayakan dalam peningkatan mutu pendidikan.
a.    Bagi Sekolah
-   Sebagai sumbangan pikiran dan untuk menambah referensi  perpustakaan berupa hasil penelitian.
- Pengembangan penelitian lebih lanjut, yakni dapat dijadikan sebagai acuan pertimbangan dalam menembah cakrawala berfikir.

G.   Metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1.    Obyek  Tindakan Kelas
Penelitian ini dilakukan di SMK PGRI 2 Ponorogo Kelas X.M, yang merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:
a.    Motivasi belajar siswa terhadap materi pelajaran bahasa Inggris.
b.    Tingkat keaktifan siswa dalam komunikasi selama mengikuti pembelajaran bahasa Inggris.
c.    Kerjasama dan sikap kooperatif siswa dengan anggota kelompok diskusinya.
Waktu penelitian dilaksanakan selama 1 bulan mulai tanggal 19  Oktober – 21  November 2009, dengan prosedur sebagai berikut:
-          Persiapan
-          Pelaksanaan penelitian
-          Penyusunan laporan penelitian
1).  Mengumpulkan dan menilai hasil test
2).  Menganalisis hasil penelitian
3).  Menyusun laporan penelitian

1.    Setting/ Lokasi/ Subyek Penelitian Tindakan Kelas
Setting atau lokasi PTK ini adalah di kelas X.M  SMK PGRI 2 Ponorogo, Jl. Soekarno-Hatta, Kertosari, Babadan, Ponorogo, dengan jumlah 44 siswa dengan mata pelajaran Bahasa Inggris semester Gasal tahun pelajaran 2009/2010.
Berdasarkan masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep dipelajari dan diidentifikasi, kemudian guru menyusun sebuah pendekatan. Subyek penelitian adalah guru PPLK Tadris Inggris STAIN Ponorogo.

2.    Tehnik Pengumpulan Data
Dalam pembelajaran berbasis PTK, tugas guru tidak hanya mengajar saja melainkan juga harus meneliti. Dalam  pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa metode yang relevan dengan penelitian ini yakni:
a.    Tehnik Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dengan dua orang atau lebih, bertatap muka, mendengarkan langsung informasi informasi atau keterangan.[3]
Dalam hal ini wawancara dilakukan dengan menyampaikan pertanyaan–pertanyaan tentang peningkatan motivasi belajar siswa dengan metode Active Knowledge Sharing di kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo.
b.    Tehnik Observasi
Observasi adalah alat pengumpulan data  yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[4] Dalam hal ini mengamati tentang upaya peningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode Active Knowledge Sharing di kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo.
c.    Tehnik Dokumentasi
Tekhnik dokumentasi ini dilakukan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen  dan rekaman.[5]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang gambaran umum peningkatan motivasi siswa dengan menggunakan metode Active Knowledge Sharing di kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo.
PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian  berdaur yang terdiri dari  4 tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting). Logika  4 tahap tersebut adalah sebagai berikut:[6]

Tabel 1
Siklus PTK


3.    Tehnik Analisis Data
Sebelum melakukan pembelajaran berbasis PTK, seorang pendidik/ guru harus melakukan observasi awal untuk:
a.    Menemukan masalah.
b.    Melakukan identifikasi masalah.
c.    Menentukan batasan masalah.
d. Menganalisis masalah dengan menentukan factor-faktor yang diduga sebagai penyebab  utama terjadinya masalah.
e.  Merumuskan gagasan pemecahan masalah dengan merumuskan hipotesis-hipotesis tindakan pemecahan.
f.     Menentukan pilihan hipotesis tindakan pemecahan masalah.
g.    Merumuskan judul  perencanaan kegiatan pembelajaran  berbasis PTK.[7]
            Setelah judul perencanaan,  kegiatan pembelajaran berbasis PTK di rumuskan, langkah berikutnya adalah:
a.    Menyusun Perencanaan (Planning)
Yaitu meliputi:
1).  Penetapan materi pembelajarn TI
2).  Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3).  Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas
4).  Mempersiapkan instrument untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
b.    Melaksanakan Tindakan (Acting)
Yaitu meliputi seluruh proses belajar mengajar menggunakan metode Question  Students Have dan Active Knowledge Sharing atau melaksanakan tindakan yang telah dirumuskan pada RPP yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
c.    Melaksanakan Pengamatan (Observing)
Yaitu dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang meliputi aktifitas  siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, memantau kegiatan siswa dan mengamati pemahaman masing-masing anak terhadap penguasaan materi pembelajaran.
d.    Melakukan Refleksi (Reflecting)
Yaitu meliputi kegiatan mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, analisis hasil pembelajaran, dan mencatat kelemahan-kelemahan untuk di jadikan bahan perbaikan siklus berikutnya.[8]



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.   Kajian Teori
PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat di lakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini melekat pada diri guru penunaian misi profesional kependidikannya.[9]
PTK (Classroom Action Research), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya (sekolah) tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktisi pembelajaran. Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan ketrampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.
PTK di gambarkan sebagai suatu proses yang dinamis melalui aspek perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang merupakan langkah berurutan dalam satu siklus atau daur yang berhubungan dengan siklus berikutnya. Akar pelaksanaan PTK di gambarkan dalam bentuk spiral tindakan (adaptasi Hopkins, 1993).
Dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia menginstropeksi, merefleksi atau  mengevaluasi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai guru diharapkan mampu meningkatkan kualifikasi profesionalnya. Dilakukannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti yang senantiasa menggembangkan dan meningkatkan kemampuannya, sehingga, gejala-gejala yang timbul pada saat pembelajaran berlangsung dapat segera diatasi, dan menyiapkan langkah atau strategi, untuk menanggulangi gejala-gejala yang timbul pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Adapun model PTK dimaksudkan menggambarkan adanya empat tahap yakni sebagai berikut:
1.     Tahap I           :  Menyusun perencanaan (Planning), yang menjelaskan
tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut di laksanakan.
2.     Tahap II          :  Melaksanakan tindakan (Acting), yaitu implementasi atau
penerapan isi rancangan di dalam kelas.
3.     Tahap III         :  Melaksanakan Pengamatan (Observing), yaitu
pelaksanaan pengamatan oleh peneliti.
4.     Tahap IV        :  Melakukan refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan untuk
mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi.
Secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara berkesinambungan seperti sebuah spiral.
Salah satu tugas guru adalah mendidik yang di dalamnya terdapat interaksi antara guru dan murid, serta transfer of knowledge. Dalam proses transfer of knowledge guru harus memahami keadaan siswa, agar materi yang diterimanya bisa maksimal, dan pembelajaranya tidak monoton maka di perlukanlah pembelajaran yang bervariasi dan bermakna sehingga tidak hanya guru saja yang aktif melainkan juga peserta didik. Untuk mengatasi hal itu maka diperlukan pembelajaran aktif (Active Learning).
1.    Active Learning
                  Active Learning atau pembelajaran aktif  yaitu suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif, ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka akan secara aktif mengunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan untuk mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek  dari kegiatan pengajaran. Karena  inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar mangajar. Inti  pengajaran tidak lain adalah anak didik dapat mancapai tujuan pembelajaran  dan akan tercapai jika anak didik aktif. Di sini keaktifan anak dituntut baik dari segi fisik  maupun kejiwaan agar anak didik merasakan perubahan di dalam dirinya. Karena hakikat belajar adalah perubahan di dalam dirinya setelah berakhirnya aktifitas pembelajaran.[10]  
Oleh sebab itu guru berperan sebagi fasilitator yang merancang serangkaian kegiatan yang harus dilakukan siswa, memberi pengantar arahan, mendampingi, mengawasi siswa dalam mencari jawaban, dan memberikan umpan balik. Memanfaatkan sumber belajar yang tersedia disekitar serta menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan dan atraktif.
Dari beberapa metode dalam model pembelajaran Active Learning yang mendominasi dalam meningkatkan hasil belajar adalah Metode Ceramah, Tanya Jawab, Active Knowledge Sharing, Question Students Have.
1.    Metode Ceramah
Ceramah yaitu kegiatan penyampaian pelajaran dimana guru bertanya dan murid menjawab. Metode ini diberikan untuk memperkenalkan pengetahuan dengan fakta-fakta tertentu yang telah di ajarkan kepada murid.[11]
a.    Kelebihannya
1).    Guru dapat menguasai seluruh arah kelas.
2).    Organisasi kelas sederhana.
b.    Kekurangannya
1)Guru sukar mengetahui sampai dimana siswa telah mengerti arah pembicaraanya.
2).  Siswa seringkali memberi pengertian lain dari hal yang dimaksudkan guru.[12]

2.    Tanya Jawab
Tanya jawab yaitu kegiatan penyampaian pelajaran dimana guru bertanya dan murid menjawab. Metode ini diberikan untuk memperkenalkan pengetahuan dengan fakta-fakta tertentu yang telah di ajarkan kepada murid.[13] 
a.    Kelebihannya
1)    Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.
2)    Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa.
3)    Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir termasuk daya ingatan.
b.    Kekurangannya
1)    Siswa merasa takut.
2)    Waktu sering banyak terbuang.
3)    Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami oleh siswa.[14]

3.    Active Knowledge Sharing
Active Knowledge Sharing atau berbagi pengetahuan secara aktif dapat digunakan guru untuk mengenalkan materi pelajaran kepada siswa. Guru secara aktif memberikan pertanyaan terkait dengan materi pelajaran kepada siswa, sementara siswa saling membantu untuk menjawab pertanyaan dari guru.[15]
            4.   Questions Students Have
Teknik ini merupakan teknik yang tidak menakutkan yang dapat dipakai untuk mengetahui kebutuhan dan harapan siswa. Teknik ini menggunakan elisitasi dalam memperoleh partisipasi siswa secara tertulis.

2.    Motivasi Belajar
 Motivasi merupakan dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Makin kuat motivasi seseorang dalam belajar, makin optimal dalam melakukan aktivitas belajar. Dangan kata lain intensitas (kekuatan) belajar sangat ditentukan oleh motivasi/ dorongan.[16]
Anak yang memiliki motif, sikap, minat, penghargaan dan cita-cita akan mendorong seseorang berbuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Namun tidak semua anak memiliki motivasi seperti itu, maka tugas guru untuk membangkitkan motif dan mendorong anak untuk mencapai tujuan belajar.
Pada dasarnya motivasi memiliki dua jenis, yaitu:
a.    Motivasi Instrinsik
Motivasi Instrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa. Kebanyakan teori pendidikan modern mengambil motivasi instrinsik sebagai pendorong aktivitas dalam pengajaran dan pemecahan soal.

b.    Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik mengacu pada faktor-faktor dari luar dan ditetapkan pada tugas siswa oleh guru. Motivasi ekstrinsik biasa berupa penghargaan, pujian, hukuman atau celaan.

Ada empat fungsi pengajar dalam memelihara dan meningkatkan motivasi siswa, yaitu sebagai berikut:[17]
1.    Menggairahkan Siswa
Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari pengajar harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, misalnya melalui metode Discovery Learning dan Brain Storming.

2.    Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis dan memodifikasi harapan yang tidak relistis. Pengajar harus dapat membedakan antara harapan yang realistis, pesimis dan optimis.

3.    Memberikan Insentif
Bila siswa mendapatkan keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah pada siswa atas keberhasilanya. Dapat berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya. Sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut.

4.    Mengarahkan
Pengajar harus mengarahkan tingkah laku siswa dengan cara menunjukkan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta mereka memperbaikinya.

Fungsi motivasi belajar, meliputi:[18]
a.    Mendorong timbulnya kelakuan atau perbuatan, tanpa adanya motivasi maka tidak akan timbul suatu perubahan, seperti belajar.
b.      Motivasi berfungsi sebagai pengarah perbuatan untuk mencapai tujuan.
c.  Motivasi berfungsi sebagai penggerak, dimana akan menentukan lambat atau cepatnya suatu pekerjaan.

Keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan dari usaha guru dalam membangkitkan motivasi belajar siswa. Motivasi memberikan implikasi dalam pengajaran, sebagai berikut:[19]
1.  Motivasi menetukan tingkat berhasil atau gagalnya proses belajar. Belajar tanpa motivasi akan sulit berhasil.
2.      Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan dorongan, minat, motif yang ada pada siswa.
3.      Guru senantiasa berusaha agar murid mempunyai self motivation yang baik.
4. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan motivasi dalam pengajaran erat kaitannya dengan disiplin.
5.      Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral pada asas pengajaran.

BAB III
HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.   Gambaran Setting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas yang mengambil setting di, kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo, dalam pelaksanaanya mengikuti alur sebagai berikut:
  1. Perencanaan
Yaitu meliputi penetapan materi mata pembelajaran Bahasa Inggris dengan alokasi waktu 2 x 45 menit.
  1. Tindakan
Peningkatan motivasi belajar Bahasa Inggris dengan menggunakan model pembelajaran Active Learning menggunakan metode ActiveKnowledge Sharing .
  1. Observasi
Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran meliputi: aktivitas siswa, pengembangan materi dan hasil belajar siswa.
  1. Refleksi
Refleksi yaitu meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran dan sekaligus menyusun rencana pada siklus selanjutnya.

B.   Penjelasan Persiklus
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan alur/ tahapan perencanaan, tindakan,  observasi  dan refleksi, disajikan dalam 4 siklus sebagai berikut: 



Tabel 2
Siklus I  (pertama)

No.
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
1
Menyusun rencana program pengajaran.
Menjelaskan KBM secara umum.
Menjelaskan indikator yang inggin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar.
Mencatat hasil observasi.
2
Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi.
Membentuk  beberapa kelompok kecil.
Memantau diskusi atau kerjasama antar kelompok.
Mengevaluasi hasil kelompok.
3
Menyiapkan blanko observasi,dan pokok bahasan.
Menyampaikan Hand Out materi.
Mengamati proses Transfer Of Knowledge antar kelompok, dan sikap siswa pada saat menanggapi pendapat orang lain.
Menganalisis proses pembelajaran.
4
Menyiapkan blanko evaluasi.
Tiap kelompok mendiskusikan materinya, meresume, dan mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Menarik kesimpulan.
Mengamati pemehaman masing-masing anggota kelompok.
Memperbaiki kalemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya. 


Tabel 3
Siklus II (kedua)

No.
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi
1
Menyusun rencana pelajaran perbaikan
Menjelaskan KBM secara umum.
Menjelaskan indikator yang inggin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar.
Mencatat hasil observasi.
2
Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi
Membentuk  beberapa kelompok kecil.
Memantau diskusi atau kerjasama antar kelompok.
Mengevaluasi hasil kelompok.
3
Menyiapkan blanko observasi,dan pokok bahasan.
Menyampaikan Hand Out materi.
Mengamati catatan dan pemahaman siswa dan siswi.
Menganalisis proses pembelajaran.
4
Menyiapkan blanko evaluasi
Tiap kelompok mendiskusikan materinya, meresume, dan mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Menarik kesimpulan.
Mengamati pemehaman masing-masing anggota kelompok.
Memperbaiki kalemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya (bila belum berhasil). 


C.   Proses Analisis Data Persiklus
Proses analisis data sebagai  hasil dari penelitian  yang diperoleh secara sistematis yang meliputi siswa minat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa aktif bertanya atau menjawab pertayaan dari guru maupun sesama teman, siswa kooperatif dalam kelompoknya, dan siswa mencapai KKM tiap indikator pada mata pelajaran Bahasa Inggris, yang tersaji dalam 2 siklus sebagai berikut:
a.    Siklus I
Ini merupakan pertemuan pertama, sehingga guru maupun murid harus saling beradaptasi untuk meyesuaikan dengan keadaan. Terlihat anak-anak masih malas untuk memulai pelajaran, mereka lebih suka untuk perkenalan atau ramai sendiri. Sehingga guru tidak bisa langsung memulai pelajaran, guru harus mengkondusifkan suasana kelas dan mengembalikan motivasi belajar siswa.
Materi pelajaran kali ini adalah membiasakan perilaku terpuji yaitu Husnuzhan. Guru menggunakan metode Questions Students Have  sesuai dengan judul penelitian ini. Guru selain mengajar juga melakukan pengamatan/ penelitan yang meliputi siswa minat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa aktif bertanya atau menjawab pertanyaan dari guru maupun sesama teman, siswa kooperatif dalam kelompoknya, dan siswa mencapai KKM tiap indikator.
Hasil penelitian menunjukkan:
-          Siswa minat                                : 25 siswa dari 44 siswa
-          Siswa aktif                                  :   10 siswa dari 44 siswa
-          Siswa kooperatif                        : 27 siswa dari 44 siswa
-          Siswa mencapai KKM               : 28 siswa dari 44 siswa
Interpretasi:
 Karena ini siklus I (pertemuan pertama), siswa maupun guru belum maksimal dalam beradaptasi, sehingga hasil pembelajaran belum maksimal, pengenalan strategi-strategi yang aktif. Materi belum begitu dikuasai siswa, hal ini disebabkan karena metode diskusi membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga anak didik kurang maksimal dalam menerima materi pelajaran, dan guru harus menyelesaikan materi, bukan didasarkan pemahaman siswa tetapi karena target materi harus selesai.

b.    Siklus II
Dalam proses pembelajaran pada siklus II ini dan belajar dari pengalaman kemarin (siklus I) maka pembelajaran pada kali ini lebih dipadatkan pada materi pelajaran dengan mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat. Materi pelajaran kali ini adalah Menulis bahasa Inggris dengan menggunakan metode Active Knowledge Sharing.
Hasil penelitian menunjukkan:
-          Siswa minat                                : 35 siswa dari 44 siswa
-          Siswa aktif                                   : 40 siswa dari 44 siswa
-          Siswa kooperatif                        : 44 siswa dari 44 siswa
-          Siswa mencapai KKM               : 40 siswa dari 44 siswa
Interpretasi :
Dalam penyampaian materi sudah lebih bisa di ikuti oleh siswa, luas dan kongkrit, serta pengunaan strategi yang aktif. Siswa aktif dan penguasaan materi dapat di kuasai. Proses pembelajaran bisa dikatakan lebih maksimal dari pada siklus I kemarin.

D.   Pembahasan Dan Pengambilan Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami materi dengan Active Learning menggunakan metode Active Knowledge Sharing bagi siswa kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo tahun pelajaran 2009/2010 adalah sangat memuaskan. Secara keseluruhan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan baik aktivitas, minat, semangat, kerjasama, kooperatif maupun prestasi belajar siswa. Semakin tinggi minat belajar siswa maka semakin tinggi pula keaktivan siswa baik dalam belajar maupun dalam kelompoknya serta semakin tinggi prestasi yang akan dicapainya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6
Hasil Penelitian

Siklus
Objek Penelitian
Jumlah Siswa Berhasil Dari 44
Prosentase Keberhasilan (%)

I
Siswa minat
25
57 %
Siswa aktif
10
23 %
Siswa kooperatif
27
61 %
Siswa mencapai KKM
28
64 %

II
Siswa minat
35
79 %
Siswa aktif
40
91 %
Siswa kooperatif
44
100 %
Siswa mencapai KKM
40
91 %




Tabel 7
Grafik Hasil Penelitian

BAB VI
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Dari hasil Penelitian  Tindakan Kelas (PTK) dan pembahasan di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan Active Learning menggunakan metode Active Knowledge Sharing menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar, ditandai dengan semakin aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2. Pembelajaran dengan Active Learning menggunakan metode Active Knowledge Sharing memberikan suasana yang baru bagi siswa. Suasana belajar yang   menyenangkan,  pembelajaran yang santai tetapi tetap serius. Sehingga motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran cenderung meningkat, apabila motivasi belajar siswa meningkat, maka semakin meningkat pula keaktifan belajar siswa. Karena keaktifan belajar siswa meningkat maka akan meningkatkan prestasi siswa.
3.    Siswa yang belajar dengan Active Learning menggunakan metode Active Knowledge Sharing  tanpa mereka sadari dapat meningkatkan ketrampilan sosial (social skill) dalam berhubungan dengan masyarakat khususnya teman sekolah.

B.   Saran
Dari kesimpulan di atas, dapat penulis sarankan sebagai berikut:
1.    Pembelajaran agar dapat berjalan maksimal harus disertai dengan motivasi belajar. Sebelum pelajaran berlangsung guru harus mengkondusifkan kondisi kelas dan membangkitkan motivasi belajar siswa.
2.  Pembelajaran dengan Active Learning menggunakan metode Active Knowledge Sharing dapat diterapkan dalam pembelajaran yang membutuhkan penyelesaian masalah secara berkelompok.

DAFTAR PUSTAKA


Aqib, Zainal. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Yrama Widya. 2007.
Basuki, dkk. Pedoman Pelaksanaan PPLK II berbasis PTK. Ponorogo: Jurusan Tarbiyah. 2008.
Djafar, Zainudin. Didaktik Metodik. Pasuruan: Garuda Buana Indah. 1995.
Departemen Pendidikan Nasional. UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3. Jakarta: Depdiknas. 2003.
Jamarah, Saiful Bahri dan Aswan Zain. Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. 1995.
Narbuko, Cholid dan Abu Ahmadi. Metodologi Penelitian.  Jakarta: Bumi aksara. 2006.
Nasution, S. Dikdatif Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksar. 2000.
Silberman, Melvin L. Active Learning. terj. Raisul Muttaqien. Bandung: Nusamedia. 2006.
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 1998.
Subroto, Suryo. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 1997.
Sutrisno, Hadi. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi. 1991.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-laporan-penelitian-tindakan.html






[1] Departemen Pendidikan Nasional, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 (Jakarta: Depdiknas, 2003), 6.
[2] M. Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), 65.
[3] Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 83.
[4] Ibid., 70.
[5] Hadi Sutrisno, Metodologi Research (Yogyakarta: Fakultas Psikologi, 1991), 226.
[6] Basuki, dkk., Pedoman Pelaksanaan PPLK II berbasis PTK (Ponorogo: Jurusan Tarbiyah, 2009).
[7] Ibid.
[8] Secara keseluruhan 4 tahapan dalam PTK tersebut membentuk suatu siklus PTK yang di gambarkan dalam bentuk spiral, untuk mengatasi suatu masalah mungkin di perlukan lebih dari satu siklus. Siklus-siklus tersebut saling terkait dan berkelan.jutan siklus ke 2 dilaksanakan bila masih ada hal-hal yang kurang berhasil dalam siklus pertama. Siklus ketiga dilaksanakan karena siklus ke 2 belum mengatasi masalah, begitu siklus-siklus berikutnya.
[9] Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas (Bandung: CV Yrama Widya, 2007), 18. 
[10] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 44.
[11] Zainudin Djafar, Didaktik Metodik, (Pasuruan: Garuda Buana Indah, 1995), 27.
[12] Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 166-167.
[13] Zainudin Djafar, Didaktik Metodik ..., 27.
[14] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Stategi Belajar Mengajar, 307.
[15] Melvin L. Silberman, Active Learning, terj. Raisul Muttaqien (Bandung: Nusamedia, 2006), 100-102 .
[16] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 90.
[17] S. Nasution, Dikdatif Asas-Asas Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 76.
[18] Ibid.
[19] Imansyah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum (Surabaya: Usaha Nasional, 1999), 99.



MATERI TERKAIT:

Judul: CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Bahasa Inggris Dengan Active Learning Menggunakan Metode Active Knowledge Sharing Bagi Siswa Kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2009/ 2010
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah CONTOH LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) : Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Menulis Bahasa Inggris Dengan Active Learning Menggunakan Metode Active Knowledge Sharing Bagi Siswa Kelas X.M SMK PGRI 2 Ponorogo Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/10/contoh-laporan-penelitian-tindakan.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger