SELAMAT DATANG di blog "mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com", SEMOGA BERMANFAAT apa-apa yang kami tuliskan di sini ...,"Selamat Berkarya", Semoga Tuhan Merahmati Kehidupan Kita Dengan Kesehatan, Cinta Yang Mendamaikan, Rezeki Yang Penuh Berkah, Dalam Usia Yang Panjang Dan Bahagia. Aamiin. "

INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ)

INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) : adalah situasi kecerdasan berpikir, sifat-sifat perbuatan cerdas (inteligen). Pada umumnya inteligen ini dapat dilihat dari kesanggupannya bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah, dengan keadaan di luar dirinya yang biasa maupun yang baru. Jadi perbuatan cerdas dicirikan dengan adanya kesanggupan bereaksi terhadap situasi dengan kelakuan baru yang sesuai dengan keadaan baru. Atau kecerdasan (inteligensi) adalah kesanggupan memecahkan soal-soal baru dengan jalan berpikir secara tepat dan cepat. Dengan kata lain kecerdasan adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Menurut kekuatannya, kecerdasan ada dua (2) macam : (1). Kecerdasan kreatif yaitu kecerdasan yang berkekuatan untuk menciptakan sesuatu. Misalnya mencipta kereta api, listrik, atom dan lain-lain . (2). Kecerdasan praktis yaitu kecerdasan untuk mengambil tindakan atau untuk berbuat. Misalnya mengemudikan auto, sirkus dan sebagainya. Macam-macam tes kecerdasan antara lain : (1). Inteligensi-test Binet-Simon, (2). Test tentara (army mental test) di Amerika, (3). Mental test, (4). Scholastic test. (3). Tes Wechsler, (4). Tes progressive matrices.
INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) : adalah suatu perbuatan yang cerdas yang ditandai oleh perbuatan yang cepat dan tepat. Cepat dan tepat dalam memahami unsur-unsur yang ada dalam suatu situasi, dalam melihat hubungan antar unsur, dalam menarik kesimpulan serta dalam mengambil keputusan atau tindakan. Menurut Spearman, ada dua faktor pada kecakapan, yaitu faktor umum (faktor G atau general factor) dan faktor khusus ((faktor S atau special faktors). Faktor G bersifat bawaan sedang faktor S merupakan hasil belajar. Cyrill Burt menambahkan faktor ketiga yaitu faktor kelompok (faktor C atau common factors). Menurut Thurstone, individu mempunyai sejumlah faktor S yang berkelompok menjadi tujuh faktor C, yaitu :
1. Verbal comprehension (V) : kemampuan untuk memahami hal-hal yang dinyatakan secara verbal atau menggunakan bahasa.
2. Word fluency (W) : kelancaran dan kefasihan menyatakan buah pikiran dengan menggunakan kata-kata.
3. Number ability (N) : kemampuan untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah matematis, yaitu masalah yang menyangkut dan menggunakan angka-angka atau bilangan.
4. Spatial ability (S) : kemampuan untuk memahami ruang.
5. Memory (M) : kemampuan untuk mengingat.
6. Perceptual ability (P) : kemampuan untuk mengamati dan memberikan penafsiran atas hasill pengamatan.
7. Reasonig (R) : kemampuan berpikir logis.

David Weschler memberikan rumusan tentang kecerdasan sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berpikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif. Edward L. Thorndike menyebutkan adanya tiga ciri dari perbuatan yang cerdas, yaitu mendalam (altitude), meluas (breadth), dan cepat (speed). Sedangkan Carl Witherington mengemukakan enam ciri dari perbuatan cerdas, yaitu : 1. Memiliki kemampuan yang cepat dalam bekerja dengan bilangan (facility in the use of number), 2. Efisien dalam berbahasa (language efficiency),
3. Kemampuan mengamati dan menarik kesimpulan dari hasil pengamatan yang cukup cepat (speed of perception), 4. Kemampuan mengingat yang cukup cepat dan tahan lama (facility in memorizing), 5. Cepat dalam memahami hubungan (facility in relationship), 6. Memiliki daya khayal atau imajinasi yang tinggi (imagination). Jadi pengertian inteligensi, menurut Whitherington, mempunyai ciri-ciri hakiki yaitu : cepat, makin cepat suatu pekerjaan diselesaikan, makin cerdaslah orang yang menyelesaikan, cekatan, biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan, dengan mudah dan ringkas menjelaskan sesuatu, tepat, sesuai dengan tuntutan keadaan, misalnya mengukur jalan yang panjang dengan besaran yang benar pula. Juga berarti mengukur dengan tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Dari beberapa definisi dan ciri-ciri perilaku cerdas, menurut Effendi dan Praja (1993), dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri perilaku individu yang memiliki kecerdasan tinggi adalah :
1. Terarah kepada tujuan (purposeful behavior). Perilaku inteligen selalu mempunyai tujuan dan diarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut, tidak ada perilaku yang sia-sia.
2. Tingkah laku terkoordinasi (organized behavior). Seluruh aktivitas dari perilaku inteligen selalu terkoordinasi dengan baik. Tidak ada perilaku yang tidak direncanakan atau tidak terkendali.
3. Sikap jasmaniah yang baik (physical well toned behavior). Perilaku cerdas didukung oleh sikap jasmaniah yang baik. Seorang siswa yang belajar secara inteligen, duduk dan baik, menempatkan bahan yang dipelajari dengan baik, memegang alat tulis dengan baik, dan sebagainya, tidak belajar sambil tiduran, sambl tengkurap dan lain-lain.
4. Memiliki daya adaptasi yang tinggi (adaptable behavior). Perilaku cerdas cepat membaca dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak banyak mengeluh atau merasakan hambatan dari lingkungan.
5. Berorientasi kepada sukses (succes oriented behavior). Perilaku cerdas berorientasi kepada keberhasilan, tidak takut gagal, selalu optimis.
6. Mempunyai motivasi yang tinggi (clearly motivated behavior). Perilaku cerdas selalu didorong oleh motivasi yang kuat baik yang datangnya dari dalam dirinya maupun dari luar.
7. Dilakukan dengan cepat (rapid behavior). Perilaku cerdas dilakukan dengan cepat, karena ia dengan cepat pula dapat memahami situasi atau permasalahan.
8. Menyangkut kegiatan yang luas (broad behavior). Perilaku cerdas menyangkut suatu kegiatan yang luas dan kompleks yang membutuhkan pemahaman dan pemikiran yang mendalam.

INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) : adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak (Terman). Atau kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Colvin). Atau intelek plus pengetahuan (Henmon). Atau teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra (Hunt). Menurut para ahli diantaranya :
1. S. C. Utami Munandar, inteligensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar, kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
2. Alfred Binet, inteligensi adalah Direction yaitu kemampuan untuk memusatkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, Adaptation yaitu kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah, Criticsm yaitu kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.
3. Edward Thorndike, inteligensi adalah kemampuan individu untuk memberiikan respon yang tepat (baik) terhadap stimulasi yang diterimanya.
4. George D. Stodard, inteligensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki ciri-ciri mempunyai tingkat kesukaran, kompleks, abstrak, ekonomis, memiliki nilai-nilai sosial, memiliki daya adaptasi dengan tujuan, menunjukkan kemurnian (original).
5. William Stern, inteligensi adalah kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.
6. Ngalim Purwanto, dikatakan bahwa ciri-ciri tingkah laku atau perilaku inteligen bila memenuhi syarat-syarat : masalah yang dihadapi sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan, perbuatan inteligen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis, untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikan, dicarikan jalan yang dapat menghemat waktu dan tenaga, masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan, keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat, perbuatan inteligen sering kali menggunakan daya mengabstraksi, perbuatan inteligensi bercirikan kecepatan, membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.
Komponen-komponen Inteligensi
1. Kemampuan untuk berpikir dan mengambil pelajaran dari pengalaman.
2. Kemampuan untuk berpikir atau menalar secara abstrak.
3. Kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang timbul dari dunia yang selalu berubah dan tidak pasti.
4. Kemampuan untuk mamotivasi diri sendiri guna menyelesaikan secara tepat tugas-tugas yang perlu diselesaikan.
RUMUS INTELIGENSI
Keterangan : MA = Mental Age (usia mental)
 CA = Chronological Age (usia kronologis)

KATEGORI INTELIGENSI
IQ (Intelligence Quotient / Tingkat Kecerdasan) Deskrepsi verbal Persentase Populasi dalam setiap kelompok
0 - 19 Idiot 1
20 – 49 Embicile
50 – 69 Moron 2
70 – 79 Inferior 6
80 – 89 Bodoh 15
90 – 109 Normal 46
110 – 119 Pandai 18
120 – 129 Superior 8
130 – 139 Sangat superior 3
140 – 179 Gifted
180 – ke atas Genius 1
KECERDASAN JAMAK
Menurut Gardner ada tujuh macam kecerdasan :
1. Inteligensi Linguistik – verbal (verbal – linguistic intelligence) merupakan kecakapan berpikir melalui kata-kata, menggunakan bahasa untuk menyatakan dan memaknai arti yang kompleks. Para penulis, ahli bahasa, sastrawan, jurnalis, orator, penyiar adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi.
2. Kecerdasan matematis – logis (logical – mathematical intelligence), kecakapan untuk menghitung, mengkuantitatif, merumuskan proposisi dan hipotesis, serta memecahkan perhitungan-perhitungan matematis yang kompleks. Para ilmuwan, ahli matematis, akuntan, insinyur, pemrogram komputer adalah orang-orang yang tinggi dalam kecerdasan logis – matematisnya.
3. Kecerdasan ruang – visual (visual – spatial intelligence), merupakan kecakapan berpikir dalam ruang tiga dimensi. Seorang yang memiliki inteligensi visual – ruang yang tinggi seperti pilot, nahkoda, astronot, pelukis, perupa, arsitek, perancang dan lain-lain mampu menangkap bayangan ruang internal dan eksternal, untuk penentuan arah dirinya adalah benda yang dikendalikan, adalah mengubah, mengkreasi dan menciptakan karya-karya tiga dimensi nyata.
4. Kecerdasan kinestetik atau gerakan fisik (kinesthetic intelligence) merupakan kecakapan melakukan gerakan dan ketrampilan- kecekatan fisik seperti dalam olah raga, atletik, menari, kerajinan tangan, bedah dan lain-lain. Orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi adalah para olahragawan, penari, pencipta tari, pengrajin profesional, dokter bedah dan lain-lain.
5. Kecerdasan musik (musical intelligence) yaitu kecakapan untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitivitas terhadap melodi, ritme, nada, tanga nada, menghargai bentuk-bentuk ekspresi musik. Komponis, dirigen, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen musik, penyanyi, pengamat musik adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan musik yang tinggi.
6. Kecerdasan hubungan sosial (interpersonal intelligence) yaitu kecakapan memahami dan merespons serta berinteraksi dengan orang lain dengan tepat, watak, temperamen, motivasi dan kecenderungan terhadap orang lain. Oranr-orang yang memiliki kecerdasan hubungan sosial diantaranya guru, konselor, pekerja sosial, aktor, pimpinan masyarakat, kritikus dan lain-lain.
7. Kecerdasan kerokhanian (intrapersonal intelligence) yaitu kecakapan memahami kehidupan emosional, membedakan emosi orang-orang, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri. Kecakapan membentuk persepsi yang tepat terhadap orang, menggunakannya dan merencanakan dan mengarahkan kehidupan yang lain. Agamawan, psikolog, psikiater, filosof, adalah mereka yang memiliki kecerdasan pribadi yang tinggi.

SUMBER = http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/01/intelligence-quotient-iq.html



MATERI TERKAIT:

Judul: INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ)
Rating Blog: 5 dari 5
Ditulis oleh : mahmud09
Terima kasih, Anda telah berkunjung di blog ini dan membaca makalah INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ). Jika ingin menyalin harap ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri atau menyertakan link URL ini : http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/01/intelligence-quotient-iq.html, Terima kasih atas perhatiannya.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger