SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) PADA MADRASAH IBTIDAIYAH KRESNA MLILIR

Oleh  Mas Mahmud


BAB I
PENDAHULUAN             
A.  Latar Belakang Masalah 
Pergeseran pendekatan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di Indonesia telah berimbas pada pengelolaan sistem pendidikan, yakni dari semula yang lebih bersifat sentralistik bergeser ke arah pengelolaan yang lebih bersifat desentralistik.[1] Untuk itu diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat. Dikatakan bahwa, " Strategi pengelolaan pendidikan ini diperlukan mengingat sebagian besar daerah mengalami keterbatasan sumber daya, sementara itu tuntutan akan kualitas pendidikan selalu meningkat terus sejalan dengan kemajuan perkembangan kehidupan masyarakat dan tuntutan dunia kerja".[2] Dikatakan juga bahwa, "Strategi pengelolaan pendidikan yang mengedepankan kerjasama antara berbagai pihak diantaranya orang tua (masyarakat ), sekolah (lembaga pendidikan), dan institusi sosial lain seperti dunia usaha atau dunia industri,  lebih dikenal dengan istilah the collaborative school management yang pada perkembangan selanjutnya menjadi model pengelolaan sekolah yang dinamakan school based management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)".[3] Dikatakan juga bahwa, " School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional".[4]
Namun alternatif penerapan MBS di sekolah maupun madrasah pada kenyataannya lain dari yang diharapkan. Tidak semua atau belum semuanya sekolah atau madrasah telah menyelenggarakan sistem MBS tersebut, dikarenakan oleh banyak faktor penghambat ataupun kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak sekolah atau madrasah. Sebagai contoh yaitu : Banyak sekolah atau madrasah  yang belum menerapkan sistem MBS, dengan bukti tidak adanya atau belum adanya unsur –unsur yang terkandung dalam sistem MBS tersebut pada sekolah atau madrasah  yang bersangkutan, seperti belum adanya misi, visi dan tujuan serta belum mampunya sekolah menjalankan otononi yang diberikan oleh pemerintah dalam mengelola lembaganya. Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai kurang dikenalnya / tersosialisasikannya sistem MBS di lembaga pendidikan sekolah atau madrasah tersebut.
Kekurang sosialisasi/dikenalnya sistem MBS tersebut terjadi atas beberapa sebab. Dan  dapat diambil suatu pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan atau menerapkan sistem MBS di lembaganya?". Realitas ini sangat penting untuk diteliti.
        Untuk itu penelitian ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan hasil penjajagan awal (Observasi) di lapangan, pada hari Rabu tanggal 10 Januari 2009, jam 07.30-08.00 WIB, telah ditemukan  :
1.    Data-data atau dokumentasi dari madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir yang telah menerapkan sistem MBS, yaitu madrasah tersebut telah memiliki visi, misi, maupun tujuan yang jelas.
2.   Kerjasama antara pihak madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dengan orang tua (masyarakat) dan institusi sosial lain di madrasah tersebut.
3.  Usaha-usaha yang dilakukan pihak madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dalam rangka meningkatkan mutu pendidikannya.
Selanjutnya berangkat dari hasil temuan tersebut di atas , maka penelitian ini kami beri judul “Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir”.
B.  Rumusan Masalah  
            Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Apa landasan teori dari Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ?
2.     Apa saja data-data yang ada di lapangan terkait dengan Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir?
3. Bagaimana analisis data dari penelitian di lapangan terkait dengan Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir?.
C.  Tujuan Penulisan 
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah, agar kita dapat menjelaskan / mendeskrepsikan :
1.      Landasan teori dari Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).
2.      Data-data yang ada di lapangan terkait dengan Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir”.
3.    Analisis data dari penelitian di lapangan terkait dengan Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir”. 

BAB II
PEMBAHASAN
A.  LANDASAN TEORI
1.  Strategi Implementasi MBS
     Peningkatan mutu pendidikan di sekolah atau madrasah perlu didukung oleh kemampuan manajerial para kepala sekolah. Diantaranya adalah dengan cara menciptakan hubungan baik antar guru agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Dan juga perlu membina penataan penampilan fisik dan manajemen sekolah agar sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin dan semangat belajar peserta didik.[5] Untuk mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien, kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan, wibawa kepala sekolah harus ditumbuh kembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Lebih lanjut, kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar , dengan melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru, melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah lain. Dan juga para guru harus berkreasi dan meningkatkan manajemen kelas dengan menyiapkan dirinya dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran, juga mengorganisasikan kelasnya dengan baik, mengatur jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan, keindahan, dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk, penempatan alat-alat dan lain-lain.[6]
        Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, adanya dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, adanya sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta adanya dukungan masyarakat (orang tua) yang tinggi. Dan agar MBS dapat diimplementasikan secara optimal, perlu adanya pengelompokan sekolah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing untuk mempermudah pihak-pihak terkait dalam memberikan dukungan, pentahapan pelaksanaan/implementasi MBS, dan perangkat pelaksanaan/implementasi MBS.[7]
a.      Pengelompokan Sekolah 
     Dalam rangka mengimplementasikan MBS, perlu diadakan pengelompokan sekolah pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang, dan kurang, yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang dan ketinggalan. Kelompok-kelompok tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1. Pada tabel tersebut setiap kelompok sekolah, menggambarkan juga tingkat kemampuan manajemen.
Tabel 4.1.
KELOMPOK SEKOLAH DALAM MBS
Kemampuan sekolah
Kepala sekolah dan guru
Partisipasi masyarakat
Pendapatan daerah dan orang tua
Anggaran sekolah
1.     Sekolah dengan kemampuan manajemen tinggi

Kepala sekolah dan guru berkompetensi tinggi (termasuk kepemimpinan)
Partisipasi masyarakat tinggi (termasuk dukungan dana)
Pendapatan daerah dan orang tua tinggi
Anggaran sekolah di luar anggaran pemerintah besar
2.     Sekolah dengan kemampuan manajemen sedang
Kepala sekolah dan guru berkompetensi sedang (termasuk kepemimpinan)
Partisipasi masyarakat sedang (termasuk dukungan dana)
Pendapatan daerah dan orang tua tinggi
Anggaran sekolah di luar anggaran pemerintah sedang
3.     .Sekolah dengan kemampuan manajemen rendah
Kepala sekolah dan guru berkompetensi rendah (termasuk kepemimpinan)
Partisipasi masyarakat rendah (termasuk dukungan dana)
Pendapatan daerah dan orang tua tinggi
Anggaran sekolah di luar anggaran pemerintah kecil atau tak ada
     
Kondisi di atas mengisyaratkan bahwa tingkat kemampuan manajemen sekolah untuk mengimplementasikan MBS berbeda satu kelompok sekolah dengan kelompok lainnya.[8]
b.     Pentahapan Implementasi MBS
      Penerapan MBS secara menyeluruh sebagai realiasasi desentralisasi pendidikan memerlukan perubahan-perubahan mendasar terhadap aspek-aspek yang menyangkut keuangan, ketenagaan, kurikulum, sarana dan prasarana serta partisipasi masyarakat. Kompleksitas permasalahan pendidikan tersebut, akan mempengaruhi kecepatan waktu pelaksanaan MBS. Dengan mempertimbangkan kompleksitas tersebut, MBS diyakini akan dapat dilaksanakan paling tidak melalui tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama sampai dengan tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat sampai dengan tahun keenam), dan jangka panjang (setelah tahun keenam).
          Dalam kaitannya dengan pentahapan implementasi MBS ini, secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu sosialisasi, piloting, dan desiminasi.
        Tahap sosialisasi merupakan tahapan penting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh media informasi, baik cetak maupun elektronik. Banyak perubahan, baik personal maupun organisasional memerlukan pengetahuan dan ketrampilan baru. Dalam mengefektifkan pencapaian tujuan perubahan, diperlukan kejelasan tujuan dan cara yang tepat, baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan.
       Tahapan piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsep manajemen berbasis sekolah tidak mengandung resiko.[9]
        Tahap diseminasi merupakan tahapan memasyarakatkan model MBS yang telah diuji cobakan kelas berbagai sekolah agar dapat mengimplementasikannya secara efektif dan efisien.[10]
c.       Perangkat  Implementasi MBS
    Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan dan pedoman-pedoman (guidelines) umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring, evaluasi serta laporan pelaksanaan. Perangkat ini perlu diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejak pelaksanaan jangka pendek.[11]
    Adapun salah satu perangkat terpenting dalam pengelolaan MBS adalah rencana sekolah. Rencana sekolah merupakan perencanaan sekolah untuk jangka waktu tertentu, yang disusun oleh sekolah sendiri bersama dewan sekolah. Adapun yang dikandung dalam rencana tersebut adalah visi, dan misi sekolah, tujuan sekolah dan prioritas-prioritas yang akan dicapai, serta strategi-strategi untuk mencapainya.[12]
     Mengingat kompleksnya permasalahan yang dihadapi dalam pendidikan di Indonesia, pelaksanaan model ini perlu dilakukan secara bertahap serta direncanakan secara matang dan profesional. Model ini bukanlah suatu jawaban dari semua permasalahan pendidikan yang dihadapi, namun dapat menjadi jawaban terhadap kebekuan dan kekakuan manajemen pendidikan yang berlaku selama ini.[13]
            Untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut, berikut disajikan tabel tentang strategi implementasi manajemen berbasis sekolah beserta perangkat pelaksanaannya hasil kajian BPPN dan Bank Dunia, 2000.

Tabel 4.2.
STRATEGI IMPLEMENTASI MBS
Aspek
Jangka pendek (th ke-1ke-3)
Jangka menengah
(th ke-4ke-6)
Jangka panjang
(th ke-7ke-10)
A.   Ketenagaan
1.  Kepala sekolah

-   Sejumlah kepala sekolah dipilih dari semua kategori sekolah untuk mengikuti pelatihan tentang prinsip-prinsip MBS dan pengelola keuangan sekolah dengan prinsip MBS.
-   Pelatihan ini dilakukan secara bertahap untuk sebanyak mungkin kepala sekolah.
- Kepala sekolah menerima pelatihan bagi yang belum dan pelatihan lanjutan bagi yang sudah.
- Kepala sekolah memiliki keleluasaan dalam mengatur sekolah, antara lain dalam : mengatur dana, mengisi kurikulum local (kurikulum lokal diisi di tingkat sekolah, jika sekolah yang bersangkutan mampu)
-   Ada kewenangan yang luas bagi kepala sekolah dalam rangka kebijakan nasional.
-   Pemilihan kepala sekolah dilakukan oleh dewan sekolah (school council) dengan mempertimbangkan kompetensinya (ketrampilan, pengalaman kepemimpinan, kemampuan dalam menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dan bersifat proaktif)
2. Guru 
-   SD : seleksi dan pengangkatan di Tk. I, sedangkan penempatan di Tk. II.
-   SLTP : seleksi di Pusat, pengangkatan dan penempatan di Tk. Sekolah dasar
- SD : Seleksi Di Tk. I, Pengangkatan dan penempatan di Tk. II,
- SLTP : Seleksi di Tk. I, Pengangkatan dan penempatan di Tk. II. Pemilihan guru baik SD maupun SLTP didasarkan pada kompetensi, Penempatan guru sesuai dengan kebutuhan sekolah , diberlakukan insentif dan disinsentif terhadap sekolah yang memiliki kelebihan dan kekurangan guru, Guru memperoleh insentif sesuai dengan prestasinya, Guru wajib menguasai prinsip-prinsip SBM.

-  Seleksi pengangkatan dan penempatan di Dati II.
-  Pemilihan berdasarkan kompetensi.
-  Penempatan guru sesuai dengan kebutuhan sekolah.
-  Diberlakukan insentif dan disinsentif terhadap sekolah yang memilikikelebihan dan kekurangan guru.
-  Guru memperoleh insentif sesuai dengan prestasinya.
-  Guru wajib menguasai prinsip-prinsip SBM.

3.  Pengawas/pimpinan dan staf "Dinas Dikbud"
-   Pelatihan tentang prinsip-prinsip SBM.
-   Profesionalisasi pengawas/pimpinan dan staf "Dinas Dikbud"
- Pelatihan lanjutan.
- Profesionalisasi pengawas/pimpinan dan staf "Dinas Dikbud"
-  Profesionalisasi pengawas/pimpinan dan staf "Dinas Dikbud"
B.    Keuangan
1.  "DIK"

-   Tetap seperti saat ini, yaitu berasal dari anggaran rutin pemerintah. Penetapan alokasi di Dati I berdasarkan  alokasi besaran dari Pusat.
- Penentuan alokasi di Dati II berdasarkan alokasi besaran dari Pusat (khusus gaji tenaga kependidikan)
-   Diberikan dalam bentuk block grant kelas Dati II. Dati II mengalokasikan kelas sekolah sesuai dengan jumlah dan kepangkatan guru .
2.  "DIP"
-   Tetap seperti saat ini, yaitu dana dari anggaran pembangunan untuk bantuan operasional sekolah, pengadaan gedung, dan pengadaan laboratorium di Dati Ialah untuk SD dan di Pusat untuk SLTP.
-   Block grant langsung kelas sekolah.
-   Bantuan pemerintah untuk sekolah swasta disesuaikan dengan kemampuan pemerintah.
- Dana dari anggaran ini diberikan kepada sekolah semuanya dalam bentuk block grant yang diterimakan secara langsung kelas sekolah.
- Sekolah memiliki keleluasan dalam mengelola anggaran tersebut dengan sepengetahuan BP3 yang telah ditingkatkan fungsinya.
-  Pengelolaan dana ini juga akan diikuti dengan sistem pengawasan yang intensif.
- Block grant untuk sekolah swasta disesuaikan dengan kemampuan pemerintah.
-   Dana dari anggaran ini diberikan kepada sekolah semuanya dalam bentuk block grant.
-   Sekolah memiliki keleluasan dalam mengelola anggaran tersebut dengan kontrol dari dewan sekolah (school council).
-   Pengelolaan dana ini juga akan diikuti dengan sistem pengawasan yang intensif.
-   Sekolah dengan kemampuan manajemen rendah memperoleh dana lebih besar daripada sekolah dengan kemampuan manajemen sedang, dan sekolah dengan kelasmampuan manajemen sedang memperoleh dana lebih besar dari sekolah dengan kemampuan manajemen tinggi.
-   Block grant untuk sekolah swasta  semakin meningkat disesuaikan dengan kemampuan keuangan Negara.
3.  Dana dari orang tua dan masyarakat
-   Tetap seperti saat ini, yaitu masih ada orang tua yang diwajibkan membayar kelas sekolah
-   Ada kesepakatan secara demokratis antara orang tua dan sekolah apabila orang tua dikenakan suatu biaya untuk anaknya. Sedangkan sumbangan sukarela bergantung ketersediaan sumber daya di masyarakat. Keberadaan dana ini bisa sangat berbeda antara satu sekolah dengan lainnya. Bahan sekolah dengan kemampuan manajemen rendah, mungkin sekali tidak memiliki sumber dana ini (sehingga orang tua bisa dibebaskan dari pengadaan dana). Pengelolaan dana ini harus sepengetahuan  BP3 yang telah ditingkatkan fungsinya.dewan sekolah (school council) dan disertai pengawasan dari pengawas yang ditentukan Dati II.
-   Ada kesepakatan secara demokratis antara orang tua dan dewan sekolah  dan sekolah apabila orang tua dikenakan suatu biaya untuk anaknya. Sedangkan sumbangan sukarela bergantung ketersediaan sumber daya di masyarakat. Keberadaan dana ini bisa sangat berbeda antara satu sekolah dengan lainnya. Bahan sekolah dengan kemampuan manajemen rendah, mungkin sekali tidak memiliki sumber dana ini (sehingga orang tua bisa dibebaskan dari pengadaan dana). Pengelolaan dana ini harus sepengetahuan  .dewan sekolah (school council) dan disertai pengawasan dari pengawas yang ditentukan Dati II.
C.   Kurikulum
1.  Materi

-   Tetap seperti saat ini, yaitu ada kurikulum lokal 20 % yang diserahkan kelas daerah dan 80 % masih disusun di tingkat Pusat.
1.     Kurikulum Inti (80 %). Disusun di Pusat untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia.  Sekolah memiliki kelenturan dalam mengalokasikan waktu belajar . maksudnya jam mata pelajaran tersebut boleh dikurangi untuk menambah/mengganti mata pelajaran lain yang dianggap sangat penting oleh sekolah yang bersangkutan.
2.     Kurikulum Muatan Lokal (20 %). Disusun di tingkat sekolah berdasarkan potensi lingkungan setempat atau disediakan di tingkat Dati II bagi sekolah yang tidak mampu menyusun sendiri. Isi kurikulum bisa bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah lainnya 

a. Kurikulum Inti (Standar Kompetensi minimal), untuk menjaga kualitas pendidikan dan kesatuan bangsa. Disusun di Pusat untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia. Waktu belajar boleh ditambah namun tidak boleh dikurangi.
b. Kurikulum Elektif  (termasuk muatan lokal). Pedoman disusun di tingkat Pusat, materinya ditentukan/dipilih  di tingkat Dati II atau sekolah dengan mempertimbangkan kondisi setempat. Waktu belajarnya boleh dikurangi untuk menambah waktu pelaksanaan butir a.
c.         
2.  Pengujian
-   Tetap seperti saat ini, yaitu pedoman dan kisi-kisi disusun di Pusat, soal dibuat di Tk. Ialah untuk SD. Sedangkan untuk SLTP, baik pedoman kisi-kisi, maupun soal dibuat di Tk. Pusat.
Baik untuk SD maupun SLTP, pedoman dan kisi-kisi disusun di Pusat, soal dibuat di Tk. I
Guedilines, kisi-kisi dan soal untuk standar kompetensi minimal dibuat di Pusat, sedangkan untuk elektif dibuat di Dati I
D. Sarana dan Prasarana sekolah
-    Identifikasi dan penataan ulang pengadaan sarana dan prasarana sekolah.
-    Pengadaan sarana prasarana dilakukan di Dati II.
Pengadaan sarana prasarana di tingkat sekolah.
Pengadaan sarana prasarana di tingkat sekolah.
E. Partisipasi Masyarakat
-   Sosialisasi prinsip-prinsip SBM untuk masyarakat luas melalui media masa dan forum lainnya
-   bentuk partisipasi masyarakat melalui BP3.
Bentuk partisipasi masyarakat masih berbentuk BP3 yang fungsinya ditambah sebagai berikut :
1. Bersama sekolah ikut menyusun kurikulum lokal.
2.  Mengawasi penggunaan dana sekolah dan dana dari masyarakat (kalau ada).
Bentuk Komite/Dewan Sekolah Terdiri Atas : Tokoh Masyarakat, Seseorang Yang Memiliki Keahlian Tertentu, Kepala Sekolah, Perwakilan Guru, Perwakilan "Dikbud Dati II" Dan Perwakilan Orang Tua Murid. "Dunia Usaha". Tugasnya antara lain :
-      memilih kepala sekolah
-      mengorganisasi sumbangan dari orang tua dan masyarakat.
-      Mengawasi pengelolaan keuangan sekolah
-      Ikut menyusun atau memilih kurikulum dan bahan ajar.
-      Membantu dan mengawasi proses belajar mengajar.

Tabel 4.3.
PERANGKAT PELAKSANA MBS
No.
Perangkat
Bentuk
Program Kerja
A.
Kesiapan sumber daya manusia yang terkait dengan pelaksanaan SBM
1.    Sosialisasi


2.    Pelatihan


3.    Uji Coba
1.1     Media Masa
1.2     Diskusi dan  forum ilmiah

Pelatihan  kepala sekolah, pengawas, guru, dan unsur terkait lainnya. dipilih

Dipilih daerah dan sekolah yang mewakili kriteria-kriteria sebagai uji coba SBM.
B.
Kategori sekolah dan daerah
1.  Jenjang sekolah


2.  Kemampuan
     manajemen sekolah

3.  Kriteria Daerah
1.1  SD/MI : negeri dan swasta
1.2  SLTP/Madrasah Tsanawiyah negeri dan swasta

2.1 Sekolah dengan kemampuan manajemen tinggi
2.2 Sekolah dengan kemampuan manajemen sedang
2.3 Sekolah dengan kemampuan manajemen rendah

3.1 Daerah dengan pendapatan daerah tinggi
3.2 Daerah dengan pendapatan daerah sedang
3.3 Daerah dengan pendapatan daerah rendah
C.
Peraturan/Kebijakan dan pedoman
1.    Peraturan/Kebijakan
      dari Pusat

2.    Pedoman
      pelaksanaan MBS
Perlu dirumuskan seperangkat peraturan yang diperlukan untuk pelaksanaan otonomi pada masing-masing unsur.

Pedoman dari Pusat perlu dirumuskan sedemikian rupa, meliputi kerangka nasional dan otonomi sekolah. Pedoman ini antara lain meliputi : rencana sekolah, pembiayaan, evaluasi, monitoring (internal monitoring) dan laporan akhir.
D.
Rencana sekolah
Rencana sekolah disusun oleh sekolah dengan partisipasi masyarakat yang tergabung dalam "Dewan Sekolah". Rencana sekolah ini harus memperoleh persetujuan dari Dati II. Rencana sekolah perlu mencantumkan antara lain visi, dan misi sekolah , tujuan umum, tujuan khusus, nilai-nilai nasional dan lokal, prioritas pencapaiannya.
Rencana sekolah itu merupakan  program yang akan dilaksanakan oleh sekolah selama misalnya tiga tahun. Rencana ini dititik beratkan pada apa yang akan dicapai oleh sekolah selama kurun waktu tersebut. Sebagai contoh, sekolah akan meningkatkan kualitas belajar siswa (kenaikan NEM).                       
E.
Rencana  Pembiayaan
Rencana  Anggaran Sekolah yang disetujui Dati II
Sekolah menyusun anggaran yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan Rencana Sekolah. Anggaran di sini termasuk sumber-sumber dana dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Semua dana yang disetujui langsung diterimakan ke sekolah.
F.
Monitoring dan evaluasi internal
Monitoring dan evaluasi internal (self assessment) yang dilakukan oleh diri sendiri.
Pengelolaan sekolah yang terjalin erat dengan masyarakat melakukan monitoring internal (self assessment). Kegiatan ini menghasilkan laporan tahunan yang berisi laporan sekolah dan "dewan sekolah" tentang pelaksanaan kegiatan sekolah berdasarkan perencanaan sekolah dan perencanaan anggaran serta kemajuan yang dicapai selama tahun yang bersangkutan.
G.
Monitoring dan evaluasi eksternal
Monitoring dan evaluasi  oleh pihak eksternal
Kegiatan ini dilakukan oleh pengawas, Dati II, Pusat/Dati I atau Konsultan Independen. Monitoring dan evaluasi eksternal dilakukan berdasarkan rencana sekolah dan rencana anggaran. Hasil dari monitoring dan evaluasi digunakan sebagai tolok ukur apakah sekolah akan memperoleh tambahan dana, tetap, atau pengurangan pada tiga tahun berikutnya.
H.
Laporan Akhir
Laporan Akhir disusun oleh sekolah dan "dewan Sekolah"
Sekolah dan "dewan sekolah" bersama-sama menyusun laporan akhir atau sekolah menyusun laporan dan diajukan ke "dewan sekolah" untuk memperoleh persetujuan. Laporan akhir berisi laporan pengelolaan sekolah selama misalnya 3 tahun yang berisi kemajuan, kegagalan, dan hambatan yang dihadapi dengan melampirkan baik evaluasi dan monitoring internal maupun eksternal.



2.  MBS Sebagai Manajemen Peningkatan Mutu
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effektife school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan.[14] Konsep pengelolaan ini menekankan  kepada kemandirian dan kreativitas sekolah di dalam mengolah potensi sumber daya pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat di dalam pengambilan keputusan untuk memenuhi tujuan peningkatan mutu sekolah. Untuk itu sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakan makro pendidikan serta memahami kondisi lingkungannya (kelebihan dan kekurangannya) untuk kemudian melalui proses perencanaan, sekolah harus memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program-program prioritas yang harus dilaksanakan dan dievaluasi oleh sekolah sesuai dengan visi dan misinya masing-masing. Jadi sekolah harus menentukan target mutu (dalam arti luas) yang ingin dicapai untuk setiap kurun waktu, merencanakannya, melaksanakan dan mengevaluasi dirinya, untuk kemudian menentukan target mutu untuk tahun berikutnya.[15]
Adapun indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antar lain :
a.       Lingkungan sekolah yang tertib,
b.       Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai,
c.       Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat,
d.      Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan  staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi,
e.       Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK,
f.  Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan / perbaikan mutu,
g.       Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid dan masyarakat.[16]
Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan.[17]
Pendekatan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah, kepala sekolah, guru dan tenaga / staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid, yang kesemuanya ini ditujukan kepada keberhasilan sekolah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas (bermutu) bagi masyarakat.[18]
Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan, dan fungsi setiap personal sekolah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas di samping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah / pendidikan. Kepala sekolah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total[19] dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah itu sendiri maupun sekolah lain.[20]
Jadi sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah, khususnya siswanya.[21]
             Sekolah harus mengontrol semua sumber daya termasuk sumber daya manusia yang ada dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Adapun kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan-tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.[22]
3.  Pengertian Peningkatan Mutu
Dalam kontek pendidikan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu kepada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti bahan ajar (kognitif, afektif, psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai  kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi, dan sarana dan prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah dan manajemen kelas berfungsi mensinkronkan (mensinergikan) semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antar guru, siswa, di kelas maupun di luar kelas.[23]
Adapun mutu dalam kontek hasil pendidikan mengacu pada prestasi, yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, dua tahun, lima tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas), dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni, atau ketrampilan tambahan tertentu misalnya komputer, beragam jenis teknik, jasa, bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana, displin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya.[24]   
4.  Strategi Pelaksanaan Di Tingkat Sekolah
Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, maka sekolah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai beruikut :
a.     Penyusunan basis data dan profil sekolah yang lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administrative (siswa, guru, staf) dan keuangan.
b.       Melakukan evaluasi diri (self assessment) untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personel sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan ketrampilan, maupun aspek lainnya.
c.      Berdasarkan analisis tersebut, sekolah harus mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan nasional yang akan dicapai.
d.   Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut, sekolah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan) termasuk anggarannya. Perencanaan program sekolah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam persentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang ketrampilan, olah raga dan sebagainya). Program sekolah yang disusun bersama-sama antar sekolah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah  dengan sekolah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena  fokus dalam pengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah-langkah untuk pnyampaian di dalam proses pembelajaran dan siapa yang menyampaikannya.[25]
Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam jangka waktu satu tahun program sekolah. Oleh karena itu sekolah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas.[26] 
B.  DATA PENELITIAN IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) PADA MADRASAH IBTIDAIYAH KRESNA MLILIR   
  1. Data umum
a.       Letak Geografis MI Kresna Mlilir
Madrasah Ibtidaiyah Kresna adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen Agama, setara dengan Sekolah Dasar lainnya. Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun terletak di Jl. Madiun-Ponorogo, Desa Mlilir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
     Adapun batas-batas wilayah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah sebagai berikut :
1). Sebelah Utara  :  Lapangan desa bekas emplasemen PG Pagotan
2). Sebelajh Timur  :  Jalan raya jurusan Madiun-Ponorogo.
3). Sebelah Selatan :  Perumahan penduduk.
4). Sebelah Barat  :  Perumahan penduduk.[27]
     Dengan melihat data di atas, dapat diketahui bahwa lokasi Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir tersebut sangat strategis, karena mudah dijangkau oleh kendaraan umum dan lingkungan masyarakat sekitar madrasah sangat mendukung akan keberadaannya.
b.      Visi, Misi, dan tujuan Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir
Visi mutlak harus dimiliki oleh setiap sekolah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. Adapun visi Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah : “Menjadi Madrasah Masa Depan Yang Islami, Unggul Dalam Prestasi Akademik Dan Ekstrakurikuler Dan Terwujudnya Anak Didik Yang Berakhlak Mulia Berdasarkan Al-Qur’an Dan Sunnah Rasul”.[28]
     Sedangkan misi adalah bentuk layanan yang memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya. Adapun misi Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah sebagai berikut
1). Dengan komitmen niat ibadah, mengusahakan tetap terselenggaranya pendidikan formal tingkat dasar yang islami, dengan kualitas yang memperoleh pengakuan masyarakat serta pemerintah.
2).    Mewujudkan madrasah yang dikelola dengan nilai-nilai Islam yang berdasar Al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta mengajarkan bagaiman belajar beragama dan berupaya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3).    Memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik, unggul, bermutu tinggi dan Islami.
4).  Membentuk dan mengembangkan seluruh warga madrasah khususnya pribadi anak didik untuk membiasakan berakhlakul karimah, taat melaksanakan ajaran Islam, serta berwawasan keilmuan.
5). Meningkatkan kapasitas dan potensi siswa dan guru secara maksimal sesuai bakat dan minatnya sehingga mampu memberi yang terbaik untuk kemaslahatan manusia.
6).   Mewujudkan guru yang amanah dan professional serta mempunyai komitmen dan kompetensi yang tinggi.
7).    Mengembangkan pelaksanaan kurikulum MI / SD yang bernuansa Islami serta sesuai dengan tuntutan zaman.
8).  Membekali Kepala Sekolah, Guru, Staf Tata Usaha, dan siswa kecakapan memanfaatkan teknologi informasi untuk pengembangan pendidikan yang semakin baik dan Islami.
9).    Membekali pribadi anak didik dengan kecakapan memimpin (leadership) sejak dini.
10).Memberikan ketrampilan belajar yang tinggi dan kebiasaan-kebiasaan yang Islami bagi para siswa agar dapat bersaing di era global.
11).  Menjalin kerjasama yang efektif dan produktif dengan pihak-pihak yang peduli dengan pengembangan pendidikan Islam.
12).  Melakukan inovasi-inovasi yang mendukung terwujudnya Madrasah Masa Depan yang Islami dan Unggul berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.[29]
Adapun tujuan Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah : “Mencetak anak didik/lulusan agar memiliki akhlaqul karimah, taat melaksanakan ajaran agama islam serta mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup untuk bekal melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan kehidupan masa depan”.[30]
c.       Struktur Organisasi di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir
Madrasah Ibtidaiyah Kresna sebagai  lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan berbagai macam kegiatan, mempunyai sistem pengelolaan yang dinamis dan profesional dalam bentuk pelaksanaan pendidikan dan pengajarannya. Oleh karena itulah lembaga ini dibentuk dalam suatu jalinan koordinasi yang terstruktur dan jelas.[31]
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, maka dalam penyusunan struktur organisasi yang tepat, Kepala Madrasah beserta Ketua Yayasan dan Dewan Komite Sekolah menentukan nama-nama yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya untuk mengisi jabatan dalam struktur organisasi madrasah. Hal ini dilakukan agar tugas dan wewenang yang diemban dapat dijalankan dengan baik dan profesional.[32]
Selain itu dibentuklah penjelasan dari masing-masing posisi serta tanggung jawab yang akan dilaksanakan, yaitu berupa susunan organisasi dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Struktur organisasi Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dapat dilihat pada tabel.
  1. Data Khusus
a.   Data tipe dan jumlah guru, tingkat pendidikan dan karyawan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun.
Adapun data-data mengenai tipe dan jumlah guru , tingkat pendidikan dan karyawan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir seperti pada tabel terlampir.
b.     Data siswa, fasilitas dan sarana prasarana, kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun.
Adapun data-data mengenai siswa, fasilitas dan sarana prasarana, kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, seperti pada tabel terlampir.
c.       Program SWOT, Sasaran, Strategi dan kebijakan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun.
Adapun data-data mengenai program SWOT, sasaran, strategi dan kebijakan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, seperti pada keterangan terlampir.
d.      Data Prestasi siswa dari tahun ke tahun
Adapun data-data mengenai prestasi siswa dari tahun ke tahun seperti pada tabel terlampir.
e.       Hasil wawancara.
Adapun data-data mengenai hasil wawancara seperti keterangan terlampir.
C.  ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) PADA MADRASAH IBTIDAIYAH KRESNA MLILIR 
1.   Analisis tipe dan jumlah guru, tingkat pendidikan dan karyawan di MI Kresna Mlilir Madiun
      Tenaga kependidikan yang bekerja di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir terdiri dari satu orang kepala sekolah yang berstatus guru tetap yayasan, 8 orang berstatus guru tetap yayasan dan 8 orang berstatus PNS serta satu orang karyawan tetap yayasan yang bekerja sebagai  satpam. Jumlah keseluruhan tenaga kependidikan di MI Kresna Mlilir Madiun ada 18 orang yang terdiri dari 1 kepala sekolah, 5 wakil kepala, 2 bagian TU, 1 guru BP, 8 guru kelas dan 1 satpam.
       Pendidikan tertinggi adalah S2 (Pasca Sarjana), dan yang terendah adalah SLTP. Sebagian besar pendidikan guru adalah S1 dan D2, yang 3 diantaranya sedang melanjutkan ke jenjang S1. Ini berarti program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah telah dijalankan oleh MI Kresna. 
2.   Analisis siswa, fasilitas dan sarana prasarana, kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun.
              Jumlah siswa yang belajar di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir untuk tahun ajaran 2007/2008 berjumlah 506 anak, yang terdiri dari 250 siswa laki-laki, dan 256 siswi perempuan.
               Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir berdiri di atas tanah seluas 3024 m yang  merupakan tanah wakaf dan terbagi menjadi beberapa bangunan yaitu : 12 ruang kelas, 1 ruang kantor kepala, 1 ruang guru dan perpustakaan, 3 ruang laboratorium, 1 ruang UKS dan BP, 1 ruang OSIS/ Pramuka dan ruang satpam, 1 gudang, 7 ruang untuk kamar mandi/WC dan sebuah masjid. Ini berarti fasilitas dan sarana prasarana di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir sangat mendukung dalam rangka peningkatan mutu madrasah dan pengembangan ke depan.
         Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir telah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang terdiri dari 8 mata pelajaran, 2 muatan local dan pengembangan diri. Struktur kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3.      Analisis Program SWOT, Sasaran, Strategi dan kebijakan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun.
             Kebijakan dalam memilih strategi program SWOT sangat mendukung dalam usaha meningkatkan mutu sekolah, karena di dalamnya dapat ditemukan mana yang menjadi kekuatan dan peluang untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dan dapat ditemukan mana yang menjadi kelemahan dan ancaman bagi sekolah untuk diantisipasi dan dicarikan solusinya.
4.      Analisis Data Prestasi siswa dari tahun ke tahun
         Prestasi demi prestasi yang diraih oleh  siswa Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia memiliki daya saing yang tinggi untuk berkompetisi dengan lembaga pendidikan lainnya dan menunjukkan bahwa usaha mengelola manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir berhasil dan dapat dijadikan contoh oleh  lembaga pendidikan (sekolah / madrasah ) lainnya.
5.      Analisis Hasil wawancara.
           Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait di lembaga Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, menunjukkan bahwa lembaga ini selalu siap dan terus melakukan kreasi dan inovasi dalam mengelola Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir demi peningkatan mutunya.
Data hasil wawancara dengan kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, Bapak Karomi Makky, Sp. Msi, tentang implementasi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir .
Pertanyaaan   : Apakah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir sudah memiliki hal-hal seperti ini: Lingkungan sekolah yang tertib, Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai, Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan  staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK ?              
Jawaban          : Ya, ya itu ada semua di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir ini. Mengenai visi, misi, dan tujuan dapat dilihat di profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Tahun Ajaran 2007/2008. Juga mengenai strategi dan kebijakan-kebijakan. Untuk lebih lengkapnya, silahkan melihat tesis hasil penelitian mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Tahun 2008.
P                       : Apakah ada peningkatan mutu di madrasah ini dari tahun ke tahun misalnya mengacu pada prestasi, yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, dua tahun, lima tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil tes kemampuan akademis  (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas), dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni, atau ketrampilan tambahan tertentu misalnya komputer, beragam jenis teknik, jasa, bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana, disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya?
J                       : Oh banyak sekali prestasi yang diraih oleh  siswa-siswi kami, kemarin mendapat juara 1 sains tingkat nasional dan juara 1 mengarang tingkat nasional. Untuk lebih lengkapnya silahkan mengunjungi di website kami di http//www.mikresna.com, untuk yang prestasi siswa.
P                       : Terima kasih pak atas kesediaan meluangkan waktunya untuk proses wawancara ini.
J                    : Sama-sama dan silahkan nanti berkunjung ke sekolah kami lagi, jika ada keperluan-keperluan lagi terkait dengan tugas perkuliahan. Semoga berhasil dan sukses selalu…
P                      :  Amiin Ya Robbal Alamiin……

BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan implementasi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, dapat kami simpulkan sebagai berikut :
1. Landasan teori dari implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) pada Madrasah adalah peningkatan mutu dalam hal ini mengacu kepada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti bahan ajar, (kognitif, afektif, psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi, dan sarana dan prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah dan manajemen kelas berfungsi mensinkronkan (mensinergikan) semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antar guru, siswa di kelas maupun di luar kelas. Adapun mutu dalam kontek hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh  sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas), dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga seni atau ketrampilan tambahan tertentu misalnya komputer, beragam jenis teknik, jasa bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana, disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya.
2.      Data-data di lapangan terkait dengan implementasi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah : a. Data umum yang berupa letak geografis Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, visi, misi dan tujuan, struktur organisasi, b. Data khusus yang berupa data tipe dan jumlah guru, tingkat pendidikan dan karyawan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun., data siswa, fasilitas dan sarana prasarana, kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun, program SWOT, sasaran, strategi dan kebijakan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun, data prestasi siswa dari tahun ke tahun, hasil wawancara.
3.  Analisis data dari data di lapangan diantaranya adalah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir adalah sebuah madrasah Ibtidaiyah yang terletak pada posisi strategis. Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir memiliki visi, misi dan tujuan dan struktur organisasi yang mantap sehingga pengelolaan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah  tidak perlu diragukan lagi, ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan dari tenaga-tenaga kependidikan yang bermutu dan pelayanan yang memuaskan dan terdapat bervariasinya strategi yang digunakan guru, sebagai  upaya membangun dan mengembangkan program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir, yang merupakan wujud nyata dari implementasi MPMBS di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir.
B.     Saran
Pengelolaan dan pengembangan sumber-sumber daya sekolah perlu dioptimalkan sehingga mencapai apa yang telah disusun dalam program perencanaan sekolah demi peningkatan mutu dan demi terwujudnya tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.

REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA
Farihati, Nivala, Implementasi Manajemen Strategik Di MI Kresna Madiun. Yogyakarta: --, 2008.
Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003.
Suryosubroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004.
Profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Tahun Ajaran 2007/2008.
http//www:mikresna.
Lampiran 1
PEDOMAN OBSERVASI
1.      Melihat letak geografis Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun
2.      Meneliti data-data/dokumen MI Kresna Mlilir Madiun

PEDOMAN WAWANCARA
1.     Apakah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir sudah memiliki hal-hal seperti ini : Lingkungan sekolah yang tertib, Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai, Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat,Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan  staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK? 
2.       Apakah ada peningkatan mutu di madrasah ini dari tahun ke tahun misalnya mengacu pada prestasi, yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, dua tahun, lima tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil tes kemampuan akademis  (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas), dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni, atau ketrampilan tambahan tertentu misalnya komputer, beragam jenis teknik, jasa, bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana, displin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya?

Lampiran 2
 TRANSKRIP OBSERVASI
No. CL                                       :     01
Koding                                       :     01/O/F-1/10-I/2009
Tanggal Pengamatan                :     10 Januari 2009
Jam                                             :     07.30-08.00 WIB
Disusun jam                               :     19.00-20.15 WIB
Kegiatan yang diobservasi       :     Letak geografis MI Kresna Mlilir Madiun

Transkrip Observasi












Proses ujian semester sedang berlangsung di MI Kresna Mlilir Madiun, pada hari sabtu, 10 januari 2009. Para guru dan murid berada di ruang kelas masing-masing. Terlihat bapak satpam yang sedang berjaga di halaman parkir depan masjid MI Kresna Mlilir. Lokasi MI Kresna tampak tenang, nyaman dan aman, cocok bagi murid-murid yang sedang belajar. Sebelah barat berbatasan dengan perumahan penduduk, sebelah utara berbatasan dengan lapangan desa bekas emplasemen PG Pagotan, sebelah timur berbatasan dengan jalan raya jurusan Ponorogo-Madiun, sbelah selatan berbatasan dengan perumahan penduduk.                                                                        
Tanggapan Pengamat









Meskipun letaknya di dekat jalan raya, Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir merupakan sebuah madrasah yang aman dan berkualitas, dengan bukti infrastruktur di sekolah ini sudah sejajar dengan sekolah yang ada di kota-kota dan banyak siswa yang berprestasi yang dihasilkan oleh  madrasah ini dari tahun ke tahun, terus ada peningkatan. Murid-murid yang belajar di sana berasal dari berbagai daerah/kota. Dan ini berarti sekolah ini sudah terkenal, tidak asing lagi dan banyak diminati.

Lampiran 3
 TRANSKRIP OBSERVASI
No. CL                                       :     01
Koding                                       :     01/O/F-2/10-I/2009
Tanggal Pengamatan                :     10 Januari 2009
Jam                                             :     08.15-08.45 WIB
Disusun jam                               :     19.00-20.15 WIB
Kegiatan yang diobservasi     :     Penelitian profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dan dokumen tesis hasil penelitian mahasiswi Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terkait dengan observasi implementasi peningkatan mutu berbasis sekolah pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Madiun dan observasi fasilitas, sarana prasarana madrasah

Transkrip Observasi


Berdasarkan hasil pengamatan profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dan tesis hasil penelitian Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga ditemukan bukti-bukti pelaksanaan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir.

Tanggapan Pengamat







Banyak terobosan-terobosan baru yang dimunculkan Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir dalam mengimplementasikan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dengan cara memberdayakan sumber-sumber daya sekolah, menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir tersebut.

Lampiran 4
TRANSKRIP WAWANCARA
Kode                                         :     01/1-W/F-10-I/2009
Nama Informan                        :     Karomi Makky Sp, Msi.
Tanggal                                     :     10 Januari 2009
Jam                                           :     08.15-08.45 WIB
Disusun jam                             :     19.00-20.15 WIB
Tempat Wawancara                 :     Ruang kantor  MI Kresna Mlilir Madiun
Topik Wawancara                :     Implementasi Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Pada Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir


Materi Wawancara
Peneliti
(Pertanyaan)





Informan
(Jawaban)




P









J



P

J


P
:    Apakah Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir sudah memiliki hal-hal seperti ini :Lingkungan sekolah yang tertib,Sekolah memiliki visi dan target mutu yang ingin dicapai,Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat,Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan  staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi,Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK ?              
:   ya, ya itu ada semua di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir ini. Mengenai visi, misi, dan tujuan dapat dilihat di profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir tahun ajaran 2007/2008. Juga mengenai strategi dan kebijakan-kebijakan. Untuk lebih lengkapnya, silahkan melihat tesis hasil penelitian mahasiswi UIN sunan Kalijaga tahun 2008.
:  Apakah ada peningkatan mutu di madrasah ini dari tahun ke tahun misalnya mengacu pada prestasi, yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, dua tahun, lima tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil tes kemampuan akademis  (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas), dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni, atau ketrampilan tambahan tertentu misalnya komputer, beragam jenis teknik, jasa, bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana, displin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya?
:   Oh banyak sekali prestasi yang diraih oleh  siswa-siswi kami, kemarin mendapat juara 1 sains tingkat nasional dan juara 1 mengarang tingkat nasional. Untuk lebih lengkapnya silahkan mengunjungi di website kami di http//www.mikresna.com, untuk yang prestasi siswa.
:  Terima kasih pak atas kesediaan meluangkan waktunya untuk proses wawancara ini.
:  Sama-sama dan silahkan nanti berkunjung ke sekolah kami lagi, jika ada keperluan-keperluan lagi terkait dengan tugas perkuliahan. Semoga berhasil dan sukses selalu…
:   Amiin Ya Robbal Alamiin……



Lampiran 5

SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN INDIVIDUAL

Lampiran 6

SURAT KETERANGAN TELAH MENGADAKAN PENELITIAN


        [1]    Suryosubroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), 194.
        [2]    Ibid.
[3]    Ibid., 195.
[4]    Ibid., 195-196.
[5]    E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), 57.
[6]    Ibid., 57-58.
[7]    Ibid., 58-59.
[8]    Perbedaan kemampuan manajemen, mengharuskan perlakuan yang berbeda terhadap setiap sekolah sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam menyerap paradigma baru yang ditawarkan MBS. Misalnya, suatu sekolah mungkin hanya memerlukan pelatihan untuk mampu melaksanakan MBS, namun sekolah lain barangkali memerlukan dukungan-dukungan tambahan dari pemerintah agar dapat menerapkan paradigma baru tersebut. Dan untuk jangka panjang, MBS akan ditentukan oleh bagaimana suatu sekolah mampu menyusun rencana sekolah dan melaksanakan rencana tersebut. Lihat dalam E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), 60.
[9]    Efektifitas model uji coba memerlukan persyaratan dasar, yaitu akseptabilitas, akuntabilitas, reflikabilitas, dan sustainabilitas. Akseptabilitas artinya adanya penerimaan dari para tenaga kependidikan, khususnya guru dan kepala sekolah sebagai pelaksana dan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Akuntabilitas artinya bahwa program MBS harus dapat dipertanggung jawabkan, baik secara konsep, operasional, maupun pendanaannya. Reflikabilitas artinya model MBS yang di uji cobakan dapat direflikasi di sekolah lain sebagai perlakuan yang diberikan kepada sekolah uji coba dapat dilaksanakan di sekolah lain. Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijaga kesinambungannya setelah uji coba dilaksanakan. Lihat dalam E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), 62.
[10]   Ibid.
[11]   Ibid., 63.
[12]   Ibid.
[13]   Ibid.
[14] Suryosubroto, Manajemen Pendidikan..., 208.
[15] Ibid., 197.
[16] Ibid., 197-198.
[17] Ibid., 208.
[18] Ibid.
[19] Ada 4 hal yang terkait dengan prinsip-prinsip kualitas total yaitu : 1). Perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus menerus mengumandangkan peningkatan mutu, 2). Kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah , 3). Prestasi  harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, 4). Sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap arif bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional. Lihat dalam Suryosubroto, Manajemen Pendidikan..., 209.
[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Ibid.      
[23] Ibid.
[24] Ibid., 210.            
[25] Ibid., 210.             
[26] Ibid., 217.             
[27] Dikutip dari tesis hasil penelitian Nivala Farihati, Implementasi Manajemen Strategik Di Madrasah Ibtidaiyah Kresna Madiun (Yogyakarta: ---, 2008), 68., hasil mengutip dari Profil Madrasah Ibtidaiyah Kresna Mlilir Tahun Ajaran 2007/2008.
[28] Ibid., 71.
[29] Ibid., 71-73.
[30] Ibid., 103.
[31] Ibid., 74.
[32] Ibid.





MATERI TERKAIT:

Judul: IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) PADA MADRASAH IBTIDAIYAH KRESNA MLILIR
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : masmud
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) PADA MADRASAH IBTIDAIYAH KRESNA MLILIR. Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/implementasi-manajemen-peningkatan-mutu.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger