SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

KONSELING FARMASI

BAB I
PENDAHULUAN

            Dalam proses konseling, empat langkah yang tidak boleh ditinggalkan dan diabaikan (harus dilakukan) oleh seorang konselor adalah menjalin hubungan dengan konseli, penilaian terhadap masalah yang terjadi pada konseli (assesmen), pengembangan instrument/ penggunaan tehnik-tehnik konseling dan mengakhiri konseling (terminasi). Dikatakan bahwa, "Membina hubungan dalam proses konseling sangatlah penting sebagai langkah awal". Dikatakan juga bahwa, "Diantara tujuan assesmen adalah memungkinkan konselor membuat diagnosis yang akurat". Dikatakan juga bahwa, "Sebagai bagian dari assesmen perlu untuk ditetapkan apa yang akan menjadi sasaran konseling dan sesuai dengan sasaran tersebut, bagaimana strategi dan terminasinya".
            Namun dalam kenyataannya, proses konseling tidak semulus yang diharapkan sesuai dengan keinginan konselor dan konseli. Dalam contoh kasus proses konseling yang kurang berhasil, perlu diadakan rencana tindak lanjut untuk mencapai harapan tersebut.
 Dalam makalah ini akan disajikan contoh proses konseling kefarmasian yaitu konseling pada pasien, dimana terjadi proses konseling antara seorang apoteker sebagai pihak konselor dan seorang pasien sebagai pihak konseli.
             Adapun permasalahan yang dihadapi konselor adalah ketidakpahaman konseli dalam memilih suatu obat untuk dirinya. Dan tugas dari konselor adalah memberikan konseling kepada konseli agar mengikuti anjuran dan pengarahannya, sehingga harapan dari konselor tersebut adalah agar konseli tidak salah dalam memilih obat untuk dirinya dan demi menjaga keselamatan hidupnya.


BAB II
A. Membangun Komunikasi / Hubungan
          Konseling biasanya berlangsung sangat kondisional dan melibatkan beberapa tehnik konseling sekaligus dalam rangka menjalin hubungan dengan konseli sebagai proses awal konseling seperti contoh pembicaraan antara seorang pasien yang dapat disebut seorang klien dan seorang apoteker yang dapat disebut seorang konselor.
            Berikut ini urut-urutan contoh kasus konseling yang terjadi di sebuah apotik pada hari Rabu, 07 Januari 2009, pukul 19.45 WIB., di apotik Asia, sebelah barat pasar Songgo Langit, Ponorogo, antara seorang pasien yang bernama ibu Zulaihah dari Balong, usia 50 tahun, dengan seorang apoteker yang bernama Hermawan, usia 25 tahun, dengan beberapa keterangan yang terkait dengan proses konseling.
CONTOH 1.


Pasien (konseli) datang ...
Apoteker (konselor)    : " Ada yang bisa kami bantu bu ?" (Attending)

Keterangan :
1. Perilaku Attending
         Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : a. Meningkatkan harga diri klien, b. Menciptakan suasana yang aman, c. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik :
• Kepala : melakukan anggukan jika setuju.
• Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum.
• Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.
• Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.
• Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.
Contoh perilaku attending yang tidak baik :
• Kepala : kaku.
• Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.
• Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.
• Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.
• Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.
B. Assesmen / Penilaian
          Menilai (assesmen) apa yang sebenarnya menjadi masalah klien adalah bagian yang sangat penting dalam proses konseling.
CONTOH 8.


                    Apoteker (konselor)      : " ha3, pilihan ibu tepat, membeli obat harus    mempertimbangkan efek samping, sebaiknya ibu minum obat B saja karena tidak mengandung PPA" (menilai, menyimpulkan dan mengakhiri konseling)
 
Penilaian yang telah dilakukan oleh apoteker tersebut, berupa kata-kata yang terkesan memuji untuk membesarkan hati pasien atas pilihannya yang tepat, karena telah mengikuti anjuran dari apoteker tersebut.

C. Mengembangkan Instrumen/ tehnik konseling
                Banyak sekali tehnik-tehnik yang digunakan dalam proses konseling demi tercapainya tujuan seperti yang diharapkan, diantaranya :
CONTOH 2.

   Pasien  (konseli)           : " mau beli obat flu merk A" (Obat tersebut mengandung PPA)
   Apoteker (konselor)     : "Untuk siapa bu?" (pertanyaan terbuka/ Opened Question)

1. Pertanyaan Terbuka (Opened Question)
Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing klien agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ”
CONTOH 3.


    Pasien (konseli)            : " Untuk saya sendiri, berapa harganya ya dik?"
    Apoteker (konselor)     : " Punya penyakit hipertensi ya?" (pertanyaan tertutup/closed question)


2. Pertanyaan Tertutup (Closed Question)
Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi; (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.
Contoh dialog lain:
Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.
Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.
Klien : ” Empat ”
Konselor: ” Sekarang berapa ? ”
Klien : ” Sebelas ”
CONTOH 4.


Pasien (konseli)        : " Ada, kadang-kadang tensi saya agak tinggi"
Apoteker (konselor) : " Sampai berapa bu?" (eksplorasi)
4. Eksplorasi
Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu :
a. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….”
b. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”.
c. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda”
CONTOH 5.


Pasien   (konseli)           : " Kadang sampai 170"
Apoteker  
(konselor)     : " Bu, obat tersebut mengandung PPA yang seharusnya tidak diminum oleh penderita hipertensi" (pemberian informasi, memberikan nasehat)

5. Interpretasi
Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.
Contoh dialog lain :
Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya".
Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus, namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong cerdas akan meninggalkan SMA”.

6. Mengarahkan (Directing)
Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.
Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.”
Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.”
CONTOH 6.

Pasien (konseli)        : " Ah tidak, pokoknya saya cocoknya obat A tersebut, kalau tidak itu saya tidak mau"
Apoteker
(konselor)  : " Ha3, saya sudah menduga dan saya memahami anda, ibu saya sendiri baru 6 bulan percaya kalau tidak boleh minum obat A, karena ibu saya juga menderita hipertensi" (empati) sambil tersenyum " Mau beli berapa bu? tidak apa-apa tidak percaya, saya menghargai pilihan anda, yang penting saya sudah memberi informasi" (empati)

6. Empati
Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.
Terdapat dua macam empati, yaitu :
a. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”.
b. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.
CONTOH 7.


Pasien  (konseli)          : " Beli 3 strip saja" (pasien agak terdiam sambil berpikir)
Apoteker (konselor)     : " Rp 3600;- " ada lagi yang bisa dibantu bu?" (sambil tetap tersenyum)
Pasien                            : " Mas, tidak jadi saja, tolong diberi yang aman buat penderita hipertensi saja ya ?" (sambil malu-malu)

7. Dorongan minimal (Minimal Encouragement)
Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…, ya…., lalu…, terus….dan…
Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.
Contoh dialog lain :
Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan)
Konselor: ” ya…”
Klien : ” nekad bunuh diri”
Konselor: ” lalu…”
D. Terminasi
CONTOH 8.


Apoteker (konselor)      : " ha3, pilihan ibu tepat, membeli obat harus mempertimbangkan efek samping, sebaiknya ibu minum obat B saja karena tidak mengandung PPA" (menilai, menyimpulkan dan mengakhiri konseling)

Dari contoh diatas, konselor mengakhiri proses konseling dengan penjelasan / pengarahan bahwa yang sebaiknya diminum adalah obat B bukan obat A, dan terjadilah jual beli obat tersebut dengan berhasil.
Kesimpulan umum dari proses konseling tersebut di atas termasuk contoh konseling yang berhasil, sehingga tidak membutuhkan rencana tindak lanjut. Konseling umumnya berlangsung sangat kondisional dan hasilnya sering kali juga tidak bisa kita nilai hanya dengan benar salah. Satu hal yang paling penting dalam konseling kefarmasian adalah mengamankan klien atau pasien dari ESO atau dari bahaya penggunaan sediaan farmasi lain, juga mengamankan dari bahaya penyakit yang diderita pasien atau klien. Oleh karena itu sebagian hasil konseling kefarmasian di apotek adalah rujukan ke sarana kesehatan lain seperti praktek dokter atau rumah sakit.
  Konseling tersebut dapat dinilai sebagai kategori konseling efektif, karena berjalan sangat singkat, mungkin cuma 2 atau 3 menit saja. Konseling seperti ini dampaknya akan sangat besar bagi pasien dan lingkungannya sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial, yang mana umumnya pasien akan mengabarkan hasil ini kepada siapa saja yang ia kenal. Pada konseling seperti ini seringkali dibutuhkan waktu lebih dari sekedar 2 atau 3 menit, dan kadang kala juga membutuhkan 2 atau 3 kali pertemuan. Pada kasus konseling ini pesan utamanya adalah pasien tidak memahami efek samping obat dan kebutuhan pasien adalah obat yang manjur dan aman sesuai kondisi pasien.

.


DAFTAR PUSTAKA

Murad Lesmana, Jeaneff, Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: UI Press, 2006.
http://sites.google.com/site/hisfarma/Home/konseling/contoh-konseling
http://fuad30.blog.friendster.com/category/konseling/
http://blog-indonesia.com/archive.php/tblogger/5650/language/english/tsite/hprlnks_akhmadsudrajat_dot_wordpress_dot_com_slsh_2008_slsh_01_slsh_15_slsh_teknik_dash_umumdash_konseling_dash_2_slsh_
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/01/konseling-farmasi.html




        Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

         
        Powered by Blogger