SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

TEORI EMPIRISME DAN KONVERGENSI


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teori Empirisme
Para ahli yang mengikuti pendirian Empirisme mempunyai pendapat yang berbeda dengan aliran Nativisme. Pengikut aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata tergantung pada faktor dasar, sedangkan empirisme mengatakan bahwa dalam  perkembangan anak menjadi manusia dewasa ditentukan oleh lingkungan dan pendidikan. Kaum empiris terkenal dengan nama optimisme paedagogis.[1]
Aliran empirisme berpengaruh besar di Amerika Serikat. Banyak ahli yang walaupun tidak secara ekplisit menolak peranan dasar itu, namun karena dasar tersebut sukar ditentukan, maka praktis yang dibicarakan hanya lingkungan.[2]
Aliran empirisme ini dapat berkembang dan berlanjut menjadi paham environmentalisme, namun ternyata aliran ini pada dasarnya tidak tahan uji dan tidak dapat dipertahankan. Tokoh utama aliran ini adalah John loke.
Doktrin aliran empirisme yang sangat masyhur adalah “tabula rasa” yang berarti batu tulis atau lembaran yang kosong. Doktrin ini menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan, faktor orang tua dan keluarga terutama sifat dan keadaan mereka sangat menentukan arah perkembangan masa depan anak. Sifat orang tua merupakan gaya khas dalam  bersikap dan memperlakukan anak.
Dalam  lingkungan sekitar terdapat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku, akan tetapi lingkungan yang aktual hanyalah faktor-faktor dalam  dunia sekeliling yang benar-benar mempengaruhi. Lingkungan dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.    Lingkungan alam atau luar.
2.    Lingkungan dalam .
3.    Lingkungan sosial.
Dari ketiga lingkungan tersebut, lingkungan sosial yang berpengaruh paling dominan terhadap pertumbuhan rohani dan pribadi anak.[3]
Adapun jenis-jenis empirisme antara lain :
1.    Empirio-kritisme
Sebuah aliran filsafat yang bersifat subyektif-idealistik yang ingin memberikan pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas dan sebagainya sebagai pengertian apriori. Aliran ini mengajukan  konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi. Dengan mengajukan ajaran tentang koordinasi dasar, empirio-kritisme berubah menjadi idealisme subjektif.
2.    Empirisme logis
Empirisme logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut:
a.    Analisis logis modern dapat diterapkan pada pemecahan problem filosofis dan ilmiah.
b.    Ada batas-batas bagi empirisme, prinsip sistem logika formal dan kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
c.    Semua proporsi yang benar dapat dijabarkan pada proporsi mengenai dua inderawi,
d.   Pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.
3.    Empiris radikal
Aliran ini berpendapat bahwa semua pengetahuan dapat  dilacak sampai pada pengetahuan inderawi. Namun di antara mereka ada yang mengatakan kita dapat mengetahui suatu corak pengetahuan yang tidak dapat dijabarkan pada penerapan.[4]

B.  Teori Konvergensi
Aliran konvergensi merupakan gabungan antara empirisme dan nativisme. Aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam  perkembangan manusia.[5] Dalam  perkembangan individu baik dasar atau pembawaan lingkungan, memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan yang telah ada pada masing-masing individu akan tetapi bakat tersebut perlu menemukan lingkungan yang sesuai agar dapat berkembang.
Selain lingkungan yang sesuai, perlu dipertimbangkan pula soal kematangan.[6] Bakat yang ada dan mendapat pengaruh lingkungan yang serasi belum tentu dapat berkembang kecuali memang sudah matang. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa watak dan bakat seseorang ada yang tidak sama dengan orang tuanya, akan tetapi kedua hal itu dapat tersembunyi sampai beberapa generasi.
Setiap orang memiliki potensi self direction dan self discipline yang memungkinkan dirinya bebas memiliki antara mengikuti atau menolak sesuatu lingkungan tertentu untuk mengembangkan dirinya. Jalan perkembangan manusia sedikit banyak ditentukan oleh pembawaan yang turun temurun, yang oleh aktifitas dan pemilihan manusia sendiri dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan tertentu berkembang menjadi sifat-sifat.[7]
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam  memahami tumbuh kembang manusia. Akan tetapi terdapat variasi-variasi dalam  perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi humanistik, behavioral, dan psikoanalitik.
Jadi menurut teori konvergensi :
1.    Pendidikan mungkin dilaksanakan.
2.Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah potensi yang kurang baik.
3.    Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.[8]


BAB III
PENUTUP
 
A.  Kesimpulan
Dari pembahasan Teori Empirisme dan Teori Konvergensi dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1.    Teori Empirisme mengatakan bahwa dalam  perkembangan anak menjadi manusia dewasa ditentukan oleh lingkungan dan pendidikan. Doktrin aliran empirisme yang sangat masyhur adalah “tabula rasa” yang berarti batu tulis atau lembaran yang kosong. Doktrin ini menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan, faktor orang tua dan keluarga terutama sifat dan keadaan mereka sangat menentukan arah perkembangan masa depan anak. Sifat orang tua merupakan gaya khas dalam  bersikap dan memperlakukan anak.
2. Teori Konvergensi adalah gabungan antara teori empirisme dan teori nativisme. Aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas/ pembawaan/ keturunan dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam  perkembangan manusia. menurut teori konvergensi pendidikan mungkin dilaksanakan. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan
B.  Saran
       Hendaklah kita sebagai orang tua lebih bijak memilih atau mengaplikasikan teori-teori tersebut dalam mendidik anak sehingga diharapkan anak tersebut mampu menghasilkan sesuatu yang optimal pada dirinya dan lingkungannya.


DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Mukhlison dan Rodliyah, Siti, Ilmu Pendidikan. Ponorogo: PPS Press, tth.
Faruk, Ahmad, Traktat Filsafat Umum; Penelusuran Tematis. Ponorogo: STAIN Press, 2006.
Effendi, Mukhlison Dan Rodliyah, Siti, Ilmu Pendidikan. Ponorogo: PPS Press, 2004.
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995.
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/teori-empirisme-dan-konvergensi.html


[1] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), 59.
[2] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), 178.
[3] Mukhlison Effendi, Dan Siti Rodliyah, Ilmu Pendidikan  (Ponorogo: PPS Press, 2004), 38.
[4] Ahmad Faruk, Traktat Filsafat Umum; Penelusuran Tematis (Ponorogo: STAIN Press, 2006), 34-35.
[5] Effendi, Ilmu ...38.
[6] Suryabrata, Psikologi...79.
[7] Purwanto, Ilmu ... 61.
[8] Effendi, Ilmu ...39.

MATERI TERKAIT:

Judul: TEORI EMPIRISME DAN KONVERGENSI
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah TEORI EMPIRISME DAN KONVERGENSI. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/teori-empirisme-dan-konvergensi.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger