SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

STRATEGI PENGAJARAN AFEKTIF



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Ciri-Ciri Nilai
            Pengajaran afektif berhubungan dengan nilai (value). Oleh karena itu, sebelum kita berbicara tentang strategi pengajaran afektif, terlebih dahulu perlu dikaji tentang nilai itu sendiri. Nilai (value, valere) berhubungan dengan apa yang dianggap baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, adil dan tidak adil, efisien dan tidak efisien dan sebagainya. Dalam  hubungan ini, J.R Fraenkel sebagaimana dikutip oleh W. Gulo, mengemukakan beberapa ciri tentang nilai sebagai berikut:
1.    Nilai adalah konsep yang tidak berada di dalam dunia empirik, tetapi di dalam  pikiran manusia.
2.    Nilai adalah standar perilaku, ukuran yang menentukan apa yang indah, apa yang efisien, apa yang berharga yang ingin dipelihara dan dipertahankan.
3.    Nilai itu direfleksikan dalam  perbuatan atau perkataan.
4.    Nilai itu merupakan abstraksi atau idealis manusia tentang apa yang dianggap penting dalam  hidup mereka.[1]
B.       Hakekat Pendidikan Nilai Dan Sikap
            Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui pembentukan sikap, yakni kecenderungan seseorang terhadap suatu obyek. Misalnya jika seseorang berhadapan dengan suatu obyek, maka ia akan menunjukkan gejala senang-tidak senang atau suka-tidak suka. Seseorang yang berhadapan dengan pendidikan sebagai suatu obyek, maka manakala ia mendengarkan dialog tentang pendidikan di televisi misalnya, ia akan menunjukkan gejala kesenangannya dengan mengikuti dialog itu sampai tuntas dan begitu juga sebaliknya seseorang yang menunjukkan gejala ketidak senangannya terhadap isu pendidikan, maka ia akan tutup telinga atau memindahkan canel televisinya.[2]
Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu obyek, berdasarkan penilaian terhadap obyek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berharga (sikap negatif). Sikap merupakan suatu kemampuan internal yang berperan sekali dalam  mengambil tindakan (action), lebih-lebih apabila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak atau tersedia beberapa alternatif. Pernyataan kesenangan dan ketidaksenangan seseorang terhadap obyek yang dihadapinya, akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahamannya (aspek kognitif) terhadap obyek tersebut. Oleh karena itu tingkat penalaran (kognitif) terhadap suatu obyek dan kemampuan untuk bertindak terhadapnya (psikomotorik) turut menentukan sikap seseorang terhadap obyek yang bersangkutan.[3]
C.      Dasar Pemikiran Tentang Nilai
Komitmen seseorang terhadap nilai dapat dinyatakan antara lain pada kepatuhannya terhadap suatu yang dianggap baik. Seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang dianggapnya baik yang bermacam-macam alasan. Wright mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berbuat sesuatu, yaitu :
1.    Hedonitas tanpa moral. Pertimbangan untuk melakukan sesuatu didasarkan pada kegunaan bagi diri sendiri. Seseorang melakukan sesuatu kalau hal itu berguna bagi dirinya sendiri dan tidak mau melakukannya jika tidak ada manfaatnya bagi dirinya sendiri.
2.   Rasional. Pertimbangan untuk melakukan sesuatu didasarkan pada logika seseorang, kalau sesuatu itu tidak masuk akalnya, maka ia tidak akan melakukannya.
3. Tingkat kesadaran. Seseorang berbuat atau tidak berbuat sesuatu tergantung pada tingkat kesadarannya.
4.    Konformitas. Seseorang berbuat sesuatu hanya untuk menyesuaikan diri dengan pihak lain dan tidak muncul dari kesadaran sendiri.[4]
Douglas Graham melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan terhadap nilai tertentu yaitu :
1. Normatifis, biasanya kepatuhan kepada norma-norma hukum. Kepatuhan terhadap hukum itu terdapat dalam  tiga bentuk yaitu :
a.    Kepatuhan pada nilai atau norma itu sendiri,
b.    Kepatuhan pada proses tanpa memperdulikan normanya sendiri,
c.    Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu.
2.  Intregeralis yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
3.    Fenomenalis yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi.
4.    Hedonis yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri.
D.      Proses Pembentukan Sikap
1.   Pola pembiasaan
Pada suatu hari Watson melihat anak yang senang dengan tikus berbulu putih. Kemanapun anak itu pergi, ia selalu membawa tikus berbulu putih yang sangat disenanginya. Watson ingin mengubah sikap senang anak terhadap tikus putih itu menjadi benci atau tidak senang. Maka ketika anak hendak memegang tikus itu, Watson memberi kejutan dengan suara keras, hingga anak itu terkejut. Terus menerus hal itu dilakukan, dimana anak itu hendak mendekati dan hendak membawa tikus itu, dimunculkanlah suara keras,  maka anak itu semakin terkejut dan lama kelamaan anak itu menjadi takut dengan tikus putih itu. Jangankan ia mau memegang atau membawanya, melihat saja ia menangis dan ketakutan. Perubahan sikap anak tersebut dari positif menjadi negatif disebabkan karena kebiasaan. Cara belajar sikap demikian menjadi dasar penanaman sikap tertentu terhadap suatu obyek. Dalam  proses pembelajaran di sekolah baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan.[5]
2.   Modeling
Pembelajaran sikap seseorang dapat juga dilakukan melalui proses modeling, yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses mencontoh. Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan. Hal yang ditiru itu ada lah perilaku-perilaku yang diperagakan oleh orang yang menjadi idolanya. Prinsip peniruan itulah yang dimaksud dengan modeling. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.[6]
E.       Model Strategi Pembelajaran Sikap
1.    Model konsiderasi, model ini dikembangkan oleh Mc. Paul.[7] Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Implementasi modeling konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran sebagai berikut :
a.  Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam  kehidupan sehari-hari. Ciptakan situasi “seandainya siswa ada dalam  masalah tersebut”
b.  Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah dengan melihat bukan hanya yang nampak, tapi juga yang tersirat dalam  permasalahan tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
c.    Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.
d.   Mengajak siswa untuk menganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan siswa.
e.    Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
f.   Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g.  Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.
2.    Model pengembangan kognitif Menurutnya, moral Manusia itu berkembang melalui tiga tingkat. Dan setiap tingkat terdiri dari dua tahap :
a.    Tingkat profesional, setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Pada tingkat profesional ini terdiri dari dua tahap yaitu tahap satu orientasi hukuman dan kepatuhan, tahap dua orientasi  instrumental relatif.
b.    Tingkat konvensional, anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarakat. Kesadaran dalam  diri anak mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma-norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Tahap ketiga keselarasan interpersonal, tahap keempat sistem sosial dan kata hati.
c. Tingkat post konvensional, perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya secara individu. Tahap kelima kontrak sosial, tahap keenam prinsip etis yang universal.[8]
3.    Tehnik mengklarifikasi nilai (VCT)
         VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam  mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam  menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam  diri siswa. Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu modal dalam  strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman mulai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam  diri siswa, kemudian menyelaraskan dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.[9]


F.       Taksonomi Domain Afektif
            Taksonomi bloom[10] merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dibagi ke dalam  tiga domain yaitu cognitive domain, affective domain dan psycomotor domain.[11] Dilihat dari strategi belajar mengajar, proses pembinaan nilai dalam  kawasan afektif melalui lima tahapan secara hirarkis. Pembagian domain afektif ini disusun oleh Bloom bersama David Krathwol sebagai berikut :
1. Penerimaan (recevising/ attending), kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam  pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya dan mengarahkannya.
2.    Tanggapan (responding), memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan dan kepuasan dalam  memberikan tanggapan.
3. Penghargaan (valuing), berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu obyek, fenomena atau tingkah laku. Penilaian berdasarkan internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam  tingkah laku.
4. Pengorganisasian (organization), memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik diantaranya, dibentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
5. Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by a value or value complex), memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya hidupnya.[12]
        Sikap atau nilai menentukan wujud tindakan seseorang. Jika seseorang memiliki aspek-aspek kawasan afektif yang tinggi, maka ia akan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diakui baik secara normatif. Sikap yang berhubungan dengan nilai afektif dapat dipisahkan menjadi :perilaku mendekat yaitu melakukan hal-hal yang baik menurut norma, perilaku menjauh yaitu menghindari hal-hal yang tidak baik menurut norma.[13]
G.      Kesulitan Dalam  Pembelajaran Afektif
            Dalam  proses pendidikan di sekolah, proses pembelajaran sikap terkadang diabaikan. Hal ini disebabkan proses pembelajaran dan pembentukan akhlak memiliki beberapa kesulitan, diantaranya :
1. Selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual. Dengan demikian, keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh kriteria kemampuan intelektual (kemampuan kognitif). Akibatnya upaya yang dilakukan oleh setiap guru diarahkan kepada bagaimana anak dapat menguasai sejumlah pengetahuan sesuai standar isi kurikulum yang berlaku, oleh karena kemampuan intelektual identik dengan penguasaan materi pelajaran.
2. Sulitnya melakukan kontrol karena banyaknya faktor yang mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Pengembangan kemampuan sikap, baik melalui proses pembiasaan maupun modeling bukan hanya ditentukan oleh faktor guru, akan tetapi juga faktor-faktor lainnya terutama lingkungan.
3.    Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan pembentukan aspek kognitif dan aspek ketrampilan yang hasilnya diketahui setelah proses pembelajaran berakhir. Maka keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat pada rentang waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan dengan sikap berhubungan dengan internalisasi nilai yang memerlukan proses yang lama.
4.    Pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan acara, berdampak pada pembentukan karakter anak secara perlahan tapi pasti oleh budaya asing yang belum tentu cocok dengan budaya lokal yang meresap dalam  setiap relung kehidupan, menggeser nilai-nilai lokal sebagai nilai luhur.[14]


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
            Dari pembahasan Strategi Pengajaran Afektif dapat kami simpulkan sebagai berikut  :
1.  Ciri-Ciri Nilai diantaranya nilai adalah konsep yang tidak berada di dalam dunia empirik, tetapi di dalam  pikiran manusia, nilai adalah standar perilaku, nilai itu direfleksikan dalam  perbuatan atau perkataan, nilai itu merupakan abstraksi atau idealis manusia tentang apa yang dianggap penting dalam  hidup mereka.
2.    Hakekat Pendidikan Nilai Dan Sikap yaitu komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui pembentukan sikap, yakni kecenderungan seseorang terhadap suatu obyek. Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik.
3.    Dasar Pemikiran Tentang Nilai antara lain Wright mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berbuat sesuatu, yaitu : Hedonitas tanpa moral, Rasional, Tingkat kesadaran, Konformitas, Normatifis, Intregeralis, Fenomenalis dan Hedonis.
4.    Proses Pembentukan Sikap yaitu melaui pola pembiasaan dan modeling.


.
5. Model Strategi Pembelajaran Sikap yaitu dibagi menjadi tiga : Model konsiderasi, Model pengembangan kognitif, Tehnik mengklarifikasi nilai (VCT).
6.    Taksonomi Domain Afektif menurut Bloom dan David Krathwol dibagi menjadi lima tahapan yaitu : Penerimaan (recevising/ attending), Tanggapan (responding), Penghargaan (valuing), Pengorganisasian (organization), Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by a value or value complex),
7.    Kesulitan Dalam  Pembelajaran Afektif yaitu selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual. Sulitnya melakukan kontrol karena banyaknya faktor yang mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Adanya pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan acara, berdampak pada pembentukan karakter anak secara perlahan tapi pasti.
B.   Saran
       Bagi pendidik, dismaping memberikan suatu teori dari pendidikan, diharapkan juga memberikan suatu praktek (operasional) secara nyata dari teori-teori yang diajarkan,  sehingga anak didik akan termotifasi total untuk mengamalkan secara langsung di dalam  kehidupan bermasyarakat sehingga strategi pengajaran afektif yang diterapkannya dapat berhasil.

                                                                                                     
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Gulo, W. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo, 2002.
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran:Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2008.
http:// id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_bloom.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/strategi-pengajaran-afektif.html



[1] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Grasindo, 2002), 147.
[2] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran:Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2008), 273.
[3] Ibid., 276.
[4] W. Gulo, Strategi..., 150.
[5] Wina Sanjaya, Strategi..., 277-278.
[6] Ibid.
[7] Mc. Paul adalah seorang humanis yang menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional.
[8] Wina Sanjaya, Strategi..., 281-282.
[9] Ibid., 283-284.
[10] Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam  hal ini tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam  pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.
[11] http:// id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_bloom.
[12] Ibid.
[13] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 288.
[14] Wina Sanjaya, Strategi..., 286-288.



MATERI TERKAIT:

Judul: STRATEGI PENGAJARAN AFEKTIF
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mas mahmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah STRATEGI PENGAJARAN AFEKTIF. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/strategi-pengajaran-afektif.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger