SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

TIPOLOGI MOTIVASI TINGKAH LAKU MANUSIA DALAM MELAKUKAN DAKWAH


BAB II
TIPOLOGI MOTIVASI TINGKAH LAKU MANUSIA
DALAM MELAKUKAN DAKWAH
A.     Motivasi tingkah laku
           Istilah motivasi mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berperilaku. Sartain menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku suatu tujuan atau perangsang.[1]
Bila dipakai dalam arti ini, maka motivasi akan meliputi segala aspek psikologi. Walaupun demikian, para psikolog membatasi konsep motivasi pada faktor-faktor yang menguatkan perilaku yang memberikan arahan pada perilaku itu. Suatu organisme yang dimotivasi akan melakukan aktifitasnya secara giat dan lebih efisien dibandingkan dengan organisme yang beraktivitas tanpa motivasi. Selain menguatkan organisme, motivasi cenderung mengarahkan kepada suatu tingkah laku tertentu.[2]
 Banyak para ahli psikologi yang menempatkan motivasi pada posisi determinant (penentu) bagi kegiatan hidup individual dalam usahanya mencapai cita-cita. Diantaranya Hubert Bonner menyatakan bahwa motivasi secara fundamental bersifat dinamis yang melukiskan.
Pendekatan yang lebih baru terhadap teori motivasi ini memfokuskan perhatian yang berperan intensif, yaitu keadaan lingkungan yang menjadi motivasi bagi organisme. Suatu intensif positif menggugah organisme itu untuk mendekatinya dan intensif negatif mengarahkan perilaku ke arah menjauhinya. Seorang yang merasa haus, intensif positifnya yaitu akan mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa hausnya yaitu berupa air. Intensif negatifnya akan menjauhkan seseorang dari suatu benda atau situasi yang dapat mengakibatkan rasa sakit.[3]
1.     Klarifikasi motif
Para ahli psikologi berusaha menggolongkan motif-motif yang ada dalam diri manusia sebagai berikut :
a.  Sartain membagi motif menjadi dua golongan yaitu Psysiological Drive adalah dorongan-dorongan yang bersifat fisiologis. Jika kebutuhan dorongan-dorongan ini terpenuhi, maka seseorang menjadi tenang. Contoh dorongan ini seperti rasa lapar, haus, lelah dan sebagainya. Social Motives adalah dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia lain dalam masyarakat seperti dorongan estetis, dorongan ingin selalu berbuat baik (etika).[4]  Yang termasuk ke dalam motif ini adalah motif untuk mengadakan respon.
b.    Woodworth mengklasifikasikan menjadi dua yaitu : Unlearned Motives yaitu motif pokok yang disebut drive (dorongan). Yang termasuk pada motif ini adalah motif yang timbul disebabkan kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan dalam tubuh seperti rasa lapar, haus, sakit dan lain sebagainya. Learned Motives yaitu motif yang berupa perasaan suka dan tidak suka yang menurutnya adalah merupakan aspek-aspek yang disadari meliputi motif-motif untuk mendekatkan diri dan menjauhkan diri dari sesuatu.[5]
2.   Macam-macam motif
Para ahli psikologi individual maupun psikologi sosial telah melakukan studi secara luas tentang seberapa banyak dorongan-dorongan kejiwaan yang mempengaruhi tingkah laku manusia, diantaranya :
a. Motif yang mendorong aktifitas pribadi yang disebut oleh Goldstein sebagai  self actulization yang di dalamnya mengandung dorongan keinginan yang bersifat organis (jasmaniah) dan psikologis (rokhaniah). Motif ini menuntut kepada pemuasan hidup jasmaniah seperti makan dan minum serta pemuasan rohaniah seperti harga diri, status dan rasa aman serta kebebasan dari segala macam tekanan dan sebagainya.
b.  Motif kepada keamanan.
Motif ini dipandang oleh ahli psikologi sebagai yang paling asasi. Motif ini mengandung keinginan-keinginan yang didasarkan atas kebutuhan seseorang untuk melindungi dirinya dari segala bentuk ancaman terhadap integritas dan stabilitas hidupnya. Manifestasinya adalah dalam bentuk menghindarkan diri dari bahaya dan resiko, juga dalam sikap hati-hati atau waspada serta konservatis dan lain sebagainya. Yang termasuk dalam klasifikasi motif ini adalah :
Motif fisiologis : yaitu desakan keinginan yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah. Dengan telah dipuaskannya kebutuhan ini, maka seseorang menjadi tenang.
Motif kepada kepercayaan dan konformitas dipandang oleh banyak ahli psikologi sebagai suatu kekuatan yang cukup memberikan dorongan kepada manusia ke arah hidup tentram. Dalam hubungan ini, Hubert Bonner menyatakan bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Ghaib adalah suatu tenaga motifasi yang paling kuat dalam masyarakat, karena hal itu pada umumnya merupakan sumber kedamaian yang tahan lama, suatu dorongan keinginan untuk mempercayai-Nya adalah kekuatan pendorong yang potensial dalam kehidupan manusia.
c.  Motif untuk mengadakan respon. Motif ini berbeda dengan motif untuk hidup aman dan tentram, karena motif ini timbul bilamana ada dorongan ingin mendapatkan pengalaman dalam hidup sekitar, baik dalam bentuk hubungan personal maupun interpersonal.
d.  Motif-motif lainnya yang bersifat individual adalah motif mendapatkan pengakuan di dalam kelompok atau masyarakat dimana dia hidup.
e.  Motif yang mendorong mencari pengalaman baru merupakan daya tahan kekuatan psikologis yang membawa manusia kepada usaha pembaharuan dan perubahan.[6]


B.    Motivasi tingkah laku manusia dalam melakukan dakwah
Di dalam memperoleh hasil guna pelaksanaan dakwah, perlu diarahkan kepada tujuan proses dakwah yakni mengendalikan, mengarahkan, mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan tersebut bagi keuntungan manusia sebagai makhluk individual dan sebagai anggota masyarakat. Daya tarik dakwah kepada sasarannya sangat ditentukan oleh kemampuan mengendalikan, mengarahkan, mengembangkan dan memanfaatkan motif-motif tersebut untuk diaktualisasikan dan diorientasikan kepada tujuan dakwah.
Karena motivasi mengarahkan kepada tingkah laku individu ke arah suatu tujuan untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan serta kekuatan-kekuatan individu tersebut.
Tujuan motivasi secara umum adalah untuk menggerakkan atau mengubah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Tujuan motivasi bagi seorang da’i adalah menggerakkan atau memacu obyek agar timbul kesadaran yang membawa perubahan tingkah laku sehingga tujuan dakwah tercapai. Dalam proses dakwah diharapkan seorang da’i mampu menggerakkan atau menimbulkan kekuatan dalam diri mad’u dan memimpinnya untuk bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam yang disampaikan. Selanjutnya seorang da’i dituntut untuk mengarahkan tingkah laku mad’u sesuai dengan tujuan dakwah kemudian menopang tingkah laku mad’u dengan menciptakan lingkungan yang dapat menguatkan dorongan-dorongan tersebut.
Kepercayaan terhadap sesuatu yang ghaib oleh banyak ahli dipandang sebagai suatu kekuatan pendorong yang memberikan dorongan kepada manusia untuk menjalani hidup dengan baik. Motif mempercayai hal-hal ghaib sebenarnya sama dengan naluriah diniyah.
Seperti contoh, seorang da’i seharusnya terlebih dahulu memberikan targhib sebelum tarhib , mendorong beramal dan menyebutkan faedah amal sebelum menakut-nakuti dengan bahaya riya’, memberitahu keutamaan menyebarkan ilmu sebelum memberikan peringatan kepada mereka tentang besarnya dosa menyembunyikan ilmu dan memotivasi untuk melaksanakan pada waktunya. Jadi, memberi kabar gembira terlebih dahulu sebelum peringatan itu bisa membuat hati menerima dengan baik dan lega. Pemberian motivasi ini bisa menumbuhkan harapan dan optimisme seseorang.[7]
 
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan motivasi tingkah laku manusia dalam melakukan dakwah dapat kami simpulkan sebagai berikut :
1. Motivasi tingkah laku adalah  faktor-faktor yang menguatkan perilaku yang memberikan arahan kepada suatu tingkah laku tertentu.
2. Motivasi tingkah laku manusia dalam melakukan dakwah adalah untuk menggerakkan atau memacu obyek agar timbul kesadaran yang membawa perubahan tingkah laku sehingga tujuan dakwah tercapai dan untuk mengarahkan tingkah laku mad’u sesuai dengan tujuan dakwah kemudian menopang tingkah laku mad’u dengan menciptakan lingkungan yang dapat menguatkan dorongan-dorongan tersebut.
B.    Saran
Hendaknya seorang da’i dalam menjalankan proses dakwah kepada mad’u pandai dalam memotivasi mad’u agar tujuan dakwah kepada mereka tepat sasaran dan bisa merubah tingkah laku mereka sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. Ed., H.M.  Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi. Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Atikson, Rita. Introduction To Psychology, alih bahasa oleh Nurjannah Taufik. Jakarta: Erlangga, 1983.
Faizah dkk, Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenada Media, 2006.
Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1989.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/tipologi-motivasi-tingkah-laku-manusia.html



[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1989), 60.
[2] Faizah dkk, Psikologi Dakwah (Jakarta: Prenada Media, 2006), 103.
[3] Rita Atikson, Introduction To Psychology, alih bahasa oleh Nurjannah Taufik (Jakarta: Erlangga, 1983)
[4] Ngalim Purwanto, Psikologi..., 62.
[5] Ibid., 63.
[6] H.M. Arifin, M. Ed., Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 58-63.
[7] Faizah dkk, Psikologi ..., 126.


MATERI TERKAIT:

Judul: TIPOLOGI MOTIVASI TINGKAH LAKU MANUSIA DALAM MELAKUKAN DAKWAH
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah TIPOLOGI MOTIVASI TINGKAH LAKU MANUSIA DALAM MELAKUKAN DAKWAH. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/tipologi-motivasi-tingkah-laku-manusia.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger