SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

MEMBANGUN HUBUNGAN DALAM KONSELING


BAB II
A.     Membangun hubungan dalam konseling
Dalam konseling, kemampuan konselor mendengarkan adalah hal yang sangat pokok. Suatu komunikasi akan selalu menyangkut aspek-aspek verbal dan non verbal.
1.  Ketrampilan mendengarkan
Ketrampilan mendengarkan adalah kemampuan dasar yang esensial untuk membuat dan mempertahankan hubungan, dimana mendengarkan sekaligus komitmen dan komplimen.[1]
a. Komitmen adalah untuk memahami bagaimana perasaan orang lain, bagaimana mereka melihat dunia. Di sini mengandung arti mengesampingkan kepentingan-kepentingan pribadi.
b. Komplimen, mendengarkan merupakan suatu komplimen. Dalam mendengarkan terdapat unsur atensi (perhatian). Atensi yang baik melibatkan tingkah laku melihat dan mendengarkan. Tanpa adanya perhatian maka dialog antara dua orang akan menjadi monolog ganda. Kemampuan melihat dan mendengar adalah mutlak sentral dalam berbagai pelayanan membantu meskipun kontak dengan klien hanya sebentar saja.
Mendengarkan mencakup komunikasi verbal dan non verbal. Terdapat empat ketrampilan mendengar reflektif yaitu paraphrasing, reflecting feelings, reflecting meanings, dan summative reflections. Paraphrasing adalah jawaban yang menyebutkan esensi dari isi pesan yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata pendengarannya sendiri. Reflecting feelings adalah mencerminkan kembali perasaan yang disampaikan oleh pemberi pesan. Reflecting meanings adalah perasaan dan fakta dicampur dalam suatu respon yang akurat. Sedangkan  summative reflections adalah ketika diungkapkan kembali secara singkat tema dan perasaan utama yang diekspresikan pembicara selama durasi percakapan yang lebih lama dari pada yang terliput oleh bentuk-bentuk refleksi lainnya. Selain itu terdapat dua unsur penting dalam mendengarkan yaitu clarifying dan feedback. Meminta klarifikasi berarti mengajukan pertanyaan sampai diperoleh gambaran yang jelas. Feedback merupakan upaya mengoreksi kesalahan bila apa yang dipikirkan konselor ternyata memang salah. Fungsi feedback adalah untuk mengecek persepsi.[2] Satu hal lagi yang tidak bisa diabaikan begitu saja yaitu sikap peduli, yaitu memberi perhatian penuh kepada konseli sebagai seorang pribadi dan memahami apa yang terjadi pada dirinya.[3] Bersikap peduli kepada konseli adalah sangat penting.

2.  Penghalang komunikasi
Faktor-faktor penghalang komunikasi diantaranya :
a.  Masalah motivasional, ketakutan akan kemungkinan dipengaruhi orang lain, maka dalam berkomunikasi terdapat banyak omissions in a acuracies.
b. Halangan psikologis, halangan-halangan psikologis mengakibatkan kegagalan memori. Kemungkinan yang terjadi adalah lupa dan distorsi dari informasi.
c.   Kesulitan dalam bahasa, karena kata-kata adalah simbol yang menggantikan realitas yang ingin disampaikan, sering tidak ditemukan kata-kata yang tepat.
d.Communication an xiety, ini khusus ada hanya dalam suatu hubungan membant (termasuk konseli dan terapi).[4]
3.  Membangun kedekatan dengan klien
Jika kedekatan antara konselor dan konseli terjalin dengan baik, maka itu akan memudahkan dalam proses konseling juga akan menguntungkan bagi konseli. Diantara tahapan-tahapan yang dilakukan konselor antara lain :
a.  Pengakuan, terapis/ konselor mengakui perasaan klien.
b.Negosiasi, konselor dan konseli membangun pemahaman bersama berkenaan dengan peran dan tanggung jawab mereka.
c.Konsensus dan renegosiasi, konselor dan konseli mengembangkan konsensus terhadap ketidakpuasan konseli dan menegosiasikan berbagai poin dalam hubungan kerja mereka.
d.  Eksplorasi lebih luas, eksplorasi lebih jauh terdapat situasi paralel di luar terapi.
e.Gaya hubungan baru, konselor dan konseli membahas gaya alternatif berkaitan dengan situasi ini.[5]

B.    Tujuan asesmen dan ketrampilan yang diasosiasikan dengan asesmen
Menilai (melakukan asesmen) apa yang sebenarnya menjadi masalah klien adalah bagian yang sangat penting dari konseling.
1.Tujuan asesmen, terdapat 12 hal dari proses asesmen yang dapat meningkatkan hubungan antara konselor dan konseli yaitu :
a.  Melancarkan proses pengumpulan informasi,
b.  Memungkinkan konselor membuat diagnosis yang akurat,
c.   Memfasilitasi perkembangan dari suatu tindakan yang efektif,
d.  Menentukan tepat atau tidaknya seseorang untuk suatu program tindakan tertentu,
e.  Menyederhanakan pencapaian sasaran dan pengukuran kemajuan,
f.Meningkatkan wawasan (insight) mengenai kepribadian seseorang dan mengklarifikasi konsep diri,
g.  Menilai lingkungan atau konteks,
h.  Meningkatkan konseling dan diskusi yang lebih terfokus dan relevan,
i.  Mengindikasikan kemungkinan bahwa peristiwa tertentu akan terjadi seperti sukses dalam usaha okupasional atau akademik,
j.    Menghasilkan opsi dan alternatife,
k.   Memfasilitasi perencanaan dan pembuatan keputusan.[6]
Adapun komponen asesmen adalah :
a.  Interview intake riwayat hidup : dalam melakukan wawancara intake riwayat hidup ini yang harus diperoleh adalah data identifikasi, presentasi problem oleh klien, tentang kehidupan klien saat ini, riwayat keluarga, riwayat pribadi, deskripsi tentang klien selama interview, serta ringkasan dan rekomendasi.
b. Definisi masalah : pendefinisian masalah adalah dimensi kedua dalam melakukan asesmen tahap masalah klien dimana berbeda dengan pencarian informasi awal.[7]

2.  Ketrampilan yang diasosiasikan dengan asesmen
Ketrampilan yang diperlukan untuk interview intake dan pendefinisian masalah adalah tingkah laku attending (memberi perhatian) yang verbal dan non verbal, paraphrasing dan ketrampilan bertanya khususnya pertanyaan untuk mengklarifikasi, pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.[8]

C.    Efek asesmen
Efek asesmen bisa positif dan bisa negatif. Dari sisi positifnya yang bisa menyebabkan klien merasa dipahami, merasa lega, mempunyai pengharapan dan termotivasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Sisi negatifnya misal klien merasa cemas seperti diinterogasi, rentan penuh pertanyaan apakah konselor seorang yang bisa dipercaya dan sebagainya.[9]
Jadi seorang konselor harus benar-benar pandai menilai apa yang terjadi pada kliennya, termasuk memperhatikan efek-efek positif dan negatifnya.



BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan membangun hubungan dalam konseling dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1.  Untuk membangun suatu hubungan konseling yang perlu diperhatikan adalah ketrampilan mendengarkan, penghalang komunikasi, membangun kedekatan dengan klien.
2. Adapun tujuan asesmen adalah untuk melancarkan proses pengumpulan informasi, memungkinkan konselor membuat diagnosis yang akurat, memfasilitasi perkembangan dari suatu tindakan yang efektif, menentukan tepat atau tidaknya seseorang untuk suatu program tindakan tertentu, menyederhanakan pencapaian sasaran dan pengukuran kemajuan, meningkatkan wawasan (insight) mengenai kepribadian seseorang dan mengklarifikasi konsep diri, menilai lingkungan atau konteks, meningkatkan konseling dan diskusi yang lebih terfokus dan relevan, mengindikasikan kemungkinan bahwa peristiwa tertentu akan terjadi seperti sukses dalam usaha okupasional atau akademik, menghasilkan opsi dan alternatif, memfasilitasi perencanaan dan pembuatan keputusan. Adapun ketrampilan yang diasosiasikan dengan asesmen yaitu tingkah laku attending (memberi perhatian) yang verbal dan non verbal, paraphrasing dan ketrampilan bertanya khususnya pertanyaan untuk mengklarifikasi, pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.
3.  Efek asesmen bisa positif dan bisa negatif. Dari sisi positifnya yang bisa menyebabkan klien merasa dipahami, merasa lega, mempunyai pengharapan dan termotivasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Sisi negatifnya misal klien merasa cemas seperti diinterogasi, rentan penuh pertanyaan apakah konselor seorang yang bisa dipercaya dan sebagainya.
                       
B.    Saran
Hendaknya konselor senantiasa memperhatikan faktor-faktor yang dapat memudahkan dalam menjalin hubungan dengan konseli agar konselor dapat membantu secara maksimal menyelesaikan permasalahan-permasalahan sesuai yang diharapkan konseli.

DAFTAR PUSTAKA
Lesmana, Jeaneffe Murad. Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: UI Press, 2006.
McLeod, Jhon. Pengantar Konseling : Teori Dan Studi Kasus. Jakarta: Kencana, 2006.
Satori, Djam’an, dkk. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/membangun-hubungan-dalam-konseling.html


[1] Jeaneffe Murad Lesmana, Dasar-Dasar Konseling  (Jakarta: UI Press, 2006), 103.
[2] Ibid., 110-117.
[3] Djam’an Satori, dkk, Profesi Keguruan (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), 422.
[4] Lesmana, Dasar-Dasar...., 117-119.
[5] Jhon McLeod, Pengantar Konseling : Teori Dan Studi Kasus (Jakarta: Kencana, 2006), 347.
[6] Lesmana, Dasar-Dasar...., 121.
[7] Ibid., 125.
[8] Ibid., 130.
[9] Ibid., 132.




MATERI TERKAIT:

Judul: MEMBANGUN HUBUNGAN DALAM KONSELING
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah MEMBANGUN HUBUNGAN DALAM KONSELING. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/08/membangun-hubungan-dalam-konseling.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger